
Kalun masih berada di dalam kantor polisi, menceritakan semua yang terjadi padanya setahun yang lalu. Tidak ada perkara yang dibuat secara sengaja. Memang Kalun mengakui, jika malam itu dia lalai, dia juga terkejut ketika mendapati ada motor yang tiba-tiba melintas di depan mobilnya.
“Tapi Pak Kalun, berdasarkan laporan yang saya terima Bapak yang sudah menyebabkan calon suami istri Anda meninggal, dan itu karena Anda ingin mendapatkan istri Anda, motif itulah yang mendasari Anda melakukannya,” kata polisi yang melakukan penyelidikan dalam kasus yang dihadapi Kalun.
Kalun menggelengkan kepalanya, menolak mentah-mentah pernyataan polisi di depannya.
“Bapak mau percaya atau tidak, pertemuan di rumah sakit itulah, pertemuan pertama saya dengan istri saya selebihnya saya belum mengetahui siapa nama, dan asalnya dari mana, yang saya tahu, dia sebentar lagi akan menikah, dan calonnya adalah lelaki yang sudah saya tabrak,” jelas Kalun meyakinkan polisi di depannya dengan nada datar, tidak ada ketegangan di sana.
“Lalu bagaimana dengan ini? Bapak kan yang sudah menutup mulut mereka semua? Supaya mereka tidak membongkar kejadian malam itu?” tanya polisi sambil menyerahkan sebuah foto di depan Kalun.
“Ya, itu benar, saya sudah memberi uang pada keluarga dan orang yang melihat kejadian malam itu melalui sekertaris saya, semua itu sebagai rasa tanggung jawab saya dan mereka berjanji tidak akan membawanya ke pengadilan, apa ini termasuk pemerasan? Bahkan setiap bulan mereka masih menerima uangnya berdasarkan laporan dari sekertaris saya,” jelas Kalun, untuk meringankan hukuman dari tuduhannya.
“Kita akan mendengar keterangan dari pelapor, mohon maaf karena Anda mengakui jika Anda melakukan penyuapan Anda sementara kami tahan,” jelas polisi di berada depan Kalun.
“Apa-apan ini Pak? Saya tidak menyuap, saya hanya memberikan kompensasi saja!” sanggah Kalun saat mendengar dugaan polisi di depannya.
“Saya tidak mau ditahan! Saya akan pulang setelah ini,” lanjut Kalun yang mulai emosi, sekejap kemudian terdengar suara Ferdi yang menertawainya.
“Enak saja pulang! Statusmu tersangka di sini,” kata Ferdi sambil tersenyum licik ke arah Kalun.
“Pak, dengar kan? Dia bicara apa? Kemarin dia mengancam saya, akan melaporkan kasus ini pada Anda jika saya tidak melepaskan istriku padanya, dan semua yang dituduhkan pada saya itu tidak seluruhnya benar, jadi saya minta untuk penangguhan masa tahanan saya, saya akan menghubungi pengacara untuk mengurus semua ini,” jelas Kalun dengan emosi yang sudah memuncak saat melihat wajah Ferdi yang amat menyebalkan, dia lalu beranjak dari tempat duduknya hendak meninggalkan kantor polisi.
Saat melewati tubuh Ferdi dia menatap tajam ke arah Ferdi, “Licik. Memanfaatkan kematian kakakmu untuk merebut sesuatu yang ingin kamu dapatkan! Dengar baik-baik ya, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milikku,” bisik Kalun di depan wajah Ferdi dengan wajah menantang.
“Kita lihat saja! Apa yang akan dia lakukan Luna setelah ini, aku yakin dia sudah mempersiapkan surat-surat perceraian di Solo sana,” ucap Ferdi membalas ucapan Kalun. Kalun yang semakin emosi, menarik kasar baju Ferdi sudah mengangkat tangannya untuk memukul Ferdi, tapi bentakkan dari polisi di belakang, menghentikan tangannya yang sudah hampir mengenai wajah Ferdi.
“Pak saya ingin penangguhan tahananya ditolak, lihat sendiri kan, bagaimana kelakuannya?” ucap Ferdi sambil menghempaskan tangan Kalun dengan kasar, lalu merapikan kemejanya yang terlihat lusuh, “Atau kamu mau membayarnya dengan nyawa adikmu?” lanjutnya berbisik di samping telinga Kalun.
__ADS_1
Kalun segera meninggalkan kantor polisi, karena merasa terancam dengan ucapan Ferdi, dia tidak ingin melibatkan adiknya untuk masalah yang dialaminya saat ini. Lebih baik dia mengalah sekarang, tapi bukan dia menyerah, dia tidak ingin membuat adik-adiknya dalam bahaya. Setidaknya untuk saat ini ketiga adiknya lebih aman.
Kalun melajukan mobilnya ke arah apartemen Doni, dia sudah berjanji untuk mendatanginya siang ini, membicarakan perihal Aluna dan pengacara yang akan mengurus masalahnya.
Pintu terbuka cepat ketika Kalun menekan tombol lonceng yang terdapat di samping pintu, dia disambut oleh wanita cantik yang akan menjadi pengacaranya. Sudah hampir 3 tahun mereka berdua tidak bertemu, lantaran Khansa tengah melanjutkan kuliahnya lagi. Doni sudah menceritakan perihal masalahnya dengan Khansa dan dia berjanji akan membantu Kalun untuk menyelesaikan masalahnya.
“Aku mengenalnya, aku dulu satu kampus dengannya, sepertinya dia terlalu ambisi untuk mendapatkan Ny. Aluna, seperti dulu saat mendapatkan pacarnya yang sudah pergi,” terang Khansa yang sudah mendengar sendiri kisah Kalun dan lelaki yang menuntutnya.
“Di mana istri Bapak? Bisakah kita hadirkan ke kantor polisi sebagai saksi? Siapa tahu polisi akan mempercayainya,” tanya Khansa menatap wajah Kalun.
“Nggak bisa ya, kita hadapi tanpa memberitahu dia, aku ingin dia lebih aman dulu di sana, setidaknya hingga masalah ini selesai,” jawab Kalun, yang terbayang ucapan Aluna saat berada di depan tv, “ Dia juga ingin menenangkan dirinya lebih dulu untuk menerima kenyataan jika akulah yang menyebabkan calon suaminya meninggal,” lanjutnya yang membuat Khansa menganggukan kepalanya.
Tidak lama kemudian Doni datang membawakan minuman untuk keduanya, dia lalu duduk di kursi seberang Kalun.
“Apa saya perlu mengirim pengawal untuk Nona Luna, Pak?” tanya Doni menatap Kalun.
Kalun segera pulang ke rumah setelah merasa semuanya jelas, hari ini dia ingin pulang ke rumah mamanya, tidak ingin semakin sedih karena melihat bayangan Aluna jika dia kembali ke apartemen.
Saat tiba di rumah Erik, Kalun disambut pelukan dan tangisan dari Ella yang mengkhawatirkan kondisinya. Kalun hanya mengucapkan kata ‘maaf’ sambil membalas pelukkan Ella.
“Ma, sudahlah! Aku tidak akan bisa menghadapinya jika Mama seperti ini, Kalun akan baik-baik saja, asal Mama juga baik-baik saja.” Kalun membawa Ella masuk ke dalam rumah, meminta papanya yang berada di ruang keluarga untuk menenangkan mamanya.
“Kalun ke kamar dulu ya Ma, nanti Kalun gabung lagi,” pamit Kalun setelah Ella terlepas dari pelukkannya. Dia lalu memasuki kamarnya, mencoba menghubungi ponsel Aluna siapa tahu dia mau menjawab panggilannya.
Satu panggilan tidak terjawab.
Panggilan kedua masih tidak menjawab.
__ADS_1
Panggilan ketiga, masih saja belum diangkat, saat panggilan kelima kalinya, di saat Kalun sudah hampir menyerah untuk tidak akan meneleponnya lagi, jika kali ini tidak diangkat. Tiba-tiba terdengar suara panggilanya diangkat dari pemilik ponsel.
Hanya diam tidak ada yang memulai berbicara, tapi detikan telepon sudah tersambung beberapa detik yang lalu.
“Hal-lo.” Sapa Kalun lirih, setelah hampir satu menit hanya suara nafas yang terdengar.
“Hallo,” ulangnya, ketika tidak terdengar sahutan dari ujung telepon.
“Sayang, kamu kah di sana? Apa kamu mendengarku?” tanya Kalun yang tidak kunjung mendapati jawaban dari pemilik ponsel.
Hanya suara tawa tipis yang terdengar, Kalun semakin bingung apa yang dilakukan Aluna saat ini.
“Sayang, Luna? Apa kamu tidak ingin berbicara padaku?”
“Heh, siapa?” lirih Aluna yang belum tersadar dari tidurnya.
“Aku suamimu.” Kalun mengucapkanya dengan lembut.
“Suami, heh. Suamiku sudah pergi ke alam lain, dia meninggalkan aku sendri di sini.” Aluna tidak sadar mengucapkan hal itu pada Kalun karena dia masih belum terbangun dari tidurnya. Tapi perkataan Aluna membuat Kalun seketika terdiam memikirkannya, dia tidak mampu mengucapkan apa-apa lagi, karena merasa sakit hati, saat mengerti maksud dari ucapan Aluna, dia tidak tahu jika Aluna masih terlelap di ujung telepon sana.
Kalun langsung mematikan panggilannya, hendak langsung menyusul Aluna ke Solo saat ini juga. Dia emosi mendengar istrinya berkata seperti itu, dia ingin menanyakan apa maksud dari perkataan Aluna, apa benar sesuai apa yang dia pikirkan. Namun, naasnya ketika dia tiba di luar rumah, ada polisi yang sudah menunggunya di luar, hendak membawanya ke sel tahanan, atas perintah pelapor yang meminta Kalun harus masuk dalam sel tahanan hari ini juga.
Kalun terpaksa mengurungkan niatnya untuk menemui Aluna, keadaan membuatnya tidak bisa untuk bertemu dengan Aluna sekarang. Dia mengikuti langkah kaki polisi yang membawanya ke mobil. Tatapannya tertuju ke arah mamanya yang berada di pelukan Erik, mengucapkan kata maaf untuk apa yang sudah ia saksikan.
💞
Jangan lupa like dan vote ya😅
__ADS_1