
Hari ini Kalun berniat untuk jujur ke Aluna, jika dia yang membuat Fandi meninggal. Tapi terhalang panggilan telepon. Jadi dia hanya bisa menunggu Aluna menyelesaikan panggilannya.
Aluna mengangkat telepon dari Renata, raut wajahnya berubah menjadi panik, ketika mendengar suara lelaki di ujung telepon. Kalun mengerutkan keningnya, mencoba menebak apa yang terjadi dengan istrinya.
“Maaf aku harus pergi, Renata kecelakaan,” ucap Aluna panik setelah menutup ponselnya.
“Habiskan dulu makananmu!” perintah Kalun.
“Nggak perlu, aku bisa tunda makan siangku, tapi kasihan Renata kondisinya kelihatannya parah.” Aluna menatap ke arah Kalun, supaya mengizinkannya untuk segera pergi.
“Aku akan mengantarmu.” Kalun sudah berdiri dari duduknya untuk bersiap mengantarkan Aluna.
“Nggak perlu A’ di sana ada Samuel,” jelas Aluna.
“Apa! Lalu kenapa jika aku ikut? Apa aku akan mengganggumu bermesraan dengannya?” ucap Kalun yang sudah emosi, mengingat hubungan istrinya memang terlihat dekat dengan sahabatnya itu.
“Cukup A’! Jangan berpikiran seperti itu!”
“Aku akan berpikiran seperti itu jika kamu tidak mengizinkan aku mengantarmu!”
“Bagaimana jika Samuel tahu tentang kita?” tanya Aluna yang tidak bisa lagi mencegah Kalun.
“Biarkan saja! Sekarang ayo kita pergi ke rumah sakit, atau kamu ingin aku mengurungmu di sini, dan tidak akan ku izinkan kamu pergi!” peringat Kalun.
Aluna membuang nafas kesalnya, dia ingin meledakkan emosi yang dia tahan sejak tadi, tapi dia sadar jika Kalun adalah suaminya yang harus dia patuhi.
Saat tiba di rumah sakit, Kalun mengikuti langkah Aluna yang terburu-buru menuju kamar jenazah. Dia membuka kasar pintu ruangan gelap itu, udara dingin langsung menyerang kulitnya, ketika Aluna melangkahkan kakinya ke dalam kamar jenazah, rasa takut akan gelap pun dia hiraukan, yang terpenting dia segera menemui sahabatnya.
Melihat sahabatnya yang sudah tertutup kain putih, di atas brankar kamar jenazah, kaki Aluna seperti terlepas dari tulangnya, dia tidak mampu menggerakkan kakinya, Kalun yang berdiri di belakang Aluna berusaha menahan tubuh istrinya.
Aluna duduk berjongkok di sana, sambil menangisi Renata yang sudah terbujur kaku di atas brankar.
“Re, kenapa kamu tinggalkan aku!” teriak Aluna di tengah tangisnya. Kalun masih berdiri di belakang Aluna, hatinya perih melihat istrinya menangis seperti itu, ingin sekali menenangkan istrinya, tapi dia tidak mampu, dia hanya bisa mendengar dan melihat kekacauan Aluna saat ini. Kalun lalu berjongkok menghampiri Aluna.
__ADS_1
“Hey, lihatlah sahabatmu dulu, setelah itu kita urus pemakamannya,” ucap Kalun yang berusaha menenangkan Aluna. Dengan dibantu Kalun berdiri, Aluna berjalan menghampiri brankar Renata.
Tangan Aluna belum mampu membuka janazah di depannya. Dia menoleh ke arah Kalun sebentar, memastikan lagi jika dia akan segera membukanya. Tangannya mulai meraih kain putih yang menutupi tubuh Renata, Aluna menguatkan hatinya untuk menerima kenyataan, jika sahabat terbaiknya itu sudah tiada.
Saat dia membuka kain putih itu, Aluna reflek mundur ke belakang saat melihat wajah Renata yang melotot sambil tersenyum tipis.
“Hahaha ....” suara Renata terdengar menggelegar memenuhi kamar jenazah, ketika melihat reaksi wajah Aluna.
Aluna yang sadar jika sedang dikerjai, langsung memukuli Renata dengan tasnya. Namun, tak lama kemudian banyak orang yang masuk ke kamar janazah tersebut, sambil menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun' untuk Aluna.
Aluna hanya diam tanpa ekspresi, dia mengabsen siapa saja yang hadir dan mengutuki semua orang yang mengerjainya saat ini, di sini lain dia juga bahagia, setidaknya ada yang mengingatkannya, jika hari ini dia tengah berulang tahun.
“Selamat ulang tahun, Lun.” Samuel menyerahkan bunga ke tangan Aluna, setelah meletakkan gitarnya.
“Kamu di sini juga Kal?” tanya Samuel setelah melihat kehadiran Kalun, dia lalu berjalan mendekat ke arah Kalun. “Mumpung kamu di sini, sekalian deh ya jadi saksi gue, hari ini gue mau melamar Aluna,” bisik Samuel yang membuat Kalun menggertakkan giginya demi meredam rasa cemburunya.
“Kok begitu, bukankah dia bersuami?” tanya Kalun, mencoba mencegah niat Samuel.
“Ya, tapi suaminya tidak mencintai Aluna! Kerena aku mencintai Aluna, jadi aku tidak ingin membuatnya terluka lebih dalam lagi, karena diam-diam dia sudah mulai mencintai suaminya,” jelas Samuel.
“Entahlah, terserah loe, yang penting aku akan melamarnya hari ini, dan aku bersedia menunggu, sampai dia bercerai dengan suaminya,” ucap Samuel, lalu dia segera mendekat lagi ke arah Aluna yang tengah tertawa bahagia bersama rekan-rekannya. Kalun yang jengkel segera meninggalkan ruangan tersebut, tanpa menyaksikan acara lamaran Samuel dan Aluna.
“Lun, mumpung kita berkumpul di sini, dan hari ini adalah hari specialmu, aku ingin bicara penting denganmu,” ucap Samuel yang meminta perhatian Aluna.
“Yah, silahkan! Bicarakan di depan kita semua!” perintah Aluna yang menatap ke arah Samuel. Samuel yang mendengar persetujuan Aluna, tersenyum senang karena sebentar lagi beban beratnya segera terlepas.
Aluna mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan mencari keberadaan Kalun. Tapi yang ada dia tidak mendapati Kalun di sana, dia tidak sadar jika Kalun sudah meninggalkannya.
“Lun! Will You Merry Me?”
Mata Aluna melotot sempurna saat mendengar ucapan Samuel, dia tidak menyangka, jika sahabatnya itu akan mengatakan itu secepat ini. Bahkan dia sudah menyiapkan cincin berlian yang sudah dibungkus rapi di dalam kotak bludru bewarna merah.
“Sam?” panggil Luna dengan penuh pertanyaan.
__ADS_1
“Aku akan melebarkan telingaku untuk mendengarkan jawabanmu, biar kamu tidak perlu mengulanginya lagi,” ucap Samuel sambil menatap lekat ke arah Aluna. Aluna menggelengkan kepalanya, menandakan jika dia menolak lamaran Samuel.
“Maafkan aku Sam, aku ini istri orang. Dan kamu juga sahabat Fandi, aku tidak bisa menerima lamaranmu,” jelas Aluna yang langsung menolak Samuel.
“Tapi kalian akan berpisah Lun, jadi aku berniat menggantikannya, sebelum kamu terlalu dalam jatuh cinta padanya,” ucap Samuel yang tidak terima penolakkan Aluna. Sedangkan rekan-rekan Aluna yang berdiri di belakangnya hanya memperhatikan sikap Samuel yang bisa bersikap seromantis itu.
“Maaf, tapi aku lebih nyaman jika kita berteman saja, lagian ya, sekuat apapun cintamu padaku, kita tidak akan pernah bersama, karena kita berbeda.”
Tuhan memang satu, kita yang tak sama ....
Haruskah aku lantas pergi, meski cinta takkan bisa pergi....
Nyanyian dari mulut Renata itu, membuat keduanya melemparkan tatapan membunuh ke Renata. Bisa-bisanya di saat serius seperti ini, rekannya itu justru menganggapnya sebuah candaan.
Samuel kembali menatap Aluna. Dia tersenyum kecut ke arah wanita pujaanya itu.
“Jadi ini alasanmu, selalu menghindar dariku? Banyak orang yang hidup dalam perbedaan Lun, tapi mereka juga bisa bahagia,” ucap Samuel yang masih memaksa Aluna untuk menerimanya.
“Sam. Setiap orang punya pemikiran masing-masing, aku mencari suami yang bisa menuntunku di dunia dan akhirat, jika kamu tidak sholat bagaimana bisa membawaku ke surga?” jawab Aluna yang membuat Samuel mengalihkan pandangannya.
Samuel menunduk dan terdiam di depan Aluna, hatinya merasa sesak saat mendengar penolakkan Aluna saat ini. Padahal dia sudah bermimpi membangun rumah tangga, dengan mantan pacar sahabatnya itu.
“Baiklah, jika begitu!” ucap Samuel sambil memijit pangkal hidungnya, dia lalu memperhatikan ke arah karyawannya yang berdiri di belakang Aluna.
“Bolehkah aku memelukmu? Aku ingin kamu menenangkan jantungku yang perih ini,” ucap Samuel sambil menampilkan senyuman kecutnya ke arah Aluna.
Aluna pun memeluk tubuh Samuel dengan erat. Sambil membisikkan sesuatu di telinga Renata.
“Yakin dan percayalah Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu, kamu orang baik Sam, pasti jodohmu juga baik. Bukan menungguku janda!” ucap Aluna yang diakhiri candaan.
“Ya, terima kasih. Tapi aku bersedia menjadi sandaranmu, jika suatu hari suamimu itu menyakitimu, aku tidak akan membiarkan orang yang aku cintai terluka, atau jika kamu memintaku membunuhnya, aku pun akan melakukannya!” ucap Samuel yang langsung dihadiahi pukulan oleh Aluna. Aluna pun mendorong kebelakang tubuh Samuel, supaya menjauh darinya. Dia baru menyadari pasti suaminya akan marah jika melihatnya memeluk Samuel seperti ini.
👣
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan vote ya.👍😉