
Cuaca tengah buruk hari ini, hujan tidak kunjung berhenti dari pagi. Hingga sore hari masih terlihat rintik-rintik kecil mengguyur kota metropolitan yang berlangganan banjir itu.
Kalun dan Aluna sudah bersiap meninggalkan kediaman orang tuanya. Dia menunggu Ella keluar dari kamarnya, karena ingin berpamitan.
“Pasti Papa tidak mengizinkan Mama untuk keluar, apalagi cuacanya begini, nggak dapat cucu, bisa jadi dapat anak lagi,” gerutu Kalun yang tidak segera melihat kedua orang tuanya.
“Kalau ngomong suka ngaco deh kamu!” sahut Aluna yang berada di sampingnya.
Kalun hanya menarik bibirnya ke atas, sambil menoleh ke arah Aluna, “Kamu sih, tidak tahu gimana mesumnya Papa!”
“Telepon saja kalau begitu! Bilang kalau kita mau pulang!” perintah Aluna.
“Pulang? Terus kalau sudah sampai apartemen kita mau ngapain? Kamu memang mau memberikan aku yang enak-enak ya?” tanya Kalun sambil tersenyum lebar.
“Ya, tapi kita mampir ke supermarket dulu ya, aku benar-benar lupa stock apa yang habis di kulkas, yang penting kita isi saja dengan bahan makanan,” jelas Aluna yang hanya mengerti jika 'enak' itu hanya sesuatu yang berhubungan dengan makanan.
“Kesal deh! Ngomong sama kamu yang nggak pernah nyambung!” gerutu Kalun sambil membawa Aluna ke bawah ketiaknya dengan lengan kanan. Dia merasa gemas sendiri atas kepolosan Aluna yang tidak bisa diajak berbicara area 21+. Kalun lalu mengusap dadanya dengan tangannya yang kosong.
“Sampai kapan sih kamu berpura-pura polos, aku ingatin nih ya! Dulu eranganmu saja sudah sampai 5 oktav,” ucap Kalun yang menggoda Aluna yang masih berada di bawah ketiaknya yang tengah berontak.
“Lepaskan Kal! Jangan mengarang cerita!” debat Aluna yang tidak percaya ucapan Kalun.
“Kita coba ya nanti! Mungkin bisa naik lagi!” ucap Kalun yang kembali menyusun rencana.
Aluna yang sudah terlepas, merapikan kemeja Kalun yang dia kenakan. Dia sudah menggulung bagian lengannya, hingga mencapai siku, karena terlalu besar. Dia menatap kesal ke arah Kalun sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.
“Lima oktav!” tunjuk Kalun dengan kelima jarinya. Seringai muncul dari bibir Kalun. Membuat wajah Aluna semakin kesal.
“Apanya yang lima oktav?” tanya Ella yang baru saja bergabung dengan mereka. Dia datang bersama Erik yang mengekori langkahnya dari arah belakang.
Kalun tersenyum mengejek ke arah Aluna yang sudah menjauh darinya. Ingin sekali dia menjawab pertanyaan mamanya, tapi pasti Aluna akan sangat malu.
“Nggak kok Ma, itu istriku jago nyanyi, suaranya sudah mencapai 5 oktav, Hampir menyamai Whitney,” jelas Kalun yang membuat Aluna menampilkan wajah leganya.
Aluna lalu menganggukan kepalanya ketika Ella mengintrogasi tentang kebenaran yang diucapakan anak lelakinya. Dia lalu segera melancarkan niatnya, berpamitan dengan kedua mertuanya karena sebentar lagi matahari akan tenggelam.
“Hati-hati ya, jaga menantuku!” pesan Ella saat mengantar keduanya hingga di depan teras rumah.
Erik mengembalikan barang milik Kalun, termasuk semua kartu yang dulu dia sita. Semua masalahnya sudah selesai menurut Erik. Tidak ada Kayra dalam kehidupan Kalun, yang ada hanya Aluna. Dan harapannya semoga pernikahan tersembunyi itu bisa segera tercium media, hingga semua orang tahu jika Aluna adalah menantunya.
Mobil Kalun melaju pelan, meninggalkan rumah orang tuanya.
“Akhirnya, kembali juga Leon sama aku,” ucap Kalun di balik stir kemudi.
“Leon Siapa?”
Kalun menunjuk stirnya, mengatakan jika Leon itu adalah mobil yang dia kemudikan saat ini. Dia menamai mobilnya Leon.
Aluna menggelengkan kepalanya setelah mendengarkan penjelasan Kalun. Dia lalu fokus menatap ke arah jalan. Sambil mencari-cari supermarket yang tengah dilewatinya.
“Lima puluh meter stop ya, aku mau belanja dulu, kamu bisa menungguku di mobil,” jelas Aluna sambil menunjuk ke arah baleho berbentuk huruf 'H'.
Kalun memarkirkan mobilnya dengan cantik di dekat pintu masuk. Dia menahan tangan Aluna yang hendak langsung turun dari mobilnya.
__ADS_1
“Tunggu di sini, aku ambilkan payung dulu, kamu lupa jika baru keluar dari rumah sakit?” maki Kalun yang tengah melepaskan seat beltnya. Dia lalu berlari ke arah pintu masuk , untuk mengambil payung yang sudah disediakan pihak supermarket. Dia lalu kembali ke arah mobil, menjemput Aluna dan membawanya masuk ke supermarket.
Kalun sengaja mengenakan topi, supaya tidak ada yang mengenalinya. Dia juga mengenakan masker hitam untuk menutupi wajahnya yang tampan. Sedangkan Aluna hanya mengenakan kemeja Kalun dan celana jeans yang pas ditubuhnya, pemberian mama mertuanya tadi pagi.
Kalun menarik satu troli yang ada di sisi kananya. Dia lalu mengikuti langkah kaki Aluna. Ini hal baru untuk Kalun, dia tidak sering berbelanja, karena semuanya sudah disiapkan oleh mamanya maupun Doni.
“Kita ke arah sayuran dulu ya!” ajak Aluna yang diangguki oleh Kalun.
Aluna dengan teliti memilih sayuran yang segar yang ada di sana. Bahkan untuk memilih satu sayuran saja membutuhkan waktu sekitar dua menit. Kalun menghentak-hentakkan kakinya, merasa pegal sendiri karena sedari tadi berdiri menunggu Aluna memilih sayuran.
“Bagaimana jika Yohan saja yang berbelanja,” tawar Kalun yang sudah merasa capek.
“Kamu capek ya? Kan, aku sudah bilang jika capek istrirahat saja di mobil!” kesal Aluna sambil memilih ikan segar yang ada di sana.
“Lumayan, habisnya kamu lama,” gerutu Kalun, “Memangnya kamu nggak capek?”
Aluna menjawab dengan gelengan kepalanya.
“Demi mengurangi rasa capek, kita tanya jawab saja, biar terasa cepat belanjanya. Kamu bisa masak?” ucap Aluna sambil membantu menarik pelan troli di depannya.
“Bisa dong, aku kan Chef Kalun,” jawab Kalun dengan sifat riya yang tiba-tiba mengahampirinya.
“Menu apa yang biasa kamu masak? Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya,” tanya Aluna lagi yang penasaran.
“Bisalah kalau cuma masak air, goreng telur ceplok, bikin mie instan, suamimu ini sudah lulus uji kompetensi.”
Aluna terbahak di dalam tangan yang menutupi bibirnya. Beruntungnya kondisi supermarket yang dia kunjungi saat ini tengah sepi pengunjung.
“Ya, ya suamiku memang terbaik!” puji Aluna sambil melanjutkan jalannya.
“Kamu suka makan apa?” tanya Aluna lagi yang saat ini berdiri di samping Kalun, karena Kalun mensejajari tubuhnya.
“Makan kamu!” lirih Kalun takut orang lain mendengar ucapannya.
“Makan aku! Memang mau kamu bikin apa daging tak berlemak ini, sate, atau tongseng, atau rica-rica?” maki Aluna dengan polosnya, “Mau jadi Sumanto jilid 2 kamu ya!” lanjutnya sambil berkacak pinggang di depan Kalun.
Giliran Kalun yang tertawa keras, menggelengkan kepalanya, karena mendengar kebodohan istrinya, dia salah jika mengajak Aluna berbicara hal dewasa saat ini.
Aluna yang kesal, tidak lagi mempedulikan Kalun, dia berjalan cepat, sambil memilih produk unilever yang biasa dia pakai.
Tiba di area pembalut wanita, mata Kalun memindai tulisan-tulisan kecil yang ada di sana.
“Wing, non wing? Apa bedanya? Apa yang satu nggak bisa terbang gitu?”
“Kenapa tanya-tanya? Memang kamu mau pakai?” Sarkas Aluna yang masih kesal dengan kejadian tadi.
“Iya, kalau boleh!” jawab Kalun sambil tertawa memperlihatkan giginya yang rapi di balik masker. Tapi percuma saja Aluna tidak bisa melihat cengirannya.
Aluna menahan senyumnya, dia berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang memerah karena malu atas ucapan Kalun. Dia melanjutkan lagi langkahnya menuju tempat snack jajanan ringan di sana, mengingat dirinya yang menyukai nyemil, tapi dengan berat badan yang tidak kunjung bertambah.
“Yang! Lihat deh!”
“Emoh!” ucap Aluna dengan bahasa daerah.
__ADS_1
(Tidak mau!)
“Sayang, sini fotoin dulu!” perintah Kalun yang masih memegang snack di tangan kirinya.
Aluna berusaha menolak permintaan Kalun, tapi dia juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan suaminya saat ini.
Hijau-hijau di tangannya, pegang apa dia, ya? Penasaran Aluna dalam hati yang melirik Kalun dengan ekor matanya.
Kalun bersiul menggoda Aluna, dirinya melupakan rasa capek yang tadi menghampirinya.
Mau tidak mau Aluna yang tergoda menoleh ke arah Kalun yang tengah menempelkan snack itu di depan mulutnya.
Syukurlah! Masih lumrah tingkahnya. Batinnya lagi yang melihat ke arah Kalun yang berselfie ria dengan snack yang ada di depan bibirnya, menggantikan senyumnya dengan gambar yang tertera di kemasan snack tersebut.
“Beli semua rasa Yang, sepertinya enak!” ucap Kalun yang kini mulai tertarik dengan jajanan snack ringan.
“Yakin?”
“Ya, nanti buat menemani kita nonton, aku punya film bagus soalnya di apartemen,” jelas Kalun sambil menatap jam di tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Sudah dua jam mereka berkeliling di sana. Keranjang troli juga sudah penuh dengan berbagai macam barang.
“Duduklah! Biarkan aku yang membayarnya!” perintah Aluna yang meminta Kalun mencari tempat duduk.
“Kamu saja Yang, biar aku yang mengantri di sini!” perintah Kalun sambil menarik tangan Aluna karena menghalangi jalannya troli yang dia bawa. Kalun lalu menunjuk bangku kosong yang berada tidak jauh darinya dengan dagu. Meminta Aluna untuk segera duduk di sana.
Aluna menurut dan segera menghampiri bangku kosong itu. Dia menatap Kalun dari kejauhan. Lelaki sempurna yang pernah dia temui, dia seperti bermimpi bisa dinikahi lelaki seperti Kalun. Dia bersyukur bisa bertemu dengan suaminya, yang kini bisa melindunginya, mengerti kondisinya, membuag dia tidak mengingat jika dia pernah mencintai Fandi.
“Kak Luna!” panggil lelaki yang mengagetkan lamunan Aluna.
Aluna menoleh ke sumber suara, terlihat lelaki tampan yang berjalan menghampirinya, dia lalu mengedarkan pandangannya, menatap wanita yang tidak lain adalah ibu dari lelaki itu, yang tengah melakukan pembayaran di kasir.
“Hai!” kaget Aluna saat melihat lelaki yang kini sudah berada di depannya.
“Kapan datang?” lanjutnya bertanya, setelah menyadari tatapanya yang terkejut melihat lelaki yang hampir mirip dengan calon suaminya dulu.
“Baru seminggu yang lalu Kak. Kakak gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah, kakak sehat,” jawab Aluna dengan ragu, karena melihat tatapan wanita yang menatap tajam ke arahnya.
“Ayo pulang! Jangan dekat-dekat dengannya, bisa jadi kamu kena sial nanti!” sarkas wanita yang baru tiba, dia menarik lengan Ferdi menjauh dari dirinya.
“Ma, tunggu dong, ada hal yang aku harus katakan pada Kak Luna,” terang Ferdi yang tak lain adalah adik dari Fandi.
“Ayo pulang!” teriak wanita yang berada di samping Ferdi.
“Kak, aku akan menghubungimu nanti!” teriak lelaki yang menjauh karena lengannya ditarik ibunya. Aluna menjawab dengan anggukan pelan.
“Apa itu yang bernama Pon Nawash?” tanya Kalun yang kini sudah berada di belakang tubuh Aluna.
👣
Jangan lupa untuk vote ya.👌👍
__ADS_1