
Sudah seminggu sejak Aluna menerima surat dari Jakarta dia jadi sering melamun, tidak memikirkan kondisinya yang tengah berbadan dua. Hidupnya bagaikan tanpa rasa kali ini, dia terus termenung memikirkan masa depan anaknya.
Seiisi rumah tidak ada yang tahu isi amplop yang Doni bawakan malam itu, Aluna masih pintar menyembunyikan masalahnya dari keluarga. Hanya Lita saja yang menjadi tempatnya mengadunya saat ini.
Tapi malam ini. Malam yang lebih dingin dari malam-malam biasanya karena hujan tidak kunjung reda sejak tadi siang. Dia melihat wajah Budi tidak seramah biasanya ketika dia menjemputnya di tempat Lita. Aluna bingung bingung sendiri dengan kediamanan papanya itu, dia ingin bertanya apa yang terjadi dengan Budi, tapi sorot tatapan yang tajam itu menghentikan niatnya. Dia memilih diam, memendam keinginan yang sebenarnya ingin sekali menikmati bakso rusuk langgannanya.
Saat dia masuk dalam rumah, panggilan papanya menghentikannya. Budi meminta Aluna untuk duduk sejenak di ruang keluarga. Ada yang tidak beres di sini, membuat Aluna menatap ke arah mama tirinya yang juga menatapnya tajam.
Budi melemparkan sesuatu di atas meja, amplop coklat yang tadi masih berada di meja kamar Aluna, kini sudah berpindah di depannya. Papanya tahu isi surat itu. Surat yang ia lupa untuk menaruhnya kembali ke dalam lemari, akhirnya Budi menemukannya.
“Jelaskan padaku!” perintah Budi dengan nada marah, matanya sudah memerah menahan emosi yang dia pendam seharian tadi.
“Pa.” Aluna berusaha menenangkan Budi sambil menarik tangannya untuk duduk. Tapi tangan Budi menyangkalnya, dia ingin Aluna lebih dulu menjelaskan isi surat itu lebih dulu.
“Jelaskan!” ulang Budi.
“Ya, baiklah.” Aluna diam sejenak mempersiapkan hatinya.
“Benar Aa’ Kalun sudah menceraikan Luna.” Aluna mengucapkan dengan suara lirih, seolah tidak ingin jika bayi di dalam kandungannya turut mendengarkan kelakuan ayahnya.
“Jadi selama ini kamu menghindari masalah dengan suamimu? Kenapa kamu tidak cerita dengan Papa!” Budi menjatuhkan kasar tubuhnya di kursi goyang yang tidak jauh dari Aluna. Berbeda dengan wajah mama tirinya yang sudah siap memaki Aluna.
“Luna hanya ingin menenangkan diri Pa. Luna tidak mau jika Luna cerita ke Papa. Papa akan membenci suami Luna, hanya itu. Tidak ada maksud lain, kenapa Luna menyembunyikannya!”
“Kenapa Papa harus membenci suamimu? Apa dia berlaku buruk padamu?!”
Aluna tidak menjawab pertanyaan papanya, dia mencoba mengatur nafas, supaya lebih tenang, tidak ikut terbawa emosi ketika mengingat kelakuan Kalun.
“Sudah Pa. Jangan dipikirkan lagi, Luna akan menyerahkan ke pengadilan Agama setelah bayi ini lahir.” Aluna lalu beranjak dari duduknya, mengambil amplop coklat yang ada di meja.
“Bagaimana bisa istrinya hamil dia justru melayangkan surat perceraian! Lelaki pengecut! Coba suruh dia menghadap Papa aku bikin sate itu dagingnya!” maki Budi yang tidak terima perlakuan Kalun.
__ADS_1
“Pa. Aa’ tidak tahu kalau Luna hamil, kami tidak berhubungan selama ini, Pa.” Aluna berjalan mulai meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya.
“Urus segera surat itu setelah anakmu lahir, Papa masih bisa membiayai hidup kalian jika dia tidak mau bertanggung jawab!” teriak Budi saat melihat kepergian Aluna.
Aluna menutup pintunya kasar, dia berdiri di balik pintu kamarnya sambil mengusap perutnya yang belum terlihat membuncit.
“Bunda yakin utun kuat di dalam sana!” ucap Aluna sambil memejamkan mata ketika merasakan nyeri perut bagian bawah. Dia lalu berjalan ke arah tempat tidur, merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, dia tidak ingin terlalu hanyut dalam pemikirannya, mengingat sudah beberapa kali dokter mengatakan jika dia tidak boleh terlalu stress. Aluna terlelap di sana, setelah lelah mengusap perutnya sendiri.
***
Pagi hari Aluna dibangunkan oleh suara dering ponsel di dalam tasnya. Nomor baru yang dia tahu bukan nomor yang dia kenal. Dia buru-buru mengangkatnya, siapa tahu itu telepon dari Jakarta.
“Hallo,” sapanya setelah beberapa detik hening. Tapi tidak ada sahutan dari seberang telepon.
“Hallo,” ulangnya lagi.
“Bicara atau aku matikan panggilannya, gangguin orang tidur tau nggak!” makinya dengan suara khas bangun tidur.
“Bisa kita bertemu?”
“Maaf aku tidak punya waktu untuk bertemu denganmu,” jawab Aluna.
“Lun maafkan aku, aku tidak bisa membalaskan dendammu untuk menghukumnya lebih lama lagi. dia hanya bisa dipen.”
Aluna langsung melemparkan ponselnya ke arah kasur. Mendengus kesal karena tidak bisa mendengar suara lagi diujung panggilan karena baterai ponselnya mati, karena semalam ia lupa untuk menge-charge-nya. Dia lalu melanjutkan tidurnya yang terganggu.
Cahaya matahari di luar sana masih terlihat temaram, karena pagi ini awan mendung masih menyelimutinya. Aluna terperanjat ketika ingat jika hari ini harus bertemu dengan dokter kandungan yang biasa memeriksanya. Beruntung jadwal periksanya barengan dengan Lita jadi dia bisa menebeng dengan sahabatnya.
Pukul 10 pagi Aluna sudah bersiap untuk pergi, dia tengah menunggu sahabatnya yang akan datang menjemput. Usai berpamitan dengan papanya, tidak lama kemudian mobil Lita terlihat masuk ke pekarangan rumah Budi. Aluna melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil. Saat perjalanan dia terus menatap Bagas dan Lita secara bergantian, ada timbul rasa iri di sana, karena melihat perhatian bagas yang terlalu lebay. Apalagi setelah berada di ruang tunggu pemeriksaan umah sakit. Hanya dia yang tidak ditemani lelaki di sampingnya. Dia hanya tersenyum miris, meratapi hidupnya yang ditinggal suami ketika tengah hamil.
Giliran nama Aluna dipanggil, dia segera masuk ke dalam ruangan. Matanya terus menatap dokter lelaki yang berada di balik meja praktik. Sudah tiga kali ini, dia bertemu dengan dokter di depannya. Tapi rasanya masih sangat canggung.
__ADS_1
“Silakan duduk Nona Aluna. Suami Anda belum pulang juga ya?” tanya dokter yang ada di depan Aluna.
Aluna menggelengkan kepalanya, menjawab dengan malu-malu, dia tidak tahu apa jadinya nanti jika saat melahirkan Kalun tidak berada di sampingnya. Pasti dokter akan mengira dia hamil tanpa suami.
“Usahakan usia 8 bulan ke atas suami Nona Aluna sudah pulang ya! Itu jika Nona Aluna berencana melahirkan secara normal,” terang dokter bernama terang Hanum itu.
Aluna membuang nafasnya kasar, setelah itu segera menganggukan kepalanya ke arah Hanum.
“Mau USG sekalian atau minta vitamin saja?” tawar Hanum.
“Aman kan Dok?”
“Maksudnya?” tanya Hanum dengan sedikit suara tawa kecilnya.
Aluna justru terlihat salah tingkah dengan pertanyaan Hanum, dia belum siap jika perutnya dilihat lelaki lain selain suaminya. Bulan- bulan kemarin dia bisa menolak karena pasti anaknya masih kacil, jadi percuma juga dia jika melakukan USG. Tapi kali ini dia juga perlu melihat kondisi anaknya langsung.
“Tenang saja Nona, saya sudah punya tunangan kok, jadi jangan khawatir!” jelasnya ketika melihat wajah cemas Aluna.
“Bisa minta tolong panggilkan wanita yang bisa menemani saya!”
Hanum segera beranjak dari duduknya, memanggil asisten yang biasa membantunya memeriksa ibu hamil. Memerintahkan padanya untuk membantu Aluna untuk melakukan pemeriksaan.
Dokter mulai memeriksa Aluna. Hanum terkejut ketika melihat indung telur Aluna yang tinggal satu. Dokter itu justru mengintrogasi Aluna, menanyakan apa yang terjadi Aluna? Kenapa bisa kehilangan satu indung telurnya? Dan Aluna menceritakan secara garis besarnya saja. Tanpa ia sadari mereka mengobrol hingga Hanum selesai melakukan pemeriksaan.
“Alhamdulillah, Allah mengantinya secepat ini, pasti suami Nona Aluna sangat senang,” ucap Hanum ketika Aluna selesai bercerita. Berbeda dengan Aluna yang hanya tersenyum kecut ke arah Hanum.
“Usianya sudah 14 minggu 2 hari, semoga bulan depan kita bisa lihat jenis kelamin bayi Nona Aluna,” terang Hanum sambil menuliskan resep vitamin untuk Aluna.
Aluna mendengarkan pesan-pesan Hanum yang memintanya untuk menghubunginya jika ada keadaan darurat. Hanum menyematkan nomor ponselnya di telapak tangan Aluna, supaya Aluna segera memindahkannya ke ponsel.
Setelah itu Aluna segera mengambil resep obat yang diberikan Hanum karena Lita sudah menunggunya di ruang tunggu apotek.
__ADS_1
💞💞