
PENGUMUMAN :
UNDANGAN MASUK GC.
Untuk beberapa jam ke depan, saya bebaskan yang mau masuk GC. Karena ada syukuran kecil di sana.
WAJIB PATUHI ATURAN YA!
NO BOOT
NO TIKUNG
• YANG MERASA DIRINYA SUKA NIKUNG JANGAN MASUK😂🤓. YANG MERASA JARINYA LICIN BOLEH MASUK KARENA AKAN ADA POIN DI SANA. SELAMAT BERGABUNG🙏 INGAT PATUHI RULES.
• YANG KEDUA JANGAN LUPA BANTUIN VOTE AA DAN ALUNA YA, INI FINAL EPISODE. SETIDAKNYA BIARKAN MISTAKE DI PERINGKAT 20 BESAR🤓😂
💞
“Sejak kapan kalian mencintai pasangan kalian?”
Kalun menggigit bibir atasnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah Aluna. Dia memikirkan jawaban dari pertanyaan Erik, mengingat lagi sejak kapan dia mulai jatuh cinta dengan wanita di sampingnya ini.
“Jawab pertanyaan Papa Sayang!” bisik Kalun di telinga Aluna.
“Kamu dulu!” sahutnya cepat, menatap Kalun.
“Nggak. Aku pengen kamu dulu yang menjawabnya.”
“Nggak mau!” tolak Aluna.
“Baiklah.” Kata Kalun mengalah.
Kalun menghadap ke arah Erik, dengan menatap mata Erik yang juga tengah memperhatikan wajah tampannya.
“Papa dulu deh, yang jawab. Kapan Papa mulai jatuh cinta dengan Mama? Setelah itu Mama yang jawab, setelah itu kamu Sayang. baru sesudahnya aku, dilanjut pasangan fenomenal tahun ini.” Kata Kalun diakhiri suara tawanya. Aluna yang tadi berharap Kalun segera menjawab, mendengus kesal, karena tidak segera mendengar jawaban dari suaminya.
Erik tersenyum tipis ke arah Ella, lalu membawa Ella ke dalam pelukannya, “Kapan Ma?” katanya sambil berpura-pura memikirkan jawaban atas pertanyaannya sendiri, senyumnya terpancar di bibir Erik. Ella hanya diam sambil mengerutkan dahinya ke arah Erik. Meminta Erik untuk segera mengeluarkan suaranya.
“Sejak Mama muncul di sekitar Papa.”
“Hmm … Kapan itu?” tanya Ella antusias.
“Itu saat kamu minta duduk di pangkuanku, waktu aku main ke rumah almarhum papa, lupa ya? Dulu kan, setiap aku main ke sana Mama selalu caper.” Erik tertawa tipis sambil mencoba menghindari cubitan tangan Ella.
“Heh, enak saja! Nggak ya?”
“Sudah, sudah. Lalu pastinya kapan?” potong Kalun sambil menatap ke arah Erik.
Erik tersenyum sambil mencuri ciuman di pipi Ella.
“Sejak Papa melihat Mama menggunakan bando warna pink yang serasi dengan pakaiannya, dan Mama meniupkan lilin di depannya yang menunjukkan angka 13 tahun.”
“Papa nggak pernah mengatakan itu padaku?” tanya Ella.
“Kamu nggak pernah tanya, Sayang.” Erik menjawab sambil menoleh ke arah kedua anak kembarnya, memastikan jika mereka tidak mendengar panggilan sayangnya.
“Haduh, berarti saat itu Papa umur berapa?” tanya Kalun.
“Nggak tahu, yang pasti 10 tahun lebih tua dari mamamu,” jawabnya lalu kembali memeluk erat tubuh Ella.
“Lanjut Ma!” kata Aluna, memerintahkan pada mertuanya.
“Aku nggak jatuh cinta dengan Papamu. Aku hanya terbiasa saja dengan Papamu,” ucap Ella, membuat semua orang yang mendengar menggeleng tidak percaya, dengan ucapan yang dia katakan.
“Perlu aku ingatkan kapan kamu mengatakan jatuh cinta padaku?” tawar Erik.
“Dulu ketika Mama mengirimkan sms ke papa diakhiri dengan kata I love you dan diimbuhi emot kiss 3 biji. Dan itu hampir setiap hari.” Lanjut Erik sambil terkekeh mengingat masa mudanya dulu. Membuat Ella mencubit pinggang Erik lagi, karena malu dengan anak-anaknya, beruntungnya si kembar tengah asyik dengan aktivitasnya.
“Giliran kamu Kal! Kapan kamu jatuh cinta dengan Luna?”
__ADS_1
“Biarkan Luna yang menjawabnya lebih dulu!”
“Aa’ dulu!” sahut Aluna cepat. Membuat Kalun menoleh ke arahnya, lalu tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.
“Baiklah tapi jangan salahkan aku jika kamu akan syok! Setelah mengetahuinya,” pesan Kalun mengacak rambut Aluna.
“Sejak aku melihatnya mengenakan kebaya putih gading, berjalan menghampiriku. Aku merasakan gelenyar aneh yang hinggap di hatiku, hanya saja aku tidak paham jika itu adalah cinta. Semakin hari, aku semakin yakin jika aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ya. Itu cinta, aku jatuh cinta pada istriku, setelah kami menikah.”
“Lalu bagaimana perasaanmu dengan Kayra yang sesungguhnya?” Ella menyuarakan apa yang yang menggelitik pikirannya saat ini.
“Setelah aku paham, ternyata aku hanya terbiasa, mungkin karena selama ini hanya dia dan keluargaku, wanita yang dekat denganku.”
“Bagaimana jika kamu dekat dengan wanita lain? Mungkinkah bisa merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu berikan padaku?” tanya Aluna penasaran.
“Sepertinya tidak akan, aku sudah sering bertemu Lusi, Renata, tapi semua terlihat baik-baik saja. Karena apa? Kamu tahu nggak?” tanya Kalun menoleh ke arah Aluna.
“Karena aku wanita paling cantik,” kata Aluna sambil memberikan senyuman ke Kalun.
“Cantik? Bagiku semua wanita itu cantik, meski banyak yang palsu karena yang tidak cantik bisa dipercantik dengan teknologi. Tapi belum tentu mereka mau menerima dan memaafkan kesalahanku, setelah aku menghilangkan lelaki yang paling mereka cintai,” aku Kalun membuat Aluna menatap tepat di matanya.
“Hmm.” Aluna menautkan jemarinya di jari-jari Kalun, lalu menundukkan kepalanya, menatap dan mengenggam erat jemari suaminya.
“Kamu bukan sekedar cantik, tapi sampai kapan pun kamu tak akan ada yang bisa menggantikannya.”
“Sekarang kamu Lun?” kata Riella setelah muak mendengar ucapan lelaki di depannya.
“Luna.” Tunjuk Aluna pada dirinya sendiri, karena kaget dengan perintah Riella. Dia lalu menatap ke arah Kalun, yang tengah menciumi tangannya.
“Aku juga penasaran.” Kalun menyahut sambil mendekatkan wajahnya di dekat Aluna.
“Emmm … ketika aku memberikan apa yang ku punya pada suamiku, saat itu aku bertekad untuk mencintainya dengan sepenuh hati, meninggalkan masa lalu yang harusnya sudah aku lupakan.”
“Berati kamu ingat dong kapan kamu memberikannya saat pertama kali padaku?” tanya Kalun yang merasa janggal dengan apa yang di katakan Aluna.
“Nggak, aku tidak mengingatnya. Setelah kecelakaan itulah, aku anggap, aku memberikan yang pertama untukmu, meski aneh tapi ya itulah kebenarannya, saat itu aku berjanji untuk melupakan masa lalu, dan memperbaiki semuanya denganmu.”
“Bisa ya seperti itu?” pertanyaan itu keluar dari Riella. Dia sudah menahan dagunya dengan tangan kanan memperhatikan dan mendengar dengan teliti apa yang dikatakan Aluna.
“Biarkan Kenzo dulu yang menjawab!” kata Riella sambil menunjuk Kenzo dengan dagunya.
Lelaki yang sebenarnya tampak tampan dan berwibawa itu hanya menampilkan seulas senyumnya ke arah Erik.
“Maaf Pa, aku mencintai Riella sejak aku …” Kenzo menatap ke arah Riella yang tidak begitu peduli dengan ucapannya. Dia lalu tersenyum mengalihkan tatapannya ke arah Erik.
“Sejak kita liburan ke Lombok, saat itu aku melihatnya bagai malaikat kecil yang tengah kesepian, di tinggalkan sang kakak yang tengah mempedulikan gadis lain, dan saat itu aku mendekatinya, menghiburnya untuk jangan bersedih, karena ada Kenzo yang akan menemaninya.” Kenzo berucap sambil menatap wajah Riella yang terkejut.
“Mungkin Riella lupa, jika itu adalah Kenzo.” Kenzo melanjutkan sambil mengusap punggung Riella.
Semuanya mengangguk paham dengan perasaan Kenzo. Berbeda dengan Erik dan Kalun yang sudah mengetahuinya sejak lama.
“Sekarang kamu La!” perintah Erik sambil memperhatikan wajah Riella yang tampak bingung.
“Aku belum jatuh cinta pada Kenzo. Maaf!” katanya singkat tanpa melihat ke arah Kenzo.
Semua menatap ke arah Riella dengan ekpresi yang beraneka ragam. Berbeda dengan Kenzo yang menyembunyikan kesedihannya dalam seulas senyuman yang ia tampilkan. Bisa saja dia mencari wanita yang lebih dari Riella, tapi hatinya sudah terpatri di satu nama, nama yang akan tertancap indah di relung hatinya paling dalam. Benar dia sering bergonta-ganti pacar tapi itu semua hanya untuk hiburan semata, dan dia tidak pernah memaksa wanita itu untuk menjadi pacarnya, justru si wanitalah yang memaksa untuk menjadi pacarnya. Bukan untuk permainan juga, tapi dia hanya ingin belajar cara melupakan gadis kecil yang tidak pernah membalas cintanya. Dia mau menerima Riella apa adanya meski dia bukan jadi yang pertama.
Sejenak mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, memikirkan hubungan Riella dan Kenzo. Hingga terdengar suara Erik yang menasehati mereka.
“Rumah tangga itu bagaikan bahtera baru, si suami bagaikan kapten yang baru mendapatkan ijazahnya dengan baju yang bagus lengkap dengan pangkatnya, dan si istri ini wakilnya lengkap dengan pakaian cantiknya. Naikkan semua perlengkapan bahtera ini dengan yang baru, jangan ada barang rongsokkan, ataupun piring pecah yang kalian masukkan ke dalamnya. Jika itu yang kalian lakukan setiap karat yang tertinggal di sana, karat itu akan menjalar ke barang lainnya, dan membuat rusak barang yang sebenarnya bagus jika terkena air laut nanti.” Dengan tenang Erik mengatakan itu di depan mereka tapannya menjurus ke arah Riella yang terdiam di samping Kenzo.
“Lupakan dan tinggalkan sesuatu yang buruk di masa lalu, syukuri apa yang kalian miliki sekarang,” lanjutnya. Riella langsung menatap ke arah Kenzo yang terdiam di sana. Keadaan semakin sunyi hanya terdengar dentingan piring yang beradu dengan sendok dari pengunjung lain.
Tidak lama kemudian terdengar teriakan Maura yang mengajak mereka kembali hotel. Erik lalu menghentikan pembicaraanya. Dia segera membawa mereka untuk kembali ke hotel.
“Biarkan kita di sini dulu Pa, aku masih ingin berjalan-jalan dengan Luna.” Kalun menolak ajakan Erik. Karena ia masih ingin menikmati waktu bersama di sini dengan Aluna. Erik mengagguk menyetujui permintaan Kalun.
“Telepon Papa jika kalian ingin kembali,” Erik berpesan sebelum benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua, di restoran tersebut.
Keduanya kini merasa canggung, tidak ada yang memulai untuk berbicara. Tapi ikatan tangan yang semakin erat tidak terlepas, membuat mereka sadar jika mereka seperti ini terus, mereka tidak segera kembali ke hotel. Saat ini tempat duduk mereka berada di luar, menghadap ke arah jalanan kota.
__ADS_1
“Apa aku lelaki yang pernah hadir di dalam mimpimu?” tanya Kalun setelah beberapa saat hanya terdengar suara nafas Aluna.
“Nggak.”
“Aku nggak pernah bermimpi mendapatkan lelaki seorang pengusaha kaya raya.”
Aluna menghentikan ucapannya, sejenak dia berpikir sambil menatap ke arah mobil yang tengah melewati restoran tersebut.
“Aku hanya bermimpi, lelaki baik yang akan mendampingi aku nanti.”
“Apa itu aku?” tanya Kalun.
Aluna hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kalun.
“Aku berharapnya begitu. Kamu akan selalu baik seperti ini sampai kita berpisah nanti.”
“Jangan berbicara perpisahan kita baru saja bertemu,” kata Kalun sambil mencubit pipi bakpao Aluna.
Dia lalu menatap Aluna yang tengah menatap ke arah langit, “Apa yang kamu pikirkan?” tanya Kalun yang penasaran.
“Nggak. Cuma membayangkan saja, jika mama benar melihatku dari atas sana. Pasti mama akan sangat bahagia melihat menantunya yang tampan ini.”
Kalun yang gemas semakin erat memeluk tubuh Aluna, hingga wanita itu merasa sesak merasakan pelukan Kalun.
“Kalau bisa, aku ingin memasukkanmu ke dalam tubuhku, supaya kita tidak bisa terlepas lagi.”
“Sudah yuk pulang, dingin A’.” ajak Aluna yang merasa Kalun mulai nglantur. Kalun yang menyadari Aluna hanya mengenakan dress biru gelapnya segera melepas jaket yang ia pakai lalu mengenakannya pada Aluna.
“Di sana banyak pengganggu. Aku masih ingin menikmati waktu bersama kita.”
“Ceh, kita juga bisa berduaan di kamar.”
“Hahaha, jangan bicara kamar!” peringat Kalun.
“Kenapa?”
Itu sangat menganggu pikiranku.
“Bagaimana jika kita jalan-jalan saja,” ajak Kalun.
“Nggak ah, capek. Anakmu juga semakin aktiv bergerak!” kata Aluna sambil menunjuk perutnya, diikuti mata Kalun yang langsung tertuju ke arah perut Aluna.
“Terima kasih, sudah bersedia menjadi Ibu dari anakku, aku nggak tahu seberapa banyak pengorbananmu selama ini. Mungkin, perlakuan baik seumur hidupku padamu saja, tidaklah cukup untuk membalas semuanya.” Kalun menciumi rambut Aluna sambil mengusapnya pelan.
“Aku paham sekarang bahwa setiap kesalahan tidak selalu membuat kita terpuruk, ada hal baik yang bisa aku ambil dari kesalahan yang aku lakukan, yaitu menemukanmu. Menemukan jodoh yang dipilihkan oleh-Nya, bukan pilihanku sendiri. Sekeras apapun aku melawannya, aku tidak akan mampu karena Tuhan sudah menuliskan takdir kita.”
Aluna hanya diam sambil memikirkan ucapan Kalun. dia menunduk sambil mengusap perutnya, “Aku berharap kamu akan menemaniku saat aku berjuang melahirkan anak kita nanti!”
“Pastilah, aku yang akan menggendongnya ketika ia membuka mata pertamanya nanti.”
“Kamu bahagia?” tanya Aluna beralih menatap wajah Kalun.
“Aku bahagia sekali. Hingga tidak bisa lagi aku ungkapkan seberapa besar perasaan bahagia ini padamu.”
“Aku pegang janjimu, jika kamu tidak menemaniku saat lahiran nanti, aku nggak tahu apa yang akan terjadi.”
“Iya Sayang. Janji!” kata Kalun sambil menyodorkan kelingkingnya ke arah Aluna. Aluna menyahutnya lalu kembali menyadarkan kepalanya di dada Kalun.
“Aku mencintaimu A’. Meski banyak yang harus direvisi di kehidupan kita, tapi aku juga bukan wanita sempurna, yang tidak pernah melakukan kesalahan. Sekarang aku percaya jika takdir cinta sudah mempertemukan kita hingga saat ini. Terima kasih atas semuanya, semoga kita bertemu lagi di surga.”
“Ya di surga-Nya. Ayo kita pulang!” ajak Kalun, lalu beranjak dari kursi yang sejak tadi mereka duduki, dia membawa Aluna kembali ke hotel karena jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 7 malam dan itu adalah waktu untuk Indonesia bagian barat.
Malam itu. keduanya paham sejak kapan mereka mulai jatuh cinta, keduanya berjanji untuk saling mencintai hingga maut yang memisahkan mereka. Meski Aluna tidak mengingat beberapa memorinya yang hilang, tapi dia yakin, jika di memori yang hilang itu, dia sudah mencintai lelakinya.
Lelaki ayah dari anaknya.
Bukan hanya keindahan yang bisa membawa cinta, tapi kesalahan pun bisa demikian, jika kita mau menerima dan memaafkannya. Melupakan, melangkah ke lembaran baru. Aluna.
Aku tidak pernah mengira, jika kesalahan bisa membuatku mengenal apa cinta yang sesungguhnya. Aku bersyukur dengan kesalahanku di masa lalu, karena aku berhasil menemukan cinta sejatiku saat ini. Kalun.
__ADS_1