Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Aluna Hamil


__ADS_3

“Pa! Ada apa ini?” tanya Kalun yang kebingungan karena sikap kasar Erik, dia mengusap pipinya yang terasa nyeri akibat bogeman Erik.


“Jangan panggil aku Papa!” bentak Erik di depan wajah Kalun. Dia sudah ikut tersulut emosi, saat mengingat berita tentang kehamilan Kayra.


“Kamu pergi dari keluarga ini!” Erik menhentikan ucapannya, dia memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam, “Mulai sekarang kamu bukan anggota keluarga ini lagi!” lanjutnya Erik dengan suara lirih tapi jelas. Erik benar-benar ingin mencoret Kalun dari anggota keluarganya, sesuai kesepakatan bersama yang telah mereka sepakati.


“Pa!”


Erik sudah menatap tajam ke arah Kalun, saat anaknya itu menyebut namanya dengan sebutan papa.


“Apa salah Kalun Pa?”


“Masih bertanya? Kamu tahu sendirikan, bagaimana papa mencintai mamamu. Bahkan aku tidak peduli jika dia terluka karena kamu! Anak yang selalu dimanjakan, tapi apa! Kamu justru menghamili wanita yang belum sah menjadi istrimu! Kamu mengecewakannya!” jelas Erik sambil menarik kerah t-shirt polo, dilapisi jaket yang Kalun kenakan. Dia berkata tepat di depan wajah Kalun.


Kalun yang paham, hanya menatap lembut wajah Erik, dia ingin menyampaikan pada Erik jika dia menyesali perbuatannya. Dia akhirnya mengerti, jika mamanya sakit akibat mendengar kabar jika Kayra tengah hamil anaknya.


“Kamu bebas menikahinya!” lanjut Erik sambil menghempaskan cekalannya yang di kerah baju Kalun, dia sedikit mendorong tubuh Kalun menjauh darinya.


Erik mengatur nafasnya yang terasa berat. Sedangkan Kalun hanya mengusap wajahnya sambil melirik ke arah kedua adiknya yang tengah menatapnya iba.


“Aluna yang akan menggantikanmu! Aku lebih memilih mempertahankan dia, dari pada punya anak tidak tahu diri sepertimu!”


“Pa-Pak.” Kalun tergagap saat mengucapkan panggilan baru untuk papanya. Dia beralih menatap Erik, saat papanya akan memisahkan dia dengan Aluna. Dia bisa saja pergi dari keluarganya. Tapi dia tidak yakin, jika dia akan baik-baik saja apabila berpisah dengan Aluna.


“Jangan lakukan itu!” bujuk Kalun memohon pada Erik.

__ADS_1


“Kenapa!? Bukannya kamu tidak mencintainya! Bukankah kamu menikahinya, karena kamu sudah membunuh calon suaminya! Bukankah orang yang kamu cintai itu adalah Kayra, hingga kamu mampu menidurinya? Kalau begitu biarkan Aluna tinggal bersama kami, dia tidak pantas untuk kamu sakiti. Aku janji akan menyanyinya seperti kami menyayangimu. Dia yang akan menggantikanmu! Jangan kamu temui dia lagi, karena aku orang tuanya tidak akan membiarkan kamu bertemu dengannya!”


Kalun mendudukkan tubuhnya di sofa dia sudah tidak bisa lagi menjawab ucapan Erik. Dia hanya bisa diam, sebelum dia bisa membuktikan jika anak yang dikandung Kayra bukanlah darah dagingnya.


Kini dia menunduk memikirkan dirinya yang harus melepaskan Aluna.


“Pergilah!” bentak Erik ke arah Kalun.


Kalun mendongak, menatap lelaki yang mirip dengannya itu dengan mata sendu. Dia lalu memejamkan matanya untuk meredam emosi yang tengah dia rasakan saat ini. Pikirannya kini sudah tidak mampu berpikir dengan jernih. Hanya dengan sehari saja dia bisa kehilangan segalanya, termasuk kehilangan Aluna, wanita yang kini dicintainya.


“Pak! Aku akan pergi dari keluarga ini, asalkan Aluna tetap bersamaku!” bujuknya lagi, Kalun benar-benar tidak ingin melepaskan Aluna. Erik yang mendengar itu hanya bisa tertawa kecil. Memalingkan wajahnya dari Kalun.


Ngotot juga anak ini! Dasar baj*ngan kecil Umpatnya dalam hati.


Erik yang emosi, segera mendekat ke arah Kalun, dia ingin menegaskan lagi jika dia juga tidak mau melepaskan Aluna untuk anaknya. Karena Erik tahu jika Aluna tengah mengandung pewaris Ramones. Dia akan memiliki cucu dari kerturunan Kalun. Hanya dia yang baru mengetahui, karena memang dia merahasiakan ini, dia bersyukur Kalun tidak mengetahuinya, karena jika dia tahu pasti akan sangat berat memisahkan mereka berdua.


Suasana kembali sunyi, saat keduanya berhenti berbicara. Kalun menatap sejenak jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia lalu menatap pintu kamar mamanya yang sedikit terbuka, dia melihat mamanya dari celah pintu tersebut. Tubuhnya masih lemah, dia belum bergerak dari ranjang. Dia ingin menjelaskan apa yang terjadi dengan mamanya, hingga mamanya itu tidak membencinya. Kalun yang tidak tega menatap tubuh Ella yang terbaring lemah, dia memilih mengalah untuk meninggalkan keluarganya. Dia tidak ingin lagi membuat mamanya sedih, dia akan menjelaskan di waktu yang tepat, sekalian menunggu waktu yang tepat, untuk membuktikan jika anak yang dikandung Kayra bukanlah anaknya.


“Jika itu bisa membuatmu puas, aku akan segera pergi meninggalkan keluarga ini, tapi izinkan Kalun bertemu dengan mama, Pak,” pinta Kalun dengan mata memohon ke arah Erik. Erik masih ingin sekali menoleh ke arah Kalun, tapi dia berusaha keras untuk menahannya, karena dia tahu itu akan membuatnya iba pada laki-laki Kalun.


“Tidak perlu! Karena itu akan membuatnya lebih sakit lagi! Lebih baik kamu tidak menemuinya lagi mulai sekarang! Dan jangan bawa apapun selain pakaian yang melekat di tubuhmu saat ini!” peringat Erik, ketika melihat Kalun sudah berdiri hendak meninggalkan rumahnya. Erik tak mampu juga menatap anak lelakinya yang terlihat menyedihkan itu. Dia menunduk, tangannya sudah dia letakkan di depan perutnya, tangan kananya memijat hidungnya yang terlihat keriput karena dimakan usia.


Kalun yang mendengar peringatan Erik, tangannya mengambil kunci mobil yang ada di saku jaketnya, dia meletakkan kunci mobil, serta seluruh kartu yang ada di dompetnya. Dia sadar. Dia bisa seperti ini karena papanya, yang terus memanjakannya. Meski dia pintar, tapi dia sadar diri jika dia tidak mungkin sekolah tinggi tanpa bantuan papanya. Kalun juga melepaskan jam tangan pemberian Ella ketika dia berulang tahun ke 25 tahun. Dia meletakkan jam itu di meja ruang keluarga. Kini dia hanya memiliki sepaket pakaian yang menempel saja.


“Katakan pada Mamaku jika aku tidak sadar ketika melakukannya,” jelas Kalun sebelum berjalan pelan meninggalkan ruang keluarga rumah Erik. Dia menatap sejenak ke arah pintu kamar yang ada di sebelah kanannya, di mana mamanya tengah terbaring lemah di sana.

__ADS_1


Hari ini adalah hari paling berat dalam hidup Kalun. Kayra, Aluna, dan mamanya, hadir dalam pikirannya. Bukan hanya Aluna, bahkan kini keluarganya membencinya, karena kesalahannya ketika berada di London saat itu. Kalun meraih benda berharga satu-satunya yang tersisa saat ini. Dia lalu menghubungi sahabatnya, mungkin malam ini dia bisa menumpang di tempat sahabatnya tersebut, sekaligus meminta solusi untuk masalahnya saat ini. Kalun ingin menenangkan diri, berharap bisa menjalani takdir hidupnya saat ini. Dia tengah diuji, cintanya untuk Aluna kini tengah diterpa angin kencang, semoga Aluna bisa menerima dia apa adanya, meskipun dia tidak bisa memanjakannya seperti dulu. Malam itu marga Ramones yang ada di nama Kalun sudah hilang. Hanya ada Kalundra!


Sedangkan Erik tengah kembali mengatur nafasnya, setelah punggung Kalun tidak terlihat, kini air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya tumpah membasahi pipinya. Hari ini hari terberat setelah hari dimana Ella dinyatakan meninggal. Rahasia yang selama ini dia simpan akhirnya bisa dilihat oleh anaknya. Sayangnya rahasia itu terbongkar dengan cara yang licik.


Setelah sedikit merasa lega, Erik meraih ponselnya yang ada di saku celananya, dia ingin menghubungi anak buahnya yang selama ini menjaga Aluna dan calon cucunya. Dia meletakkan ponsel di samping telinganya.


“Jelaskan padaku!” perintahnya saat mendengar suara lelaki di ujung telepon.


Erik merasa kesal saat mendengar penjelasan lelaki itu, dia berkata jika seseorang dengan sengaja ingin mencelakai Aluna. Beruntungnya dia datang tepat waktu, jadi Aluna bisa terhidar dari kecelakaan yang mengancam dirinya.


“Jaga dia baik-baik, awas saja kalau sampai terjadi sesuatu dengan mereka!” ancam Erik pada lelaki di seberang telepon.


“Beritahu Aluna jika dia tengah hamil, jadi dia bisa berhati-hati,” pesan Erik lalu mematikan ponselnya. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi, sambil menatap langit-langit bangunan rumahnya.


“Aluna hamil! Dan Mas ingin memisahkannya dari Kalun?”


Pertanyaan itu membuat Erik menoleh ke arah pintu kamarnya. Dia tidak tahu jika istrinya itu, sudah sadarkan diri. Dia meminta Ella untuk duduk di sampingnya. Sambil menunggu dokternya tiba. Erik terlihat lega ketika ketika mendapati Ella sudah sadarkan diri.


Tapi dia juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan Ella.


👣


Syarat crazy up :


• Masuk rangking vote 20 besar minggu ini.

__ADS_1


Jadi vote, like dan komentar sebanyak-banyaknya ya. Oke! 💪🙏😌


__ADS_2