Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Extra Part : Manjanya Aluna


__ADS_3

Note: Yang nunggu cerita Riella dan Kenzo ditunggu bulan depan ya! Yang penting jangan unfavorit dulu, biar tahu infonya👍


Lima tahun kemudian.


Mobil warna hitam yang dikemudikan Kalun berhenti tepat di depan pintu rumah kedua orang tuanya. Kedatangan mobil Kalun, sudah ditunggu Ella sedari tadi ia memutuskan panggilan telepon


Ella langsung membuka pintu belakang mobil, untuk menyambut Leya yang sudah tidak sabar ingin turun, menemui opanya.


"Good moorning Oma!" sapanya sambil mencium punggung telapak tangan Ella. Dia lalu berlari masuk ke dalam rumah mencari lelaki yang selalu ia rindukan.


"Hati-hati Sayang, jangan lari!" peringat Ella yang sedikit berteriak, ketika melihat Leya melesat meninggalkannya.


Kalun yang masih berada di balik kemudi, segera melepas seatbelt yang melingkar di tubuhnya, dia menoleh ke arah kursi samping kemudi, menatap bayi yang tengah memasukkan jari jempol ke dalam mulutnya. Dia lalu meraih bayi yang belum genap 10 bulan yang serupa dengan dirinya itu, “apa kau senyum-senyum?” tanya Kalun yang sebenarnya candaan untuk anaknya, sambil mencium gemas bayi yang berbobot 12 kg itu. Dia lalu mengambil bayi lelaki itu dari carseat di sampingnya. Bayi lelaki itu tersenyum kearahnya, dengan bibir yang penuh air liur. hingga membasahi pipinya. Kalun membawa Leonard keluar dari mobil, untuk menyambut oma nya yang sejak tadi berdiri menunggunya di samping mobil.


"Luna mana?" tanya Ella, ia mengerutkan dahinya saat tidak melihat istri Kalun turut serta, dia lalu mengambil bayi gembul yang mengenakan baju jumper warna biru langit dari tangan Kalun.


"Di rumah," singkat Kalun sambil menggaruk kulit kepalanya dengan jari telunjuk.


"Bertengkar lagi?" selidik Ella yang penasaran.


"Nggak."


"Lalu kenapa anak-anak dititipkan ke mama?" tanya Ella semakin penasaran.


"Entahlah, aku juga heran dengannya. Semua pengasuh dan pelayan perempuan disuruh ambil cuti. Rumah sudah seperti kapal pecah! Tadi pagi malah dia meminta anak-anak untuk dibawa ke sini. Asi Leo juga sudah distock banyak di dalam tasnya," adu Kalun menceritakan kelakuan istrinya yang tidak biasa.


Ella hanya tersenyum tipis, sambil menatap ke arah cucunya, yang kini mencoba meraih kacamata yang ia kenakan.


"Aku nitip mereka dulu ya Ma! Nanti sore aku akan menjemputnya. Hari ini ada rapat penting, Luna tadi bilang sakit kepala," kata Kalun sambil berjalan ke arah taman samping rumah orang tuanya diikuti Ella yang berjalan mengekori dari belakang, dia lalu mendekat di mana anak pertamanya tengah bercanda dengan Erik.


"Leya, Ayah berangkat dulu ya, nggak boleh nakal. Jangan main kuda-kudaan dengan Opa! Nanti kasian Opa, bisa sakit pinggang!" peringat Kalun sambil menatap Erik yang tengah duduk di kursi goyang dekat pintu kaca yang menghubungkan taman dan rumahnya.


"Ok. Ayah!" sahut Leya sambil memberikan jari jempolnya ke arah Kalun. Dia lalu berlari ke arah Kalun menciumi punggung tangan Kalun.


"Ceh, pergi sana, cepat!" usir Erik.


Setelah menitipkan anaknya di rumah Erik, Kalun segera berangkat ke kantor. Ada rapat penting nanti pukul 9 pagi dan dia harus datang tepat waktu.


Saat di jalan. Pikirannya terbayang akan sikap manja Aluna tadi pagi yang menginginkan anaknya dititipkan di rumah orang tuanya. Saat dia bertanya kenapa, tapi Aluna hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya, membuatnya langsung menuruti keinginan Aluna.


Sampai di gedung kantor EL Group, Kalun disambut Doni yang sudah menunggunya di depan pintu gedung. Lelaki yang baru saja menyandang status papa muda itu terlihat lelah ketika menghampiri Kalun. Istrinya baru saja melahirkan dan bayinya belum genap 10 hari. Kalun paham karena anak keduanya juga seperti anak Doni yang selalu mengajaknya begadang di malam hari. Itulah sebabnya dia tidak bisa meninggalkan rapat pagi ini, karena merasa kasihan dengan sekertarisnya itu.


Tepat pukul sembilan pagi rapat dimulai, semua tamu penting sudah hadir di sana. Kalun tengah fokus pada seseorang yang berdiri di depan layar lcd di depannya, sambil sesekali menyoretkan pulpen di buku catatan kecil yang ada di bawah tangannya. Hingga pukul 11 siang rapat tersebut belum juga usai, Kalun masih sibuk memberikan masukan pada lelaki yang tadi menyampaikan presentasinya.


"Hitung lagi anggarannya! Pokoknya saya minta diminimalisir, tapi dengan kualitas bahan yang bagus! Dan seharusnya kita tidak perlu mengambil bahan yang dibawah standar kualitas, dengan anggaran yang kamu rinci itu, harusnya bisa lebih dari yang kamu tulis!" kata Kalun sambil memperhatikan raut wajah lelaki yang berdiri tidak jauh darinya, ia tengah memasang wajah ketakutan. Sambil menundukkan kepalanya.


Tidak lama kemudian, pintu ruangan rapat terbuka kasar, hingga menimbulkan suara keras karena suara daun pintu yang membentur tembok. Membuat semua orang yang berada di dalamnya memasang wajah terkejut ke arah orang yang baru saja tiba. Termasuk Kalun yang mengerutkan dahi ketika melihat Aluna berjalan mendekat ke arahnya. Semakin tidak wajar ketika Aluna menarik tangannya untuk dibawa keluar ruang rapat meninggalkan tatapan terkejut semua orang.


Tiba diluar ruang rapat, Aluna melingkarkan tangannya ke perut Kalun, "Kangen." Aluna menyandarkan kepalanya di dada Kalun. Membuat Kalun tersenyum tipis sambil mengusap rambutnya yang tergerai.


"Tumben berani sampai masuk ke ruang rapat," ucap Kalun merasa aneh dengan kelakuan Aluna.


"Kangenku sudah bisa ditahan." Aluna mendongak menatap Kalun yang lebih tinggi darinya. Membuat Kalun yang menunduk semakin dekat dengan wajah Aluna.


Setelah mengawasi situasi aman terkendali, Kalun mengecup bibir Aluna. Dia menangkup wajah menggemaskan istrinya, yang telihat bersemu merah karena ciuman singkat darinya.


"Kenapa kamu manja sekali hari ini? Apa ini hari ulang tahunmu?" Kalun menautkan alisnya memikirkan tanggal ulang tahun Aluna,"ah ... tidak. Bukan bulan ini."

__ADS_1


"Apa aku belum bilang padamu?"


"Bilang apa?" tanya Kalun penasaran, tangannya kini melingkar di pingang ramping Aluna.


"Apa aku cuma mimpi semalam?" lirih Aluna, "Tapi sepertinya nggak mimpi juga deh?" ujarnya lagi menatap Kalun, mencari drama apa yang akan dilakukan suaminya.


"Ayo, kita ke ruangan! Kamu duduklah di sana dulu, sebentar lagi rapatnya selesai," kata Kalun sambil menuntun Aluna berjalan menuju ruang kerjanya.


"Nggak, aku nggak mau!" tolak Aluna masih dengan suara manjanya.


"Hey, Sayang. Kamu sudah 30 tahun! Nggak malu sama Leya, Leo? gendhong sini!"


"Dasar lelaki! Maunya senangnya saja, saat susahnya saja bilangnya seperti itu!" gumam Aluna.


"Baiklah, kamu mau apa?"


"Nonton film!"


"Ya boleh, tapi selesai rapat."


"Sekarang," rayu Aluna sambil menggoyangkan lengan Kalun.


"Tigapuluh menit lagi," tawar Kalun tegas.


"Aa' kamu benar-benar tidak paham!" teriak Aluna, "aku hamil! Sekarang aku ingin pergi ke bioskop." Aluna sudah menatap tajam ke arah Kalun. Suaranya melengking membuat orang yang melewatinya kini memperhatikan kelakuan mereka berdua.


Kalun begong mencerna ucapan istrinya, dia mendadak seperti orang bodoh yang lamban berpikir.


"Kenapa wajahmu begitu? Tidak suka kalau istrimu hamil lagi?" tanya Aluna saat melihat raut wajah Kalun yang kebingungan.


"Salahkan kamu yang membuangnya sembarangan!" sahut Aluna dengan cibiran.


"Serius kamu hamil Sayang? Kalau begitu, kita ke ke rumah papa dulu. Kita tanya penjelasan papa, kamu belum ada setahun melahirkan Leo!"


"Aku sudah konsultasi sama Lusi, dan semuanya bisa ditangani."


"Nggak kita ke rumah papa sekarang!" perintah Kalun sambil membawa Aluna keluar dari gedung EL Group. Melupakan semua orang yang berada di dalam ruang rapat yang tengah menunggunya.


Ketika berjalan ke arah mobil Kalun memperingatkan pada Aluna, untuk berjalan hati-hati, karena kini dia sudah tidak lagi sendiri. Ada calon anaknya yang tumbuh di sana.


Setelah kelahiran Cathaleya 5 tahun yang lalu, Kalun tidak ingin memiliki anak lagi, dulu memiliki dua wanita saja sudah cukup menurutnya, karena dia tidak ingin melihat Aluna mengalami kesakitan seperti saat melahirkan Cathaleya. Tapi tidak dengan Aluna, ketika Cathaleya berusia hampir 4 tahun dia selalu membohongi Kalun, jika dia tidak dalam masa subur ketika mereka berhubungan. Dan sampai akhirnya lahirlah Leonard Calvin Ramones, dan sekarang, karena ketidaktahuan mereka berdua, saat ini Aluna hamil anak ketiganya. Dia pikir dengan memberi Leo asi ekslusif bisa menunda kehamilan, tapi salah, luna melupakan jika Leonard sudah mulai makan Mpasi, Aluna bahagia karena dia memang bercita-cita mempunyai banyak anak.


"Kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan ya?" tanya Kalun, sambil membuka pintu mobil untuk Aluna. Aluna hanya tersenyum tipis sebagai jawaban, baginya cowok atau cewek sama saja.


"Jadi ini? Alasan kamu meminta cuti semua pelayan wanita di rumah?" tanya Kalun saat ia sudah berada di balik kursi kemudinya.


"Iya. Salah mereka juga, diam-diam mereka terus menatapmu! Istri mana yang tidak kesal coba!" kata Aluna dengan nada marah.


"Astaga Sayang, kamu sudah 30 tahun, masih saja cemburu." kata Kalun mencubit pipi Aluna.


"Emangnya yang boleh cemburu cuma ABG saja? Umur 50 tahun juga boleh cemburu, kalau suaminya digoda wanita lain."


"Ya, terserah! Aku suka, jika kamu cemburu, itu tandanya kamu mencintaiku, tidak ingin kehilangan aku! Terima kasih Sayang," kata Kalun sambil membawa tangan Aluna, ia lalu menciumi punggung tangan Aluna dengan lembut.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah Erik. Ella yang melihat kedatangan Kalun langsung berjalan menghampiri mereka berdua.


"Di mana papa, Ma?"

__ADS_1


"Baru nidurin Leya di kamar." Ella menjawab lirih. Sambil menoleh ke arah di mana Leonard yang baru saja tertidur di bouncernya.


Setelah menyapa mertuanya, Aluna meminta Kalun untuk menemaninya masuk ke kamar.


"Kenapa kamu membawaku ke kamar?" tanya Kalun ketika menutup pintu kamarnya. Dia menatap Aluna yang sudah menjatuhkan tubuhnya di ranjang tempat tidur, dengan kaki yang masih menjuntai di tepian ranjang.


"Aku capek, ingin tidur dan kamu harus memelukku, sampai aku bangun nanti!" minta Aluna dengan mata lelahnya menatap ornamen kamar Kalun.


Terlihat Kalun menarik nafas, lalu membuangnya pelan, "manja sekali kamu? Apa ini keinginan anak kita juga?"


"Nggak perlu kamu tanya lagi, sini cepat peluk aku!" kata Aluna manja, sambil merentangkan tangannya. Kalun menggelengkan kepala, lalu berjalan menghampiri Aluna. Memeluk erat tubuh Aluna sambil membaui parfum yang dikenakan Aluna.


"Hanya peluk saja?" goda Kalun sambil mengedipkan satu matanya ke arah Aluna yang lebih rendah darinya.


Aluna tiba tiba menarik dasi Kalun supaya wajah Kalun lebih dekat dengannya.


"Mau diservice juga?" tanya Aluna sambil tersenyum nakal ke arah suaminya.


"Apa akan baik-baik saja?" tanya Kalun.


Tanpa menjawab pertanyaan Kalun. Aluna langsung melahap habis bibir suaminya, ciuman yang awalnya lembut, kini berubah menjadi ciuman yang panas, semakin menutut balasan dari Kalun. Mereka berdua menikmati ciuman itu. Perlahan tangan Aluna membuka kancing kemeja yang dikenakan Kalun. Hingga satu persatu kain yang menempel di tubuh suaminya terlepas dari tubuh kekar Kalun.


"Kamu selalu pintar, bisa membuatku menikmati semua ini," lirih Kalun dengan nafas yang memburu. Dia menatap lekat wajah istrinya yang juga tengah berada dalam puncak gairahnya.


Kalun menarik dress yang dikenakan Aluna. Menatap sejenak perut Aluna yang masih terlihat tipis garis stretch mark diperutnya, dia lalu menatap ke arah wajah Aluna. Mendorong pelan tubuh Aluna hingga istrinya terjerembab ke dasar ranjang yang ia pakai saat ini. Kalun menikmati tubuh istrinya secara lembut. Meski harus merubah gayanya berulang kali, karena Aluna merasa tidak nyaman. Tapi akhirnya dia mampu menuju klimaks kenikmatannya.


Kalun jatuh di samping Aluna. Dia merebahkan tubuhnya dengan nafas yang belum teratur.


"A'." Panggil Aluna sambil menyandarkan kepalanya di dada Kalun, "emm ... Aku mencintaimu loh!"


"Hemm ...."


"Kamu bagaimana?"


"Hemm ...."


"A'." Aluna menggoyangkan tubuh Kalun ketika melihat mata lelaki di depannya terpejam rapat.


"Cih, dasar lelaki. Selalu begitu selesai menumpahkan laharnya langsung tertidur pulas!" maki Aluna sambil menendang pelan kaki Kalun.


"Hey, sini Sayang, kamu tadi bilang apa?" kata Kalun sambil menepuk lengannya dengan kondisi mata yang masih terpejam.


"Itu larvamu tumpah ke mana-mana!"


"Bersihkanlah!" kata Kalun yang terdengar lelah.


"Ogah!" Suasana kembali hening. Hanya Aluna yang masih terjaga.


"Aa' katanya mau nonton ayo!" ajak Aluna sambil kembali mendudukan tubuhnya.


Kalun hanya tersenyum bahagia dalam mimpinya. Mendengar suara istrinya yang merengek bagaikan alunan nyanyian merdu yang tengah menghantarkannya untuk semakin terlelap dalam tidurnya.


Bonus foto anaknya Aa sama Luna.



__ADS_1


__ADS_2