
Aluna tersenyum menatap lelaki di depannya. Dia meyakinkan lelaki yang baru saja bertemu dengannya itu, bahwa dia sudah baik-baik saja. Ia
berjalan masuk ke kedai kopi, untuk segera memesan kopi yang diinginkan.
Setelah selesai memesan kopi, Aluna mencari tempat duduk yang tidak terlihat banyak orang, ia lalu menarik kursinya, yang tepat berada di dekat jendela. Matanya menatap jalanan yang masih terlihat sepi, karena memang ini masih jam kerja.
Tapi aku hamil anakmu!
Apa kamu tega membiarkan anakku lahir tanpa seorang ayah!
Wanita penggoda!
Aluna memejamkan matanya, sambil berusaha menenangkan jantungnya yang terasa berat saat mengingat ucapan Kayra. Ia menelungkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya, membawa tangannya untuk mengusap rambutnya ke belakang, demi meredakan kepalanya yang terasa berat.
Sesaat kemudian, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan Aluna. Aluna langsung meminum pesananya yang ada di cup tertutup itu. Dia memejamkan matanya sambil memanggil pelayan itu lagi untuk mendekat ke arahnya.
“Apa Mas tadi tidak mendengar apa yang saya pesan?” tanya Aluna yang sudah berdiri dari tempat duduknya. Jantungnya kembali berdebar kencang, matanya kini sudah melotot tajam ke arah pelayan yang ada di depannya.
Pelayan laki-laki itu hanya diam, sambil menatap wajah Aluna yang dirundung emosi. dia sedikit ketakutan dengan pertanyaan yang dilontarkan Aluna kepadanya. Pelayan laki-laki itu menunduk tidak berani menatap wajah Aluna
“Maaf Nona seseorang telah mengganti pesanan Anda,” jelas pelayan lelaki dengan rasa takut. Aluna memejamkan matanya, sambil berusaha
meredam emosinya yang tiba-tiba meledak itu.
Lelaki yang tadi menolong Aluna berjalan mendekat ke arah Aluna, dengan sedikit senyum yang menyungging di bibirnya. Ia lalu meletakkan kopinya di meja Aluna, dan meminta pelayan lelaki itu untuk meninggalkannya.
“Maaf Nona, sepertinya caffein tidak baik untuk tubuh Anda saat ini,” jelas laki-laki itu sambil menarik kursi yang ada di depan Aluna.
“Jika tidak keberatan, aku akan menemani Anda untuk menghabiskan susu yang saya pesankan,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah cup yang ada di
tangan Aluna. Membuat emosi Aluna sedikit redam.
Aluna kembali mendudukkan tubuhnya di kursi. Dia tidak berani menatap lelaki di depannya yang terus menatapnya lekat, dia hanya menatap ke
arah jalanan yang terlihat lenggang dari arah dalam kaca jendela.
“Apa yang membuat Anda murung seperti ini?” tanya lelaki di depan Aluna.
“Bukan urusanmu! Maafkan aku. Aku harus pergi. Aku harus kembali ke kantor.” Aluna sudah memundurkan kursinya tanpa menatap lelaki di
depannya, lalu meninggalkan lelaki yang ingin tahu tentangnya tadi. Ia kembali berjalan menuju kantornya dengan berjalan pelan sembari memeluk tubuhnya yang diterpa angin kencang, ia masih ingin menghabiskan waktunya untuk memikirkan sikapnya nanti saat bertemu Kalun.
Sesampainya di kantor. Aluna mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan, ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya kali ini, pekerjaan yang sudah ia impikan sejak lama. Aluna terus mengabaikan dering ponsel yang ada di dalam tasnya. Matanya masih fokus dengan gambar yang ada di layar depannya.
Renata menatap bingung ke arahnya, saat melihat sikap Aluna yang tidak seceria tadi pagi ketika dia datang. Ia yang paham pun tidak ingin menegur atau menanyakan keadaan Aluna, karena nanti jika Aluna sudah tenang pasti dia akan cerita dengan sendirinya.
Jam istirahat Aluna lewati. ia sengaja tidak keluar ataupun beranjak dari ruangannya. Bahkan saat ini rekan-rekannya sudah bersiap ingin pulang. Karena jam kerja sudah selesai. Tapi Aluna masih pura-pura menyibukkan dirinya dengan berkas yang ada di tangannya.
“Lun, jangan lembur terlalu malam, nanti cepat keriput,” pesan rekannya sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Ia hanya menanggapi dengan cengiran khasnya, yang biasa ia berikan pada rekannya tersebut.
Aluna membuang nafas lega setelah semua rekannya pergi. Ia ingin menangis di sana, mengeluarkan tangisnya yang sedari tadi ia tahan. Aluna menunduk dalam, meletakkan keningnya di pinggiran meja. Dia menutup matanya erat supaya
__ADS_1
air matanya itu segera berhenti.
Bohong! Jika Aluna bekerja lembur hari ini, sejujurnya pekerjaannya sudah selesai sejak tadi pukul 4 sore. Ia hanya belum siap untuk bertemu dengan Kalun, lelaki yang kini sudah ada di hatinya.
Di sisi lain Kalun yang baru memasuki apartemen, berlari kecil mengelilingi apartemen miliknya. Ia tengah mencari- cari keberadaan Aluna yang sejak tadi tidak mengangkat panggilannya. Perasaan Kalun sudah tidak karuan, ia hanya takut Aluna pergi meninggalkannya, karena mengetahui Kayra yang tengah hamil anaknya.
Setelah tidak menemukan keberadaan Aluna, Kalun berjalan menuju kamarnya. Ia berjalan menuju lemari pakaian yang ada di ruang ganti. Ia
terlihat lega ketika mendapati baju Aluna yang masih tersusun rapi di sana. Tangannya meraih ponsel yang ada di saku jas yang masih menempel di tubuhnya. Ia berusaha lagi menghubungi Aluna,
untuk menanyakan keberadaan istrinya saat ini.
“Sayang, please angkat! Aku nggak mau kamu seperti ini!” ucapnya yang tidak kunjung mendengar suara Aluna di seberang telepon.
Kalun sudah putus asa, sudah berkali-kali dia menghubungi Aluna tapi istrinya itu tidak mau menerima panggilannya. Ia lalu merebahkan
tubuhnya di sofa, sambil memijit pangkal hidungnya, ia tidak habis pikir dengan yang Kayra lakukan padanya. Ia hanya ingin menunggu waktu saja, untuk membuktikan jika anak itu bukan anaknya.
Kalun melepaskan jasnya lalu melemparkan ke sembarang arah, serta dasi yang masih terikat erat di lehernya tak luput dari luapan emosi Kalun saat ini. Ia terlihat kacau hari ini. Kemeja yang dipakainya pun kini sudah lusuh karena dia tidak mempedulikannya lagi penampilannya.
Setelah menunggu Aluna yang tidak kunjung datang, Kalun meraih kunci mobilnya. Ia ingin mencari Aluna dan membawanya pulang.
Bunyi pesan dari Doni yang ia tunggu pun membuat dia tersenyum lega setelah mengetahui
keberadaan Aluna.
Kalun segera berlari ke tempat parkir, dan langsung melajukan mobilnya lagi ke arah kantornya.
gedung. Ia melihat hanya ruangan Aluna yang masih terlihat menyala.
“Aku pasti akan memberikan bonus yang banyak untuk karyawan terbaikku!” lirihnya yang masih mendongakkan kepalanya ke atas.
Kalun segera memasuki gedung yang sudah terlihat sepi itu. Ia menatap sejenak ke arah Doni yang berdiri di depan lift khusus direktur.
“Kamu tunggu di sini! Jangan mengikutiku. Segera hubungi dr. kandungan kapan kita bisa melakukannya!” perintah Kalun pada Doni, lalu
meninggalkan Doni yang masih berada di luar lift, yang menyetujui permintaannya.
Kalun sejenak merapikan rambutnya yang terlihat berantakan. Ia tidak ingin terlihat buruk di depan Aluna, meski Aluna tengah marah dengannya.
Pintu lift terbuka tepat berada di lantai di mana ruangan Aluna berada. Matanya langsung tertuju ke arah Aluna yang tengah, menopangkan
kepalanya di kedua tangannya. Terlihat Aluna menatap layar di depannya dengan tatapan
kosong. Beruntungnya ruangan itu hanya tertutup kaca transparan. Jadi Kalun bisa memperhatikan Aluna dengan lekat.
“Aku akan menunggumu! Hingga kamu menyelesaikan pekerjaanmu,” ucapnya sambil menatap Aluna dari kejauhan. Kalun lalu duduk di salah satu meja karyawan yang ada di lantai tersebut. Ia tidak ingin mendekat ke arah Aluna
saat ini, karena ia tahu jika Aluna tidak ingin diganggu saat ini. Kalun terlihat gelisah,
sedari tadi dia terus melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Istrinya itu tidak segera mematikan komputernya, padahal waktu sudah larut malam. Dia takut kondisi Aluna akan drop mengingat kemarin baru pulih dari sakitnya.
__ADS_1
Aluna yang sudah mengantuk, masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. Ia masih betah menatap layar putih di depannya. Sambil sesekali mengusap matanya supaya tidak terpejam.
Aluna segera berlari menuju kamar mandi, setelah merasa perutnya yang tidak nyaman. Sudah beberapa kali Aluna merasakan hal seperti
ini. Ia sudah tidak mempedulikan lagi pola makannya, hingga membuat penyakit
asam lambungnya kambuh.
Aluna langsung memuntahkan cairan yang ada di perutnya, saat tiba di wastafle yang ada di dekat ruangannya. Suara muntahan yang keluar dari
mulut Aluna, mengalihkan perhatian Kalun. Ia lalu mendekat ke arah Aluna, melupakan rasa jijik yang dari dulu ia rasakan.
Kalun menyibakkan rambut Aluna supaya tidak terkena muntahan, dahinya sudah berkerut ketika Aluna tidak mengeluarkan cairan apapun.
“Kamu belum makan?” tanya Kalun sambil menghadapkan dagu Aluna ke arahnya.
“Ngapain kamu di sini!” kaget Aluna saat menatap wajah Kalun di depannya.
“Aku suamimu! Jangan bilang seperti itu Sayang!”
Ucapan Kalun itu membuat Aluna memalingkan wajahnya ke arah kaca di depannya. Ia lalu menunduk untuk mencuci mulutnya, tapi
tubuhnya terasa lemas, sepertinya ia tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya saat ini. Aluna berjalan pelan sambil berpegangan dengan tembok, menuju ke arah ruang kerjanya. Ia menolak bantuan Kalun yang ingin menggendongnya, ia tidak mau menerima kebaikkan Kalun yang akan berakhir menyakiti hatinya.
“Aku ambilkan makanan ya, kita makan di depan. Kamu terlihat pucat aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu!” ucap Kalun sambil berusaha meraih tangan Aluna untuk ia genggam.
“Pergilah Kal! Tinggalkan aku sendiri dulu, aku hanya butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua ini!”
“Apa maksudmu? Aku tidak akan meninggalkanmu! Jangan bilang kamu akan pergi Sayang,” bujuk Kalun yang sudah berjongkok di depan tempat duduk Aluna. Ia sudah mengenggam tangan Aluna, meyakinkan Aluna jika dia tidak
akan pergi darinya.
“Tapi dia anakmu Kal! Aku nggak akan tega membiarkan dia lahir tanpa seorang ayah!”
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Kalun dengan tatapan ssedihnya.
“Aku yang salah Kal, Fandi yang salah! Dia memin-”
“Cukup! Lun. Jangan menyalahkan dia! Aku
yang salah di sini!” ucap Kalun yang sudah meninggikan suaranya. Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa bersalah terus- menerus. Matanya sudah menatap lekat ke arah Aluna, tangan Aluna yang tadi bebas, kini tengah berusaha mengusap air matanya.
Tangan Kalun terulur untuk membantu Aluna
mengusap air mata di pipi istrinya, yang terus terjatuh, ia menghadapkan wajah Aluna ke arahnya. Netra hitam itu saling bertatapan, mata lembab Aluna membuat hati Kalun semakin tidak
kuat untuk menyampaikan kesalahannya. Tapi ia ingin Aluna tidak terus menyalahkan Fandi maupun dirinya sendiri, karena di sini dialah orang yang paling bersalah.
👣
Jangan lupa like dan komentar positif👍🙏
__ADS_1