
“Aku tidak suka kamu berpelukan di tempat umum!”
Ucapan Kalun yang dingin itu menghentikan langkah Aluna. Dia diam sejenak sambil mengepalkan jemari tangannya.
Aluna membalikkan badannya, menatap ke arah Kalun, dia menampilkan senyuman kecut ke arah Kalun.
“Bukankah sudah ada di surat perjanjian, jika kita tidak akan mencampuri urusan masing-masing?” ucapnya sambil berbalik pergi meninggalkan Kalun.
Kalun langsung mengikuti langkah Aluna dari belakang, menunggu Aluna untuk menekan 6 digit angka pintu apartemennya.
Saat mereka berdua masuk, Kalun langsung menyandarkan tubuh Aluna di balik pintu.
Dengan keberanian tinggi Kalun menatap wajah Aluna dari dekat, bahkan nafasnya kini sudah terasa hangat di pipi Aluna.
“Tapi kamu istriku! Aku khawatir jika mama dan papa melihat kelakuanmu di luar sana!” ucap Kalun menatap mata Aluna yang masih terlihat merah.
“Kalaupun mereka tahu, biarkan saja! Kamu kan juga tidak mencintaiku! Aku heran apa alasan sebenarnya kamu menikahiku?” ucap Aluna yang juga membalas tatapan tajam mata Kalun. Suaminya itu hanya diam membeku, tidak mengeluarkan ekspresinya, dengan tangan yang masih menahan tubuh Aluna.
“Kita bercerai sekarang pun, aku juga tidak masalah!” ucap Aluna yang menghempaskan cekalan Kalun. Dia berusaha keras menahan air matanya supaya lelaki di depannya ini tidak melihat sisi lemah yang ada pada dirinya.
Aluna berlari kecil menuju kamarnya, dia mengambil beberapa baju dan keperluan untuk berangakat kerja besok. Mulai malam ini dia akan tidur di kos-nya saja. Dia tidak bisa hidup dengan Kalun di sini, dia merasa di sini bukan tempatnya, pikirannya salah ketika dia menerima tawaran Kalun menjadi suaminya, karena ternyata Kalun hanya menjadikannya sebagai boneka permainnanya.
Aluna lalu keluar dari kamar, melewati Kalun yang hendak menuju ke kamar utama.
“Mau kemana?” tanya Kalun yang berbalik mengikuti langkah Aluna. Aluna masih diam sambil berjalan mengabaikan pertanyaan Kalun.
“Lun!” panggil Kalun yang berteriak sambil meraih tangan Aluna.
“Kamu mau kemana malam-malam begini?” tanya Kalun yang sudah melembutkan suaranya.
__ADS_1
“Aku ... aku akan pulang ke kosku, aku merasa pernikahan kita adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi,” ucap Aluna yang berusaha melepaskan tangan Kalun.
“Apa maksudmu!”
“Maaf, aku nggak bisa tinggal denganmu, aku akan tunggu surat cerai darimu!” ucap Aluna sambil mengusap air matanya. Dia sudah tidak bisa lagi berada di sini, dia akan menutupi dulu dari papanya, hingga waktu yang tepat dia akan mengatakan pada papanya, jika pernikahannya sudah berakhir.
Suasana tiba-tiba menjadi sunyi, tidak ada suara apapun yang bisa mereka dengar, Kalun yang tidak peka, membiarkan Aluna pergi dari apartemennya.
“Cerai?” gumamnya, saat mencerna ucapan Aluna. Dia lalu berlari mengikuti Aluna yang sudah akan menarik handle pintu apartemen.
Kalun menarik tangan Aluna, hingga Aluna membalikkan badan ke arah Kalun. Tubuh Kalun yang sangat dekat dengan Aluna, membuat wajah Aluna menempel tepat di dekapan Kalun.
“Hanya aku yang berhak memutuskan kapan kita akan bercerai,” ucap Kalun sambil membawa Aluna ke dalam pelukkannya. Kalun mencoba melepaskan jas yang Aluna kenakan, dan melemparnya ke sembarang arah.
Kalun memikirkan dirinya sendiri, pelukan ini sudah dua kali dia memeluk wanita yang bukan anggota keluarganya. Saat ini, pikirannya hanya tentang Aluna, bahkan Kayra tidak terlintas sama sekali di benaknya. Kalun merasa hatinya tersayat, ketika melihat Aluna menagis di pelukkan lelaki lain.
“Luapkan sedihmu! Aku tahu kamu sedih karena kehilangan Fandi, tapi jangan sampai orang lain memelukmu lebih erat dari diriku.” Kalun mengusap rambut Aluna yang tergerai indah, dia meletakkan dagunya di kepala Aluna, karena gadis itu memang lebih pendek darinya.
Kalun memejamkan matanya, menghirup aroma shampo yang belum pernah dia cium sebelumnya. Matanya terpejam merasakan desiran dan degub jantungnya yang semakin berdebar kencang.
“Maaf bajumu basah.” Aluna yang menyadari kemeja Kalun yang basah, hanya mampu mengusap dada Kalun.
“Tidak masalah, jika itu bisa membuatmu lebih baik,” ucapnya sambil melepaskan pelukkan yang ada di tubuh Aluna.
“Sudah waktunya kamu melupakan Fandi, biarkan sedihmu berlalu, gantilah dengan senyum ceria yang selalu kamu tampilkan dulu,” ucap Kalun sambil membawa Aluna berjalan menuju sofa di depan tv.
“Dan mulai sekarang, aku harap kamu bisa sadar jika aku adalah suamimu,” lanjut Kalun membuat Aluna mendongak menatap wajah Kalun. Mata mereka bertemu, saling menatap, sangat lama dan saling mengunci satu sama lain. Mata yang masih digenangi air mata itu mampu meluluhkan hati Kalun yang beku akan wanita.
Tanpa Kalun sadari otak kotor yang selalu dia tahan, mendorongnya untuk mencium bibir menggoda Aluna, dia berusaha mengikis jarak antara wajahnya dan wajah Aluna.
__ADS_1
Aluna gelisah saat Kalun mulai mendekati wajahnya. Dia sering mencium dan dicium tapi hanya sebatas ciuman pipi.
Bibir merah Kalun sudah menyentuh bibir manis Aluna, belum ada pergerakkan di sana, hanya sedikit bersentuhan bibir, karena keduanya sama-sama polos, belum ada pengalaman tentang ciuman. Namun, mereka berdua bisa menikmati manisnya bibir pasangannya.
Kalun tersadar, ketika mendengar dering ponselnya berdering. Dia langsung melepaskan pelukkannya dan beristighfar menyebut nama Allah, menyadari kelalaian yang hampir saja mencium Aluna.
“Maaf,” ucapnya sambil menghampiri ponselnya yang dari tadi berada di meja makan. Dia menjauh dari tempat Aluna berada untuk mengangkat telepon dari Kayra.
Aluna masih diam mencoba mengatur nafasnya supaya lebih rileks. Dia khawatir jika hatinya akan jatuh cinta dengan Kalun. Ya, meski dalam hatinya kini masih terukir nama Fandi, tapi dia takut jika perhatian dan sikap baik Kalun akan membuatnya jatuh cinta, dia takut jika suatu hari dia akan di tinggal lagi. Ditinggal untuk kesekian kalinya oleh orang yang dia cintai, dan harusnya dia harus lebih ketat lagi menjaga hatinya.
Aluna lalu berjalan ke kamarnya, mengabaikan Kalun yang tengah melepas rindu dengan tunangannya. Batinnya sungguh tersiksa, melihat suaminya bertelepon dengan wanita lain, jangankan meneleponnya, nomor ponselnya saja dia tidak tahu.
Aluna menidurkan tubuhnya di ranjang berukuran 120 x 200, ranjang yang hanya muat untuk dirinya, kamarnya yang dulu sangat berdebu, kini sudah dia sulap menjadi kamar yang bernuansa shabby, banyak bunga bewarna pink dan putih di sana, dan rangkaian foto dirinya yang sengaja di tempelkan. Tidak lupa dia meletakkan fotonya dengan Fandi di meja samping tempatnya tidur. Supaya dia bisa selalu mengingat wajah Fandi sebelum matanya terpejam.
Perlahan Aluna memejamkan matanya, karena merasakan lelah hari ini. Bunyi ketokan pintu dari arah luar pun, tidak mampu lagi untuk dia buka. Aluna sudah tenggelam dalam alam mimpinya dengan mata yang masih terlihat bengkak, dia berharap Fandi akan menyampaikan pesan terakhir untuk dirinya, meski hanya lewat mimpi.
Tapi hingga pagi datang, hanya kekosongan yang dia dapatkan, jangan kan pesan dari Fandi, dia justru bermimpi Kalun yang akan mencuri ciuman bibir pertamanya itu. Dia menatap foto yang tepat berada di samping wajahnya.
“Selamat pagi baby sumo, aku kerja dulu ya,” ucapnya sambil menutup bingkai foto itu ke arah meja.
Aluna menyiapkan pakaiannya sebelum menuju kamar mandi, dia kembali mengenakan baju putih dan rok hitam lagi hari ini. Rencananya sore nanti dia akan pergi berbelanja pakaian, dengan uang tabungannya yang masih tersisa, mengingat semua rekan kerjanya yang selalu tampil modis saat ke kantor. Dia bukan iri tapi memang dia membutuhkannya, mengingat dia sudah tidak belanja pakaian selama 6 bulan.
Aluna tidak menyangka, ketika bangun pagi. Kalun ternyata sudah bangun lebih dulu, dia berada di meja makan dengan roti bakar yang ada di tangannya. Satu piring di sampingnya terisi satu porsi roti bakar untuk Aluna.
“Kemarilah! Kita sarapan dulu.” Kalun menarik kursi di sampingnya, saat melihat Aluna keluar dari kamar atas. Membuat kening Aluna mengerut karena perlakuan Kalun yang berubah.
👣
Jangan lupa like dan vote ya.🙏😇
__ADS_1