Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Kantor Polisi 2


__ADS_3

Di ruangan yang terlihat sepi Kalun duduk di kursi kayu dengan pakaian warna orange khas tahanan. Baru semalam dia bermalam di sini, tapi Ella sudah meminta suaminya untuk segera mengantarkannya pagi ini, dia tidak bisa terlelap karena memikirkan Kalun yang tengah berada di sel tahanan.


Ella meletakkan tangannya di pipi Kalun, mengusapnya lembut, memberikan sentuhan kasih sayang untuk Kalun. Terlihat dari mata lelaki di depannya jika Kalun tidak bisa tidur dengan baik.


Sedangkan Erik kini tengah berada di luar ruangan, dia sedang berbicara pada polisi yang berdiri di depannya, membicarakan masalah kasus hukum yang menjerat Kalun saat ini. Jika kasus yang dialami Kalun ada di zaman dulu dia bisa saja menyuap polisi, tapi untuk sekarang sulit dia lakukan, Kalun juga harus menaati peraturan hukum negara yang berlaku saat ini.


“Apa perlu Mama membawa Luna datang ke sini, pasti kamu membutuhkan dukungan darinya?” tawar Ella setelah melihat Kalun nampak kacau. Kalun langsung menggelengkan kepalanya cepat, menolak tawaran Ella sambil menampilkan senyum kecutnya ke arah Ella.


“Dia membenciku Ma, dia sudah tidak menganggapku suaminya lagi, dia membenciku.” Kalun mengenggam erat tangan Ella, mencoba mencari dukungan dari Ella.


“Hey, nggak mungkin Luna seperti itu. Luna anak yang baik Sayang, dia hanya butuh waktu untuk memikirkan semuanya, Mama yakin dia akan kembali padamu,” jelas Ella sambil mengusap kepala Kalun yang tertunduk, dengan dahi yang dia letakkan di pinggiran meja.


“Mama akan menemuinya, Mama akan datang ke Solo dan menjemputnya pulang ke rumah,” ucap Ella yang tidak bisa melihat Kalun bersedih karena ditinggal Aluna pergi.


“Jangan Ma, jangan lakukan itu, aku justru ingin meminta surat cerai yang sudah ditandatangani Luna pada Mama, biarkan Doni mengambilnya nanti malam, Mama masih menyinpannya, kan?” tanya Kalun.


“Apa maksudmu? Kamu mau bercerai dengan Luna?” tanya Ella dengan sorot mata marah ke arah Kalun.


“Iya, semalam aku sudah berpikir, dan mungkin itu jalan yang terbaik untuk aku dan Luna, hubungan kami tidak seperti hubungan Papa dan Mama.” Kalun menjelaskan apa yang tengah dia pikirkan semalaman di sel tahanan.


“Kalun! Kamu pikir kami mudah hingga bisa sampai saat ini!” tanya Ella yang sudah memukul lengan Kalun, dia kecewa dengan keputusan Kalun yang terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan, apalagi keputusan tentang pernikahan.


“Luna membenciku Ma, dia tidak bisa menerima semuanya, dia masih mencintai calon suaminya dan aku yang sudah melenyapkan calon suaminya, dia benar, mungkin dia akan bahagia sekarang dengan Fandi, jika aku dulu tidak menabraknya, dia pasti tidak akan kehilangan satu indung telurnya jika aku tidak menikah dengannya, karena pasti papanya Kayra tidak akan mengenalnya, dan kecelakaan itu pasti tidak akan terjadi, aku hanya membawanya ke dalam kesulitan.” Kalun menutup wajah dengan kedua telapak tangannya saat selesai menjelaskan semuanya pada Ella.

__ADS_1


“Bagaimana dengan perasaanmu kali ini, Mama tahu kamu mencintainya, Mama mengerti itu Kal, bertahanlah semua akan baik-baik saja, Mama akan membawa Luna pulang ke Jakarta.”


“Jangan Ma! Ku mohon, biarkan Kalun menyelesaikan ini sendiri,” mohon Kalun dengan tangan yang sudah berada di depan dadanya.


“Kamu masih terlalu labil untuk mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalahmu, Mama yakin kamu belum memikirkan bagaimana ke depannya hidupmu tanpa Luna, apa kamu bisa hidup menduda di usia yang masih muda? Apa kamu yakin bisa mencintai wanita lain selain Luna? Pikirkan itu Kal, jangan terlalu buru-buru untuk mengambil keputusan,” jelas Ella sambil sesekali mengusap ekor matanya karena air mata yang mulai akan tumpah, dia tidak ingin terlihat lemah di depan Kalun. Dia ingin menguatkan anaknya, bukan lemah di depan anaknya. Dia sadar hanya dia saat ini yang bisa menenangkan Kalun, di saat anak lelakinya terpuruk.


Hanya terdengar suara hirupan hidung saat ini. Erik yang tadi akan masuk, terpaksa mendengarkan nasihat istrinya dari ambang pintu masuk ruangan, dia memasukkan kedua telapak tangannya di saku, menyandarkan ubuhnya di kusen pintu masuk, dia terus menatap ke arah Kalun yang terlihat putus asa karena masalahnya yang tidak kunjung tuntas.


“Makanlah, mama bawa makanan kesukaanmu, mau Mama suap? Sudah lama mama tidak menyuapimu,” tawar Ella sambil membuka kotak makan yang dia bawa dari rumah.


Mata Kalun menatap isi kotak di depannya. Menu makanan kesukaanya, tiba-tiba ia menyesali dalam hati, kenapa mamanya membawakan makanan yang mengingatkan dia pada Luna. Dia hanya tersenyum kecut ke arah makanan yang dibawa mamanya.


Ella menyodorkan sendok yang berisi makanan di depan mulut Kalun, sedangkan Kalun tengah membayangkan jika yang ada di depannya ini adalah istrinya, membayangkan Aluna yang dulu menyuapinya dengan menu yang sama, tepat berada di depannya sambil tertawa bahagia. Kalun membuka mulutnya dengan air mata yang tiba-tiba turun membasahi pipinya, tanpa rasa malu karena Ella terus memperhatikannya.


“Bedanya satu, aku lebih tampan dari anakmu, kan?” goda Erik yang duduk di samping Ella.


“Iya, suamiku yang paling tampan, dan Kalun yang paling mempesona,” ucap Ella sambil menyuapi lelaki di depannya.


“Papa sudah berbicara pada polisi, katanya mereka tidak mau mencabut tuntutannya, mereka tetap meneruskan gugatannya, jadi maafkan Papa,” kata Erik penuh penyesalan karena tidak bisa membantu Kalun menyelesaikan masalahnya.


“Katakan sejujur-jujurnya, mungkin mereka akan mengerti apa yang kamu alami dulu, siapa tahu itu bisa meringankan hukumanmu,” lanjut Erik yang langsung diangguki Kalun.


“Papa akan ke Solo dengan Mamamu setelah keputusan pengadilan, dan akan Papa usahakan untuk membawa Luna datang menjengukmu di sini.”

__ADS_1


Kalun menatap Erik sambil menggelengkan kepalanya, “Jangan lakukan Pa, biarkan dia di sana lebih dulu, mungkin itu lebih baik,” jelas Kalun yang membuat Erik menganggukan kepalanya, mengerti ke khawatiran Kalun.


“Baiklah terserah kamu, mau bagaimanapun semua tergantung kalian yang akan memutuskannya, karena kalian yang akan menjalaninya,” jelas Erik.


“Apa kamu mau menelepon Luna, Kal? Kamu bisa meneleponnya menggunakan ponsel Mama,” tawar Ella sambil menutup kembali kotak bekal setelah selesai menyuapi Kalun.


“Nggak usah Ma, tunggu Kalun punya keberanian untuk berbicara dengannya,” jelas Kalun sambil tersenyum tipis pada Ella.


Tidak lama kemudian panggilan waktu jam besuk sudah habis, membuat ketiga orang dewasa itu mengakhiri pertemuannya hari ini.


Ella memeluk Kalun erat sebelum Kalun memasuki ruang tahanan, meminta Kalun untuk sabar, semua pasti akan segera berlalu, dan kebahagiaan akan datang padanya setelah ini.


“Sudah, ayo pulang! Lepaskan pelukanmu!” ajak Erik sambil menarik tangan Ella. Mereka lalu meninggalkan Kalun yang tersenyum kecut ke arah keduanya, menyanyangkan cerita asmaranya tidak seperti kedua orang tuanya.


Kalun kembali masuk ke ruang tahanan yang terlihat sempit, tapi beruntungnya hanya dia yang menempati ruangan itu, tidak ada orang nakal yang mencoba mengusik ketenangannya. Kalun meraih kantong bajunya, mengeluarkan selembar foto wanita yang menampilkan senyuman bahagia di bibirnya. Kalun sengaja mengambil selembar foto itu dari bingkai foto yang ada di kamarnya, dia terus menatap foto Aluna yang bersanding dengannya, mencoba mengobati rasa rindunya lewat foto yang dia pegang. Dia akan melewati hari-harinya seperti ini di sini. Sampai keputusan hakim menjatuhkan hukuman untuknya.


>>>>


Harap sabar ini ujian...😂


Badai pasti berlalu deh jadi sabar ya.😁


Jangan lupa vote dong... Part-part akhir nih!

__ADS_1


__ADS_2