
“Haruskah aku meminta hakku sekarang?”
Ujar Kalun sambil memijit pelipisnya. Kalun menarik nafas dalam, lalu membuangnya pelan, dia mencoba mengalihkan pemandangan di depannya ke arah lain, dengan susah payah dia berjalan ke kamar mandi, untuk meredam hasratnya. Kalun menyiram tubuhnya dengan air dingin, padahal waktu sudah jam 10 malam. Tapi Kalun masih saja bermain di bawah guyuran air shower.
Kalun keluar kamar mandi, setelah merasa gairahnya mereda, dia masuk ke kamar menggunakan handuk putih yang menutupi bagian terpentingnya, berusaha untuk tidak melihat ataupun melirik ke arah Aluna yang tertidur di sofa, dia segera mematikan lampu kamar, dan tidur di kasurnya.
Matahari sudah terlihat bersinar, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Aluna mendesis, merasakan pinggangnya yang terasa nyeri. Kalun yang sudah rapi dengan pakaiannya, mendekat ke arah di mana Aluna berada.
“Kamu nggak kerja?” tanya Kalun saat melihat Aluna menarik selimutnya kembali.
“Jangan mentang-mentang aku bos mu, kamu bisa membolos seenaknya ya, kalau di kantor kamu tetaplah karyawan,” ucap Kalun sambil mengenakan jam di tangannya.
“Iya, aku tahu. Tapi aku sepertinya akan izin dulu. Pinggang ku sepertinya terkilir,” jelas Aluna sambil mencoba menggerakkan pinggangnya.
“Alasan!”
“Terserah.” Aluna membalas cibiran Kalun. Dia berusaha untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Kalun yang mendengar rintihan yang keluar dari bibir Aluna, merasa bersalah karena mengira Aluna tengah berpura-pura.
“Aku akan panggilkan dokter untukmu.” Kalun berucap sambil meraih jas yang tadi dia siapkan. Dia keluar kamar menuruni tangga menuju dapur apartemennya.
Saat tiba di dapur, pemandangan tidak mengenakkan terpaksa menyambutnya. Pasangan lanjut usia itu tengah bermesraan di dapur, dengan Erik yang memeluk Ella dari belakang, padahal mamanya tengah berkutat dengan penggorengan.
“Eheem ....” Kalun mencoba mengalihkan perhatian mereka berdua, karena papanya itu tengah menggombali sambil mencium leher mamanya.
“Eh ... pengantin baru sudah bangun?” Ella berkata sambil melepaskan tangan Erik yang melingkar di perutnya. “Luna mana?” tanya Ella saat tidak melihat menantunya.
“Luna masih di kamar Ma, dia sakit pinggang,” jawab Kalun sambil berjalan mengambil potongan apel di samping Ella.
“Kok bisa! Kamu terlalu kuat pasti!” sahut Erik yang memperhatikan perubahan wajah Kalun.
“Huft ...” desah Kalun. “Bukan aku Pa, tapi dia jatuh dari sofa semalam,” lanjut Kalun sambil duduk di meja makan.
“Kok bisa, sini biar Mama yang lihat,” ucap Ella sambil mematikan kompornya, dia berjalan pergi dari dapur, hendak menuju ke kamar utama kamar Kalun.
__ADS_1
“Hah. Tunggu! Mama tunggu saja di sini.” Kalun menahan tangan Ella supaya Ella menghentikan niatnya untuk masuk ke kamarnya.
“Apaan sih kamu ini, gimana kalau Aluna patah tulang?” ucap Ella sambil melepaskan tangan Kalun.
Ella lalu berjalan menuju kamar utama untuk melihat kondisi Aluna. Namun, Kalun segera mendahului langkah Ella, karena takut Ella akan mengetahui jika Aluna tidur di sofa.
“Sayang, kamu mau kemana sih? Katanya pinggangmu sakit, jangan banyak gerak dong.” Kalun menggendong Aluna dari belakang, saat melihat Aluna tengah berjalan menuju kamar mandi. Aluna tersentak karena gendongan Kalun yang mengejutkan dirinya. Kalun meletakkan tubuh Aluna ke kasurnya, dengan lembut.
“Sudah, kamu di sini dulu jangan kemana-mana!” peringat Kalun yang bertindak mesra di depan mamanya. Dia berucap sambil mengusap lembut pipi putih Aluna.
Oh Tuhan, haruskah aku mengikuti alur ceritanya. Gumam Aluna yang tidak bisa di dengar siapun.
“Aku sudah baik-baik saja Sayang, jangan mengkhawatirkan diriku,” balas Aluna yang sama mesranya, dia mengusap lengan Kalun dengan lembut, membuat aliran darah Kalun sedikit memanas karena perlakuan Aluna.
“Apa perlu Mama panggilkan tukang pijit Lun?” tawar Ella yang mendekat ke arah kasur Aluna.
“Mana yang sakit?” tanya Ella sambil membuka dress Aluna. Membuat mata Kalun membulat sempurna.
“Ma, jangan menodai mata Kalun.” Kalun berucap saat melihat kulit putih yang ada di pinggang Aluna, beruntung Kalun tadi sudah memakaikan selimut di kakinya.
“Emmm, nggak. Emmm nggak papa! Lanjutkan saja!” jawab Kalun dengan gelisah sambil mengalihkan perhatiannya dari tangan mamanya yang memijit pinggang Aluna.
“Adddudududuuhh .... sakit Ma, jangan lagi.” Aluna merintih saat Ella memijit pinggangnya.
“Pasti ini karena kamu kelelahan meladeni anak Mama.” Ella berucap sambil memijit pelan pinggang Aluna.
“Kamu lihat Kalun! Apa kamu tega melihat istrimu seperti ini, Mama tahu kamu berusaha keras membuatkan cucu untuk Mama, tapi lihat juga kondisi istrimu, jangan sampai dia terluka dan kesakitan, mainlah dengan lembut!” maki Ella sambil menatap ke arah Kalun. Yang ditatap hanya menggedikkan bahunya, sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Sudahlah, Mama urus saja Aluna. Kalun mau ke kantor.” Pamit Kalun saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 lewat 20 menit.
“Istrimu sakit, tidak bisakah kamu libur sehari saja,” cegah Ella saat Kalun meninggalkan kamar utama. Tapi Kalun menghiraukan ucapan Ella, dia tetap berjalan meninggalkan kamar.
“Dasar bandel,” cibir Ella saat Kalun tidak merespon ucapannya. Dia lalu kembali fokus ke pinggang Aluna, memberikan minyak gosok di pinggang Aluna.
“Terima kasih Ma, Luna belum pernah merasakan di perhatikan seperti ini,” ucap Aluna ketika Ella memperlakukannya dengan baik.
__ADS_1
“Sudahlah. Nikmatilah hidupmu sekarang, kamu sudah menjadi bagian keluarga ini, jadi sudah sewajarnya Mama memberikan perhatian juga padamu,” ucap Ella sambil mengusap pipi Aluna.
Aluna tersenyum manis, merasakan kehangatan cinta dari mertuanya.
“Istirahatlah!” perintah Ella sambil menutup kembali dress Aluna. Ella meninggalkan kamar utama, menghampiri Erik yang tengah membaca koran di tv.
“Kita di sini dululah Pa!” ucap Ella sambil mendudukkan tubuhnya di samping Erik.
“Ngapain? Apa mau menganggu anak kita.”
“Bukan begitu, sepertinya Luna sedang sakit.”
“Nggak usah, kita bisa kirim dokter untuknya,” ucap Erik sambil melemparkan koran ke arah meja di depannya. Dia lalu memeluk pinggang Ella dengan erat.
“Aku nggak mau menganggu mereka, walaupun sebenarnya, Kalun selalu menganggu kita.” Erik berbisik di samping telinga Ella.
“Di kamar juga kasurnya terlalu sempit, jadi kita tidak bisa bebas,” lanjut Erik yang langsung mendapat pukulan lengan dari Ella.
“Insyaf Mas, sudah tua!”
“Sadar nggak sih kamu ngomong begitu?”
“Itu kebutuhan bukan kejahatan!” lanjut Erik sambil mengeratkan pelukannya. Ella hanya membuang nafas kesalnya, dia selalu kalah saat berdebat dengan suaminya.
Di sisi lain, Kalun yang baru saja memasuki ruangannya, segera menerima laporan dari Doni. Hari ini dia akan disibukkan dengan pertemuannya dengan 3 klien penting yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
Pikirannya tentang Aluna dan Kayra sudah tidak lagi dia pikirkan ketika dia tengah sibuk. Tapi ketika dia sedang istirahat, bibirnya selalu berucap jika dia merindukan Kayra, sambil menatap ponsel yang ada di tangannya.
👣
Kalun yang labil dan bimbang!🤓😂
Jangan lupa untuk like dan vote ya!
__ADS_1