
Aluna lebih dulu masuk ke apartemen, dia ingin segera menghangatkan tubuhnya dengan air hangat. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dia ingin segera beristirahat karena besok, dia juga harus bangun pagi untuk acara presentasi.
Saat dia keluar kamar mandi, Kalun mengejutkannya, karena dia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, beruntung dia sudah memakai baju tidur batik yang di kirim papanya beberapa minggu lalu.
“Minumlah, supaya tidak masuk angin!” perintah Kalun sambil menyerahkan cangkir warna putih ke depan Aluna.
Aluna menghirup aroma jahe, di cangkir yang Kalun bawa, dia lalu menerima cangkir itu, dengan senyum sumringah.
“Nggak kamu beri serbuk pemikat cinta kan?” tanya Aluna penuh selidik.
“Aku nggak segila itu, kalaupun aku suka denganmu, aku bisa mendapatkannya langsung, sayangnya kamu bukan seleraku,” jelas Kalun sambil terkekeh.
“Syukurlah!” ucap Aluna sambil berjalan ke kamar, dia hendak membawa cangkir itu ke kamarnya. Tapi dia menoleh sebentar ke arah Kalun karena melupakan sesuatu.
“Terima kasih, harusnya kamu tidak perlu repot-repot untuk membuatkanku minuman ini,” ucap Aluna sebelum menutup pintu kamar.
“Lun!”
“Hem.” Aluna menahan pintunya saat mendengar panggilan Kalun.
“Bisa bicara sebentar!” pinta Kalun.
“Soal?”
“Proyek Emero Group,” jawab Kalun singkat. Aluna lalu melirik ke arah jam di dinding, dia masih punya waktu 30 menit untuk membahasnya dengan Kalun.
Aluna memenuhi permintaan Kalun, dia kembali berjalan keluar dari kamar menuju sofa depan tv.
“Apa semua sudah siap?”
“Ya, sesuai deadline setelah kamu menyetujuinya aku dan Pak David akan segera menyerahkannya kepada Emero Group.” Aluna menjelaskan setelah mereka duduk berdampingan di sofa.
“Oke, besok aku akan melihat hasil kerjamu, semoga bisa sesuai dengan apa yang aku pikirkan, mengingat itu proyek besar,” ucap Kalun menatap wajah Aluna lekat.
“Ya, semoga kamu puas dengan hasil kerjaku, dan kamu harus memberikanku bonus yang banyak, hehehe.” Aluna menatap ke arah Kalun sambil terkekeh, tapi tidak memperhatikan Kalun yang menatapnya lekat dengan cengirannya.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak menggunakan atm yang aku berikan padamu?” tanya Kalun yang tidak pernah mendapatkan laporan transaksi sms bangking dari atm yang Aluna bawa.
Aluna tertawa tanpa suara setelah mendengar ucapan Kalun, dia mengalihkan pandangannya ke arah cangkir yang dia bawa.
“Aku masih punya uang kok, jadi aku pakai uangku dulu,” jawab Aluna yang tidak ingin mempermasalahkan soal atm yang tidak bisa dia pakai.
“Kalau uang di atm habis, kamu bisa minta lagi padaku,” ucap Kalun yang masih memperhatikan rambut Aluna yang terlihat basah.
“Lun,” panggil Kalun dengan nada lembut.
“Maafkan kejadian siang tadi, aku benar tidak tahu selera makanmu,” lanjut Kalun dengan tulus sambil menatap mata Aluna.
“Tenanglah aku sudah melupakannya, itu tidak masalah denganku,” ucap Aluna sambil meletakkan cangkir ke meja di depannya.
Hujan masih mengguyur kota Jakarta malam itu, membuat sebagian wilayah terkena dampak banjir dan mati lampu termasuk apartemen yang dihuni Kalun dan Aluna, saat mereka tengah asyik mengobrol lampu apartemen tiba-tiba padam. Membuat Aluna yang takut dengan gelap, meremas baju Kalun dengan erat.
“Jangan tinggalkan aku sendiri,” ucap Aluna dengan sedikit serak.
Kalun terkekeh saat mendengar ucapan Aluna, dia lalu mengambil keuntungan, membawa Aluna ke dalam pelukkannya.
Kalun lalu berdiri, dan membawa Aluna ke kamar sebelah yang biasa Aluna tempati. Dia malam ini akan menemani Aluna tidur di kamarnya.
Saat berjalan menuju lantai atas, tangan Aluna melingkar erat di perut Kalun, dia mengikuti Kalun yang membawa ke kamarnya.
“Tidurlah! Aku akan menemanimu di sini,” perintah Kalun saat mereka sudah sampai di kasur Aluna. Kalun ikut tidur di samping kasur Aluna yang sebenarnya, tidak bisa di pakai untuk berdua. Aluna tidak mampu menolak, karena dia juga takut jika Kalun akan meninggalkannya.
“Pejamkan matamu, jangan melihatku seperti itu,” ucap Aluna saat melihat manik mata Kalun yang menyorot ke arahnya.
“Bisakah, kamu meraih ponselku di atas meja, aku akan menyalakan senternya!” perintah Aluna. Kalun yang berada di pinggir kasur meraih ponsel Aluna, lalu menyerahkan kepada Aluna.
Cahaya menyorot dari layar ponsel Aluna, tapi Aluna membuang nafas kecewa, saat mendengar peringatan jika batrei ponselnya akan habis.
“Aku akan mengambil ponselku di kamar,” ucap Kalun yang langsung mendapat pelukkan erat dari Aluna ketika dia ingin beranjak dari kasur.
“Jangan, jangan pergi! Aku takut, lebih baik kita seperti ini dari pada kamu harus pergi,” ucap Aluna yang semakin erat menahan Kalun supaya tidak pergi.
__ADS_1
Kalun yang awalnya hanya ingin mengerjai Aluna, tiba-tiba merasa panas ketika mendapat perlakuan Aluna. Dia lalu menenangkan dirinya mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya pelan. Dia kembali merebahkan tubuhnya di kasur sempit Aluna, tubuh Aluna kini menempel erat di tubuhnya, bahkan dia bisa merasakan benda kenyal yang ada di tubuh Aluna.
Dia menunduk, menatap ke arah Aluna yang berada di depan dadanya, karena posisinya kini sudah tidur menyamping menghadap tubuh Aluna.
“Lun.”
“Ya,” jawab Aluna sambil mendongak menatap ke arah wajah Kalun.
“Aku bahkan tidak pernah sedekat ini dengan Kayra,” ucap Kalun dengan suara yang terdengar serak.
“Maaf, aku benar-benar takut, karena tidak ada cahaya di sini,” ucap Aluna dengan nada khawatir, dia berusaha sedikit mengendorkan pelukannya karena merasa tidak enak hati. Aluna masih menatap mata Kalun yang terlihat menahan sesuatu. Sedangkan Kalun mulai mendaratkan kecupannya di dahi Aluna.
“Tidurlah! ini tidak masalah, karena kita juga tidak berdosa, kita sudah halal,” jelas Kalun sambil mengeratkan kembali pelukkannya dia berucap dengan lembut, sambil menatap kembali bibir Aluna yang menggodanya. Dengan jari jempol tangan kanan Kalun mengusap bibir Aluna, karena tangan kiri berada di bawah kepala Aluna.
Sisi nakal Kalun kini mulai menghasutnya, dia ingin segera merasakan ciuman pertamanya malam ini juga. Kalun yang terhasut mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Aluna.
“Apa kamu mau menciumku?” tanya Aluna sambil memejamkan matanya, ketika merasakan nafas Kalun yang terasa menyapu pipinya.
Tanpa ragu lagi Kalun mendaratkan bibirnya di bibir Aluna. Dia sedikit menggerakkan bibirnya di bibir Aluna dengan lembut, bibir kering milik Kalun kening sudah mendarat sempurna di bibir Aluna. Membuat nafas Aluna semakin memburu karena perlakuan Kalun.
“Ini ciuman pertamaku, Kal,” lirih Aluna dengan suara serak, tapi Kalun yang mendapat celah dari bibir Aluna, semakin membebaskan bibirnya untuk menyerang bibir Aluna.
Keduanya hanya bisa menahan nafas, saat menikmati ciuman itu, Kalun terengah-engah ketika melepas ciumannya dari bibir lembab Aluna.
Tidak beda jauh dengan Aluna, dadanya naik turun karena terlalu lama menahan nafas, mereka masih saling tatap di tengah kegelapan ruangan itu, hanya suara detik jam yang bisa mereka dengar, hujan lebat di luar tidak mampu mereka dengar karena ruangan yang memang kedap suara, hanya suhu ruangan yang semakin terasa dingin saja yang bisa mereka rasakan, menambah keduanya saling mengeratkan pelukannya. Setelah merasa sedikit lega, Kalun memikirkan ucapan Aluna tadi.
“Sama denganku, ini juga ciuman pertama untukku,” ucapnya sambil mengusap lagi bibir Aluna. Dia kembali mencipi bibir Aluna yang terlihat berair itu, lidah Aluna yang menyapu bibirnya, membuat Kalun ingin mencicipinya lagi.
Kalun mengulangi ciuman itu, mereka saling mengecup hingga suara kecapan jelas terdengar, membuat Kalun semakin bersemangat untuk memperdalam lagi ciumannya, tak beda dengan Aluna yang juga merespon ciuman Kalun, dia semakin mencekram dalam tangannya yang berada di belakang rambut Kalun.
Kalun semakin terbuai dengan respon Aluna, dia semakin tidak terkendali, ingin meledakkan apa yang sudah dia tahan selama ini, ciumannya perlahan mulai menurun di leher kecil Aluna. Membuat Aluna tidak mampu manahan desahan kecil yang meminta untuk di keluarkan.
CUT!
TBC sudah 1200 kata lebih 😁
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote.🙏😂