
Lampu di atas pintu ruang operasi menyala. Kalun berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu ruang operasi. Matanya terpejam rapat, menahan air matanya yang akan keluar lagi, saat mengingat ucapan Aluna yang terakhir kalinya dia dengar.
Sedangkan keluarganya tengah duduk di sofa, yang sudah di sediakan oleh petugas. Saat mengetahui pemilik rumah sakit berada di sana, mereka menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Semua orang yang berada di sana, terlihat bergumam melantunkan doa-doa untuk Aluna. Mendoakan supaya Aluna bisa melawati operasinya dengan lancar.
Selama dua jam lebih, Kalun berdiri di samping pintu. Tidak ada dokter maupun perawat yang memberi kabar padanya. Ella yang sudah dari tadi meminta Kalun untuk mengganti bajunya, tidak dihiraukan Kalun. Kerena dia tidak ingin meninggalkan Aluna.
“Duduklah Kal, atau kamu akan bergantian masuk ke ruang perawatan saat istrimu tersadar nanti!” Ella sedikit berteriak memperingati Kalun karena jaraknya dengan Kalun yang sedikit berjauhan. Kalun hanya mengangguk tapi masih tetap saja berdiri di samping pintu ruang operasi.
Suara tangis Aluna pun berdengung di telinganya, tangisan Aluna ketika awal pertemuan mereka, semua berjalan seperti kaset pita yang berputar nyaring di telinganya. Kalun menyadari jika selama ini lebih banyak membuat Aluna menangis dari pada membuat Aluna bahagia.
Tanda lampu operasi padam, Kalun yang sejak tadi memperhatikan lampu itu sedikit bernafas lega. Dia bersiap untuk menyambut dokter yang selesai melakukan operasi.
Pintu ruang operasi pun terbuka, terlihat Lusi melepaskan maskernya dan bersiap untuk memberitahukan pada Kalun. Kalun kembali cemas, menatap lekat ke arah Lusi yang berdiri di depannya dengan ekspresi khawatir, Erik dan Ella yang duduk di sofa pun duduk mendekat ke arah Lusi, bersiap mendengarkan penjelasan kondisi Aluna saat ini.
“Operasinya berjalan lancar, sayangnya kami harus benar-benar mengangkat indung telurnya, untuk menghentikan pendarahan nona Aluna,” jelas Lusi dengan penuh penyesalan, karena memang dia harus mengangkat satu indung telur Aluna.
Kalun hanya diam sambil mencengkram tangannya. Dia berjanji akan memberikan hukuman yang pantas untuk orang yang menabrak istrinya. Dia tidak tahu jika anak buah Erik sudah mengetahui siapa dalang dari semua kecelakaan istrinya.
“Segera pindahkan ke ruang perawatan!” perintah Erik hendak meninggalkan di mana Lusi berada.
“Tapi nona Aluna belum sadarkan diri, kita harus menunggu setidaknya sampai besok pagi, dia baru bisa bangun.” Lusi ragu untuk menyampaikan kondisi Aluna.
Erik yang sudah meninggalkan Lusi, kembali menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah Lusi, karena tidak paham dengan penjelasan Lusi.
“I-iya paling cepat besok pagi, mungkin dia sudah sadarkan diri, atau bisa jadi satu atau dua hari lagi, karena nona Aluna mengalami trauma di kepalanya.”
“Tidak ada pembekuan darah, kan? Apa ada kerusakan di kepalanya?” tanya Kalun yang semakin khawatir.
“Kita belum melakukan CT scan, mungkin besok pagi, supaya fisiknya juga tidak terlalu lelah, dia juga butuh pemulihan pasca operasi pengangkatan ini,” jelas Lusi yang kini sudah merasa lega karena sudah menyampaikan kondisi terburuk Aluna.
Tidak lama kemudian pintu ruang operasi terbuka kembali. Brankar Aluna di dorong petugas untuk di pindahkan ke ruang perawatan, sesuai permintaan Erik.
__ADS_1
Kalun mengikuti brankar Aluna, dia tidak ikut mendorong brankar tersebut. Dia hanya menatap wajah Aluna yang tidur nyenyak di depannya. Sayangnya wajah tersebut kini terlihat pucat pasi. Tidak seperti biasanya, Aluna yang selalu menggodanya.
Tiba di ruangan, Kalun duduk di samping ranjang Aluna, dia memainkan punggung tanggan Aluna dengan jari telunjuknya membentuk lingkaran-lingkaran kecil, berusaha menggelitik tangan itu, supaya Aluna terbangun dengan cepat. Namun, yang ada, Aluna tidak bergerak sama sekali. Membuatnya menertawai dirinya sendiri yang bodoh.
Riella yang sudah berada di sana, membujuk Kalun untuk beristirahat, karena ini sudah malam. Supaya besok bisa kembali vit lagi, dan bisa menjaga Aluna.
“Aku biar di sini saja, papa dan mama saja yang istirahat di ruanganmu!” kata Kalun saat melihat dua orang yang duduk di sofa hanya menatap kondisinya yang menyedihkan.
“Setidaknya ganti bajumu dulu Kak!”
“Ya, aku akan meminta Doni untuk mengantarkan baju ganti, kamu bawa pasangan itu pergi dari sini! Aku hanya ingin berdua dengan istriku!” perintah Kalun dengan jelas. Membuat Riella mencibirkan bibirnya melihat tingkah Kalun.
Saat ini hanya ada Kalun dan Aluna di sana, orang tuanya sudah naik ke atas ruangan Riella, mereka akan istirahat di kamar Riella. Meninggalkan si kembar di rumah bersama pelayan.
Kalun saat ini sudah berbaring di samping tubuh Aluna yang terlelap, dia memeluk Aluna yang tertidur nyenyak.
“Besok kita lihat, siapa yang akan bangun lebih dulu. Aku harap kamu yang akan membangunkan aku!” ucap Kalun sambil memiringkan tubuhnya mengahadap Aluna.
Kalun yang merasa lelah, akhirnya tertidur di samping Aluna. Dia tertidur memeluk tubuh Aluna dengan erat sebagai pengganti guling untuknya.
***
Cahaya pagi mulai memasuki kamar Aluna, pintu ruangan Aluna terbuka dengan pelan. Lusi masuk ke kamar Aluna menyaksikan Kalun yang tengah tertidur pulas sambil memeluk erat tubuh Aluna. Dia lalu menggoyangkan lengan Kalun dengan pelan. Membangunkan Kalun karena ini sudah pukul 9 pagi.
“Apa sih kamu!”
“Lihatlah, ini sudah jam 9 pagi!” ucap Lusi sambil menunjuk ke arah jam di dinding.
“Pergilah dulu, aku akan memeriksa kondisi istrimu!” usir Lusi supaya Kalun menjauh darinya.
Kalun menurut dengan Lusi, dia segera menjauhkan diri dari Aluna, membiarkan Lusi memeriksa Aluna, supaya bisa mengetahui lebih lanjut kondisi istrinya sekarang. Cukup lama Lusi memeriksa kondisi Aluna, membuat Kalun sedikit khawatir.
__ADS_1
“Datanglah ke ruanganku, ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu!” pesan Lusi pada Kalun sebelum beranjak pergi dari ruangan Aluna.
“Aku akan segera ke sana, setelah mamaku tiba di sini, aku tidak tega untuk meninggalkannya sendiri,” ucap Kalun yang diangguki kepala oleh Lusi.
“Kamu akan baik-baik saja kan? Jangan buat aku khawatir ya,” kata Kalun setelah kepergian Lusi dari kamarnya.
Kalun lalu mengambil baskom yang berisi air hangat untuk menyeka tubuh Aluna. Dia sengaja tidak mengabari keluarga Aluna, karena tidak ingin membuatnya papa mertuanya ikut khawatir.
“Sepertinya kamu terlalu lelah ya, hingga dari kemarin tidak mau membuka matamu!” kata Kalun sambil mengusap pipi Aluna dengan handuk kecil di tangannya.
“Istirahatlah hari ini. Tapi aku akan marah jika kamu terlalu lama tertidur. Aku pasti akan merindukan suaramu Sayang!” lanjutnya sambil menarik-narik hidung panjang Aluna. Biasanya Aluna akan memarahinya ketika Kalun melakukan itu, tapi saat ini dia tidak mampu berucap sama sekali.
“Lucu ya, kemarin aku yang terbaring di rumah sakit, sekarang kamu yang tertidur lelap di sini.”
“Sayang ... bangunlah! Ayo bangun! Cepatlah bangun, aku merindukanmu, aku mencintaimu! Cepatlah bangun Sayang, kita akan pergi bulan madu lagi setelah ini. Aku janji akan membuatmu bahagia, menjadi suami yang terbaik untukmu!” Kalun membuang nafas lelahnya karena tidak berhasil membangunkan Aluna.
Pintu kamar kembali terbuka. Erik menampilkan wajah marahnya ke arah Kalun yang duduk di samping Aluna. Kalun hanya mencelos saat melihat wajah Erik yang penuh emosi kepadanya.
“Jangan menambah bebannya lagi Pa, dia sudah terlalu banyak masalah!” peringat Ella saat melihat raut wajah Erik yang hendak memarahi Kalun.
Kalun yang tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan, justru berniat menitipkan Aluna pada mereka, karena dia hendak menemui dokter Lusi. Dia berjalan menuju pintu hendak meninggalkan kamar. Namun, langkahnya dihentikan oleh pertanyaan Erik.
“Bagaimana caramu menjaga adik-adikmu?”
Kalun menatap ke arah Erik dengan ragu, meminta penjelasan dari Erik.
“Bagaimana Riella bisa melakukan itu! Aku sudah memintamu untuk menjaganya!”
👣
Jangan lupa like ya😁
__ADS_1