Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Buka Puasa


__ADS_3

Matahari kembali membangunkan Aluna dari tidur panjangnya. Dia mengerjapkan mata sambil mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali, manatap langit-langit kamar yang bewarna putih poIos dengan ornamen di setiap sudut sisinya. Akhirnya dia bisa menang melawan bujukan Kalun yang memintanya tidur satu ranjang dengannya. Jadilah dia sekarang di sini, di kamar yang banyak terdapat motif bunga-bunga.


Kondisi Aluna sudah membaik setelah mendapatkan penanganan dari dokter Lusi, dan setelah hampir 20 jam dia tidak beranjak dari ranjang, karena suaminya melarangnya turun dari kasur. Aluna lalu beranjak dari posisi rebahannya, dia harus bersiap untuk pergi ke kantor pagi ini karena sudah banyak absen minggu ini. Aluna berjalan pelan keluar kamar untuk mandi, karena di dalam kamar yang dia tempati tidak ada kamar mandinya.


Saat dia keluar kamar, dia melihat Kalun yang berada di dapur, tangannya tengah sibuk memotong sayuran, sedangkan mata Kalun mengamati ponsel yang disandarkan di meja mini bar di sampingnya. Aluna tersenyum dalam hati saat melihat tubuh Kalun yang terlihat lucu saat memakai apron miliknya.


Setelah puas melihat Kalun. Dia berjalan menuju kamar mandi, karena takut akan terlambat bekerja. Saat tiba di dalam kamar mandi, dia kembali mencoba mengingat jika dirinya pernah hamil. Dia meraba lembut perutnya sambil tersenyum simpul ke arah pantulan kaca di depannya.


“Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Andai aku bisa melindunginya, mungkin dia bisa tumbuh dengan baik sekarang, maafkan ibu Sayang, ibu tidak bisa mempertahankanmu,” gumamnya sambil menatap perutnya dari pantulan layar kaca. Dia buru-buru menghapus air matanya, sebelum Kalun melihatnya seperti ini.


***


Setengah jam berlalu, kini Aluna sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia berjalan mendekat ke arah dapur, masih terlihat Kalun yang sibuk menata makanannya. Kalun terkejut saat melihat Aluna sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia menghirup dalam aroma zaitun yang menyeruak ketika Aluna mendekat ke arahnya.


“Kamu mau ke kantor?”


Aluna tidak membuka suaranya, dia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, melewati Kalun yang berdiri di depannya saat akan mengambil minuman di lemari pendingin.


“Berangkat denganku!” Kalun melepas tali apron dan melemparnya ke sembarang arah. Tidak lagi mempedulikan makanan yang sudah susah payah dia buat tadi. Dia langsung berlari ke arah kamar utama miliknya.


Karena takut Aluna meninggalkannya, tidak lebih dari 15 menit dia sudah terlihat rapi dengan kemeja dan vast abu yang di padukan dengan kemeja warna biru muda, dia berjalan mendekat ke arah Aluna, sambil merapikan dasinya. Jas abunya dia sampirkan di lengan kanan ketika mendekati Aluna yang tengah menikmati sarapannya.


“Apa sudah terlihat rapi?” tanya Kalun memperlihatkan dasinya di depan Aluna.


“Ya sudah.”

__ADS_1


“Apa kamu tidak ingin mengoreksi lagi, sepertinya ini terlihat sedikit miring.” Kalun menatap ke arah Aluna yang tengah memakan roti di tangannya. Aluna melirik dengan ekor matanya ke arah Kalun. Membuang nafasnya kasar saat dasi yang dipakai suaminya sama sekali belum rapi, Aluna berdiri dari duduknya mendekat Kalun, tangannya terulur mengikat ulang tali dasi yang ada di leher Kalun, dengan sengaja dia mengikat kenjang dasi tersebut, membuat suaminya berdehem memperingatinya.


“Sayang, jangan membunuhku? Aku belum memiliki keturunan setidaknya biarkan ada Kalun junior yang akan menggantikanku dulu!” peringat Kalun sambil berusaha menahan pergelangan tangan Aluna.


“Ngapain juga aku membunuhmu sekarang, akukan ingin melihatmu tersiksa dulu,” sahut Aluna, sambil tersenyum simpul ke arah Kalun.


“Nggak papa ikhlas aku kalau kamu yang membunuhku. Setidaknya aku dibunuh oleh orang yang aku cintai.” Senyum Kalun terpancar saat mengucapakan kalimat tersebut. Tangannya melingkar di pinggang ramping Aluna, saat dia masih sibuk mengikatkan dasinya. Sedangkan Aluna tubuhnya sudah mulai menegang ketika melihat perlakuan Kalun yang mengejutkannya.


“I love you,” kata Kalun sambil menundukkan wajahnya di depan Aluna. “Katakan padaku, sampai kapan kamu akan mendiamkan aku! Aku sudah tidak bisa berlama-lama lagi melihatmu seperti ini. Kita dekat tapi tidak saling berbicara. Hum?” tanya Kalun sambil mengangkat tubuh kecil Aluna ke tepi meja.


“Menyingkirlah, aku akan segera berangkat,” kata Aluna sambil berusaha turun dari meja makan.


“Katakan padaku dulu, apa yang harus aku lakukan?” minta Kalun sambil mengangkat dagu Aluna supaya menghadap ke arahnya, “Apa kamu tidak mencintaiku? Tatap aku Lun,” tanya Kalun yang sudah menangkup wajah Aluna dengan kedua tangannya.


Aluna justru menutup matanya sambil memainkan bibirnya, berceloteh tidak bersuara, ketika Kalun melakukan itu padanya.


Aluna bergumam di dalam ciumannya, meminta Kalun untuk tidak melakukan ciuman kasar padanya. Tapi Kalun mengabaikan permintaanya, dia masih menikmati bibir yang dia rindukan itu, memainkan bibir Aluna, hingga membuat gaduh area dapur tersebut. Kalun melepaskan ketika nafasnya sendiri mulai sesak, dia tersenyum manis ke arah Aluna dengan bibir yang terlihat basah dan sedikit membengkak tersebut, dia merasai bibirnya yang bercampur rasa strobery dan mint dari lipmate yang Aluna kenakan.


“Mau lagi?”


“Gila! Pergi,” usir Aluna karena tubuhnya terhimpit Kalun yang ada di depannya.


“Sekali lagi,” minta Kalun sambil meraih tengkuk leher Aluna.


Aluna dengan keras menolak mendekat lagi ke arah Kalun. Dia berusaha mendorong tubuh Kalun menjauh darinya, tapi yang ada dia justru kualahan karena tubuh Kalun ikut melawannya.

__ADS_1


“Minggir aku akan bekerja, aku tidak bisa melayanimu sekarang!”


Kalun tersenyum senang saat mendengar ucapan Aluna, “Nanti malam ya, atau mau di hotel saja nanti saat jam makan siang!” tawar Kalun yang mulai memberi jarak pada tubuh Aluna.


“Nggak mau,”


“Ya sudah. Sekarang saja kalau begitu,” tangan Kalun mulai ke arah kancing baju Aluna paling atas, tangan Aluna kini gelisah, mulai menahan tangan suaminya yang sudah mulai membuka satu kancing bajunya.


“Stop atau aku akan marah denganmu satu bulan,” ancam Aluna saat Kalun tidak menghentikan aksinya.


“Jahat!” sungut Kalun menjauhkan tangannya dari tubuh Aluna, dia mundur satu langkah tidak ingin membantu Aluna untuk mengancingkan bajunya.


Kalun meninggalkan Aluna yang masih berada di tepi meja, dia menunggu Aluna di dekat pintu, sambil merapikan lagi bajunya.


“Ayo berangkat! Aku sudah tidak sabar untuk kembali pulang ke rumah,” ajak Kalun saat Aluna merapikan rambutnya yang diikat tinggi-tinggi.


Aluna mendekat ke arah Kalun, berjalan ala model yang hendak menampilkan pertunjukkan fasion show.


“Nggak sabaran!” kata Aluna sambil medekatkan wajahnya di depan wajah Kalun.


“Sepertinya lehermu terlalu kecil untuk kamu tunjukkan pada lelaki lain, jadi lebih baik kamu lepas saja ikatanmu!” kata Kalun sambil menarik tali hitam yang mengikat rambut Aluna.


Kalun berjalan lebih dulu mendahului Aluna setelah melakukan itu, sedangkan Aluna menggerutu tidak jelas dengan ucapan suaminya. Karena rambutnya kini sudah tidak rapi lagi.


💞

__ADS_1


Maaf hari ini telat update jangan lupa untuk like dan vote ya. Terima kasih🙏


__ADS_2