
“Apa kamu sudah jatuh cinta denganku? Kenapa menatapku seperti itu.”
Pertanyaan Aluna membuat Kalun tersadar dari pandangannya, dia mengarahkan pandangan matanya ke arah lain, supaya bisa menyembunyikan rasa cemas atas pertanyaan Aluna.
“Ya, aku jatuh cinta padamu.” Kalun berucap dengan tatapan serius menatap ke arah Aluna.
Aluna pun larut dengan ucapan cinta Kalun dia tersenyum menang ke arah Kalun, dia bisa melihat kejujuran Kalun dari sorot mata lelaki di depannya itu.
“Hahaha ....”
Gelak tawa yang keluar dari bibir Kalun, membuat Aluna tersadar, jika Kalun tidak sungguh-sungguh mengatakan perasaannya tadi.
“Kamu berharap aku berkata seperti itu padamu?” tanya Kalun seraya melotot ke arah wajah Aluna, bibirnya menampilkan senyuman yang tidak bisa ditebak oleh Aluna.
Aluna pun membalas senyuman Kalun dengan sama karasnya.
“Sayangnya, aku akan semakin menyesal jika kamu sudah jatuh cinta padaku,” balasnya sambil beranjak dari tempat duduk, dia pun berjalan menuju dapur untuk mencuci tangan dan mulutnya. Meninggalkan Kalun yang masih memperhatikan sikapnya.
“Terima kasih untuk makan malamnya, aku tidak menyangka jika kamu mau repot-repot membuatkanku makan malam, lain kali jangan seperti ini, atau aku akan salah mengartikan kebaikkanmu,” ucapnya sambil meninggalkan meja makan. Aluna berjalan menuju kamarnya, dia tidak lagi masuk ke dalam kamar Kalun yang tadi dia tiduri.
Aluna menutup kasar pintu kamarnya, dia memejamkan mata, bersandar di balik pintu kamarnya. Dia menggelengkan kepalanya, meyakinkan hatinya, jika dia tidak mulai jatuh cinta pada lelaki dingin seperti Kalun.
“Aku harus menghindarinya! Ya, aku nggak mau jika dia semakin mempermainkan perasaanku,” lirihnya sambil menatap ke arah langit-langit kamarnya.
Aluna mengganti lampu utama dengan lampu tidur di samping tempat tidurnya, dia membuka horden yang ada di dalam kamarnya, terlihat rintik hujan mulai turun malam itu, dia terus menatap hujan yang tidak bisa dia dengar suaranya. Hujan deras kembali mengguyur malam itu, menemani Aluna yang tengah memikirkan nasibnya, ketika nanti tiba waktunya untuk berpisah dengan Kalun.
Sedangkan Kalun, masih membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur, memikirkan ucapan Aluna yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia merasakan kenyamanan yang tidak dia dapati ketika bersama dengan Kayra. Getaran yang menyesakkan hatinya itu, selalu datang ketika dia menatap dan melihat Aluna bersama pria lain. Kalun terus memikirkan hal itu, tapi dia yang bodoh tidak menemukan jawabannya, hingga dia lelah dan terlelap menjelang azan subuh berkumandang.
---
Pagi hari Kalun terbangun ketika mendengar suara teriakan dan nyanyian yang masuk ke dalam kamarnya. Seluruh keluarganya datang dan menggemparkan isi kamarnya dengan suara nyanyian selamat ulang tahun.
“Selamat ulang tahun yang ke-27 tahun Sayang, sudah sangat pantas jika ada yang menyebutmu Papa,” canda Ella sambil memeluk anaknya.
Ketiga adiknya pun satu persatu mulai mengucapakan selamat ulang tahun untuknya. Berbeda dengan Erik yang hanya menatap aneh ke arah Kalun, saat tidak mendapati Aluna tidur di sampingnya.
__ADS_1
“Berdoa dulu Kak, sebelum meniup lilinya,” ucap Riella yang masih duduk di tepi ranjang Kalun.
“Doa minta baby, jangan lupa itu!” peringat Ella ketika melihat Kalun memejamkan matanya.
“Mana Luna?” tanya Ella yang baru menyadari ketidakhadiran menantunya.
Kalun pun berpikir sejenak, mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan mamanya.
“Mungkin dia berada di toilet Ma,” jawabnya singkat. Ella yang merasa curiga segera berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamar Kalun, dia merasa ada yang tidak beres dengan anaknya. Dia yang menyadari Aluna tidak ada segera berjalan ke arah kamar lain.
“Apa maksudmu?” tanya Erik menatap ke arah Kalun.
“Aku nggak paham maksud pertanyaan Papa!”
“Kalian tinggalkan kami berdua!” perintah Erik pada ketiga putrinya.
“Kamu biarkan istrimu tidur tanpa pelukkanmu?” tanya Erik ketika hanya mereka berdua yang berada di sana.
“Pa ....”
“Bagaimana jika ada lelaki yang menawari pelukkan untuknya bersandar?”
Suasana pun hening, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Erik menatap tajam ke arah Kalun.
“Papa pikir kamu pintar, tak tahunya masih saja bodoh!” maki Erik saat tahu kelakuan anaknya.
“Kalun!” terdengar suara teriakan Ella dari arah pintu kamar.
“Jelaskan pada Mama!” perintah Ella sambil membawa Aluna masuk ke dalam kamarnya.
“Apalagi Ma?”
“Jelaskan kenapa kalian tidur terpisah! Jadi selama ini Mama sudah salah berharap pada kalian! Jangan bilang kamu belum pernah melakukan malam pertama dengan Aluna?” tanya Ella penuh selidik.
“Ma, Mama dan Papa tahu kan siapa yang aku cintai? Aku mencintai Kay-”
__ADS_1
“Cukup Kalun! Tidak bisakah kamu tidak menyebut perempuan itu di hadapan istrimu!” Maki Erik memotong ucapan Kalun. Kalun pun memejamkan matanya, mencerna ucapan papanya yang dari dulu tidak terlalu menyukai Kayra.
Aluna hanya diam, dia merasa bersalah karena mengatakan pada Ella jika selama ini mereka tidur terpisah.
“Oke kalau seperti ini, setelah perban Luna di lepas kalian harus pergi bulan madu, tidak ada penolakkan!” ucap Erik yang membuat Kalun menatap ke arah Aluna.
“Asal kamu tahu Kal, yang kamu cintai itu belum tentu setia denganmu,” ucap Erik sambil berjalan ke arah pintu keluar, dia mengajak istrinya untuk turun ke bawah meninggalkan Aluna dan Kalun yang masih terdiam di dalam kamar.
“Maaf!” ucap Aluna lirih yang masih berdiri di dekat kasur Kalun.
“Nggak ada yang perlu minta maaf, aku juga yang salah, tidak pernah membiarkanmu masuk ke dalam hatiku,” ucap Kalun sambil berjalan melewati Aluna menuju kamar mandi, dia akan bersiap karena sebentar lagi dia akan berangkat ke kantor.
Aluna diam sejenak lalu menyusul mertua dan adik iparnya yang tengah menyiapkan sarapan bersama.
Erik dan Ella pun enggan menyapa ataupun berbicara dengan Aluna, mereka hanya diam, tidak ada yang memulai pembicaraan, membuat Aluna serba salah dengan sikap semua orang pagi ini.
Tidak lama kemudian Kalun turun dari kamar atas, dia menuju meja makan untuk sarapan bersama. Kejutan pagi yang semula disiapkan Erik dan Ella berakhir dengan kebisuan, mereka tidak ada yang memulai bicara, hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang bisa mereka dengar saat ini.
Kalun menatap wajah Aluna yang sedikit menunduk dan memainkan sendoknya.
“Apa perlu aku suap lagi?” tanyanya saat Aluna tidak memakan sarapan di depannya.
“Tidak usah, aku bisa sendiri,” jawab Aluna yang mencoba meraih sendok di piringnya.
“Sudah sini, jangan malu! Anggap saja mereka tidak ada, karena dari tadi tidak ada yang berbicara,” ucapnya sambil meraih sendok Aluna. Kalun pun dengan sengaja memecahkan keheningan pagi itu, membuat Erik dan Ella mengulum senyumnya dalam hati.
Riella yang sadar Kakaknya makan sepiring berdua dengan istrinya pun mulai sadar jika Kalun saat ini mulai jatuh hati pada Aluna. Jangankan makan sepiring dengan Kayra, makan sepiring dengannya saja dia tidak mau. Riella hanya menahan senyumnya, sambil menatap ke arah Aluna yang malu-malu.
“Kamu nggak usah ke kantor, aku memberimu cuti hingga tanganmu pulih!” ucap Kalun yang membuat kedua orang tuanya kaget.
“Luna bekerja di kantormu?”
“Iya, dari dulu Luna ingin masuk sana, jadi aku minta dia membantu David,” jelas Kalun pada Erik. Erik yang mendengar jawaban Kalun hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“Kalian 24 jam bertemu. Harusnya kalian saat ini sudah memadu kasih, bukan tidur dengan terpisah seperti itu,” ucap Erik yang membuat Kalun menatap ke arah Aluna. Entah apa yang merasuki pikiran Kalun, dia ingin memperbaiki sikapnya dengan Aluna mulai saat ini, saat di dalam kamar mandi tadi dia terus memikirkan ucapan papanya, jika dia tidak akan rela membiarkan Aluna berada di pelukan pria lain.
__ADS_1
👣
Tinggalkan like dan vote ya!🤓🙏