
Sesampai di apartemen, Kalun mengedarkan pandangannya ke arah ruangan depan televisi. Dia melihat Aluna tengah serius menatap layar televisi di depannya. Dia mendekati Aluna, menjatuhkan tubuhnya di samping tempat duduk Aluna. Lalu ikut menyambar snack yang Aluna makan yang sudah dipindahkan di toples bewarna orange tersebut.
Kalun ikut tertawa ketika melihat Rowan Atkinson yang memerankan sebagai agen M17 yang tidak berkompeten. Film itu mampu memecahkan tawa dari sudut bibir keduanya. Bahkan Aluna tanpa sadar meletakkan kepalanya di lengan Kalun. Kalun juga sudah merangkul pundak Aluna sambil terpingkal-pingkal saat pemeran Johnny English tengah menampilkan kebodohannya.
“Lucu ya Yang.” Kalun semakin erat merangkul Aluna, melupakan jika istrinya itu tengah marah dengannya.
Suara itu mampu menyadarkan Aluna, dari tindakkan ramahnya. Dia langsung mendorong tubuh Kalun menjauh darinya, “Siapa yang meminta kamu duduk di sini? Menjauh dariku!” usir Aluna sambil menunjuk sofa kosong di seberang kursinya.
“Kok gitu?” tanya Kalun kebingungan sambil mengerutkan dahinya.
Aluna menampilkan wajah marahnya, dia melotot ke arah Kalun yang tengah memberikan pertanyaan padanya.
“Eh, aku bawa makanan. Itu spesial buat kamu!” Kalun menunjuk kotak makan di depannya, lalu beralih kembali menatap Aluna.
“Apa kamu mau aku suap? Sini aku suap ya, biar gendut. Kalau gendut kan kamu tambah cantik.” Rayuan Kalun tidak berhasil membuat Aluna luluh. Aluna masih menampilkan wajah marahnya.
“Makan saja sendiri, aku sudah makan!” ketus Aluna.
“Makan apa?” Kalun kembali ingin meraih pundak Aluna, tapi Aluna justru menjauh dari Kalun.
“Terserah aku, mau makan apa! Memangnya apa pedulimu, lebih baik kamu diam, seperti beberapa hari yang lalu.” Aluna beralih memperhatikan lagi ke arah televisi. Sekali-kali mengetikkan jarinya di layar ponsel yang ada di tangan kanannya.
__ADS_1
“Kamu mau apa? Belanja, honeymoon ke Paris, pulang ke Solo? Atau mau apa aku akan menurutinya, asal kamu tidak marah lagi denganku?” bujuk Kalun dengan semangat, mencoba lagi menggeser badannya supaya lebih dekat lagi dengan Aluna.
Aluna berbinar ketika mendengar tawaran Kalun, bibirnya menampilkan senyuman manis ke arah Kalun, membuat Kalun merasa dirinya sudah berhasil membujuk Aluna malam ini. Tapi sedetik kemudian jawaban Aluna membuatnya sakit hati.
“Pergi sana sendiri, dengan selirmu!” ketus Aluna sambil menatap lagi ke arah layar di depan.
“Bagaimana jika aku punya selir betulan? Pasti mereka akan sangat senang menerima tawaranku, yang mengajaknya jalan-jalan ke Paris, memanjakan mereka. Membelikan ini itu pada mereka, mereka akan merasa menjadi wanita sempurna setelah berada di sampingku.”
“Iya sana! Dan aku pastikan besok surat cerai itu akan ada di depan matamu.” Aluna semakin kesal ketika mendengar perkataan Kalun. Rasa cemburunya semakin dalam ia rasakan.
“Jahat kamu ya, selingkuh nggak boleh, meminta aku untuk berpuasa terus, lalu apa enaknya coba punya istri tapi begini!”
“Sadis!”
“Biar saja, atau mau aku kebiri sendiri! Aku pakai pisau dapur saja gimana?!” kata Aluna sambil beranjak berdiri. Namun, langkahnya tertahan ketika tangan Kalun berhasil mencegahnya.
“Dosa Sayang, kita suami istri jangan marah terlalu lama denganku. Walaupun sebenarnya aku rela, jika itu hukuman darimu. Tapi bagaimana denganmu nanti. Maafkan aku! Aku yang salah. Aku banyak salah padamu! Aku khilaf,” kata Kalun sambil memeluk Aluna.
“Akting yang bagus! Hari ini seperti ini, besok pasti diulangi lagi, sudah berapa kali kamu seperti ini Kal. Jadi, sekarang kamu lepaskan tanganmu, aku mau tidur. Jangan menggangguku!” kata Aluna, tangannya berusaha keras melepaskan pelukkan Kalun, tangan Kalun dengan berat melepaskan tubuh Aluna, membiarkan Aluna berangkat menuju lantai atas.
Keduanya kini kembali tidur terpisah, dengan Aluna yang kembali ke kamarnya yang masih bernuansa shabby, membiarkan Kalun yang masih berada di depan televisi kedinginan di sana.
__ADS_1
Malam semakin larut, mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Aluna hanya mampu berguling-guling di bawah selimut tebalnya. Memikirkan keputusannya lagi yang ingin berpisah dari Kalun, sambil mengingat-ingat lagi surat yang kemarin sudah dia beri tanda tangan, dia lupa kemarin menyimpannya di mana? Dia terus tenggelam dalam pencarian surat tersebut, hingga meninggalkan alam dunia nyatanya.
Dini hari, tepatnya pukul 4 pagi, terdengar suara berisik dari arah dapur apartemen mewah tersebut. Terlihat Kalun mengenakan apron dengan warna merah jambu yang sangat tidak pantas dipakai olehnya, karena tingginya dengan Aluna yang sangat kentara jadi apron itu hanya menutupinya hingga bagian pahanya. Terlihat Kalun tengah memukul-mukul cabe merah sambil memperhatikan layar ponselnya yang tengah menampilkan video cara membuat nasi goreng cinta ala chef Arnold. Seorang Kalun yang perfectionis, tidak akan menghentikan kegiatannya, selama masakkannya belum terasa sempurna.
Dua piring nasi goreng sudah tersaji di meja makan. Warna merah yang dihasilkan dari cabai berhasil membuat nasi di depannya menggugah selera setiap orang yang menatapnya, aromanya sudah seperti nasi goreng buatan mamanya, tidak lupa Kalun menambahkan telur rebus yang di masak setengah matang dengan proses yang di ajarkan chef Arnold. Dia melakukan pekerjaannya itu membutuhkan waktu 2 jam. Dia segera berjalan ke arah kamarnya, ingin membersihkan tubuhnya lebih dulu lalu mengantarkan nasi goreng itu pada Aluna.
Tiga puluh menit kemudian.
Kalun sudah siap dengan pakaiannya yang rapi, aroma parfumnya sudah tercium dari radius 20 meter. Dia berjalan ke arah dapur, melihat sejenak hasil kerja kerasnya yang sudah dia platting sedemikian cantiknya. Dia tersenyum manis ke arah nasi goreng tersebut.
“Sayang … bukain pintunya dong. Lihat aku bawa apa?” kata Kalun saat tiba di depan pintu kamar Aluna.
“Sayang, aku masuk ya? Kamu nggak lagi ganti baju kan?” tanya Kalun berlagak sok sopan, perlahan dia mendorong pintu kamar Aluna. dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Aluna, kamar yang terlihat rapi meski tertempel puluhan foto di sana, pandangannya menemukan Aluna yang masih terlelap di bawah selimut tebal bermotif bunga-bunga. Matahari yang menyilaukan matanya, tidak mampu membuatnya terbangun dari tidurnya.
“Sayang lihat ini, aku bawa apa. Bangun yuk? Kamu nggak kerja ya? Males banget sih jam segini masih molor!” kata Kalun sambil meletakkan piring porselen itu di meja samping ranjang.
Kalun lalu menepuk pelan pipi Aluna. Berusaha membangunkan istrinya, sedikit terkejut ketika mendapati tubuh Aluna yang terasa panas di punggung tangannya.
“Kamu sakit?” tanya Kalun yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari Aluna. mata Aluna terpejam rapat. Dengan bibir yang membiru. Kalun dengan panik segera meraih ponsel yang ada di sakunya, menelepon Doni, supaya segera mengirimkan dokter ke apartemennya. Kalun semakin kacau saat mengingat ucapan Erik, dia hanya mampu berharap semoga tidak akan terjadi sesuatu yang buruk dengan Aluna.
JANGAN LUPA UNTUK VOTE YA GAES. TERIMA KASIH😂💪
__ADS_1