Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Extra Part : Bayi Leya


__ADS_3

Di kamar yang tidak jauh dari ruang bersalin. Erik menyandarkan tubuhnya di tembok, menatap ke arah Kalun yang masih memejamkan mata, di atas bed tidur rumah sakit.


Setelah melihat Kalun tersadar, Erik segera mendekat ke arahnya. Kalun terlihat kebingungan ketika menyadari dia tidak sedang bersama Aluna. Ia lalu menurunkan kakinya, berniat kembali ke ruang bersalin.


"Yakin. Kamu akan kuat melihat darah?" tanya Erik dengan suara dingin, saat melihat Kalun turun dari ranjang.


Kalun diam. Memikirkan ucapan papanya. Dia juga bingung, kenapa tadi bisa tiba-tiba pusing ketika melihat darah yang menempel di sarung tangan Lusi. Padahal seingatnya, dia sudah biasa-biasa saja, saat melihat darah orang lain ataupun darahnya sendiri. Kalun menarik rambutnya ke belakang, sebelum melanjutkan langkahnya ke ruang bersalin.


"Kalau kamu nggak bisa. Lebih baik kamu di sini! Takutnya kamu terkena serangan jantung." Erik menepuk pelan punggung Kalun, "Luna ditemani mamamu." Erik melanjutkan ucapannya, supaya Kalun tidak terlihat khawatir.


"Nggak. Aku akan tetap ke sana, aku sudah berjanji dengan Luna. Aku harus ke sana sekarang!" kata Kalun kekeh.


"Jangan egois! Bagaimana jika kamu di sana justru membuat ribut? Lagian kamu itu lucu! Ngapain, cuma lihat darah saja bisa sampai pinsan?! Dulu tesmu di rumah sakit bagaimana?" tanya Erik mengingatkan Kalun yang juga seorang dokter.


"Aku juga tidak tahu. Aku kira, aku sudah baik-baik saja. Mungkin karena aku terlalu mencintainya, jadi tidak bisa melihatnya terluka!" jelas Kalun menatap tembok putih di depannya.


"Cih. Dasar! Kuatkan mentalmu dulu! Baru kamu bisa pergi ke sana! Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada Luna. Itu hanya darah, seperti halnya dengan darah haid. Anggap saja sepeeti itu!"


Kalun lalu duduk di sofa. Menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum kembali ke ruang bersalin untuk menemani Aluna.


Tidak lama kemudian, terdengar dering ponsel Erik yang ada di saku celana. Erik segera mengangkat panggilan masuk ketika melihat nama istrinya tertera di layar ponsel.


"Ya, aku akan segera ke sana," kata Erik sebelum menutup panggilan dari Ella. Ia lalu menatap ke arah Kalun yang tengah memperhatikannya.


"Luna sudah siap untuk melahirkan, kalau kamu tidak bisa menemaninya, biarkan mamamu saja yang menemani Luna."


Kalun langsung berdiri, "biarkan aku yang menemani Luna," ucapnya sambil berlenggang keluar ruangan.


Kalun dan Erik berjalan beriringan menuju ruang bersalin. Kalun menguatkan mentalnya sebelum tiba di depan pintu ruang bersalin. Ia lalu mendorong kasar ruang bersalin, suara tangisan Aluna yang berada di balik tirai hijau, menyambut kedatangan Kalun di sana. Kalun mengepalkan tangannya erat, sambil menarik nafas dalam-dalam. Dia lalu meminta baju khusus pada perawat jaga yang kebetulan melewatinya.


Setelah siap mengenakan baju bewarna biru, Kalun segera membuka tirai yang menutupi brankar Aluna. Dia tersenyum tipis ke arah Aluna di tengah proses Aluna mengejan.


Aluna yang melihat kedatangan Kalun, memutus nafasnya. Dia ambruk di atas bantal dengan keringat yang bercucuran membasahi wajahnya yang pucat.


"Kamu ke mana A'?" tanya Aluna menatap langit-langit ruang bersalin.


"Temani istrimu! Biar mama menunggu di luar," pamit Ella sambil mengusap punggung Kalun.


Kalun mengangguk sambil tersenyum tipis ke arah Ella. Lalu menatap lagi ke arah Aluna, "Maaf. Maafkan aku Sayang, sekarang aku sudah di sini untukmu, untuk anak kita." Kalun menciumi seluruh wajah Aluna yang basah karena keringat.


"Mau dilanjutkan Bu Luna? Sepertinya kontraksi datang lagi," tawar Lusi yang berusaha mengingatkan Aluna.


Aluna lalu menatap ke arah Kalun, tangannya meraih rahang pipi Kalun, lalu mengusapnya lembut.


"A' jika sesuatu terjadi padaku. Kamu boleh nikah lagi. Tapi tolong jaga anak kita dengan baik!" pesan Aluna yang menatap dalam mata Kalun, "Ini sakit. Aku baru sekali ini merasakan sakit yang luar biasa, dan ini karena anak kita A," lanjutnya dengan air mata yang kembali menetes.


"Nggak akan terjadi sesuatu yang buruk denganmu, aku sudah di sini. Kita berjuang bersama, kita akan membesarkan anak kita. Aku yang mancari nafkah, dan kita akan mendidiknya bersama. Percayalah Sayang, kamu pasti bisa melewati ini semua!" ucap Kalun sambil meraih tangan Aluna yang mengusap pipinya, ia lalu mengenggam tangan Aluna lebih erat lagi.


Kalun tak kuasa menahan air matanya, saat melihat Aluna yang menampilkan rasa kesakitan ketika mengejan mengeluarkan bayinya. Reaksi yang diberikan Aluna padanya, tidak sebanding dengan apa yang Aluna rasakan saat ini, apalagi dengan rasa takutnya dengan darah, seolah menguap berganti dengan rasa haru yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Berulang kali Aluna mengejan mengeluarkan bayinya, hingga proses mengejan ke 6 kali, bayi kecil berambut hitam legam, dengan darah segar yang terlihat jelas di tubuhnya, terdengar menagis keras memenuhi ruang bersalin. Mulutnya terbuka lebar dan bergetar saat Kalun menoleh ke arahnya.


Tidak ingin menghampiri bayinya, Kalun justru menangis di samping Aluna. Mengusap kembali matanya yang sudah pedih, karena gesekan kulit yang berulang kali mengusapnya. Dia menatap Aluna, yang masih mengatur nafas sambil menampilkan wajah lega.


"Terima kasih, terima kasih, terima kasih Sayang. Kamu berhasil memberikan kehidupan baru untuk anakku. Terima atas semua pengorbananmu ini," ucap Kalun dengan tangisan lirih.


"Bayi kita sehat, kan?" tanya Luna.


Kalun lalu menoleh lagi ke arah perawat yang tengah membersihkan bayinya, "Iya Sayang, dia sehat. Cantik seperti kamu," ungkapnya sambil mengusap lembut keringat di dahi Aluna dengan tangan kanan.

__ADS_1


"Syukurlah. Tapi aku lelah, biarkan aku istirahat dulu. Kamu jaga baik-baik anak kita," kata Aluna lirih menampilkan senyum tipisnya.


"Ya, istirahatlah. Aku akan menjaga Leya."


Lusi yang masih mengurus bagian bawah Aluna hanya tersenyum tipis ke arah Kalun, "Selamat ya, sudah jadi Bapak sekarang," kata Lusi di tengah kegiatannya menjahit bagian bawah Aluna. Dia melihat Kalun yang menciumi wajah pucat Aluna yang sudah memejamkan matanya.


"Pantas saja lama, ternyata kamu besar di perut ya Nak," ungkap perawat sambil menggendong bayi perempuan itu ke arah Kalun.


"Ini Pak bayinya, beratnya 3600 gram tingginya 51 cm. Lahir dalam kondisi sehat."


"Istrimu hebat. Padahal bisa saja dia menyerah. Tapi semangat melahirkan normalnya begitu tinggi. Padahal bayimu termasuk kategori besar, dan pinggang istrimu sempit, bisa saja dia beresiko lumpuh akibat pergesekkan tulang," ungkap Lusi.


Kalun ragu untuk menerima bayi yang ada di depanya, dia hanya mengawasi bayi perempuan yang terbungkus kain putih yang berada di gendongan perawat.


"Ini benar anakku?" tanya Kalun yang belum percaya apa yang ada di depannya.


"Iyalah. Apa perlu tes DNA." Lusi menggoda Kalun, "Bayi gendut itu yang keluar dari rahim istrimu."


Kalun menangis haru di sana sambil meraih bayinya yang di bawa perawat. Ia menempelkan hidungnya di pipi gembul bayi tersebut, hingga air mata yang ia keluarkan jatuh mengenai pipi bayinya.


"Selamat datang Leya, terima kasih sudah hadir di kehidupan ayah dan bunda. Terima kasih sudah menyatukan ayah dengan bunda lagi. Kehadiranmu yang kami nantikan, semoga kamu jadi anak shalihah," ungkap Kalun lirih sambil menatap anaknya yang sedang memainkan bibir membentuk gelembung dengan air liurnya, dengan mata yang masih terpejam rapat.


Setelah ucapan itu, Kalun mulai membisikan suara adzan dan iqomah di telinga anak perempuannya, bayi itu hanya diam, menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, ketika Kalun melantunkan suaranya.


"Bolehkah aku membawanya keluar Lus? Aku akan memperlihatkan pada kedua orang tuaku!"


Lusi mengerutkan dahinya, "Suruh saja orang tuamu masuk, ini rumah sakit, dan bayimu baru saja keluar. Di luar banyak virus."


Kalun lalu menyerahkan bayinya pada perawat yang ada di sana. Dia berjalan keluar ruang bersalin menghampiri kedua orang tuanya. Saat ia membuka pintu terlihat wajah kedua orang tuanya yang tegang. Kalun langsung memeluk Ella yang berdiri tidak jauh dari Erik.


"Maafin Kalun Ma. Mama pasti juga seperti Luna ketika melahirkan Kalun dulu." Kalun kembali mengeluarkan air matanya di pelukkan Ella, dia paham bukan cuma istrinya yang berkorban untuk melahirkan anaknya, tapi mamanya juga demikian.


"Sudahlah, jangan seperti ini." Ella mengusap punggung Kalun yang bergetar karena menahan tangisnya.


"Kamu adalah anugerah terindah untuk mama, bukti cinta mama dan papa. Kita menyanyangimu, sudah sewajarnya sebagai orang tua memberikan kasih sayang padamu."


"Gimana kondisi Luna?" tanya Ella melepaskan pelukan Kalun, dia mencoba mengalihkan perhatian Kalun, menatap wajah Kalun yang terlihat lelah, dan lengan kemeja putihnya yang sudah tidak lagi rapi, bahkan satu kancing kemejanya terbuka marena keancingnya terlepas.


"Dia sehat, dia wanita luar biasa yang pernah Kalun temui setelah Mama, dia masih di dalam. Dia bilang lelah, dan ingin istirahat jadi jangan diganggu dulu," jelas Kalun.


Erik yang mendengar penuturan Kalun, segera berjalan masuk ke ruang bersalin, untuk mastikan kondisi menantu Luna. Saat ia hendak menghampiri Lusi, suara tangisan bayi kecil yang ada di dalam box, mengalihkan perhatiannya. Dia mengerutkan dahinya sambil tersenyum tipis, menghapiri bayi perempuan terebut.


"Hai cantik, ini opa, Nak!" ungkapnya saat tiba di box bayi Kalun. Dia lalu menggendong dan menimang-nimang bayi tersebut hingga membuatnya tenang. Tapi sejenak ia mendudukan tubuhnya, di kursi yang ada di samping box. Dia teringat dengan anak gadisnya ketika lahir dulu, dan Ella terpaksa harus pergi meninggalkannya.


"Bagaimana kondisi Luna Lus?" Erik sedikit berteriak karena jaraknya dengan Lusi yang hampir sepuluh meter. Dia khawatir cucunya akan mengalami hal yang sama dengan Riella.


"Kita periksa setelah sadar Dok. Sejauh ini, semuanya normal."


"Kamu masih ingat kan, dia hanya punya satu indung telur?"


"Ya Dok, kami akan terus memantau kondisi nyonya Luna." jawab Lusi.


Erik mengangguk, lalu kembali meletakkan bayi Kalun ke dalam box. Dia menatap lama bayi itu sambil bermain-main mengusap pipi gembulnya.


"Kamu di sini rupanya!"


Erik menoleh ke belakang setelah mendengar ucapan Ella. Dia lalu merentangkan tangan kanannya. Meminta Ella untuk mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Selamat atas gelar barumu Sayang," bisik Erik di telinga Ella. Membuat Ella tersenyum tanpa memperlihatkan giginya. Dia lalu menggendong dan menciumi bayi yang masih khas beraroma darah tersebut.


"Ini cucu kita? Lucu sekali kamu Sayang! Kenapa pipinya sudah sebesar ini, hum?" ucap Ella saat bayi Kalun berada di pelukannya. Erik hanya menatap pemandangan indah di depannya. Keinginan istrinya kini sudah terpenuhi.


"Wah babynya mau diperiksa Oma dokter ya?" kata perawat yang baru saja tiba di sana, dia lalu meminta bayi Kalun untuk diberikan pada Aluna. Karena Aluna sudah bangun, dan ingin malakukan IMD.


Kalun langsung mengambil bayinya ketika melihat perawat menghampiri dengan bayi yang berada di tangan. Dia lalu menyerahkannya pada Aluna.


Aluna yang masih dalam posisi tidur, menerima anaknya dengan senang hati ketika anaknya itu diletakkan di dadanya. Merasa geli dan pedih ketika bayinya menemukan sumber makanan yang ia cari beberapa menit yang lalu.


"Mau aku bantuin?" tawar Kalun menatap Aluna.


"Tidak perlu, dia sudah pintar," kata Aluna lembut sambil menepuk pelan bahu anaknya.


"A' kenapa mirip sekali denganmu? Hanya rambutku saja yang sama dengannya," ucap Aluna setelah lama memperhatikan wajah anaknya.


"Iyalah Sayang, dia jelas anakku. Hai Leya!" ucap Kalun sambil memegang jari mungil anaknya, menggerakkan pelan dan hati-hati.


Kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Kehidupan rumah tangganya kini semakin lengkap dengan hadirnya bayi mungil itu.


***


Saat ini Aluna sudah dipindahkan ke ruang perawatan bersama bayinya yang diletakkan di box khusus.


Tamu penting datang silih berganti untuk melihat anak pertama Kalun. Si kembar dengan antusias menyambut kehadiran anak mereka. Berebut menggendong bayi Kalun yang lucu itu.


Hingga malam tiba, hanya Kalun sendiri yang menjaga Aluna. Aluna meminta Kalun untuk tidak mempekerjakan babysitter, dia ingin mengurus anaknya sendiri. Dia masih mampu jika hanya mengurus satu anak saja.


Tepat pukul 2 dini hari terdengar suara tangisan bayi Leya. Kalun dengan sigap menghampiri bayinya meski dalam kondisi mengantuk. Dia mengecek popok yang bayinya kenakan. Dia sengaja tidak membangunkan Aluna. Membiarkan istrinya untuk istirahat dengan nyenyak di atas tempat tidur. Ia menimang-nimang hingga bayi yang diberi nama Cathaleya Kalunna Ramones itu tertidur kembali.


Pagi hari. Saat Aluna membuka matanya, ia dikejutkan dengan Kalun yang tidur di sampingnya. Ia memeluk tubuhnya erat sambil meletakkan kepalanya di pundak kecilnya. Sedangkan bayinya terlelap di dalam box samping brankar, ditutup kain transparan yang menutupi box bayi tersebut.


"A' jangan terlalu erat memelukku," ungkap Aluna. Kalun yang mendengar samar suara Aluna, pelan-pelan ia membuka matanya lalu tersenyum tipis ke arah Aluna.


"Selamat pagi Bunda," sapa Kalun, mengganti nama pangggilannya. Membuat Aluna memberikan senyuman tipis ke arahnya.


"Kamu cantik sekali pagi ini," puji Kalun yang membuat Aluna mengalihkan tatapannya.


"Bun? Sepertinya kurang tepat kalau aku memanggilmu Bunda, aku masih ingin memanggilmu Sayang. Kamu yang tersayang di sisa hidupku."


"Gombal! Kamu nggak lihat bagaimana perutku ini! Coba nanti kamu ketemu yang lebih baik dariku. Pasti kepincut deh!" ucap Aluna sambil memperlihatkan perutnya yang bergelambir.


Kalun hanya menatap wajah Aluna sambil tersenyum simpul, " Melihat pengorbananmu kemarin, membuatku takut, untuk berbuat yang lebih menyakitkan dari yang sudah berlalu. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, dan ayah yang baik untuk Leya."


"Leya saja?" tanya Aluna sambil tersenyum.


"Iya. Aku kebingungan saat kamu kesakitan kemarin dan aku tidak ingin kamu mengalaminya lagi. Jadi biarlah kita punya Leya saja." Kalun lalu memeluk erat tubuh Aluna. Mengungkapkan rasa cinta dan terima kasih yang sudah sering ia sampaikan pada istrinya. Hingga suara tangisan Leya menganggu keduanya yang tengah berpelukan di atas bed tidurnya.


💞


Sekian ya Extranya, semoga suka😂.


Jangan lupa untuk vote dan like👍


Mampir juga ke cerita saya lainnya😀. Aku tunggu pokoknya😂😂😂


Terima kasih, Peluk Online

__ADS_1


Rehuella


__ADS_2