
“Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu? aku bahkan langsung terbang ke Solo setelah hari kebebasanku tadi pagi!” kata Kalun sambil membawa wajah Aluna menghadap ke arahnya.
Aluna masih tidak ingin menatap Kalun meski wajah mereka berhadapan. Dia terus menatap ke arah jam dinding yang sudah tepat berada di angka 2 dini hari.
“Lepaskan tanganmu, aku ingin istirahat!”
“Nggak mau, sebelum kamu mendengarkan semua penjelasanku!”
“Ini sudah jam dua pagi kamu sangat menganggu waktu istirahatku!”
Kalun belum ingin menurunkan tangannya, dia justru mendekatkan pinggang Aluna untuk lebih lagi dekat dengan tubuhnya yang sudah menghadapnya.
“Kamu tahu? Sebenarnya aku hanya ingin melihat kondisimu dari jauh, memastikan kondisimu baik-baik saja, setelah kita bercerai. Tapi setelah aku tahu kamu hamil. Aku bersyukur, karena kita disatukan lagi oleh anak kita,” jelas Kalun.
“Yakin sekali jika ini anakmu!”
Kalun terdiam memikirkan ucapan Aluna, tapi dia tidak melepaskan pelukkannya. Menatap mata Aluna yang berbicara tentang kebohongan padanya. Dia hanya tersenyum smirk ketika Aluna tidak berani membalas tatapannya.
“Sudah berapa bulan dia di sini!”
Aluna hanya tersenyum tipis, tidak ingin menjawab pertanyaan Kalun ia lalu membalikan tubuhnya membelakangi Kalun. Mengabaikan gerakan calon anaknya yang semakin lincah di dalam perutnya.
Kalun mengikuti pergerakan Aluna, tangannya terulur untuk memeluk Aluna dari belakang. Merasakan gerakan calon bayinya yang bergerak semakin aktiv.
“Apa ini menyakitimu?” tanya Kalun saat merasakan tonjolan perut Aluna bagian atas.
“Bisakah dia berpindah di perutku saja? Aku tahu pasti kamu kesakitan menghadapi anakku ini,” ucapnya yang tidak dijawab Aluna. Aluna merasa sakit hati, mengingat Kalun yang sudah menandatangani surat cerai itu, dan sekarang lelaki itu datang padanya, dengan perkataan manis yang meluluhkan hatinya, kini dia bimbang sendiri dengan keputusan yang sebenarnya sudah dia mantapkan.
“Setelah keluarga mantan calon suamimu menghukumku, apa kamu juga akan menghukumku juga? Lalu berapa lama lagi kamu menghukumku? Apa kamu tidak takut jika besok tiba-tiba aku tertabrak truck dan meninggal di tempat, dan kamu belum sempat mengatakan jika kamu sudah memaafkan diriku!” Kalun terus mengoceh sambil merasakan gerakkan perut Aluna. Dalam hatinya sangat bahagia merasakan itu, tapi dia juga menyesal sudah melewatkan waktu 6 bulan ini dengan Aluna.
“Apa maksudmu?” Aluna belum ingin membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Kalun, dia masih merasakan gerakan tangan Kalun yang menenangkan calon bayinya.
__ADS_1
“Selama ini aku tinggal di penjara, mereka menghukumku di sana. Karena itulah aku tidak pernah menemuimu!”
Aluna melepaskan tangan Kalun dari perutnya, dia berbalik badan menghadap ke arah Kalun, setelah sesaat terdiam. Matanya menatap ke arah Kalun berusaha mencari kebenaran dari arah mata lelaki yang masih menyandang status sebagai suaminya tersebut. Sedangkan Kalun masih bingung melihat respon Aluna. Dia pikir Aluna sudah mendengar kabar jika dia di penjara.
“Anak ini anakku kan?” tanya Kalun sambil memeluk lagi tubuh Aluna dengan erat, tidak ingin melepaskannya dengan cepat, dia terus menciumi rambut panjang Aluna yang terlihat acak-acakkan.
Hingga suara rintihan dari bibir Aluna menyadarkannya, bagaimana tidak? Perutnya kini dihimpit Kalun, dan tendangan dari calon bayinya semakin keras mengenai kulit perutnya, dan itu sangat menggelikan.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika kamu di penjara? Apa orang tuamu menganggap kita sudah benar-benar bercerai.”
Kalun berusaha menengkan Aluna, memintanya supaya tidak berpikiran buruk terhadap keluarganya.
“Sejujurnya aku yang meminta mereka untuk menyembunyikan semuanya darimu, tapi itu dulu ketika proses sidang, aku pikir mama dan papa datang kemari untuk memberitahukan padamu, setelah hukuman itu dijatuhkan,” jelas Kalun yang beralih mensejajarkan kepalanya ke arah perut Aluna.
Dia mengecupi perut Aluna yang tertutup kain batik di sana, sambil tersenyum bahagia. Kalun lalu menarik daster Aluna yang terlihat kebesaran itu, hingga tampak jelas kini perut Aluna yang sudah membuncit.
“Hay Utun ini Papa, are you oke? Apa kamu sedang bermain bola? Atau kamu sedang mencubiti ginjal mama?” tanya Kalun yang diakhiri suara tawa kecil. Sedangkan Aluna masih tenggelam memikirkan ucapan Kalun, mencerna perkataan Kalun. Menyadari jika suaminya juga tidak bahagia di Jakarta. Suami yang dia anggap menelantarkannya, ternyata dia sedang menjalani hukuman di balik jeruji besi.
Kalun mendongak kembali mendekat ke arah wajah Aluna, “Siapa lagi jika bukan keluarganya.”
“Kamu mau menghukumku juga? Aku rela asal kita tidak jadi berpisah.” mohon Kalun diiringi tatapan mata yang terlihat sayu.
Kalun menjerit, ketika Aluna mencubit pinggangnya.
“Inikah hukuman untukku? Menyakitkan sekali!” ucapnya sambil menggosok bekas cubitan Aluna.
“Bukan! Hukumanmu kan lebih dari ini! Kamu yang sudah membuatnya pergi!” kata Aluna sambil menjauhkan tubuhnya dari Kalun.
“Aku heran, kenapa kamu justru mengirimkan surat cerai itu? Padahal aku hanya meminta waktu untuk memikirkan semuanya! Kamu tahu saat itu aku bingung harus melakukan apa? Ditinggalkan tanpa kabar, telepon nggak aktiv!” lanjut Aluna terus mencari-cari kebenaran di balik niatan Kalun menceraikannya.
Kalun justru tersenyum. “Kamu tahu? Aku saat itu cemburu, ketika kamu mengatakan jika suamimu sudah meninggal dunia dan aku pikir kamu tidak mengharapkan kehadiranku lagi, kamu masih mencintainya, itu alasan terbesarku kenapa aku menandatangani surat itu.”
__ADS_1
“Kapan aku bicara seperti itu denganmu?”
“Kamu lupa?” ucap Kalun sambil mengerutkan dahinya.
“Bukan lupa tapi aku nggak pernah mengatakan hal itu padamu!” jelas Aluna yang mulai emosi. Kalun berusaha menenangkannya, mengusap perut Aluna, takut jika bayinya akan terbawa emosi yang Aluna rasakan.
“Sudah, sudah jangan dipikirkan lagi! aku takut si Utun akan tiba-tiba menangis di dalam sana!”
“Lebay! Sudahlah aku mau tidur? Besok aku harus ke tempat Lita.”
“Ya, istirahatlah!” ucap Kalun lembut sambil mengusap rambut Aluna, dia membiarkan Aluna terlelap di sana, tapi yang dia lihat Aluna justru beranjak dari tidurnya.
“Mau ke mana, tetaplah di sini, kita bisa melepas rindu?” tanya Kalun saat melihat Aluna berjalan ke arah luar kamar.
“Kamar mandi. Kenapa mau ikut?” tawar Aluna dengan candaan.
“Iya kalau boleh,” sahut Kalun sambil meraih guling di sampingnya sebagai pengganti Aluna.
“Nggak boleh! Tetep di situ.”
Aluna berjalan meninggalkan kamarnya menuju kamar mandi, tidak mempedulikan Kalun yang tengah menatapnya hingga dia menghilang di balik pintu kamar.
Setelah dia kembali dia masih melihat Kalun yang masih terjaga sambil bermain ponsel di tangannya.
“Kenapa nggak tidur?!”
“Belum, aku nungguin kamu, sambil nyari artikel yang pas untuk dibaca,” kata Kalun sambil merentangkan tangannya di atas bantal Aluna.
“Tidurlah!” lanjutnya sambil menepuk lengan kanannya.
“Pasti kamu kesusahan kan selama ini? Setelah ini waktuku hanya untuk mengurusi kamu dan dia,” jelas Kalun sambil mengusap gemas perut Aluna. Tidak butuh waktu lama Aluna yang mengantuk mulai tenggelam dalam mimpinya, meninggalkan Kalun yang masih terjaga di sampingnya, terus memandang wajah Aluna, mencium gemas wajah istrinya, sekuat apapun dia mencium tidak ada pergerakan yang Aluna lakukan, ia pasrah dengan apa yang dilakukan Kalun. Tapi Kalun sadar dia tidak boleh melakukan lebih dari ini, sebelum dia mendengarkan penjelasan dokter tentang bagaimana kondisi Aluna.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya😂