
Kalun turun dari mobilnya, setelah tiba di area parkir apartemen, jas yang tadi dia pakai sudah tidak menempel di tubuhnya lagi, dia hanya menggunakan kemeja hitam dan vast abu di badannya. Kemejanya pun kini sudah tidak rapi lagi, sebagian ujung kemeja sudah tidak masuk ke dalam celananya.
Malam ini Kalun merasa sangat kelelahan karena kejadian yang baru saja dia alami. Kalun berjalan pelan menuju apartemennya. Berdoa dalam hati, semoga istrinya sudah terlelap di kasur empuk miliknya.
Tiba di depan pintu apartemen Kalun segera menekan password pintu. Bunyi pintu terbuka terdengar, dia mengedarkan pandangannya ke arah setiap sudut ruangan. Lampu masih menyala suara televisi yang berbicara masih terdengar. Membuat Kalun merasa semakin bersalah pada Aluna, karena membiarkannya menunggu terlalu lama.
Dia berjalan ke arah dapur, makanan yang disiapkan Aluna masih utuh, belum ada yang tersentuh. Dia yakin jika istrinya itu tidak makan sama sekali malam ini. Dan itu pasti karena ingin makan bersamanya.
Kalun berjalan mendekat ke arah sofa, melihat Aluna yang terlelap di punggung sofa, dengan siku yang dipakai sebagai pengganti bantal. Mata Kalun tertuju ke arah jam besar yang berada di antara ruang tamu dan ruang kerja, yang sudah hampir pukul 3 pagi.
“Dasar keras kepala, sudah dibilangin jangan menungguku, malah tertidur di sini! Nanti kalau sakit bagaimana? Kamu mau, terus merepotkan suamimu ini?!” gerutu Kalun yang bermonolog sendiri, setelah itu dia mengangkat tubuh Aluna, dan membawanya masuk ke dalam kamar utama.
Tiba di kamar, Kalun merebahkan tubuh istrinya dengan lembut, tapi tetap saja, Aluna terbangun karena merasa terganggu oleh lelaki yang membawanya ke kamar.
“Kamu baru pulang A’?” suara lirih Aluna keluar ketika Kalun hendak melepaskan tangannya dari bawah kepala Aluna. Kalun tersenyum tipis saat melihat Aluna terbangun.
“Kenapa sampai selarut ini?” lanjutnya. Saat Aluna mengarahkan tatapannya ke arah jam yang ada di dekat ranjang. Kalun membeku setelah mendapat pertanyaan dari Aluna. Dia tidak bisa mengatakan alasannya sekarang, dia hanya membalas mengecup dahi Aluna singkat.
“Memang baru selesai,” jelas Kalun singkat.
Aluna yang sudah tahu jika Kalun pulang dari tadi pukul 10 malam, hanya bisa menerima kebohongan suaminya. Dia menganggukan kepalanya, memeluk tubuh Kalun yang belum mengganti pakaiannya.
“Aku hanya khawatir denganmu, setidaknya jika pulang selarut ini, kamu bisa membalas pesan atau menjawab teleponku,” kata Aluna lembut sambil mengusap punggung Kalun.
“Ya, tak akan aku ulangi lagi,” sahut Kalun lirih, membalas pengusap rambut panjang Aluna yang terlihat berantakan.
“Apa klienmu perempuan? Kenapa tercium aroma vanilla di pakaianmu?” tanya Aluna sambil melepaskan pelukannya, Aluna memang dari dulu memiliki penciuman tajam, sudah sering dia mencium aroma parfum vanilla yang menempel di kemeja Kalun. Aroma itu mengingatkannya pada ibu tirinya.
Kalun terlihat gusar, bibirnya tidak mampu terbuka untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi dengannya. Aluna yang melihat kegelisahan Kalun justru tertawa senang.
“Lupakan! Aku tidak masalah dengan aroma parfum itu, yang penting kamu sudah di sini, cepat bersihkan dirimu, aku akan membuatkan minuman hangat!” perintah Aluna yang akan beranjak dari ranjang.
“Nggak usah, aku tidak membutuhkannya, kamu tidurlah! Kamu masih mengantuk, kan?” cegah Kalun yang tidak ingin melihat Aluna melanjutkan niatnya.
__ADS_1
“Tidurlah! Aku akan menyusul setelah membersihkan tubuhku!” kata Kalun sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh kecil Aluna. Aluna menatap Kalun yang perhatian dengannya, dia mengucapkan ‘terima kasih’ ketika Kalun mengecup dahinya singkat, Kalun hanya membalasnya dengan senyuman tipis lalu berlalu ke arah kamar mandi.
Aluna ingin melanjutkan tidurnya, Matanya ingin terpejam, tapi pikirannya berlarian kemana-mana. Memikirkan kepergian Kalun yang entah dari mana. Dia memejamkan matanya ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dia pura-pura terlelap, ketika Kalun menyusul untuk berada di sampingnya.
Kalun melingkarkan tangannya di perut Aluna yang sudah tidur menyamping. Mematikan lampu kamar yang sebelumnya menyala, menggantinya dengan cahaya temaram yang ada di samping ranjang king size miliknya. Tidak butuh waktu lama untuk Kalun terlelap di sana. Sedangkan Aluna masih terjaga dengan pikirannya yang kacau.
Hingga pagi menyapa, Aluna segera menyiapkan sarapan dan bersiap ke kantor. Dia membangunkan Kalun, untuk bersiap pergi ke kantor, setelah dia menyelesaikan mandinya.
“Bangun A’. Sudah jam 7 nanti aku terlambat,” kata Aluna sambil meletakkan tangannya yang dingin ke pipi Kalun. Perlahan Kalun membuka matanya, melihat Aluna yang sudah duduk di tepi ranjang. Dia memeluk pinggang tersebut dengan erat membenamkan kepalanya di pinggang Aluna.
“Aku berangkat siang saja aku masih ngantuk, kamu biar berangkat bersama Doni ya!” kata Kalun dengan suara khas bangun tidur.
“Ow ... gitu. Biar aku naik ojek online saja, kasihan Doni, jarak rumahnya ke sini cukup jauh A',” tolak Aluna sambil menatap ke arah Kalun yang kini sudah berada tepat di perutnya
“Aa’ nggak sakit kan?”
“Nggak. Aku baik-baik saja. Aku hanya masih mengantuk,” jelas Kalun.
“Oke, aku berangkat dulu ya. Sarapan untukmu sudah aku siapkan di meja,” pesan Aluna seraya mencium pipi Kalun sebelum beranjak keluar kamar, dia segera berlalu meninggalkan apartemen karena takut terlambat masuk kantor.
Tiba di depan gedung kantor, Aluna tersenyum ramah dengan penjaga pintu. Sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi menyapa semua orang yang dilewatinya ketika berjalan di lobby.
Aluna merasa nyaman bekerja di sini, jadi dia berusaha ramah dengan siapapun. Sebisa mungkin menghindari permusuhan sesama karyawan, itu demi kelangsungan pekerjaannya.
Lihat deh! Ternyata orang berduit itu bebas ya.
Fotonya di luar saja seperti ini, bagaimana kalau sudah berada di dalam apartemen.
Iya, ya. Lalu kenapa Pak Kalun menikahi wanita lain jika dia masih mencintai tunangannya.
Aku rasa sih ya, itu hanya settingan saja. Nyatanya kita selama ini nggak pernah melihat rupa istri bos kita seperti apa!
Aluna menolehkan kepalanya ke arah dua wanita yang ada di belakangnya, mereka tengah mengantre menunggu pintu lift terbuka sambil membicarakan orang lain. Ingin dia ikut melihat foto tersebut, tapi hatinya tidak akan kuat jika itu benar suaminya.
__ADS_1
Bunyi pintu lift terdengar, Aluna segera memasuki lift tersebut. Sedangkan dua wanita tadi masih tertinggal di sana. Aluna menarik nafas berat lalu membuangnya pelan, memikirkan ucapan dua wanita tadi, hingga pintu lift terbuka di salah satu lantai ruangannya.
Saat tiba di ruangan, Aluna masih berusaha meyakinkan jika yang mereka bicarakan tadi bukanlah suaminya. Tapi kerumunan rekan kerjanya membuatnya penasaran dan ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Sudah bubar-bubar!” maki Renata saat melihat Aluna mendekat ke arah kerumunan. Renata juga ikut menggosip sana-sini dengan rekan kerjanya, dan dia tahu apa yang mereka bicarakan, dia tidak ingin membuat Aluna bersedih dengan berita tentang suaminya pagi ini. Jadi sebisa mungkin Renata mencegahnya, tanpa berpikir jika Aluna akan marah ketika Renata berusaha menutupinya.
“Nggosip apaan sih?” tanya Aluna penasaran sambil bergabung dengan para wanita dan lelaki yang ada di ruangan tersebut.
“Heh. Tumben kepo? Biasanya juga anteng-anteng saja kamu!” tanya wanita Si ratu gosip.
“Cuma penasaran saja, kelihatannya hot banget.”
“Ya, iyalah Lun. Secara gitu loh, pimpinan EL Group belum bisa move on dari Sang tunangan!” ketus wanita tersebut.
“Ngapain kamu dengerin dia! Belum tentu juga benar!” kilah Renata, yang menarik tangan Aluna menjauh dari Tania Si ratu nyinyir. Namun, Aluna menahan supaya dia tidak tertarik Renata.
“Maksudmu Pak Kalun?” tanya Aluna yang penasaran.
“Iya Pak Kalun, sepertinya dia terlibat scandal percintaan. Atau pernikahan yang dia bicarakan sebulan yang lalu itu, hanya settingan. Sungguh!? Jika benar pernikahan itu terjadi, aku justru kasihan pada istrinya yang tidak dianggap itu. Mana mungkin juga, kan? Cinta dari kecil bisa terlupa secepat itu!”
“Sudah kamu jangan dengarkan dia! Duduk ke tempatmu!” kasar Renata sambil menunjuk ke meja kerja Aluna.
“Hei Ren, aku ada bukti ya! Ini benar mereka, kan?” kata Tania sambil memperlihatkan foto seorang lelaki yang tengah menggendong mesra seorang wanita memasuki salah satu apartemen mewah di Jakarta. Aluna menyambar ponsel Tania, menggeser-geser beberapa foto yang memperlihatkan sepasang manusia tersebut di layar ponsel berukuran 6 inch tersebut. Pakaiannya sama dengan suaminya semalam, bahkan jas yang dikenakan wanita tersebut adalah jas suaminya. Aluna mencekram ponsel itu dengan kuat, tidak mengerti apa yang terjadi dengan Kalun semalam, dia hanya tahu Kalun pulang pagi, dan pagi ini dia sudah menemukan jawabannya. Kalun bersama Kayra semalam.
“Kembalikan ponselku! Lagian kenapa kamu memasang wajah seperti itu! Toh nggak ada hubungannya denganmu!” minta Tania saat melihat wajah marah Aluna.
Aluna tersenyum tipis ke arah Tania, “Maaf, iya kamu benar. Pak Kalun memang tidak ada hubungannya denganku! Aku hanya kesal, ketika melihat lelaki yang menduakan istrinya.”
Aluna menyerahkan ponsel Tania. Dengan perasaan yang kacau, dia lalu berjalan ke arah mejanya dengan gontai, jawaban yang diberikan Kalun semalam terus membayanginya, Kalun berhasil membohonginya, dengan mengatakan jika rapatnya memang selesai selarut itu.
Tahu nggak A' pasti setelah ini akan ada kebohongan lagi yang akan kamu ucapkan padaku. Batin Aluna sambil mengusap rambutnya kebelakang saat sudah duduk di balik meja kerjanya.
👣
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote.👌👍