
Pagi ini seluruh keluarga Ramones berbondong-bondong mendatangi kantor pengadilan. Tidak ada kabar apapun yang tersiar lewat media online maupun media cetak. Semua sudah diatur oleh Erik. Sebisa mungkin ia menyembunyikan status Kalun saat ini.
Pagi ini mereka sudah duduk di belakang kursi terdakwa. Persidangan sengit antara Kalun dan Ferdi belum usai hingga sekarang. Dua bulan sudah Kalun berada di sel tahanan, dia mampu menjalaninya dengan hati yang besar.
Hari ini adalah keputusan akhir persidangan. Sidang terakhir yang menentukan berapa lama Kalun akan menjalani hukuman di dalam hotel prodeo itu. Seluruh anggota keluarganya juga hadir, termasuk juga Damar dan Sashi yang turut serta hadir mendengarkan keputusan hakim ketua, dia akan menjadi orang pertama yang akan protes, jika Kalun diberikan hukuman selama 6 tahun penjara.
Kalun berjalan memasuki ruang sidang, tatapannya memindai seluruh keluarganya yang hadir di sana. Wanita yang sebenarnya ia harapkan untuk selalu ada di setiap moment pentingnya, tidak hadir di sana. Tidak ada yang memberitahu Aluna, apa yang ia alami saat ini, dan semua anggota keluarganya menurut dengan apa yang diinginkannya. Tapi dalam hati Kalun dia ingin Aluna tahu dan memberikan semangat untuknya.
Kalun menatap Ferdi yang duduk di kursi penuntut umum. Saat ini sudah ada di depannya hakim ketua yang tengah menyampaikan kesimpulan dari semua proses persidangan beberapa minggu ini. Kalun hanya menunduk mencermati semua kesalahannya. Mungkin dia pantas mendapatkan ini, dia sudah melenyapkan nyawa orang dan dia pantas untuk menerima hukumannya.
Hakim ketua mulai menyuarakan suaranya membacakan putusan hukuman untuk Kalun, “ … menyatakan terdakwa Kalundra Ananda Ramones alias Kalun terbukti bersalah atas kasus kecelakaan yang menyebabkan saudara Fandi meninggal dunia, sebagaiamana di atur dalam pasal 310 ayat (4) UU LLAJ menjatuhkan pidana terhadap Kalundra dengan pidana selama 6 bulan dikurangi selama terdakwa berada dalam masa tahanan sementara dengan sesuai perintah, terdakwa tetap ditahan ….”
Kalun menoleh ke arah Ella ketika mendengar keputusan yang dibacakan hakim umum, dia besyukur karena hukuman yang diberikan padanya tidak sesuai dengan apa yang penuntut umum inginkan.
Terdengar suara keributan dari arah keluarga Ferdi mereka tidak terima jika Kalun hanya diberi hukuman selama 6 bulan, yang mereka inginkan Kalun di penjara selama 6 tahun sesuai apa yang mereka tuntutkan. Selama persidangan kemarin Kalun berkata jujur, sesuai apa yang terjadi. Mungkin itu yang mempertimbangkan jika Kalun sebenarnya tidak sepenuhnya bersalah, dan dari rekaman cctv yang Khanza dan Doni dapatkan bukan hanya Kalun yang lalai tapi ternyata Fandi juga tengah mengemudikan motor dengan lalai, dia juga memainkan ponsel di tangannya, dan itu yang bisa meringankan hukuman untuk Kalun.
Sorot mata tajam masih diberikan Ferdi ketika dia hendak keluar dari ruang persidangan, dendamnya belum padam hingga sekarang. Berbeda dengan Kalun yang sedikit merasa lega dengan apa yang sudah menjadi keputusan hakim umum. Dia meminta waktu sebentar untuk menemui kedua orang tuanya.
Tubuh yang terlihat tidak terawat itu berjalan mendatangi Ella, memeluk erat tubuh mamanya dan mengucapkan kata maaf. Ella justru menangis dipelukan Kalun, dia menyesali karena suaminya itu tidak bisa berbuat apa-apa.
“Empat bulan lagi, Kalun akan berkumpul lagi dengan kalian, sabarlah kita akan bersama lagi,” terangnya menghibur kedua adiknya yang tengah menangis. Maura dan Naura semakin menangis keras di sana, sambil berebut memeluk Kalun.
“Cepatlah pulang Kak. Dan jangan mengulanginya lagi, siapa yang akan menjaga kami berdua nanti jika Kakak menyendiri di sini,” kata Maura yang masih berada dipelukan Kalun.
“Iya, tenanglah setelah Kakak keluar dari sini, Kakak akan menebus semua kesalahan Kakak, membawa kalian jalan-jalan ke Korea.” Kalun berucap sambil memainkan matanya ke arah Ella yang masih berdiri di depannya.
__ADS_1
“Wajahmu terlihat pucat, apa kamu sakit?” tanya Ella saat melihat raut wajah Kalun yang pucat.
“Nggak aku hanya sedikit masuk angin saja Ma, semalam aku terlalu keras memikirkan keputusan sidang hari ini,” jelasnya saat Ella terlihat khawatir.
“Apa kamu mau makan sesuatu, besok akan Mama bawakan untukmu,” tanya Ella.
Kalun terdiam sesaat memikirkan apa yang tengah dia inginkan sejak beberapa hari ini, tapi dia tidak bisa mendapatkannya, karena di tahanan tidak seperti di rumahnya yang bisa ada kapanpun ia inginkan.
“Kalun mau dibawakan kedondong boleh ya Ma.” Kalun menatap Ella dengan puppy eyesnya, supaya mamanya itu menyetujui permintaanya. Ella justru tersenyum ke arah Kalun, sambil menggelengkan kepalanya.
“Ini bukan musim kedondong tapi coba nanti Mama minta Papamu untuk mencari di pasar,” jelas Ella setelah menghentikan suara tawanya.
“Aneh Kakak ini.”
“Nggak papa dong, orang Mama yang nawarin kok, syirik saja sih, aku batalin nih liburannya ke Korea nya.” Kalun mengeluarkan ancamannya saat terdengar suara protes dari Maura.
“Emang siapa yang mau ketemu dia?”
“Kan, Kak Kalun bisa mengaturnya?” jawabnya sambil menampilkan wajahnya semelas mungkin.
“Mendingan kita ke Maldives,” cetus Naura yang lebih menyukai traveling.
“Iya, betul tu kata Naura, tos dulu dik, biar dia pergi dengan Papa saja,” lanjut Kalun sambil melirik ke arah Erik yang berjalan menghampiri keluarganya.
“Ayo pulang! Biarkan Kalun menjalani hukumannya,” ucap Erik sambil menatap ke arah Kalun yang masih mengenakan kemeja lusuhnya, yang terlihat tidak dia setlika.
__ADS_1
“Bentar Pa, ada hal penting yang ingin Kalun bicarakan dengan Mama, Papa sama adik keluar dulu saja,” perintah Kalun karena ingin membicarakan perihal penting dengan Ella.
“Lima belas menit pertama, setelah itu aku akan membawa istriku kembali pulang,” jelas Erik sambil berlalu meninggalkan Ella dan Kalun.
Kalun menarik tubuh Ella untuk duduk di kursi. Sedangkan dia berjongkok di depan Ella, dia mengenggam tangan keriput itu, memohon maaf dengan tulus.
“Ma, selama ini Kalun sudah memikirkannya dengan baik, dua bulan ini, menjadi titik terendah dalam hidup Kalun. Kalun sudah banyak mengerti banyak tentang arti kehidupan yang sesungguhnya, mohon Mama mengiklaskan jika Kalun harus menandatangani surat itu Ma.”
Ella langsung menatap tajam ke arah Kalun, lagi-lagi anaknya membahas soal surat perceraian yang masih dia simpan.
“Mama sudah membakarnya!” bohong Ella yang tidak ingin lagi menatap ke arah Kalun yang menunduk di lututnya. Berusaha mencegah keputusan Kalun yang ingin berpisah dari Aluna.
“Ma. Bukan hanya untuk Kalun, tapi untuk kebaikan Luna juga. Kalun ikhlas jika dia bisa bahagia bersama orang lain, mungkin Luna bukan wanita yang diciptakan Allah untuk Kalun Ma. Jadi Kalun minta, sebelum Mama datang ke Solo datanglah kemari, bawakan surat itu, Kalun akan ikhlas menandatanginya.” Kalun mengusap air matanya yang sejak tadi sudah mulai mengalir ketika dia menyinggung tentang Aluna.
“Mama nggak akan ke Solo.”
“Biar Doni yang mengantarkan!” sahut cepat Kalun.
“Papa akan melarang Doni!” Sahutan cepat kembali terdengar dari bibir Ella.
“Aku akan memerintahkan orang untuk mengirimnya via paket.”
Ella terdiam mendengar Kalun yang begitu lancar menjawabnya, keputusan Kalun untuk bercerai dengan Aluna sudah kuat, dia sudah menerima segala konsekuensinya nanti yang akan ia terima. Dia juga tidak bisa terus meredam keinginan Kalun.
💞
__ADS_1
VOTE dan LIKE