
“Tanyakan pada sahabatmu!”
Renata hanya mengerutkan keningnya, setelah mendengar ucapan Kalun. Dia tidak akan bertanya lagi, pada orang yang baru saja bertemu dengannya itu. Sikap yang dingin dan tatapan Kalun yang tajam, membuat Renata kembali mengambil ponselnya yang tadi dia simpan di tas.
Renata melirik ke arah Kalun, hidung panjang dan bibir merah Kalun membuatnya mengagumi ketampanan lelaki di sampingnya itu. Renata menajamkan penglihatannya, melirik ke arah Kalun yang tidak berkedip ketika melihat Aluna.
Mungkinkah dia suami Aluna? Ucap Renata dalam hati, Renata menatap ponsel di tangannya, dia membuka pesan whatsApp dari Aluna lalu melihat foto yang dikirim Aluna beberapa minggu lalu ketika mereka menikah.
Mulutnya terbuka membentuk huruf O ketika melihat layar ponselnya, dia meringis menatap ke arah Kalun.
“Jangan bilang ke Luna jika aku memberitahu rahasianya,” pinta Renata sambil membawa tangannya ke depan dada.
Kalun tersenyum licik ke arah Renata, ide cemerlang tiba-tiba melewatinya.
“Kamu harus membayarnya!” Kalun menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa karena merasa menang. “Kamu harus memberikan informasi padaku setiap hari, apa yang dia bicarakan kepadamu!” lanjutnya sambil tersenyum ke arah Aluna.
“Enak saja, itu privasi Aluna, nggak seharusnya aku membuka rahasianya!” hardiknya tapi tetap dengan suara pelan.
“Baiklah, aku akan mengatakan kepadanya, supaya dia tidak akan menceritakan lagi masalahnya kepadamu.”
Renata menatap tajam ke arah Kalun, merasa jengkel karena Kalun mencoba ingin memanfaatkan dirinya.
“Bilang saja sana! Aku nggak akan takut juga, aku kenal Aluna lebih lama darimu, aku yakin kita bisa saling memahami,” ucap Renata yang tidak menanggapi ancanman Kalun.
Karena merasa diremehkan, Kalun menarik dress Renata untuk membawanya keluar dari ruangan Aluna. Meninggalkan dua orang itu berada di dalam.
“Apa-apain sih ini? Lepas nggak!” bentak Renata saat tiba di luar ruangan, tepatnya kini mereka berdua berada di balkon ruangan Aluna.
“Aku akan membayarmu!”
Renata diam memikirkan tawaran Kalun yang menguntungkan untuknya, tapi dia segera menjawabnya dengan senyuman mematikan ke arah Kalun.
“No! Aku lebih takut Aluna dari pada denganmu, kamu belum tahu saja kalau dia marah! Aku cuma pesan saja, jangan katakan apapun padanya! Apa yang aku katakan tadi, sudah cukup dia menderita selama ini, jadi jangan sampai pernikahan yang tidak sempurna ini, akan menyakiti hatinya. Jika kamu memang tidak suka segera ceraikan dia, mungkin itu lebih baik, biar dia tidak jatuh terlalu dalam, tapi aku yakin kamu sudah mulai mencintainya kan, hayo ngaku?” selidik Renata sambil cengar-cengir di depan Kalun.
Wajah Kalun terlihat merona saat mendengar ucapan akhir dari Renata. Dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
“Nggak!” jawabnya keras sambil berjalan masuk ke ruang Aluna, dia memejamkan matanya ketika Samuel berpamitan pada Aluna, bukan hanya berjabat tangan, tapi Samuel mencuri cium kening Aluna, membuat kedua tangan Kalun mengepal sekuat tenaga.
__ADS_1
“Ada air es nggak sih, ada yang kebakaran nih,” goda Renata dari balik punggung Kalun. Kalun yang mendengar ucapan Renata langsung menatap tajam ke arah Renata yang sudah berdiri di sampingnya.
“Tutup mulutmu!” maki Kalun yang merasa jengkel dengan Renata. Dia lalu berjalan menghampiri bed Aluna.
“Cepat sembuh! Aku nggak mau ada karyawanku yang hanya bisa makan gaji buta!” ucap Kalun yang sedikit kasar. Kalun terus menatap mata Aluna yang tengah menelisik dirinya.
“Loe tega ya, karyawan loe sedang sakit harusnya mendoakan supaya cepet sembuh, tapi malah berkata seperti itu, maksudnya apa coba?” sanggah Samuel yang belum beranjak pergi dari ruangan Aluna. Dia masih melihat ke arah Aluna yang mengusap-usap dahinya.
“Cepatlah pulang! Jangan ganggu karyawanku, aku tidak mau proyekku gagal karena dia libur terlalu lama,” ucap Kalun yang berusaha mengusir Samuel.
“Baiklah ayo kita pulang sama-sama, biarkan karyawanmu ini istirahat!” ajak Samuel sambil menepuk punggung Kalun.
“Pulang saja duluan, aku masih ingin menemui karyawanku, dan bicara padanya.” Kalun duduk di kursi yang tadi di tempati Samuel, supaya Samuel tidak kembali duduk di kursi.
“Baiklah, aku akan menunggumu di luar,” jawab Samuel sambil tersenyum ke arah Aluna.
“Duluan saja, aku kan.” Kalun terdiam mencoba mencari alasan yang tepat. “Aku masih ada perlu dengan adikku di sini,” lanjut Kalun yang pintar mencari alasan supaya dia bisa di sini menemani istrinya.
“Dan ajak itu, karyawanmu pergi. Takutnya merepotkan Aluna di sini!” perintah Kalun menunjuk ke arah Renata.
“Enak saja, aku mau tidur sini menemani Aluna,” sahut Renata yang berada di belakang tubuh Kalun.
“Bapak atasan yang terhormat, lebih baik Bapak pulang saja, biarkan sahabat saya yang menemaniku di sini, dan Samuel cepatlah pulang aku sudah baik-baik saja!”
Kalun menatap tajam ke arah Renata yang menjulurkan lidah ke arahnya, sedangkan Samuel sudah menarik-narik tangan Kalun supaya segera mengikutinya.
Kalun semakin geram, saat melihat Renata melambaikan tangan ke arahnya mengiringi kepergiannya, dengan tersenyum menang.
Di ruangan itu hanya tinggal Aluna dan Renata, mereka masih diam belum ada yang memulai pembicaraan, Renata yang menyadari dirinya bersalah pada Aluna, cuma bisa diam sambil menatap kosong ke arah jendela. Aluna yang malu karena Renata melihat Samuel mencium dahinya pun hanya bisa diam dan menunduk.
“Suami yang tampan,” ucap Renata setelah terdiam cukup lama.
“Dari mana kamu tahu?”
“Hahaha, apa kamu lupa, jika pernah mengirim fotonya padaku?”
Aluna tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
__ADS_1
“Bagaimana tidak jatuh cinta coba sama sultan seperti itu? Tampan, kaya, bibirnya menggoda lagi,” cibir Renata sambil mengedipkan matanya ke arah Aluna. “Andai aku jadi kamu, aku sudah datang ke mbah dukun, buat jampi-jampi dia.” Renata tertawa keras sambil meredam tawanya dengan tangan kanan.
“Beruntungnya bukan kamu, yang nikah sama dia,” ucap Aluna sambil tersenyum tipis.
“Aku pulang ke kos sajalah ya? biar kamu mengurusku, lagian dia juga akan pergi ke London malam ini,” jelas Aluna menampilkan wajah sedihnya.
Renata yang memperhatikan perubahan wajah Aluna, menyadari jika sahabatnya itu tengah bersedih, dia mencoba menghiburnya untuk kuat, jika memang Kalun itu jodohnya, pasti dia akan kembali untuknya.
Kini mereka berpelukan, Renata menguatkan Aluna untuk selalu percaya, bahwa suatu hari akan ada kebahagiaan yang akan menghampirinya, entah itu bersama Kalun atau yang lainnya, semoga pangerannya akan segera datang padanya.
Brakk ...
Pintu ruangan terbuka kasar, Kalun masuk dengan nafas terengah-engah, membuat mereka berdua yang berada di dalam kaget dan fokus ke arahnya.
“Biar aku yang berada di sini! Aku suaminya!” ucap Kalun dengan nada tinggi sambil mengusir Renata dari kursi yang ada di samping bed Aluna.
“Dasar! Kaya gitu bilangnya nggak cinta?” cibir Renata sambil berjalan ke kursi sofa, tapi hatinya senang bisa melihat perhatian Kalun kepada sahabatnya.
“Hey, kenapa duduk di situ? Pulang sana!” usir Kalun sambil menunjuk pintu ruangan Aluna.
Aluna yang melihat keanehan Kalun, menarik baju yang Kalun kenakan.
“Apa yang kamu lakukan, dia sahabatku! Kita nggak perlu membuat skenario lagi,” ucap Aluna dengan senyum yang tak tertahankan.
“Aku benar akan mengusirnya pergi, agar aku bisa bermesraan denganmu.” Seketika Kalun menutup mulutnya, karena ulah mulutnya yang tidak bisa dikendalikan. Tapi sesaat kemudian terdengar pintu ruangan terbuka.
“Lunaaa, Kita datang!”
Kalun hanya menatap gerombolan orang yang masuk mendekati bed Aluna. Mereka mencium pipi Aluna satu persatu, kecuali para lelaki hanya mengulurkan tangannya ke depan Aluna dan disambut ramah oleh istrinya.
Baiklah lakukan sesukamu, jangan salahkan aku jika aku akan membaluri tubuhmu dengan handsanitizer! Maki Kalun dalam hati, wajahnya sudah tidak ramah lagi, apalagi melihat Renata yang tertawa tanpa suara ke arahnya.
👣
Note Rehuella:
Salahkan gigi saya yang sedang sakit, jadi baru bisa update sekarang.🙄
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya!