Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Kelelahan


__ADS_3

Setelah berkutat di depan layar komputer setengah harian, Aluna kini tengah meregangkan tubuhnya, lehernya terasa sulit digerakkan setelah beberapa jam duduk di depan layar. Dia memijit tengkuk lehernya yang kecil itu, membuat wanita di sampingnya angkat bicara.


“Semalam habis lembur ya?” ledek Renata sambil menampilkan cengirannya. Renata lalu mendekat ke arah Aluna, membantu memijit tengkuk sahabatnya itu. Aluna yang dipijit berusaha menikmati pijatan tangan Renata yang lembut, dan sedikit meredakan sakit lehernya.


“Nggak lembur kok, kemarin aku pulang jam 5 terus mampir ke kos ambil barang,” jelas Aluna yang tidak paham dengan apa yang dikatakan Renata. Renata hanya menggedikkan bahunya, pasrah karena candaanya tidak direspon Aluna.


“Pulang kerja kita jalan ya, sudah lama kita nggak pergi bareng!” ajak Renata sambil meraih camilan yang ada di meja Aluna, sebagai imbalan pijatannya tadi. Dia lalu membawa camilan itu ke mejanya. Aluna hanya bisa mengangguk menyetujui ajakan Renata, karena dia juga sudah merindukan udara mall Jakarta.


Bunyi pesan suara masuk ke ponsel Aluna terdengar nyaring oleh keduanya, Aluna melihat sebentar ke arah ponselnya di tangannya. Suaminya sudah mengirimkan pesan sebanyak tiga kali, karena jam makan siang sudah tiba. Aluna melirik sebentar ke arah Renata, dia ingin membawa Renata makan siang bersama.


Setelah membujuk sekitar lima menit, akhirnya Renata itu mau menerima tawaran Aluna, mereka berdua keluar dari gedung berjalan menuju hotel yang ada di depan kantor.


Ketika tiba di depan pintu, mereka berpapasan dengan Doni yang menatap Renata dengan tajam. Doni pikir Aluna datang sendiri tanpa membawa sahabatnya itu, tapi yang ada dia membawa orang ketiga untuk makan siang.


“Maaf Non, Pak Kalun tidak mengizinkan Anda membawa teman,” cegah Doni ketika mereka berdua melewatinya. Aluna melirik tajam saat mendengar panggillan Doni untuknya. Dia sudah berulang kali meminta Doni untuk memanggilnya dengan sebutan nama saja, tanpa embel-embel nona, tapi masih saja lelaki itu memanggilnya dengan sebutan nona.


“Biarkan aku yang menanganinya,” jelas Aluna sambil berjalan meninggalkan Doni, yang tengah menatap heran ke arahnya. Padahal bosnya tengah menyiapkan sesuatu untuknya, bagaimana mungkin dia justru membawa masuk wanita lain.


“Nona Renata!” panggil Doni yang sedikit berteriak karena jarak yang sudah sedikit jauh. Doni segera mendekat ke arah Renata, manarik tangan Renata supaya tidak mengikuti Aluna.


“Lebih baik Nona ikut saya,” ajaknya sambil menggenggam tangan Renata dengan mesra. Aluna hanya terkekeh melihat kelakuan Doni, yang asal menarik tangan wanita itu, dia berpikir jika Renata akan segera dipersunting oleh Doni, setelah melihat perlakuan Doni saat ini.


“Sana-sana, bawa sahabatku ini pergi!” perintah Aluna sambil mengusir kedua orang itu dengan isyarat tangan kanannya.


Dia lalu melanjutkan jalannya, menuju kamar 205, untuk menemui suaminya. Aluna segera mendorong pintu kamar ketika dia sampai tujuan. Dia menghela nafas lelah ketika memasuki kamar yang biasa dipakainya istirahat. Dia menatap sebentar ke arah suaminya yang tengah duduk di sofa single, menghadap ke arah jendela. Kalun tersenyum ramah ke arah Aluna. membuat Aluna mengerutkan keningnya, tak paham maksud suaminya.


“Mendekatlah!” perintah Kalun sambil menepuk pangkuannya. Aluna berjalan pelan sambil menundukkan kepalanya, supaya tidak bertatapan dengan Kalun.


“Kamu terlihat kelelahan,” ucap Kalun sambil menatap detail wajah Aluna yang kini sudah di di depannya.


“Iya, leherku sedikit sakit. Sepertinya tanganmu semalam terlalu tinggi saat menopang kepalaku,” jelas Aluna sambil memijit pelan lehernya.


“Duduklah! Biar aku membantumu untuk memijit leher kecilmu itu.” Kalun sudah


menepuk pangkuannya, supaya Aluna segera berada di pangkuannya. Namun, Aluna


tidak menanggapi ucapan Kalun. Dia justru berjalan ke arah kasur hotel yang biasa dia pakai, dia merebahkan tubuhnya di sana, supaya tidak terasa kaku.


“Ow. Jadi mau to the point saja, nggak butuh pemanasan dulu gitu?” goda Kalun sambil berjalan mendekat ke arah Aluna, tangannya sudah berusaha keras melepaskan tuxedo dan vast-nya, dia turut merebahkan tubuhnya menghadap ke samping Aluna, menopang kepalanya dengan tangan kiri.


Aluna yang sudah akan terlelap kembali membuka matanya, karena merasakan tangan kokoh itu meraih pundaknya, Kalun memijit pundak Aluna dengan kuat membuat Aluna meringis karena kesakitan.


“Sakit jangan lagi! biar aku datang ke tukang pijat saja,” terang Aluna dengan suara sedikit sensual,“Aku nanti pulang kerja mau jalan


sama Renata, boleh ya?” izin Aluna sambil mentap Kalun dengan tatapan memohon.


“Mau pijat di mana? Panggil saja tukang pijat ke rumah, jangan aneh-aneh kaya gitu!” tolak Kalun yang tidak mengizinkan Aluna pergi.

__ADS_1


Aluna mendengus kesal, sambil memiringkan tubuhnya membelakangi Kalun, dia sudah


melepas sepatunya dengan kasar, biar Kalun tahu jika dia sedang marah dengannya.


Kalun yang paham dengan tindakan Aluna, segera memberikan pelukan rayuannya pada tubuh Aluna, dia berusaha membujuk istrinya, supaya tidak marah lagi dengannya. Namun, yang ada Aluna semakin tidak ingin mendengarkan ucapan Kalun.


“Kenapa marah-marah terus sih, jangan- jangan mau pms ya?” selidik Kalun sambil menghadapkan tubuh Aluna ke arahnya.


Aluna tidak menjawab ucapan Kalun, dia memang sudah mendekati hari-hari datang bulan, jadi wajar saja dirinya sedikit egois, dan pemarah.


“Aku nggak akan marah, jika kamu mengizinkan aku pergi dengan Renata. Lagi pula kita cuma berdua saja A’ nggak ada orang lain.”


Kalun menatap ke arah Aluna, melihat sesuatu yang aneh dengan diri Aluna, dia merasa Aluna sedikit membangkang hari ini, tapi dia suka cara memohon Aluna yang sedikit manja dengannya itu.


“Boleh, tapi aku harus ikut dengan kalian, aku akan menjagamu dari tatapan liar para lelaki yang mengawasimu,” jelas Kalun sambil membawa Aluna ke dalam pelukkannya.


“Nggak! Apa enaknya coba belanja diikuti suami, nggak bebas tahu nggak.” Aluna menolak permintaan Kalun, supaya dia bisa bebas pergi dan memilih barang yang akan dia beli.


Kalun langsung menatap ke arah Aluna, dia


justru berpikir macam-macam, karena Aluna tidak mengizinkannya pergi.


“Kamu mau nemui lelaki lain ya?” tanya Kalun menatap lekat ke arah Aluna, dia sudah kesal dengan kelakuan Aluna hari ini.


“Nggak A’ pokoknya aku mau pergi, dan kamu nggak boleh ikut. Kalau kamu nggak mengizinkan, kamu juga nggak akan mendapatkan pijatan nanti malam,” ancam Aluna yang sudah melotot ke arah Kalun. Kalun memikirkan sejenak ancaman Aluna, dia memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya, ketika membayangkan dirinya yang tidak mendapatkan jatah pijatan dari Aluna.


“Hati-hati, biar sopir yang akan mengantarmu nanti,” lanjutnya sambil mengecup pucuk kepala Aluna.


Kalun lalu mengajak Aluna untuk makan siang


yang sudah disediakan sebelum makanan itu dingin, mereka makan dengan nikmat siang itu membuatAluna melupakan Renata yang tengah menunggunya di lobby bersama Doni.


Setelah makan siang selesai, Kalun memintanya untuk beristirahat sejenak, saat nanti jam istirahat habis dia berjanji akan membangunkan Aluna. Tapi yang ada, Hingga pukul 4 sore Aluna baru membuka matanya. Dia terkejut ketika menatap jam sudah menunjukkan jam pulang kerja. Dia mengedarkan pandangannya mencari suaminya. Dia semakin kesal ketika melihat ke arah Kalun yang duduk manis di sofa, sambil tertawa menang ke arahnya.


“Kamu terlihat kelelahan jadi aku tidak tega untuk membangunkannya,” ucapnya sambil mendekat ke Aluna.


“Mandilah! Katanya mau pergi dengan Renata.”


“Lalu izinku tadi bagaimana? Bagaimana kalau Pak David memecatku.”


“Doni sudah mengurusnya, nggak usah khawatir! siapa yanh berani memecat istriku?” cibirnya sambil mengambil handuk untuk Aluna. “Tadi mama telepon, besok kita diminta datang kerumahnya,” ucap Kalun sambil menyerahkan handuk ke tangan Aluna, dia juga sudah menyiapkan baju ganti yang sudah disiapkan oleh Doni tadi ketika dia tertidur.


“Iya dulu mama sudah berpesan padaku, aku mandi dulu ya,” balas Aluna sambil meraih handuk dan paperbag yang ada di tangan Kalun.


“Boleh nggak mandi bareng!” pinta Kalun yang mengikuti langkah Aluna. Kalun mengikuti Aluna, hingga tiba di depan pintu kamar mandi, Aluna baru menghentikannya.


“Nggak boleh, aku tahu niat burukmu!” tolak Aluna sambil menutup pintu kamar mandi. Kalun menampilkan wajah kecewanya ketika

__ADS_1


mendapatkan penolakkan dari Aluna.


Kalun yang sedari tadi tidak bosan menatap wajah tidur Aluna pun kini merasa hampa karena tidak lagi melihat wajah Aluna yang terlelap di depannya. Dia lalu menghubungi Doni untuk menyiapkan sopir untuk Aluna.


Tigapuluh menit kemudian, Aluna sudah siap dengan dress putih yang dia kenakan, dia memoles wajahnya tipis dengan bedak yang selalu dia masukkan ke dalam tas. Tangan Kalun mencegahnya saat Aluna hendak mengenakan gincu yang warnanya sama dengan yang dia kenakan kemarin. Aluna hanya bingung dengan perlakuan Kalun yang terlihat aneh itu.


“Nggak usah pakai ini, biar aku saja yang melihat bibir merahmu itu!”


“Aa’ kalau nggak pakai itu, wajahku terlihat pucat.”


“Nggak! Nggak usah dipakai yang ini, nanti kamu beli lagi warna yang polos, kalau perlu yang nggak ada warnanya,” pesan Kalun yang membuat Aluna kesal.


“Aa’ ini benar-benar nyebelin!” ucap Aluna sambil berjalan meninggalkan kamar hotel. Dia tidak lagi mempedulikan Kalun yang meneriaki namanya, karena dia lupa mencium Kalun.


Sedangkan yang Aluna pikirkan hanya ingin segera mencuci matanya di mall terdekat yang biasa jadi langganannya dengan Renata.


Saat tiba di lobby, Renata sudah menunggunya, dia masih mengenakapakaian kerjanya. Karena jam kerja baru saja selesai.


“Enak ya, jadi istri sultan, semua bisa terwujud, mau bobo di jam kerja pun juga oke!” goda Renata menampilkan wajah irinya. Aluna yang mendengar itu langsung mengalungkan tangannya ke leher Renata.


“Kamu mau?” tawar Aluna yang langsung diangguki oleh Renata.


“Tuh!” tunjuk Aluna dengan dagunya ke arah Doni. Membuat Renata menyengir karena Doni sama sekali bukan tipenya.


Mereka berdua segera mengakhiri obrolannya, memasuki mobil yang sudah disediakan Kalun.


Satu jam perjalanan mereka tiba di pusat pembelanjaan terkenal di Jakarta. Mereka berdua sedikit heran karena mall itu nampak sepi dari pengunjung, hanya satu orang saja yang dia lewati, itu pun para sales yang


tengah bergantian shift dengan rekannya. Mereka berdua saling bertatapan, lalu sama-sama tertawa tawa tanpa suara, karena merasa beruntung karena mall tidak terlalu ramai.


Aluna yang senang karena toko terlihat sepi, segera memasukinya. Mereka berdua bebas memasuki toko demi toko tanpa perlu mengantre lagi untuk melakukan pembayaran. Setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan, Aluna meminta Renata untuk menemaninya memakan es cream, dia ingin sekali memakan es cream bewarna hijau yang ada di papan promo salah satu kedai es cream di sana.


Renata dengan setia menemani Aluna hingga sahabatnya itu menghabiskan es creamnya. Setelah itu mereka berdua mendatangi gedung bioskop seperti yang sudah direncanakan, karena mereka berniat menonoton film yang mereka sukai, karena kebetulan sedang tayang di bioskop.


“Jangan tinggalin aku ya, kamu tahu kan aku takut dengan gelap, jadi kamu harus mengenggam tanganku,” peringat Aluna saat memasuki gedung bioskop yang terlihat sepi. Mereka hanya melihat beberapa kursi saja


yang terisi.


Lampu bioskop sudah dimatikan, cahaya hanya dari nomor kursi dan arah petunjuk tangga, layar LCD di depan Aluna juga belum terlihat film akan diputar. Membuat Aluna gelisah, karena tidak menyukai kegelapan.


Namun, tiba-tiba ....


Next part ya.


👣


Jangan lupa like dan vote👍😁.

__ADS_1


Maaf ya telat update hari ini, karena baru kurang fit. Yang belum masuk group, masuk yuk! karena biasanya kalau saya terlambat update saya infokan di sana. Terima kasih.


__ADS_2