
Wajah masam itu menghiasi acara sarapan pagi ini. Aluna terus melahap sarapannya, sambil sesekali menyesap susu hangat yang tadi dia buat. Tanpa mempedulikan Kalun yang menekuk wajahnya karena semalam harus menjalani pisah ranjang dengan Aluna.
“Aku duluan ya, sepertinya ojek onlineku sudah sampai!” pamit Aluna yang mengulurkan tangannya untuk berpamitan dengan Kalun.
Kalun menerima tangan itu tanpa menolehkan wajahnya menghadap Aluna. seperti kebiasaanya dulu, Aluna selalu singgah di makam Fandi, sebelum dia tiba di kantornya, mencurahkan perasaanya di depan gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput jepang itu. Seolah Fandi mendengar dan akan mejawab ucapannya.
Cukup lama Aluna berada di sana, tanpa mempedulikan Ferdi yang berdiri di belakangnya. Air matanya tidak
sederas dulu, dadanya sudah tidak sesesak dulu ketika awal Ferdi meninggalkannya. Aluna segera beranjak dari posisi jongkoknya. Dia tersentak, mundur kebelakang saat melihat lelaki bertubuh kekar itu menjulang tinggi di depannya.
“Ngagetin tau nggak!” caci Aluna saat keduanya bertatapan.
“Maaf Kak, aku nggak bermaksud mengagetkanmu,” ucap Ferdi
dengan senyuman tipis.
Aluna segera berpamitan dengan Ferdi, karena dia harus segera berangkat ke kantor, karena jam kerjanya akan segera di mulai.
“Maaf ya aku buru-buru soalnya.”
“Biar aku yang mengantarmu Kak, ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu,” cegah Ferdi sambil menahan pergelangan tangan Aluna.
Dengan lembut Aluna melepaskan tangan Ferdi yang menahannya, dia merasa tidak nyaman jika nanti ada orang yang akan melihat mereka berdua.
“Nggak bisa lain kali saja ya?” tanya Aluna yang sebenarnya ingin menolak tawaran Ferdi.
“Nggak bisa Kak, ini masalah Kak Fandi.”
Aluna diam memikirkan ucapan Ferdi. Tidak ada niatan buruk yang terpancar dari wajah Ferdi. Meski ketika kakaknya masih ada, dia selalu bermusuhan, tapi sepertinya Ferdi merasa kehilangan sosok Fandi saat ini.
Ferdian Adhitama, saudara laki-laki Fandi. Usianya dua tahun lebih muda dari Fandi, mereka berdua tidak pernah terlihat akur
semasa hidupnya. Ferdi yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di luar negeri
kini sudah berada di Indonesia. Kini dia bersiap menjadi calon pengacara terbaik di
__ADS_1
Indonesia.
“Kenapa dengan Almarhum Fandi?” tanya Aluna yang bingung.
Ferdi merasa lega karena Aluna berniat untuk mendengarkannya.
“Ayo aku antar Kakak, aku akan menceritakannya sambil mengantarmu ke kantor,” ajak Ferdi sambil meraih pergelangan Aluna, lalu membawanya meninggalkan makam Fandi.
Hanya keheningan di sana tidak ada yang memulai pembicaraan pagi itu. Suara lagu dari D’Cinamon yang terdengar nyaring di telinga Aluna, ketika tangan Ferdi terulur menekan tombol yang ada di bawah dasbor.
Mobil ini, mobil yang biasa Fandi pakai untuk menjemputnya. Entah kenapa
Fandi malam itu memilih menjemputnya menggunakan motor. Aluna mengingat lagi
kenangannya dengan Fandi. Sepertinya baru kemarin dia bersendau gurau dengan Fandi di mobil ini, tapi kali ini dia tidak bisa menjumpainya, menjumpai lelaki yang dia cintai.
“Apa Kakak, mengingat Kak Fandi?”
Aluna diam hanya menatap kemacetan yang menghalanginya, tanpa mempedulikan pertanyaan Ferdi.
yang tidak mendapat respon dari Aluna.
Dengan tangan kirinya Ferdi mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Dia lalu menyerahkannya pada Aluna, menunjukkan apa isi pesan dari Fandi.
Aku tahu kamu membenciku, tapi aku juga tahu bagaimana perasaanmu padanya. Jika malam ini aku akan pergi. Jika aku tidak kembali, kamu bisa membawa pergi dia, aku rela jika kamu memilikinya. Tapi ingat ya JIKA AKU TIDAK KEMBALI KAMU BISA MENGGANTIKAN POSISIKU DI HATINYA.
Aluna tersenyum sinis ke arah layar ponsel Ferdi, hatinya perih ketika membaca pesan itu, dia bukan barang yang bisa dipindah-pindahkan seenak hati, dia punya hati yang juga bisa sakit. Dia lalu menatap lagi ke arah Ferdi dan menggembalikan ponselnya.
“Kamu tahu kan artinya apa? Aku janji akan menjadi penggantinya untukmu, menerimamu apa adanya Kak!” jelas Ferdi sambil fokus ke arah jalan, jika ini lamaran untuk Aluna, jelas Aluna akan menolaknya, karena tidak romantis sama sekali.
“Terlambat Fer, aku sudah menikah!” terang Aluna yang membuat Ferdi menginjak rem mobilnya dengan dalam. Dia menatap tajam ke arah Aluna.
“Apa maksudmu Lun?” tanya Ferdi yang sudah tidak lagi menggunakan embel-embel ‘Kak’.
“Iya aku sudah menikah, karena dulu undangan sudah tersebar jadi aku menerima tawaran orang, yang akan menikahiku, aku tidak mau mengecewakan orang tuaku jika pernikahanku gagal, jadi aku menerimanya.”
__ADS_1
“Tapi kamu tidak mencintainya kan?” selidik Ferdi.
“Katakan dengan jelas Lun? Kamu tidak mencintainya kan,” tanyanya lagi karena tidak segera mendapatkan jawaban.
“Em … nggak!”
“Bagus, karena aku sudah berada di sini, aku akan membantumu mengurus perceraian dengan suamimu itu,” jelasnya lagi.
“Tapi aku berusaha mencintainya. Prinsip hidupku, menikah hanya sekali seumur hidup, jika aku bisa mempertahankan aku akan mencobanya.” Aluna membuka
pintu mobil lalu keluar dari mobil Ferdi karena kini mereka sudah tiba di depan
gedung kantor EL Group. Ferdi menuruni mobilnya, tidak membiarkan Aluna untuk
turun dari mobilnya secepat ini.
“Lun, tunggu … tunggu!” cegah Ferdi menahan tangan Aluna yang sudah hendak berjalan menuju pintu kantornya.
“Fandi tidak mengalami kecelakaan tunggal, ada orang yang sengaja mencelakainya, aku tengah melakukan penyeledikan, aku akan memberitahumu jika semua sudah terbukti.” Ferdi mengatakan kejujuran di depan Aluna.
Setelah berada di Jakarta beberapa hari, dia terus mengamati motor yang dulu kakaknya pakai saat terakhir, hingga menyebabkan kecelakaan. Aluna menoleh ke arah Ferdi, mempertanyakan ucapan lelaki di depannya itu.
“Aku akan menunggu kabar darimu,” ucap Aluna lalu segera meninggalkan di mana Ferdi berada. Dia menatap jam yang sudah hampir tepat pukul 8 pagi. Dia berlari kecil menuju ke arah lift karyawan. Menolehkan kepalanya, matanya bertemu dengan mata Kalun yang tengah memerah menahan emosi. Dia lalu dengan santainya tidak mempedulikan raut wajah suaminya. Dia lalu memasuki pintu lift yang sudah terbuka.
“Carikan aku sekertaris wanita!” perintah Kalun pada Doni yang berada di belakangnya.
“Apa Anda punya kandidat yang berhak Anda beri tiket istimewa?” tanya Doni.
“Siapa lagi, kalau bukan istriku sendiri! Aku tidak ingin dia berhadapan dengan lelaki yang tidak aku ketahui asal-usulnya,” jelas Kalun sambil melangkahkan kakinya memasuki lift.
Suasana hatinya tidak baik pagi ini, ketika melihat Aluna datang diantar dengan lelaki asing yang tidak dia ketahui.
Doni segera mengatur semuanya, memberikan pengumuman kepada seluruh staf devisi, untuk mengajukan nama kandidat yang akan mereka calonkan menjadi sekertaris Kalun.
👣
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan Vote ya.