
Kalun menatap ke arah bangunan rumah orang tuanya, ketika sudah berada di luar pagar kayu bewarna coklat. Dia menarik resliting jaketnya sebelum berjalan meninggalkan rumah orang tuanya. Dia berjalan menyusuri jalanan yang terlihat sepi itu.
Ponselnya berdering, membuatnya menghentikan langkahnya yang terasa berat. Dia menatap nama yang tertera di layar telepon.
‘Mario’
“Aku tunggu di depan jalan kompleks,” jawabnya setelah mendengar suara dari ujung telepon.
Kalun kembali melanjutkan langkahnya. Sesekali mengusap hidungnya, yang serasa tidak nyaman. Dia tidak bisa terkena udara dingin terlalu lama karena dia menderita rhinitis vasomoto.
Saat Kalun tiba di depan jalan kompleks, tidak lama kemudian Mario tiba dengan mobil sportnya. Kalun membuka pintu mobil rekannya itu dengan cepat. Dia sudah kedinginan karena terlalu lama berada di luar. Dia mematikan pendingin udara yang ada di mobil Mario supaya tubuhnya lebih hangat.
Kalun duduk di kursi samping kemudi, dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, matanya terpejam, tidak ingin menoleh ke arah Mario yang menampilkan wajah penasaran, dengan apa yang terjadi padanya.
“Antar aku ke apartemen sebentar, ada barang penting yang harus aku ambil!” perintahnya yang belum ingin membuka matanya.
“Ada apa denganmu?” pertanyaan itu akhirnya dilontarkan Mario karena melihat kondisi Kalun yang kacau.
Kalun menarik nafasnya, lalu perlahan membuka matanya. Menatap rekannya yang sesekali menoleh ke arahnya.
“Aku butuh uang! Apa kamu bisa membantuku?” kata Kalun serius, sambil menatap Mario lekat.
“Hahaha ...” suara tawa Mario memenuhi mobil. Dia menganggap jika Kalun tengah bercanda dengannya. Karena terlalu mustahil jika Kalun memintanya uang.
Mobil itu berhenti saat lampu merah menghalanginya. Mario kini fokus menatap ke arah Kalun.
“Ceritakan dulu masalahmu! Supaya aku bisa membantumu!” pinta Mario.
__ADS_1
Mau tidak mau akhirnya Kalun menceritakan pada Mario. Mulai dari pernikahan tersembunyi, hingga dia bisa dicoret dari keluarga Ramones. Umpatan demi umpatan keluar dari mulut Mario. Membuat Kalun yang mendengarnya semakin bertambah stress untuk memikirkannya.
Mobil sport itu tiba di apartemen Kalun. Dia segera masuk untuk menemui Aluna. Dia akan menyembunyikan Aluna dari keluarganya. Karena dia satu-satunya alasan dia bisa bertahan saat ini.
Kalun menekan kode password pintu apartemen. Dia segera berlari ke kamar Aluna. Setelah sampai di kamar bernuansa shabby ia mengedarkan pandangannya ke arah kasur yang Aluna tempati. Kakinya terasa lemas, ketika tidak mendapati Aluna di sana.
Kalun menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya jika papanya setega itu padanya. Dia lalu berlari menuju kamar utama, siapa tahu Aluna terbangun dan mencarinya. Namun, yang ada dia tidak mendapati istrinya, Aluna benar-benar meninggalkannya.
Kalun meluapkan emosinya, dia membanting barang yang ada di kamar utama yang berhasil dia raih. Bunyi pecahan kaca terdengar begitu keras, hingga pecahan kecil berhasil mengenai kakinya. Kalun emosi saat dia kehilangan Aluna, istrinya tidak berada di sampingnya saat ini.
Kalun berjalan mengambil bingkai foto yang ada di samping ranjang tempatnya tidur. Kalun menyimpan foto yang dicetak Aluna beberapa minggu yang lalu ke dalam sakunya, dia meninggalkan bingkai foto itu di sana. Dia terduduk, sambil menarik pecahan kaca yang tertancap di kakinya. Luka fisiknya tidak sesakit luka hatinya saat ini, dia menangis di sana, sambil menyebut lirih nama istrinya.
Setelah lebih tenang, Kalun berjalan ke arah ruang kerjanya di lantai satu. Dia ingin mengambil surat cerai yang dari dulu dia simpan. Pikirannya sudah kacau, dia berpikir mungkin bercerai lebih baik, dari pada Aluna akan hidup susah dengannya.
Namun, setelah dia mencari di lemari yang dia pakai, surat itu sudah tidak ada di sana, dia semakin pusing, mengingatblagi di mana di meletakkan surat cerai itu.
Kalun yang penasaran, segera membuka amplop tersebut. Dia membaca tinta hitam yang ada di kertas putih itu. Dia tidak percaya jika Aluna ternyata sudah menandatangi surat perceraian di atas namanya yang tercetak jelas di sana. Kalun terus menatap coretan bolpoint tersebut. Membayangkan jika hubungannya dengan Aluna kini sudah berakhir. Dia benar-benar akan kehilangan orang yang dicintainya.
Kalun mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya. Dia meneteskan air matanya di sana. Kini semangatnya untuk hidup terasa hilang. Aluna sudah tidak ingin tinggal dengannya lagi, dia sudah jijik dengan dirinya miskin ini.
Kalun menyobek surat itu, hingga menjadi remahan yang sudah tidak bisa dirangkai lagi. Dia tidak bisa bercerai dengan Aluna. Dia teringat jika hanya dia yang bisa menceraikan Aluna. Aluna tidak berhak menceraikannya, kecuali dia yang meminta.
Suara ponsel yang berdering, kembali menganggu pikirannya saat ini. Dia lupa jika Mario tengah menunggunya di lobby. Kalun yang sadar berjalan menuju kamar mandi, dia mencuci wajahnya supaya lebih segar dan terlihat kuat. Lalu dia segera kembali menemui Mario, dia tidak ingin tinggal di sana, karena pasti papanya akan mengusirnya.
“Aku butuh kerjaan Mar!”
“Yakin?” selidik Mario.
__ADS_1
“Ya, aku butuh uang untuk membuktikan jika Kayra tidak mengandung anakku.”
Terdengar suara tawa kecil dari bibir Mario.
“Kamu seyakin itu? Kamu pernah melakukannya? Dan kamu pasti juga tahukan bagaimana proses terbentuknya embrio! Kamu saja menikmatinya!”
“Br*ngsek kamu! Mana mungkin aku menghamilinya, meskipun aku mabuk, pasti juga aku melakukannya hal yang sama, saat aku bersama istriku,” jelas Kalun sambil memukul kepala Mario.
“Kalau Kayra hamil, bisa saja istrimu juga hamil, enak ya! Langsung punya anak dua!” goda Mario yang semakin membuat Kalun pusing.
“Kalau bisa, pinjamkan aku uangmu, aku akan melakukan tes DNA setelah janin Kayra berusia 12 minggu.”
“Bagaimana jika dia anakmu?”
Kalun menatap lampu jalanan, sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan Mario. Dia terus mengatur nafasnya supaya bisa meredam emosinya.
“Aku akan menikahinya, setelah anak itu lahir.”
“Bagaimana istrimu? Siapa namanya, lupa aku?” tanya Mario penasaran.
“Entahlah, aku juga bingung memikirkan itu, dia sudah membuatku gila. Aku takut dia akan kesusahan saat hidup bersamaku, mungkin dengan begini dia bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku,” jelas Kalun tanpa pikir panjang. Dia berucap sambil memejamkan matanya.
Mobil itu sudah berhenti di rumah yang tidak begitu besar, tapi terlihat asri jika dilihat dari luar. Kalun langsung merebahkan tubuhnya di kamar yang sudah disiapkan Mario. Dia mulai memaksa supaya matanya bisa terpejam, karena pikirannya kini dipenuhi oleh Aluna, telinganya terus berdengung suara Alluna yang memanggil-manggil namanya.
👣
Tinggalkan like, vote dan komentar ya🙏👍
__ADS_1