Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Kamar Mandi


__ADS_3

Pagi harinya Aluna bangun kesiangan, ketika dia membuka matanya Kalun sudah tidak ada di sampingnya. Ia menghembuskan nafasnya, sambil bertanya dalam hati, apakah semalam dia bermimpi? Dia tersenyum tipis ketika menyadari itu hanya mimpi. Bunga tidur yang sangat indah menurutnya karena dalam mimpi itu Kalun memanjakannya. Setelah kesadarannya terkumpul penuh, ia beranjak dari tidurnya, mencuci wajah di kamar mandi luar dan memulai aktivitasnya membuatkan sarapan untuk keluarganya.


Ketika dia berjalan ke dapur, rumah terlihat sepi, tidak ada yang bergerak, biasanya papa sibuk memberi makan burungnya, jangan ditanya di mana mama tirinya. Karena biasanya dia akan keluar jika Aluna sudah selesai memasak sarapan.


Saat Aluna memasak terdengar sapaan dari karyawan papanya yang baru saja tiba. Aluna hanya tersenyum menaggapi ketiga wanita tersebut ketika menyinggung soal Kalun. Dia lalu memikirkan lagi kejadian yang terjadi semalam, “Berarti bukan mimpi dong?” ia bergumam lirih sambil mengaduk sayur sup di depannya.


Tidak lama kemudian terdengar suara Budi yang berjalan masuk ke dalam rumah, diikuti Kalun yang mengikuti langkahnya. Aluna baru sadar jika kejadian semalam bukanlah mimpi. Kalun benar-benar menemuinya, dan masih terlihat jelas perban putih yang melilit lengannya, seperti yang dia lihat semalam.


“Pagi Sayang,” sapanya ketika berada di samping Aluna. Aluna masih mengawasi keberadaan Kalun dengan lekat.


“Kamu dari mana?” tanyanya setelah menyadari kejadian semalam benar adanya.


“Jalan-jalan dengan Papa,” jawabnya singkat, sambil berusaha mencium pipi Aluna.


“Sarapan dulu, makanan sudah siap!” Aluna menghindari ciuman Kalun, dia berjalan meletakkan sayurnya di atas meja makan.


“Baiklah, aku sudah merindukan masakanmu,” jelas Kalun yang sedikit kecewa, ia lalu berjalan membuntuti Aluna.


“Cuci tangan dulu!” peringat Aluna melihat Kalun hendak mengambil nasi di atas meja. Kalun hanya tersenyum tipis, lalu beranjak dari tempat duduknya.


Setelah selesai mencuci tangan, Kalun kembali berjalan ke arah meja makan, dengan iseng kareana tidak tahan dengan godaan leher Aluna yang terekspos jelas, dia meletakan bibirnya dileher Aluna dari belakang, membuat Aluna tersentak karena perlakuan Kalun yang tidak mengerti situasi.


“Jangan diulangi!” cibir Aluna sambil menatap ke arah papanya yang baru saja bergabung. Wajahnya sudah merona menahan rasa malu, setelah mengetahui jika papanya sejak tadi memperhatikan kelakuan Kalun.


“Kamu belum mandi ya?” tanya Kalun setelah duduk di samping Aluna.


“Belum, kenapa memangnya?” jawabnya lirih dengan nada ketus.


“Nggak papa, sih. Masih wangi kok meski ada campuran aroma bawang,” kata Kalun diakhiri suara tawa kecil.


“Ayo makan dulu! Kamu tahu nggak Lun, tadi Papa jalan-jalan dengan suamimu, banyak cewek-cewek melirik kepadanya, malah ada pula mama muda yang tengah hamil mencubiti pipi suamimu katanya lagi nyidam cowok ganteng, ada-ada saja mereka. Kamu harus jaga baik-baik suamimu, rawan pelakor mendekatinya!” adu Budi yang langsung membuat Aluna melotot ke arah Kalun. Nafsu makannya tiba-tiba mereda setelah mendengar ucapan papanya.


“Mas! Aku sepertinya juga nyidam, aku pengen pangkas rambutmu itu sampai plontos!” ucap Aluna dengan sedikit emosi.


“Baiklah, setelah mandi kamu yang akan mengantarku barbershop.”


“Enak saja, itu Papa punya pencukur rambut! Aku yang akan mencukurmu!”


“Baiklah aku akan menurutimu! Aku tidak mau nanti si Utun akan ileran jika tidak dituruti,” jelas Kalun dengan nada ikhlas tangannya sudah mengusap mesra perut Aluna. Memperlihatkan pada mertuanya jika dia bisa menuruti keinginan anaknya.

__ADS_1


Aluna justru semakin mengerutkan dahinya ketika Kalun menyetujuinya, dia membayangkan kepala Kalun yang plontos, kempling seperti Jason Statham ketika dia tidak punya rambut sama sekali. Dia bergedik sendiri hanya membayangkan saja.


Aluna melanjutkan sarapannya, tanpa melihat wajah mama tirinya yang menatap sirik ke arahnya. Sejak anak lelakinya itu pergi tanpa kabar, dia semakin benci dengan Aluna, karena dia tahu apa penyebab anaknya itu pergi dari rumah.


“Bukankah hari ini jadwal kamu periksa! Kamu nggak perlu Papa temani lagi, kan? Sudah ada suamimu di sini!” jelas Budi yang teringat jadwal periksa kandungan Aluna.


“Benarkah? Kebetulan sekali, cepat mandilah aku sudah tidak sabar untuk melihat calon bayi kita!”


“Hei tunggu dulu! Biarkan Luna menyelesaikan makannya!” peringat Budi.


Kalun menyengir ketika dia melihat Aluna tengah memakan sarapannya dengan hikmat.


“Aku tiba-tiba kenyang!” kata Kalun sambil meletakkan sendok di tangannya.


“Apa kamu bilang kenyang? Siapa yang menyuruhmu menyisakan makanan di piring? Habiskan hingga tidak ada satu butir nasi tersisa di sana!”


Aluna hanya mengulum senyumnya saat Kalun mendapat teguran dari papanya. Itulah aturan yang diterapkan di rumahnya, tidak boleh menyisakan satu butir nasi di piring. Konyol sih? Tapi itulah yang diajarkan Budi dari kecil, untuk menghargai apapun yang sudah kita dapatkan.


Setelah selesai Aluna beranjak dari duduk, dia berjalan menuju kamar mengambil pakaian ganti dan bersiap ke rumah sakit pagi ini.


Saat dia menutup pintu kamar mandi Kalun berusaha menahan pintu kamar mandinya supaya tidak tertutup.


“Aku rindu menciummu!” kata Kalun sambil menyandarkan tubuh Aluna ke daun pintu. Tangannya sudah berada di samping kepala Aluna, supaya wanitanya itu tidak bisa lari darinya.


“Apa-apaam kamu! Cepat lepaskan bajumu! Katanya mau mandi!” perintah Aluna saat melihat Kalun justru menggodanya.


“Apa kamu juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya?”


“Jangan gila! Aku masih bisa menahannya, bahkan sampai Allah mengambil nyawaku!”


Kalun justru terkekeh ketika mendengar jawaban Aluna. Dia belum ingin membebaskan Aluna.


“Tapi aku yang tidak bisa, Sayang.”


“Aku akan menciumu, ambillah nafas sedalam-dalamnya, karena aku ingin ciuman lama dan lembut!” perintah Kalun yang bersiap mencium bibir Aluna.


“Jangan lakukan!” sahut Aluna yang terlihat gugup. “Cepatlah mandi!”


Tapi yang ada Kalun benar melakukan ciuman itu, dia mulai menyentuh ujung bibir Aluna dengan lembut, matanya semakin rapat terpejam merasakan balasan demi balasan yang Aluna berikan. Tangan Kalun menekan kepala Aluna supaya lebih mendekat ke arahnya, merasakan ciuman itu lebih dalam lagi. Kalun mulai menelengkan kepalanya, memberi jarak hidungnya dan hidung Aluna, supaya istrinya sedikit bisa membuang nafas lewat hidung dan menarik nafasnya meski hanya sedikit. Sangat lama ciuman itu berlangsung, hingga tanpa Aluna sadari, tangan Kalun berhasil melucuti pakaian yang dia kenakan. Keduanya sama- sama terlepas dari kain yang tadi menutupi tubuhnya, ruangan kamar mandi yang tidak terlalu besar itu kini semakin terlihat sempit oleh kehadiran dua manusia di dalamnya.

__ADS_1


“Lunaaaa!” suara ketukkan pintu dan teriakan terdengar dari arah pintu luar.


“Papa, Papa mengetuk pintu, kita harus mengakhiri ini!” gumam Aluna tidak jelas karena bibirnya masih Kalun mainkan. Kalun melepaskan ciumannya, mengawasi bibir Aluna yang membengkak karena ulahnya.


“Biarkan saja, berpura puralah, menyiram tubuhmu agar dia tidak curiga, jika aku berada di sini!” perintah Kalun sambil mengambil gayung untuk menyiram tubuh mereka berdua. Tubuh mereka kini sudah lembab, karena segayung air yang Kalun siramkan.


“Nyalakan airnya, biar Papa tidak terlalu mendengar bisikkan kita!” Aluna menurut, dia memutar kran air, hingga saat ini terdengar gemericik air memenuhi bak mandi. Keduanya pun tertawa tanpa suara.


“Kita sudah gila!” cibir Aluna, sambil menuangkan sabun cair ke tangannya.


“Inilah yang aku tidak suka, jika kita tinggal dengan mertua, pasti pergerakkan kita tidak bebas, tidak bisa bermain di sofa, di dapur, di kamar mandi, dan pastinya hanya bisa saat malam hari saja. Coba kita tinggal di rumah sendiri, setiap kita menginginkannya kita bisa melakukan dan pasti di manapun yang kita inginkan.” Kalun memainkan busa sabun ke tubuh Aluna.


“hei apa yang kamu lakukan! Jangan di sana!” peringat Aluna saat tangan Kalun mulai mengoleskan sabun di area pangkal pahanya.


“Aku tahu kamu kesusahan untuk berjongkok, jadi aku hanya membantumu membersihkannya,” jawab Kalun yang sudah berjongkok di depan perut Aluna.


“Lunnaa! Buruan Papa sudah tidak tahan!” terdengar teriakan lagi dari arah luar pintu, ketika Aluna hendak menjawab ucapan Kalun.


Aluna segera mengguyur tubuhnya, membersihkan sabun yang masih menempel di tubuhnya. Hingga air itu turut mengguyur Kalun yang berada lebih rendah darinya.


“Gangguin saja Papa mertua! Nggak tahu apa? Jika kita lagi melepas rindu!” gerutu Kalun sambil menarik kembali baju yang tadi dia letakkan di balik pintu.


“Cepat pakai bajumu! Atau papa akan mengusirmu dari sini, karena membuatnya menunggu terlalu lama!” perintah Aluna.


“Siapa duluan yang keluar?” tanya Kalun saat mereka berdua sudah mengenakan pakaiannya. Mandi bebek itu akhirnya berakhir juga ketika Aluna mendengar teriakan ke tiga kali dari papanya. Dia membuka pintu lalu segera memberikan senyum cerah ke arah Budi. Dia berjalan keluar, berbeda dengan Budi yang tidak tahan, ia langsung memasuki kamar mandi tidak melihat Kalun yang berdiri di balik pintu hendak keluar.


Hingga Budi menyadari keberadaan Kalun, dia langsung menatap tajam ke arah menantunya.


“Berani-beraninya kamu ya, main di kamar mandi! Memang tidak ada kamar!” maki Budi yang tiba-tiba rasa mulasnya hilang. Aluna hanya tertawa dalam hati ketika suaminya dimaki papanya.


“Dasar menantu nggak punya malu! Dosa tahu nggak main di kamar mandi! Kamar mandi itu tempat kotor! Nggak bisakah bermain di kamar!” ulang Budi semakin kesal.


“Ya setelah ini aku akan bermain di kamar, dan tolong Papa mertua jangan menganggunya! Aku akan mengunci pintu kamar rapat-rapat, tapi kalau bisa Papa putar musik yang keras ya, supaya tidak mendengarkan suara kami, hahaha,” jawab Kalun sambil berjalan mudur menjauh dari kamar mandi, dia memberikan senyuman lebarnya untuk mertuanya, sebagai rayuan agar mertuanya itu mengerti kondisinya yang sudah berpuasa lama.


Budi masih kesal umpat-umpatan hewan keluar dari mulutnya, tapi bibirnya terlihat ikut tertawa karena melihat Kalun yang begitu bahagia.


💞


Jangan lupa like dan vote.

__ADS_1


FOLLOW IG KU YA rehuella1🙏


__ADS_2