
Kalun terbangun dari tidurnya. Dia lupa, jika sudah mengunci kamarnya saat ini, supaya Aluna tidak masuk ke dalam kamar. Dia mengira hari ini Aluna tidak bekerja, karena menemani Riella. Tapi pikirannya salah,
ketika dia keluar dari kamarnya dia hanya menemukan Riella yang tengah melihat
tayangan televisi di sofa.
Karena merasa lapar, Kalun
berjalan ke arah dapur, dia melirik Riella yang juga tengah menatapnya tajam.
“Tadi Luna pesan, makanannya
sudah disiapkan di meja makan,” kata Riella dengan sedikit berteriak, supaya
kakaknya itu bisa mendengar ucapannya.
Kalun membuka tutup makanan yang
ada di meja, dia segera menikmati makanan itu dengan nikmat, tanpa mempedulikan
Riella yang masih menatapnya.
“Dia ke mana?” tanya Kalun
setelah melihat Riella duduk menghampirinya.
“Kerja,” jawab Riella singkat
tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Kalun.
“Kenapa Kakak pergi ke London? Apa
kakak masih ingin menyakitinya lagi? Sudah cukup Kakak membuatnya menderita
karna kepergian calon suaminya, jangan lagi membuat Luna sakit, aku melihat
kemarin dia merawatku dengan baik, dan aku yakin pasti Luna juga orang baik.”
“Jangan mengurusi hidupku! Urus
saja masalahmu sendiri, pikirkan bagaimana nanti kamu akan mengakuinya pada
papa!” balas Kalun dengan suara dingin, dia lalu segera mencuci tangannya,
meninggalkan Riella yang tengah mengawasinya di meja makan.
Setelah selesai, Kalun berjalan
kembali ke kamarnya, tapi dia dihentikan dengan sindiran yang keluar dari bibir Riella.
“Kenapa Kakak meniduri Kayra?”
Kalun mematung, kakinya sulit digerakkan saat mendengar pertanyaan yang keluar dari Riella.
“Aku pikir, Kakak adalah lelaki
yang baik, yang tidak akan menyentuh wanita sebelum dia sah menjadi istri
Kakak, tapi apa yang Kakak lakukan? Aku kecewa denganmu Kak!”
“Dari mana kamu tahu itu?” tanya Kalun
yang mempertanyakan ucapan Riella.
“Apa Kakak lupa Kayra itu siapa? Dia
selalu dekat denganku Kak, Kakak kenapa bisa sebodoh ini sih!” maki Riella.
“Bagaimana jika Kayra hamil Kak? Apa
Kakak sudah siap untuk bercerai dengan Luna?” tanya Kayra dengan penuh selidik.
“Itu masalahku, dan jangan kamu
ikut mencampurinya!” peringat Kalun, lalu dia kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia kembali
merebahkan tubuhnya di kasur. Dia memukul-mukul bantalnya merasa kesal dengan
dirinya sendiri.
Suara lembut kayra tergiang di
telinganya.
Apa kamu yakin akan melakukannya?
Maaf kamu bukan yang pertama
untukku?
__ADS_1
Kalimat itu tergiang jelas ditelinganya, seolah memberitahukan keburukkan Kayra selama ini, tapi bukankah
itu kabar bagus untuknya? Meski dia di duakan, berarti dia bisa lebih mudah
untuk melepaskan Kayra. Pikirannya tertuju ke sana, tapi dadanya sedikit sesak
karena selama ini dia sudah dibohongi Kayra.
Saat dia memikirkan itu, dering
ponselnya terdengar, dia menatap sebentar ke arah jam di dinding, tepat
menunjukkan waktu istrirahat karyawan kantornya. Dugaannya benar, suara panggilan
telepon dari Aluna. Dia memejamkan matanya, menggeser tombol warna merah di layar
ponselnya, seraya mengucapkan 'maaf'. Tidak lama kemudian terdengar bunyi pesan
masuk, Kalun segera membuka pesan yang Aluna kirimkan untuknya.
Maafkan aku tidak berpamitan
denganmu, aku tadi sudah mengetuk pintu kamar, tapi sepertinya kamu tidur terlalu
nyenyak, jadi mengabaikan panggilanku, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu
di meja, selamat menikmati A’ I Love You 😘
Kalun semakin sesak saat membaca
pesan panjang dari Aluna, dia hanya berucap, "I Love you to." Sambil tersenyum
kecut ke layar ponselnya.
“Maaf Sayang, aku harus segera menyelesaikan ini sebelum kamu mengetahuinya, aku sudah kotor, aku tidak
sanggup untuk menyentuhmu lagi,” gumamnya lirih sambil melemparkan ponsel ke
atas meja, dia tidak membalas pesan dari Aluna, membiarkan istrinya itu bingung
memikirkan keadaan Kalun.
Kantin EL Group
“Kenapa cemberut begitu?” tanya Renata
sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
aku sedang cemberut?” balas Aluna yang mejawab dengan pertanyaan.
“Jelas, bibirmu aja sampai bisa
diikat, hahaha,” goda Renata yang membuat Aluna samakin cemberut.
“Belum dapat jatah dari Aa’ mu? Harusnya
kan, sudah! Apalagi 3 hari nggak bertemu, pasti panas-panasnya tuh,” goda Renata
yang membuat pipi Aluna bersemu merah karena malu.
“Sembarangan, baru tadi pagi
nyampainya, dia juga pasti capek, nanti malamlah dirapel sekalian,” sahut Aluna
yang menanggapi godaan Renata. Renata pun ikut terkekeh saat mendengar balasan Aluna.
Membayangkan Aluna yang berteriak-teriak di bawah wajah dingin Kalun.
“Ceritain dong gimana malam
pertama kalian, pasti menyenangkan malu-malu ganas gitu,” tanya Renata yang
penasaran dengan Aluna.
“Iya, makanya buruan nikah, pasti
kamu ketagihan nanti,” goda Aluna.
“Iya, tunggu saja, jodoh gue baru
dipinjam orang!” canda Renata sambil tertawa bahagia. Tidak lama meja mereka
kehadiran lelaki yang dihormati di devisinya.
“Tumben Pak makan di kantin?”
tanya Aluna penuh selidik.
“Bukannya seharusnya saya yang
__ADS_1
bertanya seperti itu?” ledeknya yang membuat Aluna tersemyum simpul ke arah
David.
“Jadi, sebulumnya kamu kerja di
mana Re?” tanya David.
“Ehemm … jadi sekarang Bapak
pindah ke lain hati nih, nggak lagi mengejar saya?” goda Aluna sambil menatap ke
arah David.
“Hahaha, takut aku mau ngedeketin
kamu, kamu kan simpanan om-om, yang suka naik mobil mewah, yang biasa nurunin
kamu di perempatan jalan,” canda David yang langsung mendapat pukulan dari Renata.
Karena melihat air muka Aluna yang sudah berubah menjadi sedih.
Aluna segera menghentikan
makannya, merasa tersinggung juga dengan ucapan David. Dia lalu berjalan kamar mandi, meninggalkan mereka berdua, untuk membenahi dandananya yang
sedikit berantakan.
Hari ini terasa sangat lama
bagi Aluna, dia menunggu Kalun membalas pesannya, tapi yang ada Kalun tidak
merespon pesannya sama sekali. Dia terus melirik ke arah jam di dinding,
berharap waktu akan segera berlalu.
Tepat pukul 5 sore, dia segera
berlari keluar gedung EL Group, bahkan untuk menuju mobilnya, Aluna terus
berlari kecil, karena dia sudah tidak sabar untuk menemui suaminya.
Dia mendengus
kesal, karena sore ini dia terjebak macet yang lumayan panjang, membuat niatnya
untuk memeluk erat suaminya sedikit tertunda.
Dia secepat kilat menekan password
pintu apartemen, matanya memindai seluruh ruangan mencari keberadaan Kalun. Namun,
yang ada dia hanya mendapati Riella yang tengah makan di meja makan.
“Di mana Aa’ Kalun La?” tanya Aluna
yang sudah berada di dekat Riella.
Riella menatap sebentar ke arah Aluna, melihat nafas Aluna yang terdengar ngos-ngosan.
“Kakak keluar tadi, katanya mau
balapan sama temannya,” jelas Riella, yang membuat Aluna memejamkan matanya. Dia
baru tahu jika suaminya itu suka balapan, bahkan Kalun tidak pernah
menceritakan hal itu padanya.
Dia sedikit trauma, karena Fandi meninggal ketika mengendarai motor.
“Antar aku ke sana!” perintah Aluna
sambil menarik tangan Riella.
Riella menghempaskan tangan Aluna
dengan kasar, membuat Aluna menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Riella
untuk memberinya penjelasan.
“Bersihkan tubuhmu dulu! Setelah itu
aku akan segera mengantarmu,” ucap Riella dengan tatapan kesal.
Aluna meringis saat menyadari kebodohannya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu segera berlari
kecil menuju kamarnya, karena malu dengan Riella.
👣
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan vote.🙏👍😊