
“Usiamu sudah 26 tahun, jangan seperti anak kecil,” ucap Ella mendahului langkah Kalun. Dia memasuki kamar ganti yang sudah di sediakan penyelenggara acara.
“Mama kan tau betapa sucinya mataku,” candanya sambil mengikuti arahan mamanya.
Ella tersenyum tipis sambil menarik pelan rambut anaknya.
“Iya setelah ini kamu akan berbagi dengan Aluna, perlakukan dia dengan baik, seperti kamu memperlakukan Mama,” pesan Ella pada Kalun, Kalun hanya diam belum mau menyahut ucapan Ella. Dia berharap semoga rencananya bisa lancar tanpa kendala, sampai waktunya tiba dan dia bisa menutupinya dari kedua orang tuanya.
Kalun yang sudah keluar, dengan baju adat jawa, terpaksa menahan rasa kesalnya, karena harus memperlihatkan tubuh kekarnya di depan umum. Apalagi mendengar godaan dari Rara dan Nara, yang tengah mengambil gambar dirinya yang tengah bertelanjang dada. Membuatnya semakin malu dan ingin berlari meninggalkan prosesi siraman.
Kalun terlihat bingung ketika pemandu acara mulai memintanya duduk berjongkok di kaki Ella yang sudah duduk di kursi, tradisi sungkeman dilakukan Kalun tanpa paham dengan maksud dan caranya.
Tangis haru mewarnai acara sungkeman itu. Ella tidak dapat menahan air matanya, saat Kalun mengucapkan terima kasih dan meminta maaf jika dia pernah dengan sengaja maupun tidak sengaja menyakiti hati Ella.
Erik yang sudah melihat video di aplikasi merah, sedikit paham. Tapi dia tidak ingin menunjukkan tangisnya di depan umum, dia hanya memeluk erat anak lelakinya tersebut.
Setelah acara sungkeman selesai, selanjutnya Kalun melakukan prosesi siraman, kiriman air dari mempelai wanita, berupa air yang berasal dari 7 sumber mata air sudah dicampurkan ke dalam gentong khusus yang akan dipakai Kalun.
Erik memulai menyiram tubuh Kalun dari atas kepala, sesuai petunjuk dari pemandu acara yang mengarahkannya, setelah itu diikuti Ella sebagai ibunya, harusnya Damar juga ikut menyiram keponakannya itu, tapi dia tidak bisa hadir karena kondisi tubuhnya yang kurang sehat.
Setelah prosesi siraman selesai, Kalun dituntun Erik untuk memasuki ruang ganti, dan melanjutkan prosesi pemotongan rambut, yang nantinya akan disatukan dengan rambut Aluna. Dengan maksud membuang hal buruk yang pernah terjadi di antara mereka berdua.
Cukup lama prosesi siraman itu berlangsung, hingga pukul 4 sore mereka memutuskan untuk kembali ke hotel tempatnya menginap.
Kalun langsung memasuki kamar hotelnya saat sudah tiba di hotel, dia lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Kayra. Namun, Kayra tidak menjawab panggilan Kalun. Dia yang sudah merasa lelah segera merebahkan tubuhnya di ranjang, mengabaikan panggilan telepon dari Doni yang dari tadi berdering.
----
Kalun terbangun saat mendengar panggilan video call dari Kayra. Kalun langsung menggeser tombol terima yang ada di ponselnya.
__ADS_1
“Hai ...” sapa Kalun saat melihat wajah Kayra yang memenuhi layar ponsel ditangannya.
“Hai Kal ... lagi di mana? Kamu beneran nggak jadi ke London bulan ini? Padahal aku kangen banget denganmu,” ucap Kayra yang langsung mengingatkan jadwal Kalun bulan ini untuk mengunjunginya.
“Sepertinya aku nggak bisa Sayang, jadwal aku padat sekali, mungkin bisa longgar saat nanti 2 atau tiga bulan lagi,” jelas Kalun yang tidak ingin membuat Kayra semakin kecewa.
“Oke aku akan menunggunu, dan aku akan memberikan kejutan untukmu,” ucap Kayra sambil tersenyum manis. Membuat Kalun sejenak bisa melupakan semua masalah yang terjadi saat ini.
“Oke baiklah, aku akan menemuimu secepatnya setelah urusanku selesai,” ucap Kalun yang masih menyunggingkan senyumnya. Mereka mengobrol cukup lama, hingga tepat pukul 6 sore, Kalun mematikan panggilannya, karena akan mempersiapkan diri untuk datang ke rumah Aluna.
---
Saat ini Kalun tengah berada di rumah Aluna, dia ditemani oleh Erik dan Doni yang mengapit tempat duduknya, sedangkan para wanita tidak turut ikut dalam acara. Mereka tengah mempersiapkan seserahan yang akan dibawa besok untuk ijab qobul.
Kalun memperkenalkan diri di depan para tamu undangan yang hadir, dia tidak mau menyebutkan apa pekerjaan dan nama belakangnya.
“Uhuk ... uhuk,” suara batuk yang keluar dari bibir Erik membuyarkan pandangan Kalun yang tengah menatap Aluna. Dia lalu menoleh ke arah Erik yang tengah menahan senyuman.
Erik lalu mengusap punggung Kalun, seolah mengatakan pada Kalun untuk bersabar karena tidak lama lagi gadis itu akan segera menjadi miliknya.
Kalun hanya menatap lelaki yang sangat mirip dengannya itu. Dia berharap lelaki itu tidak berprasanka yang tidak-tidak padanya.
Setelah sebagian tamu berpamitan pulang, Budi mulai mendekat ke arah Erik, dia ingin membicarakan tentang ijab qobul yang akan diselenggarakan besok di hotel tempat Kalun melakukan siraman tadi. Budi menjelaskan secara detail tentang acara ijab qobul yang akan dilanjutkan dengan acara resepsi. Erik hanya mengangguk mengerti.
Erik terus melirik ke arah Kalun yang tengah menempelkan telepon di telinganya, dia lalu beralih menatap Aluna yang tengah berada di kursi bersama seorang wanita yang berwajah masam, yang ia ketahui jika dia adalah ibu dari calon menantunya.
Erik lalu pamit undur diri setelah acara malam itu selesai, dia mengajak Kalun untuk kembali ke hotel, dia hanya menatap ke arah anaknya, saat melihat kelakuan Kalun yang tidak berpamitan dengan calon istrinya.
Saat berada di dalam mobil Erik terus menasehati Kalun. Supaya bisa memperlakukan Aluna dengan baik setelah mereka menikah nanti. Kalun terus menjawabnya dengan singkat ‘ya’ dan ‘baiklah’ sebagai jawaban atas permintaan Erik.
__ADS_1
Setelah sampai di hotel, Erik masih mengikuti Kalun yang berjalan menuju kamarnya.
“Kenapa lagi Pa?” ucap Kalun yang melihat Erik masuk ke dalam kamarnya.
Erik tidak menjawab pertanyaan Kalun, dia justru merebahkan tubuhnya di atas kasur Kalun.
“Besok kamu sudah melepas masa lajangmu, Papa nggak menyangka jika kamu akan menikah secepat ini, kemarilah hari ini Papa akan tidur denganmu! Mungkin ini akan menjadi malam berdua kita, karena setelah ini kamu pasti akan memilih tidur dengan istrimu dibandingkan dengan Papa!” perintah Erik sambil menepuk bantal yang ada di sampingnya.
Kalun menurut dengan ucapan Erik, dia berjalan sambil terkekeh, setelah mendengar ucapan papanya.
“Jangan pegang-pegang Kalun ya, awas nanti kalau tangan Papa kemana-mana!” peringat Kalun yang dibumbui candaan.
“Dasar kamu! Sudahlah Papa pergi saja, mendingan tidur dengan mamamu,” ucap Erik yang akan beranjak dari ranjangnya. Membuat Kalun semakin tertawa renyah.
“Papa tidur sini saja, Kalun hanya becanda. Kita begadang malam ini, menghabiskan waktu bersama kita berdua.” Kalun beranjak menuju telepon milik hotel untuk memesan 2 cangkir kopi.
“Jangan bilang Mamamu jika Papa begadang, bisa jadi, dia meminta Papa pulang ke Jakarta sekarang juga!” pesan Erik yang kembali duduk di balkon kamar Kalun.
Mereka berdua mengobrol kesana-kemari, melupakan waktu yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
“Kamu pengen tahu nggak cerita malam pertama Papa?” tawar Erik supaya Kalun penasaran.
“Hhhh ... nggak pengen tahu, lagian aku juga nggak akan melakukannya dengan Aluna.” Kalun menatap kosong hamparan taman luas yang ada di depannya.
“Kamu akan menikah dengan Aluna, bukan hanya nafkah lahirnya yang harus kamu penuhi, dia juga punya kebutuhan batin yang wajib kamu penuhi,” jelas Erik. “Kalian sudah sama-sama dewasa, dan Papa juga nggak tahu kapan akan pergi, jadi segera berikan kami hadiah yang paling indah sebelum kami pergi,” lanjut Erik sambil menepuk punggung Kalun. Dia lalu kembali masuk ke kamar, merebahkan tubuhnya karena sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuk yang menyerannya.
Kalun masih memikirkan ucapan Erik yang semakin membuatnya bingung, tapi dia harus mamangkas pikiran itu, dia hanya akan menjalankan rencana setelah acara pernikahan ini selesai.
Jangan lupa, like komentar dan vote ya.😂😁
__ADS_1