Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
TPU


__ADS_3

Hari ini Aluna tidak bisa bangun pagi seperti biasanya, meski hari ini adalah weekend, tapi biasanya, dia paling lambat bangun pukul 8 pagi, tapi kali ini sudah pukul 11 siang, Aluna masih berada di bawah selimut tebalnya, dengan tubuh yang belum mengenakan pakaian apapun.


Aluna meraba ranjang tempat Kalun berada, terasa kosong dan dingin di sana. Suaminya sudah pergi meninggalkan tempat tidurnya. Aluna memaksa membuka matanya, mencoba mencari keberadaan Kalun, dengan pakaian seadanya Aluna beranjak dari ranjang. Dia keluar kamar mencari keberadaan Kalun. Ketika menuruni anak tangga dia melihat Kalun yang tengah sibuk berada di dapur.


Kalun memperhatikan Aluna yang berjalan ke arahnya, dia tersenyum penuh arti saat melihat langkah kaki Aluna yang terlihat kesusahan. Merasa menang karena melihat Aluna yang kelelahan.


“Selamat pagi.” Kalun menyapa Aluna saat melihat istrinya sudah berada di depannya.


“Pagi? Ini sudah hampir jam 12 siang, bagaimana bisa dikatakan pagi?” tanya Aluna sambil mengerutkan dahinya. Dia lalu mengedarkan matanya ke arah samping Kalun, melihat beberapa telur ceplok yang terlihat kelewat matang alias gosong. Aluna meraih telur ceplok tersebut lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


“Hei, itu gosong Sayang,” cegah Kalun yang memperhatikan tingkah Aluna.


“Aku sudah lapar, biarlah ini aku makan, mubadzir kalau dibuang.” Aluna kembali mengambil telur tersebut lalu membawanya ke meja makan.


“Kamu sih, bangun kesiangan, jadi gini deh,” gerutu Kalun sambil menyerahkan nasi goreng yang tadi dia buat ke depan Aluna.


“Siapa yang membuatku seperti ini coba?!”


Kalun tersenyum ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, dia menghentikan kegiatannya tepat ketika waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Kalun melupakan jika mereka berdua tidak menggunakan pengaman, karena Aluna tidak mampu mencegah suaminya, dia juga menikmati setiap apa yang diberikan Kalun saat itu.


“Ayo makan, setelah itu kita pergi ke rumah kita yang baru, aku sudah tidak sabar untuk menempatinya denganmu, dan menuliskan semua cerita indah bersamamu,” kata Kalun sambil menyuapkan nasi goreng ke mulut Aluna. Aluna menerimanya, sesekali dia bergantian yang menyuapi Kalun, hingga tanpa terasa nasi goreng yang sebenarnya kelewat asin itu habis tidak tersisa.


***


Satu jam berlalu, kini keduanya keluar dari apartemen mewah milik Kalun setelah selesai mandi bersama. Siang ini, Kalun membawa Aluna ke rumah yang baru dibeli Doni beberapa minggu yang lalu, Kalun hanya tahu beres soal rumah yang dipesannya, dia sudah merencanakan rumah tersebut sebagai hadiah anniversarynya. Saat tiba di sana Kalun terlihat puas ketika melihat warna dan bentuk rumahnya. Tapi dia tidak menyukai siapa yang berdiri di samping Doni saat ini. Lelaki itu ancaman besar untuknya.


“Ferdi?” tanya Aluna sambil menatap ke arah Kalun.


“Aku juga tidak tahu kenapa dia berada di sini,” jawab Kalun setelah melepas seatbelt yang dia kenakan. Dia lalu turun dari mobil, berjalan menghampiri Doni dan Ferdi yang tengah menyambutnya, setelah membukakan pintu untuk Aluna.


Ferdi juga terkejut ketika melihat siapa yang membeli rumah yang beberapa minggu dia tawarkan di iklan properti. Dia lalu dengan ramah menyambut kedatangan Aluna.


“Luna! Sepertinya memang rumah inilah yang menjadi jodohmu,” kata Ferdi sambil tersenyum ramah, dia tidak mempedulikan raut wajah Kalun yang mulak terlihat emosi. Aluna yang tidak paham hanya menoleh dan tersenyum manis ke arah Kalun. Dia mengira, Kalun sudah mengetahui siapa pemilik sebelumnya.


“Rumah ini dulu Fandi siapkan untukmu, tapi karena orang tuaku sedang membutuhkan uang, jadi aku akan menjualnya. Tidak kusangka jika akhirnya rumah ini akan menjadi milikmu juga,” terang Ferdi yang mengerti sikap gamang Aluna.


“Don. Batalkan transaksinya!” perintah Kalun, sambil berjalan membawa Aluna menjauh dari rumah mewah tersebut.


“A’ kok begitu?” tanya Aluna saat Kalun menarik kasar tangannya. Kalun menghentikan langkahnya, ketika sudah menjauh dari Ferdi.


“Aku nggak mau Fandi membayang-bayangimu, jika kita tetap tinggal di sini, aku akan mencarikan rumah yang lebih bagus lagi dari ini.”

__ADS_1


Aluna mulai paham, Kalun bersikap seperti itu karena rasa cemburu yang menyelimuti dirinya saat ini.


“Stop, jangan seperti anak kecil A'!” bantah Aluna yang tidak menyukai sikap Kalun.


“Kenapa memangnya jika ini rumah Fandi? Sekarang aku milikmu, jadi tidak perlu mengkhawatirkanku lagi, ayolah! Bukankah kamu sudah menyusun semuanya di dalam, aku penasaran seperti apa dalamnya,” bujuk Aluna yang membalikkan tubuhnya, dia ingin kembali memasuki rumah yang baru saja Doni beli.


“Sayang, please, jangan!” mohon Kalun yang berusaha menahan tangan Aluna.


“Sayang,” panggil Aluna sambil mengecup pipi Kalun.


“Aku milikmu. Jangan cemburu dengan benda mati, ini hanya rumah yang dibangun Fandi, dia tidak berada di sini sekarang, jadi jangan terlalu khawatir!” jelas Aluna. Dia melepas kasar tangan Kalun yang menahan tangannya, dia berjalan meninggalkan Kalun.


“Aku kepala keluarga di sini, aku yang akan menentukan kita masuk atau tidak, aku bilang tidak tetap tidak! Tolong kamu juga mengerti aku! Aku hanya ingin kamu memikirkanku sekarang! Aku tidak mau setiap apa yang kamu lakukan nanti, kamu akan teringat dengannya, jika kita tetap tinggal di sini,” jelas Kalun menjabarkan kegelisahan hatinya.


Aluna menghentikan langkahnya, dia terdiam, memikirkan ucapan Kalun, dia lalu menatap rumah di depannya, rumah yang sebenarnya sudah dirancang Fandi untuknya, bahkan rumah tersebut sudah di cat dengan warna kesukaanya. Dia membenarkan ucapan Kalun. Ini baru cat rumah, bagaimana jika dia terbayang ketika berada di dalam rumah nanti, hari-harinya akan dipenuhi oleh bayangan Fandi. Dia ingat, jika pernah menceritakan semua pada Fandi bagaimana rumah ilmpiannya. Dia lalu membalikkan tubuhnya, berjalan menghampiri Kalun, tangannya mengenggam erat tangan Kalun yang sudah diraihnya. Dia lalu menganggukan kepalanya, menyetujui permintaan Kalun.


“Aku ikut denganmu,” kata Aluna, lalu melepaskan tangannya, berjalan pelan mendahului Kalun menuju ke arah mobil.


“Terima kasih,” kata Kalun lirih yang masih bisa didengar Aluna. Dia lalu membuka pintu mobilnya. Bayangan malam ini pindah ke rumah baru harus mereka tunda karena ada hal tidak terduga yang telah terjadi.


Saat berada di dalam mobil, keduanya nampak terdiam, tidak ada yang memulai pembicaraan apapun siang itu. Aluna memikirkan perihal rumah yang diam-diam Fandi bangun untuknya, sedangkan Kalun memikirkan perasaan kecewa Aluna yang tidak bisa menempati rumah barunya, hadiah anniversary yang gagal dia berikan.


“Apa kamu menyesal?” tanya Kalun membuat Aluna menoleh ke arahnya.


“Maukah kamu menemaniku berkunjung ke makamnya? Tiba-tiba aku merindukannya,” minta Aluna.


“Atau kamu turunkan saja aku di sini, aku akan naik taksi online.”


Tanpa menjawab permintaan Aluna, Kalun langsung membanting setirnya ke arah berlawanan apartemen. Mata Kalun terlihat memerah menahan amarahnya, cengkraman pada setirnya semakin erat, matanya tetap focus ke arah jalan, tidak menoleh sedikit pun ke arah Aluna. Setelah itu hanya suara kendaraan dari luar yang terdengar. Tidak ada yang ingin berbicara.


Setelah tiba di lokasi TPU Kalun meminta Aluna untuk turun sendirian ke makam Fandi. Dia tidak ingin menganggu momen Aluna yang ingin bernostalgia dengan mantan calon suaminya, dia takut rasa cemburunya semakin menjadi. Jadi, dia lebih memilih menunggu Aluna di dalam mobil.


Aluna segera turun saat Kalun mengatakan jika tidak akan menemaninya, dia lalu berjalan pelan ke arah makam Fandi, sambil menunduk memikirkan kegelisahan hatinya, dia tidak memperhatikan jalanan yang ia lewati, saat tepat berada di makam Fandi, dia mendengar suara tangisan wanita yang tidak asing menurutnya. Wanita tua itu manatap ke arah Aluna setelah menyadari kedatangannya, tatapan tajam dia berikan pada Aluna yang berdiri tepat di depannya. Bersiap untuk memaki Aluna.


“Ngapain kamu di sini, Hah!” bentak wanita yang kini sudah ada di depan Aluna. Terlihat mata wanita tua itu sudah seperti hendak lepas dari tempatnya.


Aluna tidak menjawab, dia hanya menatap tulisan nama yang terlihat jelas di depannya, dia masih menghormati wanita di depannya tersebut, seberapa buruk wanita itu memperlakukannya.


“Kamu pasti sekongkol kan, dengan suamimu itu, dasar wanita pembawa sial! Aku laporkan kalian berdua ke polisi ya! Tunggu saja aku tidak akan puas jika belum melihat kalian berdua menderita,” caci wanita tua di depan Aluna. Aluna mencerna ucapan bekas calon mertuanya tersebut, dia bingung apa yang dia maksud.


“Apa maksud tante? Aku juga kehilangan Fandi selama ini.”

__ADS_1


Mama Fandi tersenyum meledek ke arah Aluna, dia tidak ingin mendengar omong kosong dari bibir Aluna, “Kehilangan kamu bilang? Ceh, mana ada kehilangan? Nyatanya kamu menikahi lelaki selingkuhanmu itu, teganya kamu selingkuh dari anakku, beruntung kamu tidak jadi menantuku, dasar wanita jal*ng! Lihat saja karma apa yang akan menghampirimu nanti!” wanita terus memaki Aluna, berceloteh kesana kemari tidak jelas.


Hati Aluna semakin pedih ketika mendengar cacian tentang dirinya, tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di depan wanita tua tersebut. Aluna mengurungkan niatnya untuk mengucapkan terima kasih pada Fandi, dia memilih mengalah untuk meninggalkan wanita yang masih terus mengomel tidak jelas tentangnya, dia tidak ingin membuat keributan di depan makam Fandi saat ini. Mengingat selama ini Fandi selalu baik padanya.


Aluna berlari kecil ke arah mobil Kalun yang masih terparkir di tepi jalanan TPU. Dia terkejut ketika melihat Kalun dan Ferdi yang tengah baku hantam di samping mobil Kalun, tidak ada siapapun yang berani melerai di sana. Mereka berdua menjadi tontonan pengunjung yang hendak berziarah. Terlihat keduanya sama-sama mendapati luka di sudut bibirnya. Aluna tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan kedua lelaki tersebut.


Aluna yang tadi terdiam, segera berlari mendekat ke arah Kalun ketika Ferdi hendak memukul lagi wajah Kalun. Dia berusaha keras untuk melindungi Kalun dari pukulan Ferdi, hingga pukulan Ferdi mengenai pipinya, membuat Aluna meringis kesakitan karena pukulan Ferdi terlalu keras. Kalun langsung menangkap tubuh Aluna yang hendak terjatuh. Mendekapnya erat, sambil menatap tajam ke arah Ferdi.


“Ma-maaf, ka-kamu nggak papa?” tanya Ferdi yang akan menolong Aluna, setelah dia menyadari jika pukulannya mengenai pipi Aluna.


Kalun yang semakin emosi melepaskan pelukkannya, dia ingin kembali menghajar Ferdi, tapi tangan Aluna lebih dulu mencegahnya, Aluna tidak ingin melihat Kalun terluka lagi, sudah cukup luka di bibir Kalun saat ini.


“Ada apa dengan kalian? Hah!” tanya Aluna sambil menahan rasa ngilu di pipinya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kananya menahan tangan Kalun yang hendak kembali memukul Ferdi.


“A’ sudah jangan lagi!” bentak Aluna yang sudah beralih memeluk tubuh Kalun.


Kalun mengalah, setelah melihat wajah Aluna, dia lalu menggendong tubuh Aluna ke dalam mobil.


“Urusan kita belum selesai, aku akan memberikan perhitungan denganmu!” teriak Ferdi saat melihat Kalun membawa Aluna pergi.


“Sakit? Kita ke rumah sakit ya?” tawar Kalun yang panik, dengan keadaan Aluna.


“Nggak perlu ini hanya memar biasa, bibir kamu juga terluka, lebih baik kita pulang saja ke aparteman kita obati di rumah.” Aluna mengusap darah yang keluar dari bibir Kalun dengan jari jempolnya. Dia tidak tahu persis masalah yang terjadi antara Ferdi dan Kalun, kenapa mereka berdua seperti musuh besar ketika mereka bertemu.


“Maaf, gara-gara aku kamu jadi seperti ini,” sesal Kalun sambil menyibakkan anak rambut Aluna ke belakang telinga.


“Sudahlah lupakan, kita harus saling melindungi. Lagian kenapa Ferdi bisa bersikap kasar seperti itu padamu? Tidak seperti Ferdi yang aku kenal?” tanya Aluna yang membuat Kalun terdiam. Dia teringat ketika Ferdi menghampiri mobilnya, menanyakan perihal Fandi padanya, dia menanyakan apa dia yang sudah menabrak Fandi? Karena semua bukti yang Ferdi dapatkan mengarah pada Kalun.


“Nanti aku ceritakan di rumah,” jawab Kalun yang terlihat kesusahan menelan salivanya.


Aluna mengagguk sambil memeluk erat tubuh Kalun, “Maafkan aku, tidak seharusnya aku memikirkannya lagi, sekarang aku milikmu, ada hatimu yang harus aku jaga. Aku mencintaimu sekarang dan nanti, maafkan aku A'!”


Kalun membalas pelukan Aluna sama eratnya, dia tidak ingin segera melepasnya, “Apa kamu tetap mencintaiku, jika mengetahui semua kebenarannya?”


“Kebenaran apa?” tanya Aluna yang tidak paham dengan pertanyaan yang Kalun lontarkan.


“Nggak ada, nanti aku ceritakan di rumah, aku tidak mau ada satpol PP yang mengetuk jendela mobil kita nanti, jika kita terus berpelukan seperti ini,” ucap Kalun sambil mencubit hidung Aluna, membuat Aluna segera melepaskan pelukkannya.


“Maaf khilaf,” kata Aluna sambil membenarkan posisi duduknya di samping kemudi. Kalun segera melajukan mobilnya ke arah apartemen. Dia mencoba menyusun kata-kata yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Aluna. Tentang semua yang dia sembunyikan selama ini, menyiapkan semua resiko yang akan dia terima nanti.


💞

__ADS_1


Siapakan hati guys...💞😁


Jangan lupa untuk like dan vote. Terima kasih😁🙏


__ADS_2