
Kalun segera keluar dari mobil, untuk membantu mengurusi Aluna, yang sudah berlari menjauh dari mobilnya. Dia melepas jas yang ia kenakan, lalu menutupkannya di tubuh Aluna yang terekspos.
“Takut kamu sakit,” kata Kalun saat Aluna menengadahkan kepalanya ke arah Kalun sambil mengusap bekas muntahnya.
“Jahat kamu!” cerca Aluna setelah selesai memuntahkan cairan dari perutnya. Dia lalu mengejar Kalun yang sudah berjalan ke arah mobil, memeluk Kalun dari belakang, Bukan memeluk tapi dia melompat ke arah punggung Kalun, meminta Kalun untuk menggendong tubuhnya di belakang, giginya lalu memberikan gigitan di punggung Kalun. membuat Kalun berteriak kesakitan, karena gigitan Aluna yang terlalu kuat.
“Apa gigimu bertaring?” tanya Kalun yang berusaha menurunkan tubuh Aluna, setelah berhasil, Kalun lalu berbalik menghadap ke arah Aluna, mengangkat dagu Aluna dengam lembut, hendak memeriksa gigi Aluna di balik bibirnya yang tertutup rapat. Tapi Aluna segera menepis tangan Kalun. Menolak Kalun memeriksanya.
“Ya, aku meminjam taring drakula untuk membalas kejahilanmu! Mau lagi sini!” Aluna menggoda Kalun, sambil menarik lengan Kalun untuk menjadi sasarannya lagi.
“Jangan dong, nggak cinta apa sama aku. ini juga masih sakit.” Kalun mengusap bekas gigitan Aluna dengan tangan kanan, lalu membuka satu kancing kemejanya, memperlihatkan pada Aluna jika bekas gigitannya terlalu dalam.
“Rasain memangnya aku tidak pusing saat kamu menyetir terlalu kencang tadi!” gerutu Aluna sambil berjalan ke arah mobil Kalun.
Kalun mengikuti langkah kaki Aluna. Tapi yang ada Aluna menghentikan kakinya ketika berada di depan mobil, dia justru duduk di cap depan mobil Kalun, membuat Kalun ikut mengikuti tindakannya.
“Belum mau pulang?”
“Kita ke rumah mama kan? Kita di sini dulu ya?”
“Kenapa? Mama baik loh,” selidik Kalun memperhatikan wajah Aluna.
“Iya, aku tahu. Tapi aku takut mereka menanyakan aku sudah hamil atau belum? Aku tahu. Mereka pasti akan kecewa saat aku menjawab jika kita belum mendapatkannya.”
Kalun menganggukan kepalanya mengerti kekhawatiran Aluna. Dia lalu tersenyum tipis ke arah Aluna.
“Apalagi kamu anak pertama, pasti mereka akan sangat berharap jika kamu akan segera mendapatkannya.” Aluna melanjutkan ucapannya sambil mengalihkan tatapannya dari Kalun.
“Tenang saja tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kita akan tetap bahagia meski hanya ada kita berdua, buatku kamu di sampingku saja, sudah lebih dari cukup.”
“Kal.” Aluna menatap tajam ke arah Kalun. lalu menggelengkan kepalanya.
“Aku. Aku, juga ingin jadi wanita yang sempurna di matamu, melahirkan keturunanmu, mendidik bersama denganmu, itu keinginanku saat ini.”
“Yah. Kita akan bekerja keras setelah ini.” Kalun merengkuh tubuh kecil Aluna. “Jangan pikirkan hal itu, aku justru takut jika nanti kesehatanmu akan menurun karena terlalu strees.” Kalun berucap sambil mengusap lembut bahu Aluna.
“Yang. Apa hari ini aku bisa mendapatkan hakku?” Kalun menanyakan haknya yang belum diberikan oleh Aluna sampai sekarang ini. Aluna menggelengkan kepalanya cepat, menolak permintaan Kalun.
“Okey.” Kalun melepaskan pelukkannya, lalu masuk ke dalam mobil. Aluna hanya mengawasi gerak-gerik Kalun yang tengah sibuk mengotak-atik ponselnya. Kalun kembali ke arah Aluna dengan suara dentingan piano dari speaker dalam mobil.
“Sebagai pengganti dansa di pesta tadi, maukah Nya. Kalun berdansa dengan Tuan Kalun malam ini?” ajak Kalun sambil mengulurkan tangannya, layaknya pangeran yang mengajak dansa tuan putri.
Aluna menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum ke arah Kalun. “Aku nggak bisa dansa,” tolak Aluna cepat.
“Mustahil, seorang penyanyi tidak bisa berdansa, bukankah kakimu selalu bergerak mengikuti irama nada yang kau nyanyikan? Ayolah Ny. Kalun keburu musiknya habis,” paksa Kalun yang membuat Aluna menerima uluran tangannya.
Malam ini, malam pertama Aluna berdansa dengan Kalun. Lagu Calum Scott-You Are The Reason, akan selalu menjadi lagu kenangan yang akan selalu mereka ingat setiap kali mereka mendengarkannya. Kaki keduanya, mengikuti irama lagu yang diputar di speaker dalam mobil, saling menyatakan cinta lewat tatapan, bibirnya sama-sama tertarik melengkung menandakan mereka berdua tengah bahagia malam ini.
“I love you.”
Kalun tertegun ketika mendengar perkataan lirih Aluna, kakinya tidak mampu lagi bergerak mengikuti irama lagu. Kata yang dia nantikan setelah Aluna mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Tiga kata yang dia nantikan, dia bisa mendengarnya kembali malam ini.
“Boleh aku minta kamu mengulanginya lagi!” minta Kalun menatap dalam mata Aluna. Aluna tersenyum ke arah Kalun membalas tatapan Kalun sambil tersenyum geli.
__ADS_1
“Kulo tresno panjenengan.”
Kalun kembali terdiam, memikirkan bahasa asing yang diucapkan Aluna.
“Apa itu artinya sama? Coba ajari aku bicara seperti itu!” perintah Kalun.
Aluna justru terpingkal ketika mendengar perintah Kalun.
“Ayo!”
“Ku-lo tres-no pa-nje-ne-ngan.” Eja Aluna yang diikuti Kalun.
“Kulo tresno panjengan,” ulang cepat Kalun dengan serius.
“Panjenengan Sayang!” kata Aluna mengoreksi.
“Okey. Kulo tresno penjenengan. Betul kan?” Aluna menganggukan kepalanya, membenarkan perkataan Kalun sambil tersenyum bahagia.
“Ulangi dengan bahasa kita sehari-hati, aku akan memberikan hadiah istimewa padamu!”
“Aku cinta kamu Aa’ Kaluuun.” Teriak Aluna membuat Kalun semakin tertawa lepas, dia merasa bahagia malam ini ketika Aluna mengucapkan hal itu.
“Terima kasih, aku juga mencintaimu.” Kalun memeluk tubuh Aluna, lalu mengecup dahi Aluna, tidak ingin buru-buru melepaskannya dia memejamkan matanya, menciumi rambut Aluna yang beraroma tidak seperti biasanya.
“Lepaskan, apa kamu tidak malu, memelukku seperti ini?”
“Hanya ada kita berdua Sayang,” kata Kalun yang belum melepaskan pelukannya.
Lagu yang terdengar sudah berganti dengan lagu Just Give Me A Reason – dari Pink dan Nate Ruess. Membuat keduanya tidak bisa melanjutkan dansanya. Tapi masih tetap saling memeluk erat tidak ada yang mengalah untuk melepaskannya.
“Nggak aku masih nyaman seperti ini,” kata Aluna menolak ajakan Kalun.
“Sepertinya kita lebih baik tidur di sini saja,” kata Kalun.
“Itu mungkin lebih baik,” jawab Aluna.
“Tapi ini sudah hampir jam 11 malam Sayang, mama dan adik-adik pasti juga sudah terlelap.” Kalun mencoba membuang rasa khawatir Aluna. Aluna mendongakkan kepalanya ke arah Kalun.
“Apa kamu bosan dengan ini?” tanya Aluna khawatir.
“Sama sekali tidak, aku suka. Tapi udara malam juga tidak baik untukmu. Kamu harus jaga kesehatan,” nasihat Kalun. Aluna lalu menurut dia berjalan lebih dulu dari Kalun.
“Kita masih bisa tidur berpelukkan nanti malam, Sayang.” Kalun mengikuti Aluna dari belakang sambil bergumam menyanyikan lagu yang tadi mengiringinya berdansa.
“Iya.” Aluna menjawab dengan sedikit berteriak, dia tidak marah, dia hanya kesal dan bingung, memikirkan jawaban yang tepat, untuk menjawab jika nanti keluarga suaminya menanyakan hal yang ia takutkan.
Kalun mengemudikan mobilnya, ke arah rumah orang tuanya, mobilnya melaju pelan, musik di mobilnya sudah dia pelankan, melantunkan musik penghantar tidur yang membuat Aluna terlelap di kursi samping kemudi dengan cepat.
“Secepat inikah kamu tertidur? Atau hanya pura-pura, karena takut bertemu dengan mama, hum?” tanya Kalun sambil mengacak rambut Aluna ketika mobil mereka berhenti di lampu merah. Aluna tidak merespon, dia benar-benar terlelap di dalam mobil.
Mobil Kalun memasuki rumah orang
tuanya, saat dia keluar dari mobil, sejenak dia menatap lampu kamar mamanya yang masih menyala terang. Sudah dipastikan jika mamanya masih terjaga. Dia lalu segera membuka pintu mobilnya, mengangkat tubuh Aluna dan membawanya masuk ke dalam rumah orang tuanya.
__ADS_1
“Ada apa dengan Luna?” tanya
Ella yang sudah berdiri di balik pintu masuk.
“Ketiduran di mobil, Ma.”
“Kamu sih kemalaman datangnya!” gerutu
Ella yang mengikuti langkah kaki Kalun.
“Mama kenapa belum tidur? Kalun kan sudah bilang jangan menunggu.”
Ella hanya tersenyum ke arah Kalun.
“Mama tidak menunggumu, mama
hanya menunggu Luna, ada banyak hal yang ingin mama sampaikan padanya. Tapi
karena Luna sudah tertidur, ya sudah besok saja,” ucap Ella yang juga ikut memasuki kamar Kalun.
Kalun meletakkan Aluna di ranjang besarnya, lalu menyelimuti tubuh Aluna dengan selimut tebal yang ada di ranjang. Dia lalu keluar kamar, meminta mamanya untuk mengikuti langkahnnya.
“Ma, Kalun minta jangan bahas
masalah keturunan dengan Luna sekarang, Kalun tahu Mama menginginkannya, tapi Kalun
juga tidak ingin membuat Luna stress memikirkan hal itu.” Kalun berpesan pada Ella, mewanti-wanti mamanya.
Ella tersenyum kecut ke arah Kalun. Paham dengan kekhawatiran yang Kalun alami.
“Kamu tenang saja, Mama nggak akan membahas itu, karena Mama tahu bagaimana rasanya, Mama akan bantu doa untuk kalian berdua. Sekarang tidurlah, temani Aluna,” kata Ella sambil mengusap punggung Kalun, lalu segera menuruni tangga meninggalkan Kalun yang tengah memijat pelipisnya karena merasa bersalah pada mamanya.
Kalun memasuki kamar, melihat
Aluna yang tengah terlelap di atas ranjang, selimutnya sudah di tendang ke bawah ranjang, berganti dengan dia memeluk guling yang ada di sampingnya. Membuat Kalun kesusahan menelan air liurnya karena melihat warna pakaian dalam Aluna
yang terlihat sempurna. Dia lalu mendekat ke arah lemari mengambil baju ganti untuk Aluna.
Kalun mulai membuka baju Aluna, dia akan menggantikan baju yang dikenakan Aluna dengan baju yang dia punya.
“Kalau tidur nggak baik menggunakan bra, jadi dilepas saja, ya Sayang?” gumam Kalun sambil melepaskan pakaian Aluna satu persatu. Tubuh Aluna seperti menekin yang tengah diganti kostum oleh pemiliknya, menurut dan gemulai. Kalun menatap sejenak tubuh Aluna yang terekspos sempurna.
“Astaga bodohnya aku!” makinya
pada dirinya sendiri, karena memancing gairahnya yang jelas-jelas tidak bisa dipenuhi Aluna.
“Hei cepat pakai bajumu, jangan
menggodaku!” maki Kalun yang tidak mendapat jawaban dari Aluna. Aluna justru
merengkuh guling yang ada di sampingnya, dengan tubuh yang belum mengenakan baju. Membuat Kalun segera menutupi tubuh Aluna dengan selimut yang tadi istrinya tendang ke bawah. Dia segera berlari ke dalam kamar mandi, menuntaskan sesuatu yang tidak sengaja sudah dia mulai.
💞
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya. Terima kasih.