
“Itu yang tadi aku sampaikan, proyek untuk Emero Group? Apa kamu menyukainya?”
Kalun menjauhkan tubuhnya dari Aluna, sambil menatap Aluna yang tengah menunduk dalam, takut menatap ke arahnya. Ia lalu menoleh ke arah orang yang berada di belakangnya saat ini, meminta penjelasan kenapa Aluna menanyakan itu padanya.
“Kal. Apa kamu tidak menyetujui presentasiku tadi? Apa perlu aku revisi, supaya kamu tertarik,” kata Aluna lirih, sambil menurunkan satu kakinya, dia hendak turun dan pulang ke apartemen, ingin segera mengecek persentasinya tadi, dia meringis menahan rasa sakit yang menyerang perutnya, ketika salah satu kakinya sudah menggantung di ranjang. Terkejut, ketika melihat selang yang menjalar menuju intinya.
Aku kenapa? Apa tadi berakibat fatal, kenapa ada selang di sini. Batin Aluna yang masih menatap lekat selang yang terhubung ke kantong air seni yang ada tepi ranjangnya.
“Pak Kalun, bagaimana jika kita melakukan MRI sekarang? Takutnya ada kerusakan di kepala nona Aluna,” jelas dokter ahli saraf yang menangani kondisi Aluna. Aluna semakin dibuat bingung oleh ucapan dokter di depannya. Dia menatap Kalun sambil mengangkat tangannya mengisyaratkan supaya Kalun menjelaskan kepadanya.
“Kamu habis kecelakaan, dan ....” ucapan Kalun menggantung saat ingin menjelaskannya pada Aluna. Dia bingung akan menyampaikan kondisi Aluna yang sekarang atau tidak. Karena penasaran dan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan Aluna mendekatkan mulutnya ke arah telinga Kalun.
“Aku nggak papa kan? Kenapa dipasang ini segala! Apa ini tidak akan merusak selaput daraku?” bisik Aluna di samping telinga Kalun, dia malu dengan mertuanya yang tengah memperhatikan tingkahnya saat ini. Kalun menatap Aluna sambil mengerutkan dahinya, ia lalu menjulurkan tangannya menyentuh kening Aluna.
Sepertinya dia benar-benar lupa jika aku yang telah mengambilnya? Batin Kalun yang tersenyum dalam hati.
“Jangan pikirkan itu, sekarang menurutlah! Biarkan mereka memeriksa kondisimu,” balas Kalun yang juga berbisik di samping telinga Aluna. Kedua orang tuanya pun menggelengkan kepalanya. Dan meminta Kalun supaya menjauh dari Aluna. Karena Aluna akan segera dibawa ke ruangan khusus pemindaian.
Kalun yang hendak mendampingi Aluna, tangannya tertahan oleh tangan Erik yang menariknya.
“Kamu tahu apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Erik pada anak lelakinya.
“Tahu, menyembunyikan semuanya dari Luna!” jelas Kalun sambil mengibaskan, tangan Erik, karena dia sudah ketinggalan jauh dari brankar Aluna.
Hampir 40 menit menemani Aluna melakukan pemeriksaan MRI, Kalun menunggu dengan setia, meski kadang rasa kantuk menyerangnya, dia berusaha untuk membuka matanya supaya terjaga, padahal hari masih pagi, tapi dia sudah sangat mengantuk, karena semalam dia tidur cukup larut. Dia terus menemani Aluna, sambil memainkan ponselnya, sesekali membidikan kamera ke arah Aluna yang berbaring tak bergerak di tempat yang berbentuk kapsul itu.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Kalun membawa Aluna kembali ke kamarnya. Kedua orang tuanya pun sudah kembali pulang ke rumah, setelah mengetahui jika menantunya sudah sadarkan diri.
Suasana ruangan Aluna terlihat sepi setelah kepergian orang tuanya, hanya suara jam yang berjalan lambat, terdengar begitu nyaring. Kalun memperhatikan Aluna dari tempat duduknya, dia tidak berani berkata apa-apa, sebelum mendengar penjelasan dari dokter.
“Maafkan aku, soal semalam. A-aku ... aku tidak bermaksud menggodamu! Sungguh. Itu karena aku benar-benar takut gelap,” jelas Aluna yang membuat kaki Kalun melangkah mendekat ke arahnya.
“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Kalun memastikan sambil duduk di tepi bed Aluna, dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dikatakan istrinya. Membuat Aluna mengalihkan tatapannya, karena tatapan Kalun menjurus tajam ke arahnya. Dia malu, pada lelaki di depannya ini, mengingat dia semalam yang turut larut dalam ciuman panas yang diberikan Kalun.
“Eng ... kamu nggak ingat! Syukurlah kamu sudah melupakannya, anggap saja kejadian semalam adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi, aku pastikan tidak akan mengulanginya lagi! Sampaikan maafku untuk calon istrimu!”
Kalun memijit pangkal hidungnya, merasa tidak paham dengan yang dikatakan oleh Aluna saat ini.
“Kamu bicara apa sih! Hum? Jelaskan yang benar!” tegas Kalun yang berusaha menggeser tubuh Aluna, supaya dia bisa tidur di sampingnya.
Aluna semakin berdebar saat tangan Kalun melingkar di perutnya. Kalun yang tidur menghadap Aluna pun hanya menatap wajah Aluna dari dekat, dia menopang kepalanya dengan tangan kiri, supaya bisa menatap perubahan wajah Aluna yang semakin memerah.
__ADS_1
“Menjauhlah Kal, jangan seperti ini!” usir Aluna yang sedikit mendorong tubuh Kalun.
“Kenapa panggilanmu untukku berubah? Biasanya kamu memanggilku Aa’?”
Aluna semakin mengerutkan dahinya. Kalun yang gemas, mendaratkan kecupannya di pipi Aluna. Membuat tangan Aluna langsung menghapus bekas ciuman Kalun yang terasa lembab di pipi putihnya.
“Kenapa menatapku seperti itu? Apa mau lagi?” tanya Kalun saat Aluna menatap wajahnya dengan tajam. Aluna hanya mampu mencekram seprei dengan tangan kiri. Dia kesal dengan Kalun yang sengaja menciumnya berulang kali. Dia yang hendak memaki Kalun, terpaksa harus terhenti karena mendengar suara pintu terbuka lebar. Pria paruh baya itu mendekat ke arah Aluna, menyampaikan kondisi Aluna saat ini. Kalun yang melihat seorang dokter mendekat ke arahnya, segera duduk dari tidurnya.
“Bisa ke ruangan saya sebentar Pak Kalun!” perintah dokter yang tertulis Rizal di dada sebelah kanannya.
“Nggak bisa di sini saja! Istriku tidak yang menjaga! Aku takut ada orang yang akan menculiknya.” Kalun menolak perintah dokter saraf di depannya. Dia takut jika istrinya akan pergi meninggalkannya.
“Tapi ini masalah kesehatan nona Aluna, Pak!”
Kalun menoleh ke arah Aluna yang terbaring di bed tidurnya, Aluna justru mengalihkan pandangannya ketika Kalun menatap ke arahnya, berpura-pura tidak memperhatikan Kalun yang tengah memperhatikannya.
“Kamu jangan beranjak dari ranjang, aku janji! Aku hanya pergi sebentar saja, oke! Kalau ada apa-apa tekan ini!” peringat Kalun yang khawatir meninggalkan Aluna seorang diri.
“Aku akan mengunci kamar ini, supaya tidak ada yang berani memasukinya! Jadi kamu jangan khawatir!” lanjut Kalun sambil mengenggam tangan Aluna yang terpasang jarunm infus. Pertanyaan sudah menggunung di kepala Aluna, tapi dia tidak mau bertanya pada lelaki di depannya ini.
Setelah berbicara panjang lebar dengan Aluna, kini Kalun sudah berada di depan dokter Rizal, yang tengah menjelaskan padanya tentang kondisi Aluna. Kalun terus menatap layar hitam yang terdapat cahaya kecil-kecil yang berbentuk tengkorak kepala.
Amnesia retrograde! Kalun tercekat saat mendengar penjelasan Rizal, istrinya tidak bisa mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, masa-masa penting yang mereka lewati bersama, masa di mana mereka merasakan pahit dan manisnya pernikahan.
“Emm, beberapa pasien yang saya temui hanya 30% yang bisa kembali normal, dan 50% tidak kembali dan 20%, hanya ingatan ketika dia merasa dirinya senang atau bahagia saja!” ucapan Rizal terhenti saat melihat raut wajah Kalun yang terlihat sedikit menampilkan senyuman tipisnya.
“Apa dia juga lupa jika pernah hamil?”
“Ya, bisa jadi, dia melupakannya! Tapi Pak Kalun juga perlu waspada! Jika suatu hari nanti, dia juga bisa mengingat semuanya!”
“Aku bahkan berharap jika dia tidak akan mengingat semua kejadian dulu!”
“Hah? Kok gitu, jadi Bapak senang istri Bapak tidak kembali seperti dulu?”
“Bukan seperti itu! Aku senang jika dia mengingatku saat aku menyatakan perasaanku padanya dan saat kita melakukannya saat pertama kali! Tapi aku tidak ingin dia mengingat hal-hal yang membuatnya bersedih!”
“Heh, semoga saja seperti yang Bapak pikirkan,” ucap Rizal sambil terkekeh karena mendengar Kalun ingin seenaknya saja mengatur ingatan Aluna.
Kalun keluar ruangan dokter Rizal, setelah semuanya terasa jelas. Ia kembali berjalan menuju kamar istrinya sambil memikirkan kata-kata yang pas untuk menjelaskan pada Aluna.
Selamat siang pemirsa. Selamat bergabung kembali di program berita siang kami CTN Indonesia dengan saya Prita Nasution dan rekan saya Jeremy Titto.
__ADS_1
Berita utama siang ini datang dari seorang calon wakil gubenur yang digiring ke kantor polisi, karena kasus percobaan pembunuhan salah satu menantu pengusaha terkenal di Jakarta. Kita simak tayangannya berikut ini.
Langkah Kalun terhenti, saat mendengar suara televisi yang tertempel di dinding di depan ruang tunggu pasien. Dia sejenak memperhatikan gambar yang menayangkan laki-laki tua, yang dibawa pasukan menuju mobil bertuliskan polisi. Dia lalu kembali melangkahkan kakinya dengan cepat, kembali ke kamar Aluna untuk mengambil ponselnya yang dia tinggal di sana, dia ingin segera menghubungi Doni.
Kalun mendorong pintu dengan kasar karena sudah tidak sabar lagi untuk menanyakan kebenaran berita itu. Namun, sialnya dia justru kesakitan karena dia lupa membuka kunci kamar Aluna. Kalun mengumpati dirinya sendiri, sambil mengusap dahinya yang terasa ngilu. Tangannya cepat-cepat merogoh kunci pintu yang tadi dia simpan di saku celana pendeknya.
Pintu terbuka, dia melihat Aluna yang tengah memainkan ponselnya dengan suara tawa kecil yang keluar dari bibirnya. Aluna menoleh ke arah Kalun yang masih mengusap-usap dahinya. Dia tersenyum simpul saat melihat dahi Kalun yang memar karena kecelakaan kecil tadi.
Kalun mendekat ke arah Aluna yang tengah menartawainya, dia menarik hidung Aluna dengan keras, karena Aluna terlihat menggemaskan saat seperti itu.
“Sakit!” keluh Aluna sambil mendongak menatap Kalun yang berdiri di depannya.
“Lebih sakit ini!” tunjuk Kalun pada dahinya, sambil duduk di kursi sofa yang ada di samping bed Aluna.
“Tiup!” perintah Kalun sambil mendekatkan dahinya di bibir Aluna.
Aluna yang ingin membatasi dirinya dengan Kalun hanya diam, dia tidak mengindahkan perintah Kalun.
Karena Aluna tidak merespon perintahnya, Kalun mendongak, dahinya tepat mengenai bibir Aluna yang lebih tinggi darinya. Membuat Aluna salah tingkah dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Kalun, dia bisa merasakan rasa debaran jantungnya yang berdetak lebih cepat. Dia memegangi dadanya, seperti orang yang melindungi pusakanya.
“Kalau mau nyium nggak usah malu-malu begitu, ini! Aku rela kok! Semuanya untukmu!” ucap Kalun sambil mendekatkan wajahnya lagi di depan wajah Aluna, dia sudah memejamkan matanya bersiap menerima kecupan dari Aluna. Membuat Aluna semakin malu dan kesal, dia lalu meraih bantalnya untuk ditimpalkan ke wajah Kalun.
Terdengar kekehan di balik bantal dacron yang ada di wajah Kalun. Kalun segera menurunkan bantal itu, lalu meraih ponsel yang ada di tangan Aluna. Dia menggeser-geser layar ponselnya, hingga menemukan sebuah foto yang terlihat Aluna mencium bibirnya dengan nafsu. Kalun mengingat lagi foto yang ada di galerinya, kalau tidak salah, foto itu diambil ketika mereka bulan madu ke Maldives.
Nafas Aluna semakin memburu, saat melihat foto di tangan Kalun, dia tidak bisa mengingat kapan foto itu terjadi, dia berusaha meraih kembali ponsel Kalun dan berniat ingin menghapusnya.
“Hapus Kal!” perintahnya sambil berusaha meraih ponsel Kalun.
“Nggak!”
“Hapus nggak!”
“Nggak mau!” terdengar kekehan Kalun setelah menjawab perintah Aluna.
Aluna yang sudah kembali mendapatkan ponsel Kalun, matanya segera tertuju ke layar ponsel suaminya. Dia terkejut karena tidak cuma satu foto yang ada di ponsel Kalun. Ada sekitar 58 foto, semuanya foto selfie antara dia dan Kalun. Dia hanya menggeser-geser touchsreennya. Mencoba mengingat-ingat kapan dia melakukan itu pada lelaki di depannya ini. Hingga akhirnya dia menyerah dan menyerahkan lagi ponselnya pada Kalun, karena tidak berhasil mengingat apapun, dia justru merasa pusing, karena memaksakan otaknya untuk mengingat kejadian yang ada di foto tersebut.
“Ada apa denganku? Apa aku lupa ingatan? Tapi aku masih bisa mengenali diriku sendiri, masih mengingat jika aku istri simpananmu! Apa yang terjadi? Dan jelaskan semuanya padaku!”
👣
Jangan lupa like ya. Votenya untuk hari senin saja👍
__ADS_1
Yang mau masuk GC silahkan isi alasan kalian biar admin mau verifikasi👍