Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Menemui Aluna


__ADS_3

Jam makan siang telah tiba. Aluna mulai membereskan berkas yang berhamburan di atas meja kerjanya. Dia melihat ke arah Renata yang tengah menatap ke arahnya dengan senyuman simpul. Aluna membalas senyuman Renata dengan tatapan sinis.


“Aku tahu kamu tengah gelisah memikirkan sultanmu itu,” ucap Renata sambil berjalan mendekat ke arah Aluna. Aluna menggelengkan kepalanya. Dia lalu menarik tangan Renata untuk mengikuti langkahnya menuju kamar 205.


Saat tiba di sana dia melihat Doni yang sudah tersenyum ramah menyambutnya. Aluna tidak membalas senyuman itu, bahkan menyapa Doni pun tidak, dia langsung berjalan menuju kamar 205 tanpa mempedulikan keberadaan Doni saat ini.


Aluna mendorong pintu kamar tersebut, dia belum ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam, dia menatap dari luar desain kamar ruangan suaminya, hidungnya menghirup aroma maskulin yang masih menyeruak dari arah kamar, parfum suaminya masih tertinggal di sana, membuatnya semakin merindukan Kalun.


“Ayo! Keburu jam istirahat habis!” ajak Renata sambil mendorong pelan tubuh Aluna. Lamunan Aluna terhenti ketika mendengar ucapan Renata dia lalu berjalan pelan memasuki kamar tersebut.


“Dia pergi Re.” ucap Aluna sambil menunduk dalam, saat mereka berdua sudah berada di meja makan yang berisikan empat bangku kursi tersebut.


“Maksudmu sultan?”


Aluna mengangguk. “Iya, tanpa pamit dan kabar. Padahal banyak hal yang harus aku sampaikan padanya termasuk mengabari jika aku .... Ah, sudahlah. Nggak penting juga kamu tahu.” Aluna meletakkan sendoknya, dia merasa tidak nafsu makan lagi setelah membahas tentang suaminya. Dia lalu berjalan ke arah ranjang. Dia tidak ingin menemani Renata yang tengah asyik memakan makan siangnya.


Perlahan Aluna mulai memejamkan matanya, kondisi tubuhnya yang tengah hamil muda membuat dia mudah lelah dan mengantuk, Aluna terlelap di sana dengan perut yang belum terisi sama sekali.


Setelah melihat Aluna yang terlelap Renata meraih ponselnya. Dia menghubungi Doni yang dari tadi menunggu kabar darinya. Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka. Terlihat Doni memasuki ruangan kamar tersebut. Dia menatap Aluna yang tengah tertidur pulas di sana. Dia lalu meminta Renata segera pergi meninggalkan kamar itu. Pesan panjang Renata pun dia dengar, yang mewanti-wanti supaya menjaga sahabatnya.


Setelah kepergian Renata, Doni meraih ponselnya, dia menghubungi seseorang untuk segera menemui Aluna, karena takut jika terlalu lama, Aluna akan terbangun.

__ADS_1


Doni masih berjalan mondar-mandir di sana, menunggu Kalun, berharap Aluna masih lama tidurnya, jadi dia tidak membuat bosnya kecewa. Pintu kamar didorong pelan dari arah luar.


Kalun tiba dengan mengenakan topi untuk menutupi kepalanya, dia takut ada yang mengenalinya saat ini. Dia lalu melepas jaket yang menempel di tubuhnya. Dan meminta Doni pergi untuk meninggalkan kamar tersebut.


Kalun berjalan menghampiri Aluna yang masih tertidur nyenyak di sana. Dia ikut merebahkan tubuhnya di ranjang sempit yang Aluma pakai.


“Aku merindukanmu, padahal baru satu malam aku tidak menatapmu.” Kalun mengusap lembut pipi Aluna. Dia tahu jika istrinya itu susah sekali untuk dibangunkan ketika sudah tertidur, jadi dia bisa mengunjunginya ketika dia terlelap saja, dia meminta Doni untuk bekerja sama dengan Renata demi mengatur semua ini.


“Kamu sabar ya, aku janji kita akan terus bersama. Tapi untuk sementara kita berpisah dulu, jaga dirimu baik-baik. Aku akan tetap melindungimu dari jauh. Aku tak ingin kamu hidup susah denganku. Nanti setelah aku berhasil mendapatkan tempat yang layak untukmu, aku akan kembali menjemputmu. Tetaplah berikan hatimu untukku, karena aku yakin kita pasti akan bersama lagi,” ucap Kalun sambil menciumi pipi Aluna pelan. Dia hanya mampu menyampaikan isi hatinya saat ini.


“Dan soal Kayra. Doakan itu bukan anakku, karena sejujurnya aku tidak yakin jika itu anakku. Aku mendengarnya saat dia mengatakan jika aku bukan yang pertama untuknya. Jadi tetaplah sabar! Aku akan menjemputmu, kita akan bersama lagi.” Kalun menautkan jemarinya di jemari Aluna. Dia masih sibuk menatap Aluna yang terlelap di sana.


“Tetap jaga dirimu, aku pergi dulu!” pamitnya lalu mengecup lembut bibir Aluna. Dia lalu menarik jemarinya yang ada di tangan Aluna. Tapi ketika jari itu hendak terlepas, Aluna justru mengeratkan jemari itu semakin erat, seolah Aluna tidak mengizinkannya untuk pergi. Kalun gelisah, dia berfikir jika Aluna sudah terbangun dari tidurnya. Dia lalu menoleh ke arah mata Aluna yang masih terpejam, dia membuang nafas lega saat Aluna hanya mengigau.


Kalun segera berlari keluar dari kamar hotel, dia menghela nafas lega ketika sudah berada di luar kamar. Dia lalu menatap ke arah Doni yang tengah menatapnya lekat.


“Sudah kamu atur?” tanya Kalun yang diangguki oleh Doni.


“Bayar pakai uangmu dulu! Aku akan menggantinya, jika aku sudah mendapatkan uang!” perintahnya lalu meninggalkan di mana Doni berada.


“Pak!” teriak Doni memanggil Kalun.

__ADS_1


Kalun menghentikan langkahnya, dia lalu berbalik badan menghadap ke arah Doni. Dia menatap Doni dengan penuh pertanyaan.


“Bapak pakai mobil saya. Saya janji nggak akan memberitahukan paman Erik,” ucap Doni sambil mengambil kunci mobil yang ada di kantong celananya. Dia lalu mendekat ke arah Kalun dan menyerahkannya kunci mobil tersebut pada Kalun.


Sedangkan di dalam kamar, Aluna tengah kebingungan mencari-cari keberadaan Kalun. Dia bisa merasakan jika suaminya tadi berada di sana, bersamanya. Dia terus memanggil nama Kalun, menyusuri kamar mandi serta setiap sudut ruangan tersebut, tapi yang ada Aluna tidak menemukan di mana Kalun berada.


Dia lalu menyandarkan tubuhnya di dinding dekat kamar mandi setelah tidak mendapati Kalun. Dia memijit pelan kepalanya yang terasa sedikit pusing itu.


“Apa aku terlalu merindukanmu A’. Cepatlah pulang! Aku sudah tidak sabar untuk melihat reaksimu ketika mendapati aku hamil, kita akan punya baby. Kamu akan dipanggil ayah dan aku akan dipanggil bunda,” lirih Aluna sambil mengusap perutnya yang masih terlihat datar. Dia lalu melihat ke arah jam di dinding yang menunjukkan waktu istirahatnya sudah habis.


Aluna mengedarkan pandangannya untuk mencari Renata, dia mengumpat dalam hati, ketika tidak menemukan keberaan sahabatnya itu.


Setelah sedikit membaik Aluna berjalan kaluar kamar hotel untuk kembali bekerja. Saat Aluna berjalan dia tiba-tiba teringat ucapan mertuanya yang mengatakan jika dia harus berhati-hati setiap melangkahkan kakinya. Dia berhenti sejenak untuk menyeberangi jalan, saat melihat jalanan yang terlihat ramai tersebut. Dia menatap ke arah trotoar yang sejajar dengannya, dia melihat lelaki yang sangat mirip dengan suaminya, lelaki yang ingin dia temui saat ini.


Lelaki itu tengah membuka pintu mobil yang tidak asing baginya, jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tapi dia juga tidak yakin jika itu adalah suaminya, karena dia hanya bisa menatap punggung lelaki tersebut dari arah belakang.


“A!” panggilnya yang meneriaki lelaki yang hendak menutup pintu mobilnya. Dengan sedikit berlari Aluna terus berteriak memanggil panggilan sayang untuk Kalun. Namun, yang ada mobil itu meninggalkannya. Lelaki itu tidak mendengar panggilannya.


Aluna hanya pasrah berharap jika dirinya hanya salah melihat, itu bukan Kalun. Kalun tengah berada di Kalimantan menyelesaikan masalahnya. Dia lalu meraih kembali ponselnya, dia ingin mencoba menghubungi Kalun lagi. Tangannya kini sibuk menekan tonbol hijau, tatapan matanya sudah mengarah ke layar ponsel itu. Aluna kesal karena saat ini nomor ponsel Kalun tidak dapat dihubungi, dia langsung mendapatkan jawaban suara petugas wanita dari ujung telepon.


👣

__ADS_1


Jangan lupa vote. Masuk rangking 20 besar besok crazy up😁


__ADS_2