Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Surat Panggilan


__ADS_3

Ditarik tangan Aluna oleh lelaki yang sudah tidak lagi muda itu ke dalam rumah, Budi mendudukkan Aluna di kursi meja makan rumah sederhana miliknya.


“Kenapa tidak mengabari Papa?” tanya Budi menelisik ke arah wajah Aluna sambil berkacak pinggang di depan Aluna.


Aluna mengusap lengan lelaki yang masih terlihat berotot itu, “Luna sudah bukan tanggung jawab Papa lagi,” jawabnya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas belimbing di depannya.


“Papa sehatkan? Aku merindukan Papa?” Aluna berdiri sambil menghambur memeluk tubuh lelaki di depannya, mencoba meredakan Budi yang bersiap mengintrogasinya. Dia berusaha menyembunyikan apa yang sudah terjadi dengannya.


“Sehat. Suamimu mana? Kenapa tidak ikut denganmu?” tanya Budi sambil membalas pelukkan Aluna, tangannya mengusap punggung Aluna dengan lembut, mencoba membuang rasa khawatir terhadap Aluna.


“Banyak pekerjaan Pa, maklum dia pengusaha. Jadi begitulah kesibukkannya,” jelas Aluna sambil menjauh dari tubuh papanya.


“Kalian tidak bertengkar kan?” tanya Budi ketika mendapati Aluna menghindari tatapannya.


“Nggak. Papa jangan berpikiran macam-macam, bentar lagi dia juga pasti akan menyusul,” ucap Aluna menenangkan papanya karena terlihat jelas guratan cemas di wajah Budi.


“Ya sudah istirahatlah ke kamar sana! Pasti kamu lelahkan? Apa ada makanan yang kamu inginkan? Mau srabi? Atau gendar pecel? Atau mau soto kare?” tawar Budi yang mengetahui jika anaknya itu pasti merindukan makanan khas daerahnya.


“Pa, Papa istirahat saja? Aku tidak menginginkan apapun saat ini,” jawab Aluna sambil meminta papanya duduk di meja makan.


“Jangan pikirkan Luna, aku akan mencarinya sendiri jika aku menginginkannya,” lanjutnya sambil berjalan menuju depan rumah, untuk


mengambil koper yang tadi masih dia letakkan di teras depan.


Aluna menarik kopernya menuju kamar yang sudah lama tidak dia tempati. Dia masuk ke dalam kamar, meletakkan semua baju ke dalam lemari. Bibirnya tersenyum tipis, ketika melihat foto-foto wisuda beberapa tahun yang lalu. Mata Aluna menyipit sambil mengajak bicara bingkai foto yang kini sudah berpindah ke tangannya.


“Apa kabar kalian semua? Semoga kalian baik-baik ya?” lirihnya sambil membersihkan debu yang menempel di kaca foto tersebut. Dia punya sahabat dulu ketika dia masih kuliah, tapi setelah mereka lulus, mereka semua sudah berpencar ke tanah orang. Hanya tinggal 1 sahabatnya yang masing tinggal di Solo.


Aluna berjalan menghampiri ranjang, setelah membersihkan kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah dia ganti seprei, dia ingin menangkan pikirannya, membuang semua pikiran tentang Kalun untuk beberapa hari. Siapa tahu setelah dia lebih tenang dan melupakan kesalahan Kalun, dia bisa menerima semua baik buruknya Kalun. Aluna mulai menutup matanya memaksakan diri untuk tidur.

__ADS_1


Baru saja akan terlelap, gedoran pintu kembali mengusik tidurnya. Teriakkan wanita itu membuatnya semakin pusing karena tidak ada henti-hentinya meneriaki namanya. Aluna lalu berjalan membuka pintu kamar, dia diam sambil menatap malas perempuan di depannya.


“Oleh-oleh buatku mana?” katanya sambil mengulurkan tangannya di depan Aluna.


“Nggak ada, aku pulang mendadak jadi tidak sempat membelikan oleh-oleh buat Mama.” Aluna menjelaskan sambil berjalan ke arah ranjang lagi.


“Eeee … mau ngapain kamu? Jam segini sudah mau tidur lagi? bantuin di belakang sana! Di sini nggak ada yang boleh bermalas-malasan, banyak pekerjaan di belakang, jangan kamu pikir kamu istri seorang pengusaha kamu bisa berleha-leha di sini ya!” omel mama tiri Aluna.


Aluna semakin kesal ketika mendengar ocehan ibu tirinya. Dia lalu kembali berdiri dari ranjang, keluar kamar untuk membantu para karyawan yang tengah melukis batik di rumahnya. Saat Aluna tiba di sana, dia disapa ramah oleh 3 karyawan papanya.


“Mbak Luna kapan sampainya? Kok baru kelihatan, datang sama suaminya?” tanya wanita yang lebih tua darinya 15 tahun.


“Tadi pagi Bulek, Luna datang sendiri kok, Mas’e nembe repot, dadose kulo tilar,” jelas Aluna yang menggunakan bahasa campuran.


(Tadi pagi Tante, Luna datang sendiri kok, Mas baru sibuk, jadi saya tinggal.)


“Tambah ayu kowe Ndog, kopen mesti kowe yo?” timpal wanita satunya yang sama usianya dengan mama tirinya.


“Alhamdulillah Budhe,” jawabnya singkat lalu mulai mendekat ke arah kain yang tengah mereka ukir dengan canting.


(Alhamdulillah Bibi)


“Wes ra usah. Kowe lereno wae, mesti lak kesel to? Durung duwe momongan kie ojo kesel-kesel, mengko ndak panas rahime, malah ra dadi-dadi,” kata wanita yang tepat di samping Aluna dengan suara tawa yang terdengar mengejek, diikuti lainnya yang ikut menertawainya.


(Sudah tidak usah bantuin. Kamu istirahat saja, pasti kamu juga capek kan? Belum punya momongan itu nggak bolek capek-capek, nanti rahimnya bisa kering, takut nggak hamil-hamil.)


Aluna menggaruk bagian belakang, menyesali dirinya sendiri, karena tidak bisa menjaga calon anaknya.


Apa jadinya jika mereka semua tahu jika aku hanya punya satu indung telur? Pasti akan lebih heboh, dipastikan nanti sore satu komplek berkunjung ke rumah papa. Batinya sambil melirik tajam satu persatu wanita di depannya.

__ADS_1


“Kersane Bulek, Kulo diken ibu kok,” sahutnya yang membuat ketiga wanita itu terdiam sambil menatap Aluna.


(Biar saja Tante, saya disuruh Ibu kok.)


“Pancen Ibumu kuwi, wes ra gemati, isone muni-muni tok, Masmu kae yo ngono ngetengi anake wong tapi ra gelem ngrabeni!” celoteh wanita di samping Aluna yang memang hobi menggunjing. Aluna hanya diam tidak menanggapi ucapan perempuan di sampingnya. Dirinya merasa bertambah pusing di sini ketika mendengar aduan dari karyawan papanya.


Aluna yang merasa lelah karena duduk berjongkok, kini mulai beranjak dari duduknya. Dia kembali berjalan menuju kamarnya, untuk meredakan lelahnya. Tapi sebelum itu dia berpamitan dulu dengan mama tirinya untuk tidur selama satu jam, mengingat tubuhnya yang masih lelah setelah perjalanan jauh. Aluna meregangkan tubuhnya, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang miliknya.


Tangannya terulur untuk mengambil ponsel yang ada di atas bantal sampingnya, ada panggilan tidak terjawab dari Kalun, dan beberapa pesan dari suaminya. Dia tidak mampu lagi membaca isi pesan Kalun yang panjang lebar karena matanya yang sudah tidak bisa lagi terbuka. Dia terlelap di kamarnya. menunggu mama tirinya meneriaki untuk bangun.


Jakarta.


Pagi hari, Kalun memegang kepalanya yang terasa pusing, dia lalu menarik tubuhnya bersandar di kepala ranjang. Masih teringat jelas kejadian yang semalam ia lewati. Rencananya pagi ini ia akan membujuk Aluna supaya dia tidak pergi meninggalkannya. Tapi yang ada ketika dia mencari keberadaan Aluna dia tidak menemukannya, dia justru menemukan note yang Aluna tinggalkan di depan meja tv.


Kalun membaca note tersebut, bibirnya bergetar, air matanya kembali menetes ketika menyadari aluna sudah meninggalkannya. Dia melempar buku kecil di tangannya, dia membenci semua ini, dia tidak ingin Aluna pergi darinya. Kalun lalu mengambil ponselnya mencoba untuk menghubungi Aluna tapi Aluna tidak mengangkat panggilannya, dia lalu mengetikkan pesan panjang lebar pada


Aluna siapa tahu Aluna mau membacanya.


Sama halnya dengan Aluna yang memintanya untuk ini dan itu, Kalun juga mengingatkan untuk menjaga diri dengan baik. Berpesan pada Aluna supaya dia segera kembali setelah dia mulai tenang. Dia akan sangat merindukannya jika dia terlalu lama meninggalkannya, pesan itulah yang Kalun ketik untuk Aluna.


Kalun lalu melemparkan ponselnya ke arah karpet yang ia pijaki, setelah tidak mendapati jawaban pesan dari Aluna. Dia kembali memejamkan matanya memikirkan cara membujuk aluna supaya segera kembali menemuinya.


Ponselnya berdering membuyarkan lamunannya. Panggilan yang dia pikir dari Aluna tapi ternyata tidak, hanya panggilan dari sekertarisnya. Kalun dengan malas menggeser tanda hijau layar ponsel, lalu menempelkan ponselnya di telinga.


Doni mengatakan padanya jika dia mendapat panggilan pertama dari kantor polisi atas kejadian yang sudah satu tahun berlalu. Kalun memejamkan matanya, kepalanya semakin pusing setelah menerima kabar dari Doni. Masalahnya dengan Aluna belum selesai timbul lagi masalah lain.


“Aku akan datang ke kantor polisi, kabari Papa jangan sampai mama mengetahuinya,” minta Kalun pada Doni yang masih berada di ujung telepon.


💞

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote👍


__ADS_2