
London
Kalun terpingkal-pingkal ketika menatap layarnya yang bewarna hitam, dia tengah membayangkan wajah Aluna yang merona karena kejahilannya tadi. Dia merindukan istrinya, itu benar! Tapi dia punya penangkalnya, dia membawa sabun, shampoo, lotion, pasta gigi, parfum, yang sama dengan yang Aluna kenakan.
Awalnya dia dulu merasa pusing saat awal pertama kali mencium aroma itu, tapi sekarang sudah seperti candu baginya, seperti ganja yang akan semakin dinikmati semakin membuatnya ketagihan.
Dia menatap layar ponselnya, membuka
geleri yang terdapat foto dirinya dan Aluna. Hatinya terus bertanya, dulu saat menjalani hubungan LDR dengan Kayra perasaannya tidak seperti ini, tidak sesakit ini. Hatinya saat ini terasa berat saat berpisah dengan Aluna. Dia ingin sekali menangis, jika itu bisa mengobati rasa rindunya, dia merindukan Aluna dan akan terobati ketika nanti dia bertemu dengan istrinya, dia hanya mampu berdoa supaya 3 hari cepat berlalu, dan masalahnya di sini akan segera terselesaikan.
Sore ini Kalun ingin memberikan kejutan untuk Kayra, dia akan mendatangi Kayra di apartemennya. Mobil sudah disiapkan oleh pihak hotel tempatnya menginap. Kalun terlihat tampan, saat mengenakan kemeja hitam dan celana jeans warna birunya. Dia berjalan keluar gedung menghampiri mobilnya.
Kalun mengemudikan mobilnya dengan
pelan, karena jarak dari hotel ke apartemen Kayra, sebenarnya tidak begitu jauh. Dia keluar dari mobil saat sudah tiba di apartemen Kayra, dia menatap sejenak bangunan mewah itu, dulu dia sering berkunjung ke sini untuk menemui Kayra, bahkan hampir setiap bulan dia pasti datang, tapi sekarang baru kali ini dia datang, setelah pernikahannya dengan Aluna terjadi.
Kalun meraih ponsel yang ada di kantongnya, dia menghubungi Kayra untuk menanyakan keberadaanya. Dia langsung memasuki apartemen setelah mendapat jawaban dari Kayra di telepon tadi.
Tiba di depan pintu apartemen Kalun menekan tanda lonceng yang ada di samping pintu, hatinya tidak seberdebar dulu, kini hanya kehampaan yang mendampinginya. Semenit kemudian pintu terbuka. Terdengar teriakkan histeris yang keluar dari bibir Kayra, Kayra sudah merentangkan tangannya ingin memeluk lelaki di depannya itu. Namun, tangan Kalun sudah menghentikan niatnya, membuatnya cemberut karena Kalun tidak berubah sama sekali.
“Nggak baik, kita belum sah.” Kalun berjalan masuk ke apartemen, dia duduk di sofa ruang tamu.
“Kenapa nggak ngasih kabar sih kalau mau datang Sayang, kan aku bisa menjemputmu,” kata Kayra sambil duduk di samping Kalun.
“Kamu senang?” tanya Kalun menatap Kayra.
“Pastilah, aku sudah sangat merindukkanmu,”
jelas Kayra dengan mata binar bahagia.
Kalun menatap sejenak cincin yang dulu di sematkan mamanya di jari manis Kayra, hatinya teriris membayangan Kayra yang akan menerima kenyataan, jika dia akan mengakhiri hubungannya.
“Kamu sudah makan Sayang?” tanya Kayra
saat mendapati Kalun tengah menatapnya.
“Belum.” Kalun hanya mampu menjawab
singkat pertanyaan Kayra.
“Kita makan diluar yuk!” ajak Kayra
sambil menarik tangan Kalun. Kalun menuruti Kayra, dia berjalan di belakang Kayra
mengikuti langkah wanita di depannya itu.
“Kamu yang bawa mobil ya, aku tidak tahu
di mana makanan yang enak,” terang Kalun sambil menyerahkan kunci mobilnya.
Saat berada di dalam mobil Kalun
__ADS_1
terus menatap jari manis Kayra, hatinya menjadi bimbang, karena dia bisa melihat
kesetiaan Kayra selama ini, yang terus memakai cincin di jari manisnya. Entah apa yang dipikirkan Kalun, dia justru mengganti cincin itu dengan cincin kawin yang sudah dia lepas sebelum dia datang menemui Kayra.
“Key,” panggil Kalun yang membuat Kayra
menoleh sebentar ke arahnya. Kayra lalu meminta Kalun untuk segera melanjutkan
ucapannya.
“Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu,” ucap Kalun sambil menatap ke arah jalan.
“Pasti kamu ingin mengatakan tanggal
pernikahan kita kan? Aku terserah kamu saja Sayang, kapan pun aku siap, hahaha.” Kayra tertawa tiada henti setelah itu.
“Bukan Key, besok aku akan mengajakmu
makam malam special, jadi persiapkan untuk besok,” jelas Kalun yang membuat Kayra
menghentikan suara tawanya, Kayra menganggukan kepalanya menyetujui permintaan Kalun.
Tiba di restoran Kalun langsung memesan makanan kesukaan Kayra, dan kesukaannya. Dia terus mengamati wajah cantik di depannya itu. Wanita yang dulu dicintainya, kini akan dia putuskan secara sepihak.
Mereka berdua menikmati waktu sore itu,
saling menatap, mata Kayra menyampaikan rasa rindunya terhadap Kalun.
justru mengemudikan ke pusat pembelanjaan yang mewah di sana.
Sudah menjadi kebiasaannya ketika Kalun
sampai di London, dia akan menemani Kayra berbelanja. Jadi Kalun tidak kaget lagi, jika Kayra langsung membawanya untuk menemaninya berbelanja.
“Ini bagus deh Sayang, beli ya?”
Kalun melirik sebentar ke arah jam
tangan yang di bawa Kayra.
“Ambillah!” ucapnya singkat.
Setelah melakukan pembayaran, dia
berjalan lagi, ke toko sebelahnya, di saat seperti ini, tepatnya ketika dia berada di toko pakaian, pikirannya melayang ke arah Aluna yang tengah terlelap di kasurnya. Dia mendekati gaun bewarna putih itu. Ya, Aluna sangat menyukai warna putih. Tangan Kalun terulur mengambil gaun itu dan meminta pelayan untuk segera membungkusnya.
“Buat siapa?” tanya Kayra yang tiba-tiba berada di belakang tubuh Kalun.
“Nggak usah di bungkus, biar jadi
satu saja dengan yang ini,” sambung Kayra pada petugas toko tersebut sambil menyerahkan tumpukkan pakaian di tangannya. Kalun hanya mengerutkan kening, karena gagal memberikan barang untuk istrinya di rumah.
__ADS_1
Selanjutnya, Kayra masuk ke dalam
toko tas dan sepatu. Kalun bersihkeras untuk mengingat berapa ukuran kaki Aluna,
tapi yang ada dia tidak ingat sama sekali dengan ukuran sepatunya itu, padahal
ada sepatu yang sangat cocok jika nanti di pakai Aluna. Dia menyesal tidak pernah mengetahui sedetail itu tentang Aluna.
Mata Kalun memindai berbagai model tas
yang ditampilkan di atas meja display. Dia tidak lagi malu untuk mengambil tas
bewarna putih yang tidak jauh darinya. Kayra tersenyum ke arahnya.
“Jangan yang ini, ini terlalu mahal
Sayang …” tolak Kayra, yang berfikir jika Kalun akan memberikan tas itu untuknya.
“Kamu nggak mau?” tanya Kalun yang
dijawab gelengan kepala oleh Kayra.
“Ya sudah, aku beli saja buat mama,”
kata Kalun sambil menyerahkan tas tersebut pada pelayan, dia jadi teringat dengan mamanya, pasti mamanya itu akan menimang-nimang dirinya, jika dia memberikan oleh-oleh tas mahal.
Dia memindai lagi tas yang di
display, mamanya menyukai warna putih, hitam, biru, tapi matanya tertuju pada
warna maroon yang terlihat cantik di matanya. Dia langsung mengambil tas itu
dan menyerahkan tas itu kepada petugas.
Dilihatnya wajah Kayra yang sudah
cemberut, karena Kalun tidak memilihkan tas untuknya. Dia lalu segera mengambil tas
dengan harga yang akan mencapai 300 jt. Tidak ada protes dari Kalun, menurutnya tidak
papalah menuruti permintaan terakhir Kayra sebelum mereka benar-benar akan berpisah.
Setelah selesai berbelanja, Kalun
segera mengantar Kayra pulang ke apartemennya. Dia berpesan jika besok akan menjemput Kayra pukul 7 malam waktu setempat. Dia juga harus menyiapkan hatinya untuk mengatakan pada Kayra jika hatinya kini sudah bukan untuknya lagi.
👣
>>> next >>>
Jangan lupa like dan vote kak👍🙏
__ADS_1