
Mobil Kayra melaju cepat ke arah salah satu apartemen mewah di Jakarta. Tempat tinggalnya! Dia akan membawa Kalun bersamanya. Dia ingin memiliki Kalun malam ini.
Sampai di depan apartemen, Kayra meminta tolong penjaga untuk membantunya membawa Kalun masuk ke apartemen miliknya. Dia berjalan lebih dulu mendahului petugas yang tengah berjalan menuju mobilnya.
***
Di sisi lain Aluna tengah menunggu Kalun di apartemen. Dia terus menerus menoleh ke arah jam di dinding, khawatir juga dengan apa yang akan dilakukan suaminya malam ini. Tangannya terulur meraih ponsel yang ada di meja. Berusaha menanyakan keadaan Kalun.
Kalun tidak menjawab panggilannya, membuat Aluna bertambah khawatir dengan apa yang Kalun lakukan saat ini dengan Kayra.
“Apa yang kamu lakukan di sana A’ aku berharap kamu tidak mengulangi kesalahanmu lagi,” ucapnya sambil menatap nama suaminya yang ada di layar ponselnya.
Aluna kembali menatap layar tv di depannya. Pandangannya ke arah layar, tapi pikirannya melayang memikirkan Kalun yang tidak kunjung menemuinya malam ini.
Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Aluna segera membaca pesan yang baru saja masuk, dia yang panik langsung meraih jaket yang tadi dia letakkan di sofa. Aluna berjalan cepat keluar dari apartemen, untuk menemani suaminya yang tengah berada di rumah sakit. Sopir mama Ella sudah dimintanya untuk pulang, jadi dia memesan taksi online untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Aluna sudah tidak mempedulikan lagi kondisinya yang tengah hamil muda, dia ingin segera menemui suaminya dan menemani Kalun di sana, dia terus memainkan ujung bajunya ketika berada di dalam mobil. Pesan dari nomor tidak di kenal itu membuatnya benar-benar khawatir dengan kondisi Kalun saat ini.
Aluna yang sudah tiba di rumah sakit, segera berjalan memasuki ruang UGD. Langkahnya sedikit berat mengingat kejadian 7 bulan yang lalu. Dia harus menerima kenyataan jika Fandi sudah tiada. Dia hanya berharap supaya Kalun baik-baik saja di dalam sana.
Aluna berjalan mendekat ke arah lelaki yang mengenakan kaos hitam dan topi di depan ruang UGD, dia ingin bertanya apa dia mengenal suaminya. Namun, yang ada lelaki itu mengenalnya dan memberitahu kabar tentang suaminya.
“Nona Aluna. Tuan masih diperiksa oleh dokter, kita tunggu di sini saja!” ucap lelaki yang bediri di depan Aluna.
“Apa yang terjadi? Dan kamu ...” tatapan Aluna menjurus ke arah lelaki di depannya, dia merasa tidak asing dengan lelaki ini, bahkan pernah bertemu dia saat lelaki itu berada di rumah mertuanya.
“Tadi saya membawa Tuan ke sini, saat Nona Kayra menyerahkan pada saya, sepertinya ada yang tidak baik dengan kondisi Tuan, karena tubuhnya tadi menggigil jadi saya bawa kemari.”
“Kayra!”
“Iya Nona, sebenarnya Nona Kayra meminta saya membawanya masuk ke apartemennya. Apa yang dilakukan Tuan? Kenapa dia menemui Nona Kayra?”
Aluna yang akan menjelaskan terpaksa harus menundanya, karena lelaki itu meminta izin untuk mengangkat telepon dari atasannya.
Dokter yang menangani Kalun keluar dari ruang UGD. Dia mencari-cari anggota keluarga yang tadi bertanggung jawab atas kondisi Kalun.
__ADS_1
“Ada apa dengan suami saya?”
Dokter itu mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Aluna. Dia tidak pernah tahu jika saudara lelaki dari pemilik rumah sakit tersebut sudah menikah. Dokter itu terkekeh saat mendengarkan gerutuan Aluna.
“Jelaskan padanya!” suara dingin itu keluar dari mulut lelaki yang tadi mengantar Kalun ke rumah sakit.
“Cepat katakan!” bentaknya sambil menatap tajam ke arah lelaki di depannya.
“Saya sudah mengeluarkan cairan yang ada di tubuh Pak Kalun, itulah sebabnya tubuhnya menggigil, bisa jadi dia alergi dengan obat perangsang. Hingga tubuhnya tidak mampu menerimanya.”
“Apa?”
“Apa Anda yang memberinya Nona? Saya sarankan Anda menghentikan itu, karena akan berbahaya untuk kondisi jantung dan ginjal Pak Kalun!”
Aluna memukul dokter di depannya dengan tas yang ada di tangannya. Dalam hatinya kesal karena Kayra pasti yang sudah memberikannya untuk Kalun. Dia langsung masuk ke ruang UGD melihat Kalun yang masih memejamkan matanya, Aluna meletakkan punggung tangannya ke arah kening Kalun. Dia khawatir dengan kondisi yang dialami suaminya. Dokter bilang suaminya alergi obat perangsang. Beruntung juga lelaki di depan tadi menolong suaminya, jika tidak, pasti suaminya itu sudah tidur dengan Kayra sekarang dan dia pasti akan sakit hati jika itu benar terjadi.
Lamunan Aluna buyar ketika mendengar dering ponsel yang ada di kantong saku celana Kalun. Dia mengambil ponsel Kalun dan segera mengangkatnya, saat membaca siapa yang menelepon suaminya.
“Jangan ganggu lagi suamiku Key, jika kamu tidak ingin berhadapan denganku!” ancam Aluna saat mendengar suara rayuan dari ujung telepon. Kayra berpikir yang mengangkat panggilannya adalah Kalun.
Wanita di ujung telepon itu memaki-maki Aluna tidak jelas. Membuat Aluna memejamkan matanya erat saat mendengarkan ucapan Kayra di ujung telepon. Karena telinganya merasa panas, Aluna langsung mematikan ponselnya, dia tidak ingin mendengar julukkan kata pelakor itu lagi dari mulut Kayra.
“Kamu tu! Wanita yang nggak benar! Godain suami orang!” makinya sambil menatap tajam ke arah layar ponsel di tangannya, saat panggilan itu sudah mati.
“Aku tidak menyangka, istriku seberani itu!” ucap Kalun lirih. Membuat Aluna menoleh ke sumber suara, dia tidak menyadari jika Kalun sudah bangun dari tidurnya.
“Kenapa Aa’ bodoh sekali!” ucap Aluna sambil berjalan mendekat ke arah brankar Kalun.
Kalun bingung kenapa dia bisa masuk ke ruangan ini, dia mengedarkan matanya ke arah gorden yang mengelilingi brankarnya. Aluna mendudukkan tubuhnya di tepi brankar tersebut, sambil menatap tajam ke arah Kalun yang kebingungan.
“Jangan menatapmu seperti itu! Aku takut! Ternyata kamu ganas juga ya. Benar yang dikatakan Renata!” ucapnya sambil berusaha mendudukan tubuhnya.
“Kapan Renata bicara denganmu?”
Kalun tersenyum lebar, ke arah Aluna yang tepat berada di depannya.
__ADS_1
“Nggak perlu kamu tahu, sekarang ayo kita pulang! Aku nggak bisa berlama-lama di sini. Biaya di rumah sakit ini mahal, sedangkan uangku hanya pas-pasan,” terang Kalun sambil menyibakkan selimutnya.
“Nggak usah mikirkan biaya! Aa’ harus di sini dulu, sampai kondisi Aa’ pulih!”
“Sayang, aku sudah bisa pulang. Aku sudah baik-baik saja, kita pulang ya!” rengek Kalun yang tidak ingin Aluna memikirkan tentang biaya rumah sakitnya.
“A’ atm yang kamu berikan padaku masih banyak uangnya, jadi nggak perlu lagi memikirkan biaya rumah sakit, yang terpenting cairan itu sudah harus benar-benar keluar dari dalam tubuhmu, dan kondisimu harus benar-benar pulih,” jelas Aluna supaya Kalun tetap berada di rumah sakit.
“Cairan apa?”
“Obat perangsang, Kayra yang memberikannya padamu, tubuhmu alergi dengan obat itu. Jadi, kamu harus di rawat dulu di sini.”
“Obat perangsang! Alergi! Kok bisa?”
“Entahlah! Mungkin dia mencampurkannya ke dalam minumanmu,” jelas Aluna yang mulai kesal dengan suaminya. Dia hanya berpikiran jika tidak ada lelaki yang menolongnya tadi, pasti malam ini dia sudah bermalam dengan Kayra.
“Sini, katanya malam ini mau bermalam denganku!” ucap Kalun sambil bantal yang ada di sampingnya. Aluna hanya memalingkan wajahnya dari Kalun. Membuat Kalun menarik tangan Aluna.
“Jangan marah! Aku janji lain kali akan berhati-hati dengannya,” janji Kalun saat melihat wajah kusut Aluna.
“Ingat kamu hamil anakku, jangan terlalu memikirkan yang tidak penting!” lanjutnya yang menarik kembali tangan Aluna untuk mendekat di sampingnya.
“Aku baru tahu, jika suamiku ini sangat tledor, dan bodoh!”
“Tapi tetap tampan kan?” potong Kalun di depan wajah Aluna dia sudah mengikis jarak wajahnya dari Aluna, hembusan nafas Aluna kini sudah menyapu wajahnya putih miliknya.
“Ya, aku bodoh! Karena bertahun-tahun mencintai wanita seperti Kayra, tapi aku sekarang sudah pintar! Aku mencintaimu, membawa seluruh hati dan tubuhku untukmu,” ucap Kalun yang sudah menempelkan dahinya ke kening Aluna. Dia memejamkan matanya, tidak ingin melihat mata Aluna yang menatapnya kesal.
Bibir merah Kalun bergerak menyentuh bibir mungil Aluna. Dia mulai memberikan kelembapan di bibir Aluna yang terasa kering, Aluna belum ingin membalas ciuman Kalun, dia menutup rapat mulutnya supaya Kalun tidak menciumnya lebih dalam lagi karena dia masih kesal dengan suaminya. Membuat Kalun semakin gemas, dan beralih mencium hidung Aluna, bahkan memasukkan hidung Aluna ke dalam mulutnya, membuat Aluna kesulitan untuk bernafas, hingga dia membuka mulutnya lebar, Kalun menang! Dia langsung mencium kasar bibir istrinya. Membuat Aluna memukul dada Kalun dengan keras. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan kelakuan Kalun dan Aluna.
“Kakakku memang sudah gila Lun, pindah sana ke ruanganku! Nggak malu ih Kakak!” cibir Riella sambil berjalan menjauh meninggalkan mereka berdua.
👣
Jangan komentar negatif jika tidak menyukai tulisan saya👍
__ADS_1
Jangan lupa untuk like ya👌👍