
“Kalun!”
Terdengar suara Kayra memanggilnya. Kalun hanya menoleh sekejap ke arah Kayra. Lalu kembali fokus ke pembicaraan rekannya. Hingga tarikan tangan yang diberikan Kayra membawanya menjauh dari rekannya yang ada di sana.
“Lepas Key!” perintah Kalun menghempaskan kasar tangan Kayra. Kayra berbalik menghadap ke arah Kalun.
“Aku hamil anakmu! Dia butuh papanya, kenapa kamu cuek begitu!” Kayra meraih kembali tangan Kalun. Kayra meletakkan tangan Kalun di perutnya. “Kamu merasakannya, kan? Ini anakmu Kal!”
Kalun menggelengkan kepalanya keras, saat mendengar ucapan Kayra. Dia berusaha keras menjauhkan tangannya dari perut Kayra.
“Sayang kenapa kamu begini? Kamu tidak mengakui jika dia anakmu? Apa kamu hanya ingin enaknya saja, kamu meniduriku. Setelah aku hamil kamu justru tidak mau mengakuinya, apa kamu tega dia lahir tanpa seorang papa? Aku harus menjawab apa jika dia menanyakanmu nanti, please kembalilah! dan ceraikan jal*ng itu. Aku akan memaafkan kesalahanmu yang sudah menikah di belakangku.”
Mata Kalun memerah ketika mendengar ucapan Kayra yang mengatai Aluna jal*ng. Dia tidak terima jika ada orang yang menghina istrinya. Beruntungnya mereka hanya berdua jadi Kalun bisa membalas ucapan kasar pada Kayra.
“Bukannya kamu yang jal*ng! Berapa lelaki yang sudah menidurimu? Hah!”
Kayra tidak bisa menjawab pertanyaan Kalun. dia diam sambil menundukkan kepalanya.
Dia tidak ingin mengungkitnya lagi tentang dirinya yang sudah tidak perawan kemarin.
“Aku tidak akan menceraikannya!” lanjutnya sambil berjalan meninggalkan Kayra. Tapi dengan cepat Kayra memeluk pinggang Kalun dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya di punggung Kalun.
“Please tanggung jawablah! Ini anakmu? Karier papa akan merosot jika melihat anak seorang calon wakil gubenur hamil di luar nikah, papa menerimamu apa adanya. Meski kamu bukan anak dari paman Erik, yang penting aku memiliki suami yang mau mempertanggung jawabkan semuanya.” Kalun menggelengkan kepalanya.
“Nggak! Aku tidak akan menikahimu! Kamu hanya ingin memanfaatkan aku, bahkan jika itu benar anakku, aku hanya ingin menikahimu saat bayi itu sudah lahir, semoga Allah mengampuniku. Karena aku melakukannya saat tidak sadar!”
“Kal!” Bentak Kayra. Emosi Kayra menjadi tidak stabil.
“Kamu berubah! Kamu dulu sangat mencintaiku, tapi kenapa begini? Di mana janjimu! Katanya kamu mau melindungiku, menjagaku, kita akan menua bersama seperti paman Erik dan bibi Ella.” Kayra menangis mengeluarkan air matanya yang begitu deras. Kalun memejamkan matanya, mengusir rasa iba yang hampir dia keluarkan.
__ADS_1
Ingatlah wanita ini sudah mengkhianatiku, dia tidak pantas lagi untukku maafkan. Bukankah aku paling benci pengkhianat, bahkan papa selalu mewanti-wanti untuk tetap setia dengan pasangan. Meski aku sudah melakukan kesalahan besar. Aluna pasti akan memaafkan aku jika aku benar-benar bertobat. Batin Kalun yang kekeh tidak ingin menerima Kayra.
“Nggak! Aku tidak akan menikahimu sebelum aku mengetahui siapa ayah dari bayi yang ada perutmu! Aku tidak merasakan getaran ketika aku menyentuhnya. Mungkin dia bukan anakku.”
“Jahat kamu Kal!”
Kalun hanya tersenyum sinis, menatap sebentar ke arah Kayra, “Ya aku jahat, aku menikahi wanita tanpa seijinmu, bahkan aku menyembuyikannya darimu! Tapi di luar itu semua, kamu juga sudah menduakan aku, niatku ke London dulu adalah untuk mengakhiri hubungan kita. Tapi yang ada kamu justru membuatku mabuk untuk bisa menidurimu.”
“Kal! Please jangan katakan seperti itu. aku tahu kita masih saling mencintai, apa perlu aku ingatkan lagi malam itu kamu begitu menikmatinya, bahkan suaramu begitu membuatku rindu! Dan kamu mengatakan jika kamu mencintaiku.”
“CINTA! Yang ada! Aku benci denganmu!” ketus Kalun sambil melepaskan pelukkan Kayra yang memeluk perutnya erat. Kalun berjalan pelan meninggalkan Kayra.
“Papaku akan membunuh istrimu, jika kamu tidak bertanggung jawab atas kehamilanku ini! Kamu hanya perlu menikahiku sekarang secara resmi. Sebagai istrimu satu-satunya, baiklah aku akan rela, jika kamu tidak ingin bercerai, asal dia jangan pernah kamu ke kenalkan ke public!”
Kalun menghentikan langkahnya, emosinya kini mulai naik kembali. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat, dia ingin melepaskan pukulan itu ke arah orang yang ada di depannya ini.
“Jadi, pikirkanlah baik-baik, ini bukan hanya gertakkan! Tapi ini benar akan terjadi jika kamu tidak menikahiku!” lanjut Kayra yang membuat Kalun semakin emosi.
Kayra lalu segera meninggalkan di mana Kalun berdiri. Dia tidak lagi khawatir jika Kalun tidak menihakinya. Karena mau bagaimapun Kalun tidak punya pilihan lain, selain menikahinya. Masalah siapa Kalun saat ini di mata keluarga Kayra, mereka tidak peduli lagi, yang mereka pikirkan adalah Kayra hamil dengan lelaki bernama Kalun. Dan semua orang tahu siapa itu Kalun. Kalun adalah pewaris utama keluarga Ramones. Dan Rendi tidak percaya jika Kalun benar-benar dicoret dari ahli warisnya.
“Ya Allah … berikan aku petunjukmu! Aku harus bagaimana?” ucapnya sambil mengusap kasar wajahnya. Dia bingung saat ini, di saat dia mendapatkan celah sedikit untuk menyelesaikan masalahnya, kini justru masalah timbul lagi, mereka mengancam nyawa Aluna, jika dia tidak menikahi Kayra. Dia menyesali pertemuannya dengan keluarga Kayra saat ini.
Kalun mengambil kembali uang 30 juta yang tadi ada di kantong jaketnya. Dia menatap sendu tiga gepok uang di tangannya. Kalun berdiri lama di sana memikirkan lagi rencana yang sebenarnya sudah dia susun rapi. Tapi kini buyar, setelah mereka mengancam akan membunuh Aluna. Wanita yang kini dicintainya.
Kalun kembali ke mobil milik Doni, setelah merasa lebih tenang. Dia ingin sekali menatap Aluna, tapi itu tidak akan mungkin karena menurut informasi dari Doni, Aluna tadi pulang ke rumah kedua orang tuanya. Kalun melajukan mobilnya untuk mengisi pulsa di counter terdekat, cukup sulit dia menemukan ya karena memang sudah malam, beruntung dia bisa menemukan di supermarket kecil berlogo 24 jam. Dia ingin sekali menghubungi Aluna. Biarlah, dia ingin mengatakan semuanya pada Aluna malam ini. Dia butuh pendapatnya, untuk mencari jalan keluar dari masalah yang dia lewati.
Dia melirik jam digital yang ada di layar kecil mobil Doni. Hampir jam 12 malam. Dia yakin jika Aluna juga tidak tidur karena memikirkan keberadaanya.
Kalun dengan cepat melajukan mobilnya, menuju rumah orang tuanya. Dia ingin membawa Aluna keluar dari rumah Erik, malam ini juga. Dia sudah tidak bisa untuk berjauhan dengan istrinya lagi, LDR satu hari sudah bagai sebulan menurutnya.
__ADS_1
Duapuluh menit berlalu, kini Kalun sudah berada di depan bangunan rumah Erik. Dia segera menekan nomor Aluna di ponselnya. Cukup lama dia mendegarkan nada tunggu tersebut. Tidak ada jawaban dari arah seberang telepon. Dia mengetuk-ngetukkan stir mobilnya dengan jari, memikirkan lagi niatnya.
Mungkinkah kamu sudah terlelap? gumamnya sambil menatap foto wallpaper di layar ponsel yang ada di tangannya.
Setelah puas menatap foto Aluna, dia kembali mencoba memanggil Aluna lewat panggilan suara. Kali ini hanya menunggu nada panggilan dua kali, sudah terdengar suara berat dari wanita di seberang telepon. Kalun tersenyum tipis, ketika mendengar suara Aluna yang memanggilnya dengan sebutan Aa’.
“Keluarlah, aku menunggumu di depan pintu gerbang!”
“Benarkkah? Tunggu aku akan mengambil jaket dulu!” sahut Aluna yang terlihat senang ketika mendengar suara Kalun. Dia berpikir jika Kalun sudah pulang dari perjalanan bisnisnya.
“Ya, aku tunggu!” Kalun menutup panggilannya. Dia lalu keluar dari mobil untuk menyambut Aluna, wanita yang tidak dijumpainya selama 24 jam. Kalun menatap lampu kamarnya yang kembali menyala. Dia sudah berjaga-jaga mengenakan jaket tebal milik Mario malam ini. Karena dia tahu jika akan terkena angin malam cukup lama.
Setelah beberapa menit, Kalun menatap Aluna yang mengenakan daster batik yang panjangnya hanya sepaha, dia hanya melapisi dengan jaket milik Kalun yang belum ditarik reslitingnya.
“Aa’ kok nggak masuk!” ucapnya sambil menghambur ke dalam dekapan Kalun. Aluna memeluk erat tubuh Kalun, sambil menghirup dalam parfum yang terasa berbeda dari biasanya itu, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Kalun. Telinganya kini bisa mendengar jelas detak jantung belahan jiwanya itu.
“Aku merindukanmu,” ucap Kalun sambil memejamkan matanya. Dia menghirup dalam aroma rambut Aluna. Dia lalu menurunkan ciumannya ke leher kecil Aluna, demi mendapati aroma zaitun yang dia rindukan saat ini. Kalun melepas pelukannya, lalu menarik resliting jaket yang Aluna kenakan, membuat istrinya mengucapkan terima kasih padanya, Kalun segera meminta Aluna masuk ke dalam mobil, saat melihat Erik keluar dari arah pintu utama rumahnya.
“Ayo cepat masuk! Sebelum lelaki tua itu memisahkan kita,” ajaknya sambil membukakan pintu samping kemudi untuk Aluna. Dia berlari cepat memutari mobilnya. Dia ingin Segera pergi, supaya dia tidak berjumpa dengan Erik.
Mobil Kalun melaju dengan cepat. Meninggalkan Erik yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
“Dasar baj*ngan kecil!” umpatnya sambil meraih ponsel yang baru saja dia simpan di saku celananya.
“Jaga mereka!” perintahnya pada lelaki di ujung telepon. Lalu dia segera menutup ponsel tersebut. Sambil menatap mobil yang menghilang dimakan kegelapan.
👣
Mau lagi? votenya banyakin nanti aku tambahin, kalau tembus 20 besar👍🙏
__ADS_1