
Pukul 1 dini hari Aluna terbangun karena merasakan hawa dingin di tubuhnya. Ia meraba tempat tidur Kalun yang berada di sebelah kiri tempat ia tidur. Mendapati Kalun yang tidak berada di samping, dengan susah payah ia mendudukan tubuh yang tidak lagi kurus itu. Kakinya yang bengkak terasa kebas saat mulai menginjakkan kaki di lantai marmer rumah baru yang ia tempati.
Setelah pulang dari negeri Sakura. Kalun memberi kejutan dengan membawanya ke rumah baru. Alasannya, karena ia ingin memulai semua yang baru setelah badai perceraian terlewati.
Aluna meraih daster yang beberapa jam lalu dilempar Kalun di bawah ranjang. Sesuai saran yang Lusi sampaikan jika ingin proses persalinan lancar, bisa dibantu dengan seringnya hubungan di usia kehamilan 9 bulan. Dan sebagai lelaki normal Kalun menuruti saran yang Lusi sampaikan. Meski kadang kasihan melihat perut Aluna yang buncit.
Aluna berjalan keluar kamar. Mencari keberadaan Kalun di sekitar rumahnya. Suasana nampak sepi. Dua pembantu rumah tangga yang dipekerjakan sudah terlelap di kamarnya masing-masing.
Aluna menatap ke arah ruang kerja Kalun, terlihat cahaya lampu yang terang dari celah fentilasi ruang kerja. Sambil berjalan ke arah dapur Aluna mengikat rambutnya asal. Ia ingin membuatkan kopi susu untuk Kalun yang tengah bekerja lembur.
Aluna segera berjalan ke ruang kerja Kalun setelah kopi susu itu siap. Tanpa mengetuk pintu ia mendorong pelan-pelan pintu di depannya. Matanya tertuju pada Kalun yang duduk di balik meja kerja, dengan kaos putih polos dan bolpoint di tangannya. Dia tengah membolak-mbalikkan kertas yang ada di tangan kiri, sambil menyoretkan tanda tangan di dokumennya.
"Belum selesai?" tanya Aluna sambil berjalan mendekat ke arah Kalun. Kalun yang tengah fokus ke dokumen yang ada di tanganya tersentak saat mendengar suara Aluna. Terlihat Kalun membuang nafasnya saat mengetahui keberadaan Aluna yang tersenyum tipis menatapnya.
"Belum Sayang, sebentar lagi. Kamu nggak tidur?" tanya Kalun, sambil meraih tangan Aluna untuk duduk di pangkuannya, dia lalu mengambil kopi susu yang ada di tangan Aluna, dan meletakannya di meja kerja.
"Aku baru saja terbangun, pinggangku terasa panas," jawab Aluna sambil mengusap pinggangnya.
"Kok bisa panas, Tumben?" tanya Kalun sambil mengulurkan tangan meraba perut Aluna.
"Iya biasanya cuma aktif saja. Tapi sejak tadi siang aku merasa seperti ini."
"Aku telepon Lusi ya? Siapa tau sudah waktunya? Atau mau ke rumah sakit sekarang!" tawar Kalun yang kebingungan mencari ponselnya di meja.
"Belum ada tanda-tanda. Mungkin karena kamu tadi mainya terlalu kasar," sahut Aluna sambil tersenyum tipis.
"Kamu ih, jangan gitu! Aku akan merasa bersalah jika itu benar terjadi," ucap Kalun sambil mencubit pipi Aluna yang berisi.
"Kakimu kapan sembuhnya?" lanjutnya bertanya setelah mendapati kaki Aluna yang mengantung, terlihat punggung kakinya yang membengkak.
"Tunggu anak kita lahir."
"Ini sudah 9 bulan lebih 2 hari. Tapi kenapa juga belum mau keluar dedeknya? Atau kita jadwalkan saja ya, untuk operasi cessar?" ucap Kalun.
"Nggak. Enak saja cessar. Aku ingin merasakan sakitnya seorang wanita ketika melahirkan normal," tolak Aluna sambil berbisik di telinga Kalun.
"Heh kenapa berbisik di telingaku?"
"Kenapa, pengen?" goda Aluna sambil mengedipkan satu matanya.
"Tadi kan sudah apa kamu akan baik-baik saja, jika semalam kita melakukannya dua kali."
"Nggak papa, asalkan Aa membawaku jalan-jalan besok," kata Aluna sambil mengalungkan tangannya ke leher Kalun.
"Besok?!"
"Iya, aku pengen jalan-jalan ke mall besok, beli perlengkapan bayi yang belum ada," kata Aluna menjelaskan.
"Sayang, aku besok ada meeting penting dan akan sangat sibuk. Bagaimana jika lusa saja," tawar Kalun mengulurkan tangannya mengusap punggung Aluna.
"Baiklah aku akan ke kantor besok membawakanmu makan siang, kita makan siang bersama. Bagaimana?"
"Nggak perlu. Nanti kamu capek. Dan kamu tahu kan kalau capek akibatnya apa?" kata Kalun sambil tersenyum tipis.
"Ya, kamu harus memijit kakiku!" sahut Aluna cepat.
"Tidurlah dulu, masih ada 2 file lagi yang harus aku periksa!" perintah Kalun yang langsung ditolak Aluna, ia masih duduk manis di pangkuan Kalun sambil bergelayut manja di pangkuan Kalun.
"Nggak mau!" jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Ya sudah, kita tidur, biarkan Doni yang mengurusnya besok," kata Kalun sambil meminta Aluna untuk beranjak dari pangkuannya.
__ADS_1
Dengan manja Aluna memeluk tubuh suaminya, sambil berjalan menuju kamar. Melupakan kopi yang sudah berubah menjadi hangat.
"Aa aku belum ngantuk," kata Aluna dengan suara manja.
"Lalu?" kata Kalun yang menghentikan langkah kakinya.
"Aku pengen jagung rebus!" minta Aluna sambil memanyunkan bibir.
Kalun menatap ke arah jam dinding yang ada di ruang keluarga. Dia menggelengkan kepalanya cepat karena dia akan bisa menemui pedagang jagung rebus di jam segini.
"Besok ya, pulang dari kantor aku bawakan."
"Sekarang!"
"Nggak ada Sayang yang jualan jam segini, siapa memangnya yang mau beli? Besok aku belikan deh, sekalian sama gerobaknya!" kata Kalun yang sudah mengeluarkan candaanya.
"Nyebelin," sungut Aluna sambil duduk di sofa.
"Kan bisa beli di pasar, terus kita rebus sendiri di rumah," gerutu Aluna sambil menyalakan tv di depannya dengan suara sedikit keras.
Tidak lama kemudian Kalun meninggalkan Aluna untuk mengambil kunci mobil yang tergantung di ruang kerja. Dia ingin menuruti Aluna di sisa kehamilannya kali ini.
"Ayo kita ke pasar, biar nanti Bu Nuri yang merebusnya di rumah!"
"Memang sudah buka pasarnya?" tanya Aluna mendengar ajakan Kalun.
"Semoga saja," jawab Kalun sambil membawa Aluna keluar dari rumah.
"Aa nggak ngantuk?" tanya Aluna yang di jawab senyuman oleh Kalun.
"Kalaupun aku ngantuk mana mungkin aku bisa menolak permintaan istriku yang manja ini." Kalun membuka pintu mobil yang masih berada di tempat parkir rumahnya.
Tepat pukul dua pagi mereka keluar rumah. Kalun melajukan mobilnya menuju pasar terdekat untuk membeli keinginan Aluna.
"Ikut A'! Jalan-jalan juga bagus untuk proses lahiran," tolak Aluna ketika Kalun memintanya untuk berhenti.
Kalun membuang nafasnya ketika mendengar penolakan Aluna. Istrinya itu selalu punya alasan untuk menolak setiap larangannya.
"Ya sudah, ayo!" kata Kalun terdengar pasrah.
"Pakai ini!" perintah Kalun sambil mengambil jaket yang ada di kursi belakang.
Mereka berdua memasuki pasar tradisional tersebut mencari penjual jagung basah.
"Jagungnya berapa, Buk?" tanya Aluna saat melewati penjual jagung.
"Lima ribu Kak." Jawab pedagang wanita tersebut.
"Mahal sekali," ucap Aluna sambil berjongkok di depan penjual untuk memilih jagung yang sudah tua.
"Dua sepuluh ribu ya Bu." tawar Kalun sambil menatap jagung yang Aluna pilih.
"Gimana sih nawarmu! Bukannya itu sama saja?" tanya Aluna mendongak menatap Kalun sambil menarik kaus Kalun. Membuat lelaki itu tertawa ke arah Aluna.
"Iya biar cepat kelar," sahutnya.
"Ambil saja 10 ribu 2biji Kak, enak ini bikin bakwan enak, direbus juga mantap, ini jagung manis tambah manis lagi kalau merebusnya ditambah gula," rayu penjual jagung.
"Air putih juga manis Bu, kalau ditambah gula," sahut Aluna sambil mengusap perutnya.
"Bu, aku ini ngidam jagung. Sepertinya kalau Ibu memberinya gratis dagangan Ibu bakalan laris manis hari ini," kata Aluna sambil memainkan matanya ke arah penjual.
__ADS_1
Pedagang jagung itu menatap perut Aluna yang tampak membuncit dan sedikit turun ke bawah, karena memang sudah waktunya untuk melahirkan. Merasa benar adanya, pedagang itu tersenyum sumringah, dia membungkus 5 biji jagung yang dipilih Aluna, dengan ramah ia memberikan pada Aluna secara cuma-cuma.
"Sudah sana, pulang! Besok datang lagi juga boleh!" kata pedagang tersebut yang menghampiri Aluna.
"Jaga istrimu baik-baik. Istrimu ini jadi mengingatkan ibu pada anak Ibu di kampung halaman yang tengah hamil. Semoga anak Ibu juga dimudahkan jika menginginkan seauatu."
"Ibu asli mana?" tanya Aluna penasaran.
"Saya asli Klaten," jawabnya ramah.
"Masih tetangga Bu, saya asli Solo." Aluna berbicara selembut mungkin.
Kedua wanita itu, seperti kawan lama yang baru saja bertemu, tidak mempedulikan Kalun yang terus menggaruk tengkuk kepalanya, karena merasa aneh dengan Aluna, yang bisa ramah dengan orang yang baru saja dia temui. Dia juga tidak paham apa yang mereka bicarakan karena keduanya menggunakan bahasa jawa tulen.
Hingga ajakan Kalun yang menginginkan pulang, Aluna segera berpamitan pada wanita tersebut. Berjanji jika sudah melahirkan akan datang ke sana lagi.
Saat di mobil, Kalun terus menatap Aluna yang terlihat mengantuk.
"Tadi ngomongin apa, sama Ibu penjual jagung tadi. Sepertinya akrab sekali?"
"Iya, dia katanya teman papa," jawab singkat Aluna. Keduanya lalu diam tidak ingin berbicara lagi. Aluna yang mengantuk mulai memejamkan matanya, karena tidak bisa menahan matanya untuk terbuka.
Hingga tiba di rumah, Kalun mengangkat tubuh Aluna ke kamar, dia ikut merebahkan tubuhnya, mengingat ini masih terlalu dini untuk pergi ke kantor.
***
Tepat pukul tujuh pagi Kalun terbangun dari tidurnya. Dia menatap Aluna yang masih terlelap di sampingnya. Menciumi Aluna sambil memberikan ucapan selamat pagi. Kalun lalu beranjak dari tidur, menyiapkan pakaian kerjanya sendiri, karena mengerti dengan kondisi Aluna yang terlihat lelah.
Setelah selesai bersiap dia memberikan kecupan di dahi Aluna lagi. Lalu pergi meninggalkan kamar menuju dapur, berpesan pada assiten rumah tangganya untuk merebus jagung yang tadi ia dapatkan.
Beberapa menit kemudian, Aluna yang berada di kamar mencari keberadaan Kalun yang sudah berangkat ke kantor. Dia merasakan mulas di perut, tapi tidak begitu menyakitkan. Dia beranjak dari ranjang untuk keluar kamar, tanpa mencuci wajah dan mengikat rambutnya dia mendatangi dapur. Dia menanyakan keberadaan Kalun yang sudah berangkat ke kantor karena ini sudah pukul 8 pagi.
"Ibu sakit?" tanya Bu Nuri yang melihat Aluna meringis sambil memegang perutnya.
"Nggak Bu," jawabnya setelah berhasil meredakan rasa mulas.
"Tadi Bapak pesan, suruh memberikan jagung ini pada Ibu. Dan Bapak minta maaf karena tidak membangunkan Ibu tadi pagi, tadi Bapak sepertinya buru-buru."
"Iya, semalam Aa begadang Bu, aku ajak dia ke pasar nyari jagung," sahut Aluna sambil tersenyum tipis.
Saat Aluna berdiri ingin mengambil jagung rebus yang ada di meja dapur. Dia memejamkan matanya ketika rasa mulas kembali menyerangnya, dia mengusap perutnya sambil mengatur nafasnya, sesuai intruksi yang Lusi sampaikan. Bu Nuri yang melihat keanehan Aluna segera meraih teleponnya untuk menghubungi Kalun. Tanpa bertanya lagi apa Aluna akan melahirkan, karena dia tahu jika Aluna akan segera melahirkan sekarang. Tapi sayangnya tidak ada sahutan dari ponsel Kalun. Bu Nuri berinisiatif menghubungi mertua Aluna. Karena tempo hari mereka sudah berpesan jika sesuatu terjadi dengan Aluna dan Kalun tidak bisa dihubungi dia harus segera menghubunginya. Panggilan langsung diangkat oleh Ella, saat Nuri meneleponnya. Dia meminta Nuri untuk segera membawa Aluna ke rumah sakitnya. Dan mereka akan bertemu di sana.
Bu Nuri menyiapkan perlengkapan yang akan dibutuhkan nanti di rumah sakit. Aluna yang sudah tidak merasakan mulas, mencoba menahan tangan Nuri.
"Sepertinya tidak hari ini Bu, kita masuk lagi ke rumah saja," kata Aluna menahan tangan Nuri.
"Sebentar lagi pasti rasa itu datang lagi Bu, percaya saja! Sebaiknya Ibu menurut dulu," kata Nuri membukakan pintu untuk Aluna. Dia melindungi kepala Aluna supaya tidak terbentur mobil.
Mobil segera melaju ke rumah sakit milik keluarga Kalun. Ketika sampai di sana. Aluna hanya bisa mengerutkan dahi, karena melihat Erik dan Ella yang sudah berjalan cepat menghampiri mobil yang dia tumpangi. Ella langsung membuka pintu mobil, menyambut Aluna.
"Ma, Aluna belum ingin melahirkan," ucapnya ketika Ella sudah berdiri didepannya.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Yang Luna rasain ya biasa saja, seperti hari-hari biasa. Cuma Aluna dari kemarin pengen jalan-jalan ke mall, tapi Aa nggak bisa nurutin karena hari ini dia ada meeting," ucapnya yang sedikit ada rasa kecewa.
"Ayo biar Mama yang mengantarmu," ajak Ella menarik tangan Aluna.
"Pa jaga di rumah sakit saja, biar Mama yang pergi dengan Aluna, dan jangan lupa telepon anak lelakimu!" kata Ella saat melihat Erik ingin beranjak masuk ke dalam mobil.
"Baiklah, kalau ada apa-apa telepon aku," pesan Erik yang diangguki Ella. Dia lalu melihat ke arah Aluna yang tersenyum bahagia dengan pakaian daster batik yang terlihat kebesaran, dia hanya menggelengkan kepalanya, melihat menantunya yang belum sempat membersihkan tubuhnya tersebut.
__ADS_1
💞
Jangan lupa like dan votenya.