Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Sarapan


__ADS_3

Aluna menghampiri meja makan di mana Kalun berada, saat ini dia sudah rapi menggunakan kemeja putih dan rok hitam yang melekat ketat di tubuhnya, ia mulai memakan sarapan yang dibuatkan Kalun, roti bakar dengan keju slice yang sudah lumer di dalamnya, membuat Aluna semakin tergiur untuk segera melahapnya habis.


Aluna tidak berani menoleh ke arah samping, di mana Kalun tengah menatap sambil memakan sarapannya. Dia yang nerasa tidak nyaman segera memakan sarapan itu dengan cepat. Lagi pula dia akan mampir dulu ke makam Fandi, jadi dia akan berangkat lebih awal.


“Terima kasih sudah menyiapkan sarapan untukku pagi ini,” ucap Aluna sambil berdiri hendak meninggalkan meja makan. Kalun mengangguk dengan ekpresi yang masih biasa saja, dia lalu menatap ke arah jam di tangannya yang masih menunjukkan pukul 06.30 bahkan dirinya belum mandi, ataupun menyiapkan pakaiannya.


“Aku duluan.” Aluna berpamitan pada Kalun, dia berjalan meninggalkan apartemen, setelah memesan ojek online untuknya.


Aluna merasa beda dengan tatapan Kalun pagi ini, aneh tapi ini nyata, Kalun memperlakukannya dengan baik, tidak seperti kemarin yang acuh dengannya.


Secepat itukah perubahannya? hanya dengan kata cerai yang keluar dari bibirku. Batin Aluna sambil masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai bawah.


Seketika bayangan tentang bibir Kalun yang merah melewati pikirannya. Tanpa permisi bayangan itu masuk dan terus menghantui dirinya, di tambah lagi dengan mimpinya semalam yang menerima ciuman dari Kalun. Dengan tangan kanan dia menyentuh bibirnya yang ditempel bibir Kalun saat di sofa semalam, dia tersenyum malu sambil menutup bibirnya dengan tangan kanan. Aluna tersadar saat dia mendengar bunyi pintu lift terbuka, dia berusaha menampilkan wajah datar, supaya tidak terlihat seperti wanita gila saat melewati orang lain.


Aluna berjalan menghampiri pengemudi ojek online yang sudah menunggunya. Seperti kemarin, saat tiba di makam Fandi dia selalu menceritakan apa yang terjadi dengannya kemarin. Dia seperti bercerita dengan Renata mengangggap yang di dalam gundukkan tanah itu bisa menjawab dan mengerti masalahnya.


---


Pagi ini Kalun, mengenakan kemeja merah dan vast abu gelap di tubuhnya, jas dan dasinya hanya di letakkan di lengan kanannya, dia berjalan keluar dari apartemen menuju lantai bawah.


Pagi ini, dia meminta Doni untuk menjemputnya, karena Kalun merasa kurang enak badan, karena semalam dia begadang hingga pukul 2 dini hari.


Mobil sudah sampai di depan gedung miliknya, Saat dia keluar dari dalam mobil, dia melihat Aluna yang baru saja turun dari bus. Kalun memicingkan matanya, memperhatikan tingkah Aluna yang berlari kecil hendak memasuki gedung.


Kenapa baru sampai? Harusnya dia sudah tiba dari tadi. Batin Kalun yang melihat Aluna berada di balik punggungnya.


Gadis itu hanya melewati Kalun, dia tidak sadar jika suaminya itu tengah memperhatikan gerakkannya.


Dengan nafas memburu Aluna berlarian kecil menuju lift, takut jika dirinya akan terlambat. Saat Aluna berlari, dia tidak sengaja menabrak wanita yang kemarin bertemu dengannya di lift.


“Dasar wanita j*alang! Apa kamu tidak menggunakan matamu untuk melihat?” maki wanita berpakaian sexy di depan Aluna. Aluna mencoba menahan emosinya karena dia mengakui jika dia bersalah.

__ADS_1


“Ceroboh!” gumam Kalun ketika melihat Aluna terjatuh. Dia hanya melewati Aluna, tidak berniat membantu Aluna untuk berdiri.


“Gara-gara kamu, Pak bos tidak melihat penampilanku!” maki wanita di depan Aluna yang menggerutu tidak jelas di depan Aluna.


“Maaf, aku buru-buru, karena takut terlambat.”


Aluna berlari kecil, setelah membantu menyimpan berkas-berkas yang berhamburan. Dia segera masuk ke dalam lift. Karena pintu masih terbuka dan orang yang berada di dalam lift tidak terlalu banyak.


Aluna tersenyum manis ke arah kepala bagian devisinya. Ini hari ke dua, dan dia harus memberikan kesan yang baik di depan atasannya itu.


“Oh ya Lun, nanti ikut saya ya, kita harus bertemu dengan klien, kita akan memperebutkan tender besar hari ini,” ajak David saat sudah keluar dari dalam lift.


“Baik Pak!” jawab Aluna sambil sedikit menundukkan kepalanya.


“Bersiaplah sekarang! karena pukul 9 pagi kita harus berangkat,” perintah David yang diangguki oleh Aluna.


Aluna kini sudah sampai di meja kerjanya, yang tidak jauh dari meja kerja David. Dia mulai menyusun perlengkapan yang akan dia bawa untuk bertemu klien.


“David! segera urus tender dengan Emero Group pastikan kita memenangkan tendernya kali ini!”


“Siap Pak, ini saya juga mau berangkat,” jawab David sambil memasukkan berkas ke dalam tas nya.


“Dengan siapa kamu berangkat?”


“Saya akan pergi bersama Aluna.”


Ucapan David membuat Kalun melirik ke arah di mana Aluna berada. Dia menaikkan alisnya karena merasa tidak yakin dengan Aluna.


“Apa kamu yakin? Dia masih baru di sini, awas jika sampai gagal, aku tidak hanya memberimu SP 1 tapi kamu harus segera pergi dari perusahaan,” ucap Kalun dengan tatapan mengancam ke arah David.


“Saya yakin jika hari ini akan memberikan hadiah tender spesial untuk Bapak,” ujar David sambil menatap penuh keyakinan ke arah Kalun.

__ADS_1


Kalun diam sejenak sambil memperhatikan Aluna yang tengah menyusun perlengkapan yang di butuhkan nanti.


“Apa tidak ada bajumu yang lebih bagus lagi? Kamu akan bertemu dengan klien besar! Jika kamu berpakaian seperti itu yang ada mereka akan mencelamu,” ucap Kalun menunjuk ke arah Aluna.


“Karena dia dalam masa training, jadi saya hanya mengizinkannya memakai baju putih hitam Pak,” sahut David yang tidak ingin melihat Kalun menyalahkan bawahannya.


“Diamlah! Aku tidak bertanya padamu!” peringat Kalun nada dingin.


“Mulai besok, saya akan berpakaian yang bagus Pak.” Aluna berucap sambil menundukkan kepalanya.


“Don! Perintah Siska untuk menyiapkan baju untuknya!” Kalun memerintahkan pada Doni yang dari tadi hanya memperhatikan kelakuan bosnya.


“Sekarang! Tunggu apalagi!” teriak Kalun sambil menoleh ke arah Doni. Karena Doni masih belum beranjak, dia memikirkan perintah Kalun yang terlihat absurd itu, karena baru kaki ini dia peduli dengan penampilan karyawannya. Doni melenggang pergi segera meminta baju untuk Aluna, setelah dia tersadar dari pemikirannya.


“Apa ukuranmu?” tanya Kalun yang masih berdiri di depan Aluna. David yang sejak kemarin melihat perhatian Kalun terhadap Aluna, mulai curiga dengan keduanya. Apalagi saat ini dia tengah melihat Kalun yang menatap lurus ke arah Aluna.


“Medium,” jawab singkat Aluna tanpa melihat ke arah Kalun. Dia masih fokus memasukkan berkas yang ada di meja.


Kalun meraih ponsel yang ada di kantong, dia segera memberitahu Doni supaya membawanya baju Aluna berukuran medium.


Setelah urusan baju selesai, Kalun meninggalkan ruangan devisi desain, menuju cafetaria yang ada di lantai paling bawah.


Sedangkan Aluna segera bersiap dengan baju barunya, baju bewarna peach dengan paduan rok span bewarna putih, mencetak jelas lekuk tubuhnya yang ramping, rambutnya yang diikat membuat lehernya yang kecil terekpos sempurna.


Aluna dan David keluar dari lift, berpapasan dengan Kalun yang akan menuju ke lantai atas ruangannya. Dia melirik ke arah Aluna sebentar, tapi dia langsung mengalihkan pandangannya, saat melihat Aluna tersenyum manis ke arahnya, dia hanya pura-pura mengusap dagunya, demi mengalihkan perhatiannya terhadap Aluna.


“Mungkin kita nanti akan makan siang sekalian di sana, jadi siapkan dirimu,” terang David sambil berjalan membelakangi Kalun.


“Siapa yang memberinya pakaian sexy seperti itu,” gumam Kalun yang menatap Aluna dari pantulan granit dinding kantornya. Sampai dia tidak menyadari jika lift sudah dia lewatkan.


Kalun hanya bisa menggerutu tidak jelas hingga sampai di ruang kerjanya, bersiap untuk memaki siapapun yang memberikan baju sexy itu pada Aluna.

__ADS_1


👣


Tinggalkan jejakmu! 🤓 like, vote dan komentar positif, saran juga boleh.


__ADS_2