Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Sate Kalkun


__ADS_3

Setelah Kalun mengantar Kayra pulang ke rumah orang tuanya dia langsung pergi tanpa menyapa sahabat papanya tersebut. Dia mengingat terus pesanan istrinya yang memintanya, untuk mencarikan es khas Jakarta, sesuai yang diingikan Aluna sekarang.


“Nyari di mana ini, mana sudah jam segini, mana ada coba?” gumam-gumam Kalun sambil terus menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari gerobak penjual es selendang mayang.


Ponselnya berdering, Aluna menghubunginya lagi. Terhitung sudah lima kali Aluna meneleponnya hari ini.


“Iya Sayang, ini baru aku cari’in sabar ya, bilang sama si utun papanya baru berusaha!” ucap Kalun dengan lembut, dia sudah paham maksud Aluna meneleponnya kali ini.


“Nggak jadi A’ katanya mau sate saja, tapi maunya sate kalkun.”


Kalun terbatuk saat mendengar permintaan Aluna yang berubah dan semakin sulit untuk dicarinya itu.


“Sayang ... es selendang mayang saja ya, Aa’ nggak bisa nyari di mana penjual sate kalkunnya,” tawar Kalun, yang sebenarnya sudah lelah mencari -cari keinginan Aluna hari ini.


Aluna menutup panggilannya, membuat Kalun tersenyum menang, dikiranya Aluna menyetujui pendapatnya kali ini. Kalun memutari monumen emas yang ada di Jakarta Pusat. Akhirnya dia menemukan penjual es yang diidam-idamkan si utun setelah sekian lama mencari. Kalun segera turun dari mobil putih milik Doni, lalu segera memesan es selendang mayang untuk di bawa pulang.


“Beli dua ya Bang!”


“Wah, telat Pak sudah habis!”


Kalun mengerjabkan matanya berulangkali, sambil membuang nafas lelah, itu artinya dia harus mencari lagi penjual es yang sama.


“Benar-benar nggak ada ya Bang? Istri saya sedang ngidam, saya bingung mau nyari di mana lagi!” jelas Kalun sambil membuka penutup kain yang dipakai untuk menutupi dagangan lelaki di depannya itu.


“Kalau satu sepertinya masih ada,” kata Abang pedagang es tersebut. Membuat Kalun tersenyum lebar, dan merasa lega.

__ADS_1


“Berapa Bang?” tanya Kalun setelah menerima bungkusan cup di tangannya.


“Bawa saja Pak, katanya kalau kita memberi untuk orang hamil, rejeki kita akan berlipat-lipat!”


Kalun hanya terkekeh saat mendengar ucapan Abang penjual es di depannya.


Rejeki berlipat bukan hanya memberi pada orang hamil saja Bang! Tapi pada semua orang! Batin Kalun yang sudah mengerutkan dahinya. Dia lalu mengucapkan terima kasih pada penjual es tersebut, sebelum berjalan kembali ke arah mobilnya.


Kalun segera melajukan mobilnya ke arah gedung EL Group, dia akan menjemput istrinya, karena ini sudah mendekati jam pulang kerja. Saat tiba di sana Kalun tidak berniat untuk turun dari mobilnya, dia masih ingin menunggu Aluna di dalam mobil. Mengingat jam pulang kerja masih 10 menit lagi, dia hanya ingin menghemat bahan bakar mobilnya, jadi Kalun lebih memilih menunggu Aluna di seberang gedung EL Group, dari pada harus balik ke kosannya dulu.


Di sini lain. Aluna masih sibuk menyelesaikan tugasnya yang hampir selesai, dia memasang wajah bahagianya saat membaca pesan dari Kalun yang memberitahunya jika dia sudah sampai di depan gedung EL Group.


“Senyum-senyum sendiri pasti dari sultan ya?” tanya Renata yang sudah siap untuk pulang.


“Iya, dia sudah menungguku di depan gedung,” jelas Aluna sambil menyusun berkas-berkas yang masih berserakan di atas meja.


“Puasa dia, si utun masih kecil jadi dia tidak berani untuk bertindak aneh-aneh,” ucap Aluna yang menanggapi ucapan Renata.


“Oke deh, aku duluan! Jaga dirimu baik-baik jangan terlalu malam lemburnya!”


“Iya ini juga mau pulang! Aku nggak bekerja lembur!” teriak Aluna karena Renata sudah menjauh darinya.


Aluna yang sudah selesai menyusun berkasnya, segera meraih tas kerjanya yang dia letakkan di laci meja kerjannya. Dia lalu berpamitan dengan rekanya yang masih berada di sana. Dia yang sudah tidak sabar bertemu Kalun, segera berlari kecil menuju pintu lift di lantai ruangannya. Dia selalu berpikiran jika ini adalah faktor hormonal yg ada di dalam tubuhnya, yang ingin selalu berdekatan dengan suaminya. Pikirannya sudah terbayang dengan suaminya yang membawakan sate kalkun untuknya. Hanya itu yang dia inginkan saat ini, menikmati sate bersama suaminya di kamar kosnya.


Saat tiba di luar gedung, mata Aluna memindai di mana mobil suaminya berada. Karena tidak menemukan mobil suaminya, Aluna segera mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Dia ingin menghubungi Kalun menanyakan keberadaannya saat ini.

__ADS_1


“Aa’ di mana?”


Lelaki di seberang telepon pun menjawab posisinya sekarang. Aluna menatap keberadaan mobil Kalun yang berjarak 50 meter darinya. Matanya melihat Kalun yang keluar dari mobil milik Doni, sambil melambaikan tangan ke arahnya. Aluna tersenyum manis, sambil menatap ke arah Kalun yang juga tersenyum indah ke arahnya.


“Aku janji tidak akan melupakan senyuman itu A’,” lirihnya sambil melangkahkan kakinya mendekati di mana Kalun berada. Tangan kanan Aluna menyimpan ponselnya ke dalam tas kerjanya. Pandangannya fokus ke arah Kalun yang masih menatap langkahnya, dia berhenti sejenak ketika tiba di tepi jalan. Kepalanya menoleh ke arah kanan dan kirinya, melihat situasi jalanan saat ini. Dia lalu kembali fokus menatap Kalun yang masih tersenyum indah sambil merentangkan kedua tangan untuk memeluknya. Aluna menggelengkan kepalanya, dia melihat suaminya begitu bahagia, seperti orang yang baru pertama merasakan jatuh cinta. Aluna melangkahkan kakinya ketika merasa jalanan mulai lenggang, tatapan matanya tidak lepas dari arah Kalun.


Aluna tidak melihat jika ada mobil yang mengincarnya saat ini, jalanan yang tadi di rasa lenggang, kini tiba-tiba terasa bising karena suara mobil tersebut sangat keras. Tubuhnya kini membatu tidak bisa digerakkan, dia hanya bisa melihat jika mobil hitam itu semakin mendekat ke arahnya, suara Kalun terdengar jelas meneriakinya supaya menghindar, karena mobil hitam itu semakin mendekat ke arah Aluna, sebelum tepat menghantam tubuhnya dengan keras.


Tubuhnya kini sudah jatuh tergeletak di jalan bewarna hitam tempatnya tadi berpijak. Darah mulai mengalir deras dari arah inti dan telinganya, tubuhnya kini tidak mampu untuk digerakkan lagi, tulang-tulangnya seperti ikut terbawa hentakkan mobil yang menabraknya tadi.


Kalun berlari cepat menghampiri tubuh Aluna yang sudah bersimbah darah. Aluna masih bisa mendengarkan suara Kalun yang terus menerus memanggilnya. Aluna masih mampu memberikan senyuman manis ke arah Kalun, sama seperti yang dia berikan, ketika tadi dia melihat Kalun pertama kali.


“Sate. Aa’ bawakan? Aku mau itu?” ucap Aluna lirih, sambil berusaha menatap ke arah bagian bawahnya yang sudah mengeluarkan darah, kepala Aluna semakin berat setelah dia melihat darah yang keluar dari intinya, dia paham. Pasti dia akan kehilangan calon anaknya.


“Maafkan aku A’. Aku tidak bisa menjaganya,” ucap Aluna terbata, sambil menitikan air mata, sebelum kesadarannya ikut menghilang.


Kalun yang sudah mengangkat kepala Aluna, hanya bisa mencoba menepuk pipi istrinya supaya tersadar kembali.


“Sayang, Sayang bangun ... bangun ... iya kita akan beli sate, sekarang ya, kita cari satenya berdua!” Kalun menepuk-nepuk pipi Aluna supaya mata istrinya terbuka kembali. Dia sudah menitikkan air mata, hatinya ikut sakit melihat kondisi Aluna saat ini, dia merasa syok dengan kejadian yang baru saja terjadi di depannya.


“Pak! Pak! Cepat bawa ke rumah sakit, sebelum wanita itu meninggal.”


Suara lelaki di ujung jalan menyadarkan Kalun. Waktu pun seolah berhenti sejenak, tidak ada mobil dan manusia yang mendekat ke arahnya. Sekuat tenaga Kalun membawa tubuh Aluna masuk ke dalam mobilnya. Dia segera membawa Aluna ke rumah sakit terdekat yang ada di lokasinya saat ini. Bahkan dia tidak peduli jalanan apa yang di pakai saat ini, dia mengemudikan mobilnya kencang, Kalun hanya ingin segera sampai di rumah sakit, menyelamatkan nyawa istrinya.


👣

__ADS_1


Like ya 😜


>>>>


__ADS_2