
Dukung Mistake dong biar naik rangking vote dan jangan lupa untuk like ya. Terima kasih.
💞
Kalun berjalan menghampiri Aluna yang tengah berada di kamar. Saat ia membuka pintu, Kalun melihat Aluna yang belum mengganti bajunya. Dia melihat Aluna justru duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel miliknya.
"Belum siap?" tanya Kalun sambil melingkarkan tangannya ke leher kecil Aluna.
"Tadi ada telepon dari mama mertua, jadi aku mengangkatnya. Apa kamu keberatan jika aku membuka ponselmu?"
Kalun justru meletakkan kepalanya di pundak Aluna. "Buka saja, tidak apa-apa di ponselku."
"Tadi mama mencarimu, dan menanyakan kondisiku," ucap Aluna menyampaikan pesan dari mertuanya.
"Ngapain mama mencariku?" tanya Kalun sambil menelengkan wajahnya ke arah Aluna.
"Nggak tahu juga." Aluna membuka aplikasi di layar ponsel milik Kalun.
"Ayolah, jangan membuka itu! Carilah pesan-pesan tersembunyi saja, jangan membuka galeri fotoku!" peringat Kalun yang khawatir Aluna akan mengetahui isi galerinya.
"Kenapa? Apa ada foto wanita lain di sini, saat kita menjalani hubungan jarak jauh? Atau kamu masih menyimpan foto Kayra?" pertanyaan Aluna membuat Kalun semakin gencar ingin mengecupi lehernya karena merasa gemas dengan aroma tubuhnya.
"Nggak ada Sayang, cuma ada video pasangan suami istri yang tengah melepas bajunya!" kata Kalun sambil menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Aluna. Sedikit ketakutan dengan Aluna jika dia akan memakinya, karena paham tentang video apa yang ia maksud tadi.
"Dasar! Semua lelaki hampir semuanya sama! Selalu menyimpan video seperti itu!"
"Aku beda! Aku lelaki paling spesial yang diciptakan Tuhan untukmu."
"Heleh. Mulai deh narsisnya, amit-amit jabang baby!" cerca Aluna sambil mengusap perutnya. Dia lalu fokus kembali ke arah layar ponsel milik Kalun.
"Ini apa!" teriak Aluna sambil mengarahkan layar ponselnya ke arah Kalun. Kalun mengangkat kepalanya, menatap apa yang diperlihatkan Aluna. Dia hanya tersenyum tipis saat menyadari foto tersebut.
"Mereka temanku ketika berada di hotel mewah itu, ini namanya Satria, Hasan, Joni, Mikha mereka yang menemaniku mengobrol setiap hari di sana, menghiburku dari perasaan rinduku padamu," jelas Kalun sambil fokus ke arah layar ponselnya, tapi bibirnya mulai menjelajah leher Aluna.
Aluna membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Kalun. Menangkis dengan cepat ketika bibir Kalun hendak berpindah ke area sensitifnya. Aluna mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi Kalun.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku tidak menemanimu saat kamu berada di sana. Itu pasti sulit untukmu," ucap Aluna penuh penyesalan.
"Ya, aku memaafkanmu. Aku pantas menerima itu semua. Sekarang aku sudah di sini denganmu. Aku hanya ingin kita memperbaiki hubungan kita. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama. Saling melengkapi, saling setia, saling percaya." Kalun membawa tubuh Aluna. Ia memeluk wanita itu dengan erat.
"Apa jenis kelamin anak kita, apa dokter sudah mengatakannya?" tanya Kalun yang masih betah memeluk Aluna.
"Nanti kamu akan mengetahuinya saat pemeriksaan. Tapi pesanku kamu jangan cemburu ya? Soalnya dokternya lebih tampan darimu." Aluna menjauhkan tubuhnya, demi melihat ekpresi Kalun.
"Dokternya laki-laki. Kenapa tidak memilih dokter perempuan saja?!" kata Kalun yang sudah meninggikan suaranya.
"Sepertinya calon anak kita yang terus memintaku untuk di antar ke sana," ujar Aluna sambil mengusap perutnya.
"Cepatlah mengganti bajumu! Aku sudah tidak sabar untuk melihat calon anak kita!" perintah Kalun yang belum melepas pelukannya.
"Bagaimana aku bisa mengganti baju jika kamu tidak mau melepaskan pelukanku."
Kalun lalu melepaskan pelukan Aluna, membiarkan istrinya itu untuk segera mengganti bajunya.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka berdua keluar dari kamar. Saat dia berjalan dari arah ruang tamu terdengar suara laki-laki yang tengah berbincang-bincang membicarakan mereka berdua.
"Kal, mereka yang akan menyaksikan jika kamu merujuk Aluna. Kalian sudah tidur bersama, jadi Papa simpulkan jika kamu dan Luna akan rujuk kembali," terang Budi sambil menatap wajah Kalun.
Kalun diam menundukkan kepalanya, tangan kananya tidak hentinya menggenggam tangan Aluna dengan erat. Dia menganggukkan kepalanya setelah itu, menyetujui permintaan mertuanya.
"Sebenarnya kita belum melakukan apa-ap-."
"Belum apa-apa bagaimana! Kalian sudah tidur berdua semalam, dan barusan tadi main di kamar mandi!" teriak Budi yang memotong perkataan Kalun.
Nyali Kalun menciut ketika mendengar omelan Budi, tangan kirinya terus mengusap dadanya, demi menenangkan rasa berdebarnya. Dia menatap wajah Aluna yang terlihat menundukkan kepalanya, karena malu dengan saudara jauhnya, yang tengah mendengar ucapan papanya.
"Sayang," panggil Kalun lirih. Membuat Aluna perlahan mengangkat kepalanya menghadap ke arah Kalun. Dia mengerutkan dahinya karena Kalun tidak segera melanjutkan ucapannya.
"Yaa Zawjatii ... mulai detik ini juga aku merujukmu kembali menjadi istriku," kata Kalun dengan lembut, sambil mengusap lembut pipi Aluna yang terlihat berisi.
"Kamu nggak bisa menolaknya, karena semua keputusan ada di tanganku, jadi mulai saat ini kamu halal lagi bagiku," terang Kalun lalu diakhiri dengan kecupan di kening Aluna.
__ADS_1
"Papa mertua," panggil Kalun lirih, tanpa menoleh ke arah Budi, dia terus menatap mata Aluna yang hendak meneteskan air matanya.
"Hmmm," sahut Budi yang sudah lebih dulu meneteskan air matanya.
"Pegang ucapanku. Mulai saat ini, aku akan menggantikanmu menjadi lelaki yang selama ini melindunginya, serahkan semua tugasmu padaku, karena Allah menciptakan aku untuknya, dia sudah dipertemukan denganku. Dan maaf aku harus mengambilnya darimu."
"Mungkin dulu tidak ada permintaan khususku padamu, tapi hari ini aku! Kalun Ananda Ramones, memohon padamu, supaya Papa mertua ikhlas menyerahkan Luna padaku," Lanjutnya yang sudah menghadap ke arah Budi.
Semua yang hadir di sana terdiam cukup lama. Tepukan tangan Budi di pundak Kalun membuat Kalun merasa lega, dia membuang nafasnya, melepaskan beban yang lebih dari 6 bulan lalu ia rasakan.
"Ya, aku serahkan dia padamu, didik Luna jadi istri yang baik. Maaf jika selama aku mendidiknya mungkin banyak kesalahan, dan ...." Budi tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena merasa sesak di dadanya. Dia baru paham jika hari ini dia baru benar-benar akan melepas putrinya. Tidak pernah dia merasakan seperti ini, anaknya diminta di depannya secara langsung. Saat Fandi melamar Aluna dia hanya berbicara melalui telepon, sedangkan saat Kalun menikahinya tidak ada permintaan khusus. Pagi ini dia terharu dengan ucapan Kalun, menyentuh sisi hatinya yang paling dalam, hingga membuat air matanya turun.
"Papa hanya bisa mendoakan kebahagian kalian," lanjut Budi mengakhiri ucapannya. Dia tidak bisa melanjutkan nasihatnya yang tadi terputus.
"Terima kasih." Kalun memeluk mertuanya erat. Sedangkan Aluna terus mengusap perutnya yang semakin geli karena tendangan dari calon anaknya.
Dia lalu menarik kemeja merah Kalun yang sejak kemarin tidak diganti. Kalun lalu menghadap ke arah Aluna.
"Kenapa?" tanya Kalun sambil menaikkan satu alisnya ke arah Aluna.
"Minta peluk juga!" kata Aluna sambil merentangkan tangannya ingin memeluk pinggang Kalun. Kalun memberikan pelukkan di tubuh Aluna dengan erat.
"Aku akan menjaga kalian," kata Kalun mengusap perut Aluna dengan tangan kirinya. Bibirnya tidak berhenti mengecupi rambut Aluna yang sudah tertata rapi.
Aluna semakin mengeratkan pelukkanya, tidak ingin melepaskan, tidak mempedulikan tiga manusia yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.
"Masih ingin memelukku? Bagaimana jika pindah ke kamar saja?" bisik Kalun di atas rambut Aluna.
"Nanti malam, kita akan menuntaskannya."
Terdengar suara tawa keras di ruang tamu tersebut, menyadarkan Aluna jika mereka berdua tengah berada di ruang tamu. Kalun pun ikut menertawakan istrinya, dan Aluna yang malu terus menyembunyikan wajahnya lebih dalam lagi karena rasa malu yang sudah tidak bisa ditolong.
💞
Lagi gak nich? Sisa beberapa part lagi loh! Jadi jangan lupa vote ya🤗🤗🤗
__ADS_1