Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Extra Part


__ADS_3

Suara alarm dari ponsel Leya terdengar memenuhi kamar sedari tadi. Sedangkan sang pemilik masih sibuk dengan mimpinya, di bawah selimut tebal sambil memeluk guling. Terlalu malas untuk bergerak, sampai alarm ponsel itu berhenti dengan sendirinya.


Lima menit berikutnya, bukan alarm dari ponselnya lagi. Melainkan teriakan menggelegar dari sang bunda dari luar kamar. Mata coklatnya mengerjap berulang kali ketika mendengar teriakan sang bunda.


"Iya, Bun!" sahutnya malas, memberi respon. Leya mendudukan tubuhnya, masih mengumpulkan seluruh tenaga agar bisa berdiri. Dia terjingkat saat menyadari akan satu hal.


"Gaswat, nich!" ujarnya sambil berlari ke kamar mandi, mengikat rambutnya asal.


Tiba di dalam kamar mandi, tanganya bergerak cepat mengambil sikat dan pasta gigi dan segera menyikatkan ke giginya. Tak sampai satu menit Leya melakukan itu, lalu meneguk mouthwash, berkumur cepat, dan membuangnya kemudian.


Segera ia mencuci wajah, dan meletakan facial foam ke telapak tangannya. Tanpa nyanyian seperti yang biasa dilakukan ia segera membilasnya. Membuka satu persatu kancing piyama dan membuangnya asal ke keranjang pakaian kotor. Hal selanjutnya yang sering ia lakukan, yaitu membasahi telapak tangannya, kemudian mengusapkan di kedua keteknya. Cara cepat dan efektif untuk menghilangkan bau acem di tubuhnya.


Leya keluar dari kamar mandi, sambil menepuk wajahnya dengan handuk kecil. Melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 6 lewat. Ia bakal terlambat kalau harus mandi lebih dulu, mengingat dia kalau mandi butuh waktu paling sedikit 20 menit.


Kini Leya mulai sibuk mengikat rambutnya yang harus berjumlah 12 ikatan, tentu saja dengan warna pita yang berbeda-beda. "Ini menyebalkan!" gerutunya saat mulai pusing merasakan ikatan rambutnya yang terlalu banyak.


Hari ini adalah MOS hari pertama, dan Leya di wajibkan hadir dengan persyaratan yang membuatnya frustasi. Bukan hanya ikat rambut, ia juga harus menggunakan name tag dengan tulisan 'AKU ANAK DADDY'.


"Huft." desahnya pelan saat melihat tali raffia warna kuning yang sudah siap ia pakai. Beruntung semalam sang papa mau membuatkan name tag untuknya-jika tidak ia akan benar-benar menangis pagi ini.


Saat Leya berlari kecil menuruni tangga, ia disambut dengan tawa cekikian dari kedua adiknya. Tak luput kedua orang tuanya ikut terlibat. Kesal, geram, saat melihat mereka bahagia di atas penderitaannya.


Leya menampilkan cengiran kuda, saat mendapati Sang Ayah yang masih senyam-senyum ke arahnya. "Leya jelek, ya?" Leya cemberut, ingin marah tapi bingung pada siapa.


"You look so beautiful, my Son!" Kalun memuji. Memberi penghiburan.


"Ngledeknya jangan kebangetan, dong!" tegur Leya saat mendapati ayahnya yang berusia 44 tahun itu masih terus terkekeh.


"Iya, iya. Siapa suruh sekolah di sana! Kenapa juga tidak di tempat sekolah ayah yang dulu saja! Biar kamu juga lebih nyaman." Kalun mengalihkan pembicaraan tentang pilihan putrinya. Ya, untuk kali ini Leya memilih sekolah jauh dari standar yang sudah Kalun tetapkan, meskipun sudah bertaraf internasional, tapi masih jauh dengan harapan Kalun.


"Ayah ... sudah! Tidak baik menyalahkan apa yang sudah menjadi keputusan Leya! Kita juga harus menghargainya," ucap Aluna lembut, memperingati suaminya.


"Kakak tahu nggak! Kakak ini sama cantiknya kaya mimi peri, yang suka nongol di youtube, yang suka ngomong DUUUHHH GUSSTTIII!" ujar Gwen yang kini sudah duduk di bangku kelas 5 seragamnya masih merah-putih sama dengan Leo yang satu tingkat lebih tinggi darinya.

__ADS_1


"Ngawur! [Ngaco] itu punya Ncess Nabati, Gwen!" sergah Leonard, yang ingin memulai pertengkaran.


"Aihh ... sudah-sudah kalian cepat habiskan sarapan! Cepat pada berangkat sekolah! Bunda mau menenangkan pikiran!" lerai Aluna sambil memijat kepalanya yang mulai nyut-nyutan.


Menjadi ibu dari tiga anak memang bikin pusing sekaligus bahagia. Pusing ketika mendengar mereka berdebat, apalagi jika sudah ada yang menggunakan tangan, bakalan ikut lebam lengannya hasil timpuk'an Leo ataupun Gwen.


"Ayah habis antar Leya pulang sebentar, Bun. Masih ada hal yang perlu Ayah selesaikan!" kata Kalun menatap wajah istrinya.


"Kerja! Nggak usah pulang-pulang, hemat pertamax! Bentar lagi BBM naik!" Aluna menjawab tanpa sedikit pun menatap ke arah sang suami. Dia terus memperhatikan ketiga anaknya yang tidak henti-hentinya berulah jahil saling memperebutkan bekal sekolah.


"Ayo, Pa berangkat!" ajak Leya yang lebih dulu menyelesaikan sarapan. Dia berdiri dan mendekat ke arah Aluna untuk berpamitan.


"Siap." Kalun berdiri menggandeng tangan Gwen dan Leo.


"Bun, Bund, hitung dulu sudah pas belum ikatan rambutku, harus 12 loh!" Leya menunjuk kepalanya sambil menunduk di depan wajah sang bunda.


Aluna tersenyum tipis, menghitung ulang ikatan rambut putrinya. "Sudah, Sayang. Bilang sama Bunda kalau ada yang menjahilimu!" tuturnya lembut, sambil mengusap punggung Leya.


"Aku bentar lagi pulang, Bun. Bersiaplah!" pesan Kalun berbisik di telinga sang istri.


Aluna hanya diam tidak menjawab bisikkan dari suaminya. Semalam memang ada sedikit gangguan, karena tiba-tiba Gwen menyusul ke kamarnya. Jadi, mereka berdua tidak bisa melanjutkan olahraga malam yang beberapa hari memang sempat tertunda.


Kalun lalu masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobilnya, ia menurunkan kaca mobil sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah. "Yang ...." Kalun memperlihatkan 3 jarinya.


Entahlah maksudnya 3 ronde atau 3 anak cukup, Aluna juga salah mengerti, sepertinya!


"Tutup produksi! Lock down, Yah!" teriak Aluna.


"Aku buka lagi!" sahut Kalun sambil tersenyum, lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah mewah yang selalu memberikan kehangatan.


"Ayah ngomongin apaan sih sama bunda?" tanya Gwen yang kini duduk di bangku belakang.


"Bukan masalah serius, Nak! Sekolah yang benar, nanti traktir makan cakwe!" kata Kalun penuh semangat sambil menatap spion kecil di depannya.

__ADS_1


"Cakwe di depan sekolah ya, Yah!" sahutan Gwen terdengar girang, sampai-sampai ia memeluk leher Kalun dengan erat. Gwen memang suka jajan sembarangan, terutama cakue di depan sekolahnya. Tapi itu harus dalam mode sembunyi, jika ketahuan Aluna tidak memberinya uang jajan.


"Nggak mau, kita beli di tempat langganan. Seperti biasa!" tolak Kalun, yang takut istrinya marah.


Setelah obrolan singkat itu mereka hanya diam, tidak ada yang berbicara. Gwen merasa kecewa dengan jawaban Kalun. Sedangkan Leo, hanya diam saja karena tidak menyukai jajanan khas Tiongkok tersebut, kesukaannya hanya satu main game di ponsel sang bunda.


Sepuluh menit kemudian, mobil sudah berhenti di depan Sekolah Dasar Islam Terpadu di daerah Jakarta. Mereka berdua berpamitan pada kakak dan ayahnya yang duduk di bangku depan. Setelah keduanya masuk, Kalun kembali melajukan mobilnya.


Pria itu menatap lekat ke arahLeya yang duduk di sampingnya. Wajah anak gadisnya ini memang mirip sekali dengan istrinya. Untung saja tinggi badan Leya tidak nurun dari Aluna. Jadi, bisa di katakan Leya akan menjadi idaman para lelaki di sekolah nanti. Menurutnya!


"Kak, hati-hati ya! Apapun yang terjadi di sekolah barumu, tidak boleh ada yang Kakak rahasiakan dari Ayah." Pesan Kalun, mengingatkan Leya agar selalu terbuka padanya ataupun pada Aluna.


"Ayah, ih. Kaya nggak kenal Leya, saja! Semua akan baik-baik saja! Leya sudah gede, bentar lagi juga dapat KTP!"


"Hem." berdehem setuju, meski hatinya tidak terima. Leya tetaplah anak kecil yang selama ia hidup perlu perlindungan darinya.


Sebelum tiba di sekolah, Leya memaksa Kalun untuk menghentikan mobilnya. Ia tidak mau, mendapat teman karena ada maksud tertentu. Seperti saat ia duduk di bangku smp dulu, banyak teman yang mendekatinya karena papanya seorang pengusaha. Dan di sekolah ini, dia ingin sedikit menyembunyikan siapa keluarganya. Mencari teman yang benar-benar tulus ingin berteman dengannya, bukan teman yang punya maksud tertentu.


"Bye, Ayah Assalamu'alaikum ..."


"Bye, wa'alaikumsalam, anak Daddy!"


Leya menatap kepergian mobil Kalun, yang perlahan menghilang dari pandangan. Dia berjalan sedikit cepat mengejar pintu gerbang yang sepertinya hendak tertutup. Namun, saat lima langkah lagi ia tiba, pintu gerbang benar-benar tertutup rapat.


"Loh kok ditutup!" lirih Leya sambil menatap ke arah jam di tangan yang sudah menunjukkan pukul 7 lewat 4 menit.


Ia berdecak kesal, menghentakan kakinya berulang kali. Sampai akhirnya, seseorang menggeser tubuhnya.


"SOOPPOO, gue baru telat 3 detik! Kenapa ditutup!" teriak pria yang kini senasib dengan Leya. "Anjay, bener lo! Awas gak gue traktir betulan, lo!"


...Bersambung .......


Lanjutannya ada di aplikasi Orange (w a t t p a d) ya, silakan ketik nama pena Rehuellakristiana, judulnya Puppy Love / tengok IG rehuella1

__ADS_1


__ADS_2