Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Eriella Putri Ramones


__ADS_3

Jakarta


Setelah menutup telepon Kalun, Aluna menatap jam di dinding yang hampir menunjukkan pukul 12 malam, dia kembali merebahkan tubuhnya karena rasa kantuk yang sudah menyerangnya dari tadi. dia tertidur nyenyak karena rasa rindunya sedikit


terobati dengan menatap wajah Kalun dari panggilan video.


Sekitar pukul 2 dini hari, terdengar bel pintu apartemen, Aluna yang khawatir, sedikit takut juga untuk membukanya. Dia menuruni anak tangga tanpa suara. Sesaat kemudian Aluna mendengar suara tangisan kecil dari depan pintu.


“Siapa sih, bikin merinding deh, tengah malam pula?” gumamnya saat mendekat ke arah pintu masuk apartemen. Aluna sejenak menempelkan telinganya di daun pintu. Dia mengenal suara wanita ini. Secepat kilat Aluna membuka kunci pintu apartemen dan menarik handle pintu.


“Riella,” ucapnya saat melihat Riella menangis di depan pintu.


“Di- mana kak Kalun, Lun?” tanya Riella saat melihat Aluna yang membuka pintu untuknya.


“Masuklah dulu! Apa yang terjadi hingga kamu seperti ini?” tanya Aluna yang merangkul Riella


menuju sofa depan tv.


“Di mana kakak Lun? Aku butuh dia, aku nggak tau lagi, ingin bercerita dengan siapa.”


“Sebentar ya, biar aku ambil ponsel dulu, Aa’ sedang ke London, tadi juga habis telepon aku kok, mungkin sekarang belum tidur,” jelas Aluna sambil berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil ponsel. Aluna segera menekan nomor Kalun dan berusaha menghubungi suaminya, tapi hanya bunyi nada sambung saja yang dia dengar. Untuk ke 15 kalinya akhirnya dia menyerah dan menghentikan panggilannya. Aluna kembali ke lantai satu dengan membawa ponselnya.


“Maaf mungkin Aa’ sedang tidur, jadi dia tidak bisa mengangkat ponselnya,” jelas Aluna yang melihat keadaan Riella yang terlihat kacau.


Aluna lalu berjalan ke arah dapur, untuk membuatkan minuman untuk Riella. Setelah siap dia kembali ke sofa depan tv dengan membawa dua gelas coklat di tangannya.


“Minumlah!" perintahnya saraya menyerahkan cangkir yang berisi coklat panas untuk Riella.


“Kamu bisa bercerita denganku, jangan sungkan lagi, aku sudah menganggapmu adikku juga,” ucap Aluna sambil mengusap lembut punggung Riella. Riella diam, dia menatap kosong cangkir di tangannya.


“A- aku hamil Lun …” ucap Riella disusul suara tangis yang terdengar keras dari mulutnya. Aluna yang mendengar itu merasa terkejut. Dia membawa tubuh Riella ke dalam pelukkannya.


“Apa kamu tahu siapa ayah dari anakmu?”


Riella mengangguk, sambil mengusap air matanya, menatap mata Aluna yang sudah memerah menahan rasa kesalnya.


“Sudah berapa bulan?”


Riella menggelengkan kepalanya, dia tidak dan lupa kapan dia datang bulan.


“Besok aku antar kamu ke dokter ya?” tawar Aluna sambil membantu mengusap air mata Riella.


“Aku takut papa akan mengusirku Lun, papa sangat menjagaku, tapi aku sekarang justru hamil dengan kak Emil,” jelas Riella.


“Emil, temannya Aa'?” Riella mengangguk membenarkan ucapan Aluna.

__ADS_1


Aluna membuang nafasnya kasar, kenapa Riella bisa nglakuin hal itu, sekarang


urusannya jadi panjang, belum nanti menghadapi papa mertua, dan suaminya itu.


“Kamu tidur dulu saja La, besok biar aku hubungi lagi Aa’ Kalun nya,” ucap Aluna sambil


berjalan mengantarkan Riella ke kamarnya.


Aluna kembali masuk ke kamar, mencoba menghubungi  lagi, siapa tau suaminya belum tertidur. Namun, yang ada dia hanya kecewa karena Kalun masih mengabaikan panggilannya. Dia lalu mengetikkan pesan pada Kalun untuk segera meneleponnya setelah membaca pesan tersebut.


Aluna yang sebenarnya mengantuk, akhirnya kembali terjaga, karena rasa kantuknya


tiba-tiba hilang begitu saja, dia justru membuka laptopnya, melihat foto-foto


bulan madu mereka kemarin. Dia berniat untuk mencetaknya, karena di dalam kamarnya ini belum ada fotonya dengan Kalun.


Setelah selesai mencetak dia mengganti foto Kalun yang diletakkan di meja dengan foto mereka berdua. Dia terus menatap foto itu, keduanya terlihat tertawa bahagia seperti tidak ada beban yang dipikul.


Aluna kembali menatap ponselnya, belum juga ada balasan dari suaminya, dia hanya bisa menunggu balasan dari Kalun hingga tanpa dia sadari dirinya ikut terlelap.


---


Pagi harinya Riella terbangun dari tidurnya karena merasa tidak nyaman dengan perutnya, dia segera berlari ke arah kamar mandi yang berada diluar kamarnya. Dia mengalami morning sickness yang parah, membuat Aluna yang mendengar suara Riella, segera bangun dari tidurnya untuk membantu Riella.


“Aku hubungi dokter ya La, wajah kamu pucat sekali,” tawar Aluna yang mendapati Riella baru saja keluar dari kamar mandi.


“Mereka cepat atau lambat pasti akan tahu, karena perutmu juga akan membesar,” sahut Aluna.


“Nggak, aku nggak mau! Aku akan menggugurkan anak ini.”


“Gila!” umpat Aluna keras.


“Kamu sudah berbuat dosa besar, jangan lagi menambah dosamu dengan membunuh anakmu sendiri, dia tidak bersalah yang bersalah itu kamu dan Emil.” Aluna berucap dengan sedikit berteriak. Membuat Riella sedikit kaget dengan kelakuan Aluna yang


sudah terbawa emosi.


“Lalu aku harus bagaimana? Aku nggak mau papa dan mama tahu?”


“Kenapa kamu nggak memikirkan itu sebelum berbuat, La? Di mana otakmu saat itu, kamu seorang dokter, tapi otakmu seperti anak lulusan SD,” maki Aluna sambil berjalan ke


arah lantai satu.


Dia menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk Riella, meninggalkan Riella yang tengah tenggelam dalam pikirannya. Setelah sadar dia lalu menyusul di mana Aluna


berada.

__ADS_1


“Bantu aku bicara dengan papa dan mama Lun!” ajak Riella sambil menatap Aluna dengan tatapan mememohonnya. Aluna membalas tatapan Riella, dengan sedikit berkerut.


“Kenapa harus aku? kamu bawa Emil ke depan mereka, ajak dia bicara baik-baik dengan papa dan mama, dan jangan lupa minta maaf karena kamu sudah sangat mengecewakan mereka,” jelas Aluna sambil memotong sayuran di tangannya.


London


Kalun mengerjapkan matanya, merasakan kepalanya yang sedikit sakit, karena pengaruh alkohol semalam, tangan kananya terasa berat karena tertindih wanita di sampingnya. Kalun membulatkan


matanya saat mengetahui siapa yang berada di sampingnya pagi ini, dia memejamkan matanya lagi, meyakinkan lagi jika wanita di sampingnya ini benar-benar Kayra.


“Ya Allah, kenapa seperti ini?” ucapnya lirih sambil berusaha meraih pakaiannya, dengan


langkah gontai Kalun berjalan menuju kamar mandi, dia ingin segera mengguyur tubuhnya dengan air bersih.


Saat di kamar mandi di terus berdiri di bawah air shower, Dia masih memikirkan dirinya, apa yang terjadi semalam dengan dirinya, kenapa dia bisa tertidur dengan Kayra. Tapi otaknya


terlalu dangkal jadi dia tidak bisa menemukan alasan itu.


Setelah hampir satu jam berada di dalam kamar mandi, Kalun kembali ke kamarnya. Dia masih melihat tubuh Kayra yang masih tertutup selimut putih di sana.


Kayra menggeliat, matanya sedikit terbuka dan tersenyum ke arah Kalun, berbeda dengan Kalun yang menatap dingin ke arah Kayra.


Kalun meraih ponselnya dia melihat ada panggilan tidak terjawab sebanyak duapuluh kali dari Aluna.


Tangannya segera memencet nomor Aluna, memanggilnya dengan panggilan suara.


"Aa’ Alhamdulillah kamu sudah telepon."


"Ada apa? tanya Kalun."


"Bisakah kamu pulang sekarang! Riella dalam masalah besar."


Ucapan Aluna membuat Kalun terdiam, dia lalu menutup ponselnya tanpa berpamitan dengan Aluna, seperti yang dia lakukan semalam.


“Aku harus kembali ke Jakarta, Riella dalam masalah,” ucap Kalun sambil berjalan


menghampiri lemari bajunya.


Dia pun segera bertolak ke Jakarta, meninggalkan Kayra dengan sejuta pertanyaan tentang Kalun. Kayra yang masih berada di dalam kasurnya merasa pusing dan sedikit mual, dia berpikir sejenak, menyadari jika semalam dia belum makan sama sekali.


Namun, satu menit berikutnya dia berlari ke kamar mandi, karena tidak tahan dengan rasa mual yang tiba-tiba menyerangnya.


Kalun yang tadinya ingin mengambil kunci mobilnya, menghentikan langkahnya saat menyadari Kayra yang tengah memuntahkan cairan ke dalam kamar mandi. Dia lalu mengabaikan Kayra dan benar-benar meninggalkan Kayra di kamar hotel itu sendiri. Baginya keluarga dan Aluna yang terpenting saat ini.


👣

__ADS_1


TBC jangan lupa untuk like dan vote👍🙏


__ADS_2