
Kalun tiba di apartemen tepat pukul 4 sore, ini adalah rekor pertama dia pulang lebih cepat, ketika dia memimpin EL Group.
Dia segera menekan angka yang terletak di bawah handle pintu apartemen. Dia masuk sambil mengedarkan pandangannya ke arah ruangan apartemen, tapi gadis itu tidak bisa dia lihat.
“Mungkin dia sedang istirahat,” ucapnya lirih sambil berjalan masuk ke kamarnya. Dia ingin membersihkan tubuhnya, setelah itu dia akan menunggu Aluna bangun dari tidurnya.
Setelah selesai mandi Kalun kembali turun ke lantai satu, dia duduk di sofa sambil menyalakan tv di depannya.
“Tidur apa pinsan sih, kenapa lama sekali?” ucapnya yang tak kunjung melihat rupa Aluna.
Sudah pukul 7 malam, tapi Aluna tidak kunjung keluar dari kamar, membuat Kalun gelisah memikirkan Aluna. Kalun lalu berjalan menghampiri kamar Aluna.
“Lun ...” panggilnya lembut.
“Luna ....” Kalun mengetok pintu kamar Aluna. Namun, penghuni kamar tidak kunjung membukakan pintu untuknya.
Kalun terpaksa membuka pelan handle pintu kamar Aluna, saat tidak mendapat respon dari penghuni kamar sebelah.
Dia tersenyum senang saat mendapati pintu kamar tidak di kunci. Kalun mengira jika Aluna tengah tidur di dalam kamarnya. Tapi, Dia mendesah lesuh saat tidak melihat Aluna berada di kamarnya.
Dia lalu kembali ke lantai satu mengambil ponsel yang dia letakkan di meja depan tv. Dia mengotak-atik ponselnya mencari nama Aluna, tapi yang terjadi dia tidak menemukan nomor ponsel Aluna.
“Heh ... bahkan nomor ponselnya aku tidak punya,” ucap Kalun melemparkan badannya ke sofa.
Dia lalu menghubungi Doni untuk meminta nomor ponsel Aluna pada David. Dia khawatir dengan kondisi Aluna yang sampai sekarang tidak kunjung pulang.
Pintu apartemen terbuka, membuat Kalun menoleh ke arah pintu masuk. Melihat mama, bibi, dan istrinya masuk ke dalam rumah.
Kalun tercengang saat melihat Aluna mengenakan dress dengan rambut yang tertata rapi khas orang yang keluar dari salon.
Kalun menatap Ella sebentar saat melihat Aluna meletakkan barang bawaanya di kursi sofa.
“Kalun ... hubungi Gheo sayang suruh jemput Bibi, Mamamu akan menginap di sini,” perintah Sashi yang membuat Kalun menatap fokus ke Aluna. Gadis itu sudah menyandarkan tubuhnya di sofa, rona kelelahan terlihat di jelas di wajah Aluna.
“Mama kok bisa sama Luna?”
“Iya, tadi Mama ketemu dia di mall, jadi Mama ajak sekalian untuk perawatan, cantik kan, Luna?” Tanya Ella pada Kalun sambil mengedipkan matanya ke arah Aluna.
“Mama tidur sini saja, biar Bibimu pulang di jemput Gheo.” Ella berucap sambil berjalan menuju dapur.
Kalun dan Aluna saling melemparkan pandangan, karena khawatir rahasianya akan terbongkar malam ini. Kalun lalu mendudukkan tubuhnya dengan kasar di samping Aluna.
“Aku akan mengalihkan perhatian Mama, kamu cepat pindah barangmu ke kamarku!” bisik Kalun yang membuat Sashi menatapnya curiga. Aluna yang merasa geli karena nafas Kalun mengenai telinganya, mencoba menjauhkan bibir Kalun dengan tangannya.
__ADS_1
“Tunggu Bibi pulang dulu Kalun, baru kamu bisa menyerang Luna sesukamu, apalagi habis ke salon, wangi itu!” sindir Sashi dengan senyum menggoda ke arah pengantin baru di depannya, ketika dia melihat Kalun menempelkan bibir di samping telinga Aluna. Membuat Kalun jadi salah tingkah, dia tidak mampu berpikir dengan jernih.
“Kapan Bibi pulangnya? Aku kan sudah tidak sabar!” ucap Kalun sekenanya, membuat wajah Aluna merona malu karena ucapan Kalun.
“Hahaha. Iya Bibi paham, karena Bibi juga pernah muda, hahaha ...” ucap Sashi di tengah tawa kerasnya di melihat ke arah Aluna yang tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“O ya, suruh Aluna buka hadiah dari Bibi, semoga bermanfaat untuk kalian berdua malam ini,” ucap Sashi sambil menunjuk kotak biru navy yang tadi dia beli secara diam-diam.
Kalun mengangguk karena tidak mengerti apa isi dalam kotak tersebut.
---
Satu jam kemudian.
Lampu tengah apartemen sudah dimatikan, Ella sudah masuk ke dalam kamar yang biasa Aluna pakai. Sedangkan Aluna masih bingung akan tidur di mana, saat berada di kamar utama yang biasa Kalun tempati.
“Kamu tadi kemana saja?” tanya Kalun saat melihat istrinya duduk di sofa.
“Aku, aku tadi sebenarnya mau mencari baju untuk bekerja, tapi gagal karena bertemu dengan Mama mertua,” jelas Aluna sambil melirik ke arah Kalun yang duduk di atas kasur.
“Kenapa tidak memberitahuku?” tanya Kalun yang membuat Aluna menoleh kearahnya.
“Bukankah kita sudah memiliki perjanjian, jika kita tidak akan mencampuri urusan masing-masing,” ucap Aluna tegas.
“Aku hapus aturan itu, mulai sekarang apapun yang terjadi denganmu, kamu harus memberitahuku!” ucap Kalun dengan tegas, membuat Aluna menajamkan penglihatannya ke arah Kalun.
“Jika kamu memanggilku seperti itu, harusnya kamu bersikap lebih baik lagi padaku. Bibi Sashi memberimu apa? Dia tidak macam-macam kan?” tanya Kalun penuh selidik. Membuat Aluna benar-benar buntu dengan ucapan Kalun, karena merasa semakin aneh dengan pertanyaan Kalun, apalagi melihat bibir Kalun yang tertarik ke atas.
“Tuh!” tunjuk Aluna ke kotak bewarna navy dengan jarinya.
Kalun yang penasaran, langsung berdiri dan mengambil kotak yang diberikan Sashi. Dia lalu menyerahkan kotak itu pada Aluna. Supaya Aluna yang membuka kotaknya. Dengan santai Kalun ikut duduk di samping Aluna, karena penasaran apa hadiah dari bibinnya.
Namun, Aluna langsung menutup kembali kotak itu setelah mengetahui isi dalamnya.
“Kenapa?”
Aluna berusaha menyembunyikan kotak navy itu dibelakang punggungnya.
“Coba lihat!” pinta Kalun sambil mencoba meraih kotak di belakang tubuh Aluna.
“Jangan!” ucap Aluna yang terdengar keras.
“Apa aku hanya penasaran?” ucap Kalun yang semakin tidak sabar untuk mengetahui isi dalam kotak. Dia masih terus menggerakkan tangannya untuk meraih kotak tersebut. Hingga membuat tubuh Aluna terhuyung kebelakang. Kalun dengan sigap meraih pinggang Aluna supaya gadis itu tidak jatuh dari sofa. Posisi Aluna kini menempel lekat di tubuh Kalun, bahkan pusaka kembarnya sudah terasa mengganjal menahan dada Kalun. Tapi Kalun hanya fokus dengan kotak yang ada di tangan Aluna, dia meraih kotak itu, dan tersenyum menang ke arah Aluna.
__ADS_1
Setelah mendapatkannya dia langsung melepaskan pelukkan yang ada di pinggang Aluna. Membuat Aluna terjungkal ke depan sofa.
“Awww ...” rintihnya Aluna sambil memegang pinggangnya. kakinya kini masih tersampir di sofa sedangkan tubuhnya sudah jatuh ke lantai.
“Kamu!” teriak Aluna dengan kesal karena Kalun tidak kunjung menolongnya.
Kalun yang baru sadar, langsung menarik tangan Aluna, supaya dia bisa naik ke atas sofa lagi.
“Nggak sakit kan? Jatuhnya kan, nggak terlalu tinggi?” tanya Kalun setelah Aluna duduk di sofa.
“Nggak!” jawab Aluna ketus, sambil menahan rasa sakit di pinggangnya.
Kalun lalu fokus kembali ke arah kotak navy pemberian bibinya, dia membuka kotak navy itu. Namun, setelah melihat isinya Kalun langsung melempar kotak itu ke sembarang arah, karena terkejut saat melihat aneka k*ndom beraneka rasa, disertai note di dalamnya.
Kalian masih muda, nikmatilah masa kebersamaan kalian, sebelum masa repot itu tiba.
Selamat menempuh hidup baru.
“Kenapa kamu menerimanya?” tanya Kalun dengan nada keras.
“Kalau aku tahu isinya seperti itu, aku tidak akan menerimanya.”
“Paduka ... bisakah kamu pergi dari sini, aku akan tidur, biar besok bisa bangun pagi!” perintah Aluna saat dia sudah tidak kuat menahan kantuknya.
Kalun lalu berjalan menuju kasurnya, mengerti kondisi Aluna yang lelah, tapi saat akan merebahkan tubuhnya, terdengar suara bel pintu apartemennya. Dia dengan malas berjalan ke arah pintu apartemen untuk membuka pintu.
“Papa!” kagetnya saat melihat Erik di depan pintu.
“Mana Mamamu?” tanya Erik sambil berjalan masuk ke apartemen Kalun.
“Sudah tidur Pa.”
“Minta di hukum Mamamu itu, membiarkan suaminya kedinginan di rumah, dia malah tertidur nyenyak di sini.” Erik menggerutu sambil berjalan ke arah kamar Kalun. Kalun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah papanya.
“Mungkinkah aku akan seperti itu Sayang, semakin tua, semakin panas,” ucapnya lirih sambil mengingat hadiah dari bibinya tersebut. Pikiran Kalun melayang membayangkan benda karet yang dia lempar tadi, sisi lelakinya keluar, dia ingin meledakkan apa yang tengah dia rasakan. Dia lalu kembali ke kamar setelah bisa meredakan sisi lelakinya.
Saat Kalun masuk ke kamar, dia melihat pemandangan yang begitu indah, Aluna tertidur tanpa selimut di tubuhnya, dress yang tersingkap membuat CD hitam yang dia kenakan bisa terlihat jelas di mata Kalun.
Cobaan apalagi ini. Batinnya sambil berjalan menuju kasurnya.
Kalun mengambil selimut yang biasa dia pakai, dia menyelimuti tubuh Aluna lalu menatap lekat wajah Aluna dari dekat. Bibir Aluna yang bergerak membangunkan gairahnya lagi. Kali ini dia tidak bisa lagi menahan keinginannya, karena hasrat yang dia redakan tadi, tiba-tiba kembali muncul. Kalun lelaki normal, dan tentunya akan tergoda ketika melihat wanita ini menggodanya.
“Haruskah aku meminta hakku sekarang?”
__ADS_1
👣
Jangan lupa like dan vote ya!