Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
POV Kalun 1


__ADS_3

Yang mau masuk Group Kristiana ada password khusus sekarang. Tulis nama lengkap Kalun! Biar dibukain kunci sama Adminya. Ada yang tidak tahu nama lengkap Kalun? jawabannya ada di part 2. Pengenalan tokoh. Terima kasih.


Setelah menyelesaikan rapatku dengan klien, aku segera bergegas untuk pulang ke rumah. Aku yakin Aluna sudah menungguku terlalu lama. Sialan memang! Ternyata rapat itu baru selesai pukul 9 malam, dan lagi, aku harus menemaninya ngobrol hingga pukul 10 malam. Ingin aku menghentikan obrolan yang tidak berarah itu. Tapi sudahlah mungkin sebentar lagi akan selesai. Begitu kata hatiku malam itu.


Aku segera berjalan menuju mobilku kala itu. Aku sudah rela-rela tidak makan di restoran demi menikmati masakkan istriku di rumah, yang sudah dipastikan sudah siap. Namun, baru mengemudikan beberapa menit. Ponselku berdering nyaring. Aku menatap sejenak layar ponsel tersebut. Aku menghela nafas panjang ketika membaca nama mantan tunanganku yang tertera di sana.


“Ya? Kenapa lagi?” tanyaku sedikit kasar.


“Maaf Mas, ini saya mbak Fitri (penjaga Kayra).”


“Kenapa Mbak?” tanyaku cepat.


“Bisa ke apartemen mbak Kayra sekarang?”


“Maaf tidak bisa!” ingin sekali aku menutup ponselku saat itu juga. Tapi suara Kayra yang terdengar memohon mengurungkan niatku, dan aku segera memutar balik mobilku ke arah apartemen Kayra.


Tiga puluh menit berlalu. Aku segera berjalan cepat menuju di mana Kayra tinggal. Saat aku memasuki apartemennya, mbak Fitri segera menuntunku ke kamar Kayra.

__ADS_1


Kulihat Kayra terkulai lemah di atas kasurnya. Saat aku tiba di sana, dia masih memejamkan matanya. Dan kata mbak Fitri dia baru saja terlelap. Aku pun mulai mendekatinya. Terlihat perutnya yang sedikit membuncit, aku baru teringat jika dia tengah hamil.


“Kanker servik stadium 4.”


“Secepat itu?” tanyaku heran sambil menatap ke arah mbak Fitri.


“Tidak ada yang menemaninya selama ini selain saya, bahkan ibu Viona seperti menelantarkan Mbak Kayra. Dia menganggap Mbak Kayra sebagai aib yang harus mereka buang jauh-jauh. Itulah yang menyebabkan kankernya berkembang lebih cepat, karena Mbak Kayra tertekan, hingga menyebabkan imunnya menurun drastis, dan kanker itu berkembang lebih cepat dari perkiraan dokter, dia juga tidak ingin melakukan kemoterapi karena memikirkan kondisi bayinya. Setidaknya jika dia pergi, akan ada Kayra kecil yang menggantikannya di sini.” Fitri menjelaskan kondisi Kayra padaku. Aku bisa melihay kesedihan Fitri saat menceritakan kondisi Kayra, aku tidak percaya dengan kelakuan tante Viona yang bisa sekejam itu dengan anak kandungnya sendiri.


“Kita bawa ke rumah sakit sekarang!” perintahku


“Mas tolong bayar dulu biaya rumah sakit ya, saya tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar pengobatan mbak Kayra.”


“Jangan pikirkan itu!” ucapku sambil mengangkat tubuh Kayra. Aku segera membawa Kayra ke rumah sakit kanker ternama di Jakarta. Meski sudah terlambat, setidaknya dia masih bisa lebih lama lagi untuk bisa bertahan hidup.


Dokter yang menanganinya meminta Kayra untuk rawat inap. Namun, yang ada Kayra masih bersih keras untuk pulang ke apartemen. Aku sebenarnya tidak tega melihat kondisi tubuhnya yang seperti itu. Tapi dia terus memaksaku, untuk mengikuti kemauanya. Aku mengalah dan membawanya pulang ke apartemen. Sejenak saat tiba di apartemen aku mendengarkan ceritanya, dia bercerita banyak tentang masa kecilnya denganku, yang masih berkesan di ingatannya.


Aku meminta Kayra untuk menyudahi ceritanya, dan memintanya untuk beristirahat. Dia pun menurut, dan memintaku untuk mengenggam tangannya karena dia takut tidak akan bisa terbangun lagi besok. Setelah melihat Kayra terlelap, aku berpamitan pada mbak Fitri, aku jelaskan padanya jika aku punya istri di rumah yang juga membutuhkan aku. Dia pasti akan mengkhawatirkan aku malam ini, dan mbak Fitri pun mengerti dan mengizinkan aku untuk pulang.

__ADS_1


Saat aku tiba di dalam mobil, aku melihat ke arah ponselku, puluhan panggilan tidak terjawab dari istriku. Aku menyesali, kenapa tadi tidak memberitahunya lebih dahulu. Dengan kecepatan tinggi aku segera melajukan mobilku ke arah apartemen. Aku berharap dia tidak menungguku sampai selarut ini, karena aku pasti akan semakin merasa bersalah padanya. Saat aku tiba di apartemenku, aku membuka pintu apartemen dengan pelan. Terlihat televisi yang masih menyala, dan bisa terlihat jelas Aluna tengah menungguku hingga terlelap di sofa.


Maafkan aku Sayang. Batinku.


Dia terbangun ketika aku memindahkan tubuhnya ke kasur. Sama seperti istri pada umumnya ketika suaminya terlambat pulang pasti selalu banyak pertanyaan yang mereka lontarkan. Tidak beda jauh dari Aluna, dia juga menanyaiku dengan beberapa pertanyaan. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, aku tahu dia tengah emosi. Percuma juga menjelaskan padanya.


Keesokkan harinya, tepat setelah Aluna berangkat ke kantor. Ponselku kembali berdering, padahal sebenarnya aku masih ingin beristirahat. Aku segera mengangkatnya, dan kata mbak Fitri Kayra kembali collabs, dan dia bingung ingin menghubungi siapa lagi selain aku


Setelah sekian lama berpikir aku menelepon Doni untuk mengatur semua pekerjaanku hari ini. Aku segera melajukan kembali mobilku ke apartemen Kayra. Meninggalkan ponselku yang memang sengaja aku tinggal. Bukan karena ingin mengkhianati Aluna, bukan itu niatku. Dan aku tidak berniat berselingkuh dengan Kayra, semua ini murni karena aku kasihan dengan Kayra.


Tiba di apartemen, aku kembali membawa Kayra ke rumah sakit, dan dokter mengatakan jika kankernya sudah menyebar ke paru-paru, dokter mengatakan jika bayi Kayra sudah tidak bisa di selamatkan lagi, dan harus menjalani proses operasi cessar sekarang juga.


Berbagai selang kini sudah menempel di tubuh Kayra. Hampir 1 hari aku menemaninya di ruangan khusus ini. Setelah menjalani operasi cesaar Kayra sudah dipindahkan ke ruang isolasi. Aku meninggalkan sebentar Kayra di sana, untu melihat bayi Kayra, bayi Kayra berjenis kelamin perempuan, sangat cantik seperti mamanya. Tanganku terulur untuk mengenggam tangan bayi tersebut, aku jadi teringat dengan utun yang sebulan lalu juga meninggalkan kami. Setelah puas menatapnya aku segera keluar dari ruangan tersebut, aku harus mengurus pemakamannya, aku pun kebingungan, di sisi lain Kayra membutuhkan pendamping yang harus menjaganya, tapi bayi itu juga harus segera di makamkan.


Dan akhirnya aku meminta pendapat papa, aku meminjam telepon rumah sakit untuk menghubungi papa, menceritakan semua kejadian tanpa harus ada yang aku tutupi lagi. Dia bersedia membantu pemakaman bayi Kayra, dan aku diminta untuk tetap di rumah sakit menemani Kayra.


>>>>>

__ADS_1


__ADS_2