
Maaf ya updatenya telat. Aku kasih 3 part langsung tapi jangan lupa like tiap partnya. Oke gaes😂😂😂
Selamat membaca🤗🤗
💞
Kalun terlihat gusar ketika pintu ruang ganti Aluna tidak kunjung terbuka, dia sudah tampak rapi dengan jas yang melekat pas di tubuhnya. Sudah pukul 8 malam, harusnya mereka berdua sudah berada di tempat pesta, sejak tadi. Tapi karena rasa khawatir Kalun yang berlebihan, dia kembali membongkar dandanan Aluna, yang menurutnya tampak sexy jika harus di pamerkan di tempat umum.
Sudah lebih dari dua jam mereka di sini. Doni yang tengah menunggu juga tampak bosan dengan segala kelakuan Kalun yang dia lihat, melihat Kalun yang berjalan seperti pedagang asongan yang tengah menawarkan barangnya.
Pintu ruang ganti terbuka, Aluna keluar dengan balutan gaun warna hitam dengan separuh dada kanan tertutup sedangkan separuhnya lagi
terekspos sempurna. Kalun tersenyum bahagia, tapi sedetik kemudian senyuman itu sirna, ketika menatap wanita di samping Aluna yang ikut bahagia melihat reaksi Kalun.
“Apa sudah tidak ada model gaun lainnya lagi?” Kalun mendekat ke arah Aluna yang masih berdiri tepat di depan pintu.
“Banyak Pak. Tapi untuk ukuran Nona Aluna hanya tersisa ini.” Terang desainer wanita yang ada di depan Kalun. Terlihat Kalun mendengus kesal, setelah mendengar jawaban wanita tersebut.
“Jika begitu bongkar lagi rambutnya, biarkan rambutnya menutupi bagian dada istriku yang terbuka.” Kalun memberikan perintah lagi pada make up artis yang mengurus rambut Aluna.
Aluna mengehentakkan kakinya, berjalan ke arah kursi,meninggalkan Kalun yang masih berada di depan pintu, dia kesal dengan suaminya, karena dari tadi terus membuatnya lelah hanya demi penampilannya.
“Serepot ini pergi denganmu, hanya untuk menghadiri pesta?” Aluna mendudukkan tubuhnya di kursi depan kaca.
“Sudah hampir 3 jam, kamu terus memintaku berganti gaya, aku lelah. Kamu pergi sendiri saja!” gerutu Aluna sambil meraih tasnya yang tadi ia simpan di dekat kursi. Meninggalkan Kalun yang belum tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
“Apa aku salah?” tanya Kalun pada make up artis yang tadi merias wajah Aluna.
Lelaki gemulai itu tidak bersuara, dia hanya menunduk ketakutan saat mendengar pertanyaan Kalun yang terdengar membentak di telinganya.
“Dasar! Apa semua wanita seperti ini? Kenapa merepotkan sekali.” Kalun menggerutu sambil mengejar Aluna yang sudah berada di luar ruangan.
“Sayang, jangan seperti ini dong.” Kata Kalun berusaha menghentikan langkah Aluna ketika jaraknya sudah semakin dekat. Tapi Aluna masih saja meneruskan langkahnya, menuju mobil Kalun di depan ruko yang berjajar tersebut.
“Oke baik seperti itu, kamu akan pergi dengan gaun yang kamu kenakan sekarang! Jangan marah lagi.” Kalun berhenti mengejar Aluna. Berharap Aluna juga ikut menghentikan langkahnya.
Aluna berhenti, dia lalu membalikkan tubuhnya mengahadap Kalun, dia tersenyum kecut ke arah suaminya yang tengah menatapnya.
“Ya kamu akan pergi dengan baju itu, tapi ….” Kalun berjalan mendekat ke arah Aluna, dia lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Aluna.
“Tidak maukah mengganti alas kakimu? Bukankah terlihat sangat pendek jika kamu berjalan berdampingan denganku?” pertanyaan Kalun membuat Aluna menatap dirinya dalam pantulan kaca hitam yang ada di mobil yang dia lewati. Dia lalu mendongak ke arah Kalun. Aluna membenarkan jika tingginya dengan Kalun memang terlampau 18 cm an, tapi masa dia harus mengganti sepatunya dengan highils 18 cm nggak mungkin juga, kan? Secepat kilat dia menemukan alasan yang dianggapnya tepat.
“Ketawa sana! Nggak perlu ditutupi seperti itu,” decak Aluna saat melihat kelakuan Kalun.
“Ada aku yang akan selalu menggandeng tanganmu jadi, jangan takut terjatuh, karena sebelum kamu jatuh aku yang akan lebih dulu menangkap tubuhmu.” Kalun membisikkan kata-katanya di depan wajah Aluna.
Aluna berdesir, mendengar kata yang dianggapnya terlalu berlebihan, dia merasakan nafas Kalun yang menyapu wajahnya, rautnya seketika berubah, khawatir bercampur rasa berdebar yang tidak bisa dia tafsirkan.
Kalun segera meraih ponselnya, sambil menatap punggung kaki Aluna.
“Size 38. Aku tunggu di mobil.” Kalun langsung menutup panggilannya setelah mendengar jawaban lelaki di ujung telepon. Dia lalu kembali berjalan dengan Aluna menuju mobil yang sudah disiapkan Doni.
__ADS_1
“Kamu cantik.”
“Dari dulu. Apa kamu baru sadar?” sahut Aluna ketika mendapat pujian dari Kalun.
“Tapi sayang.”
“Kenapa?” tanya Aluna yang terlihat gusar.
“Karena tidak bisa aku nikmati, aku hanya bisa menatapnya saja,” jawab Kalun sambil membuka pintu mobil untuk Aluna, mereka menunggu Doni yang hendak mengantarkan sepatu untuk Aluna.
Setelah Doni mengantarkan sepatu Aluna mereka berdua segera bertolak ke gedung pesta pernikahan. Mereka sudah terlambat 30 menit dari jadwal undangan yang tadi diberikan Doni. Tempat pesta pernikahan tidak begitu jauh dari tempat Aluna berias diri. Tapi karena weekend, mereka terjebak macet yang lumayan lama, hingga mereka tiba di tempat lokasi tepat pukul 9 malam.
Kalun membukakan pintu untuk Aluna, saat Aluna keluar dari mobil, dia memberikan lengannya untuk dirangkul Aluna. Kalun tersenyum bahagia ketika Aluna langsung merangkul lengannya. Dia lalu menatap Aluna mengungkapkan isi hatinya, “I love you Sayang. Angkat kepalamu, tatap mata mereka, tidak perlu takut ada aku di sini,” bisik Kalun ketika hendak membuka pintu masuk gedung.
“OKey, jangan jauh-jauh dariku. Aku tidak mengenal siapapun di sini,” pesan Aluna. Keduanya pun berjalan memasuki gedung setelah pintu terbuka, meski tengah berada di keramaian, keduanya tetap menjadi pusat perhatian ketika mereka masuk ke dalam gedung. Aluna semakin kuat mencekram lengan Kalun ketika melihat satu persatu tatapan semua orang yang dia lewati.
Seperti tamu kehormatan, saat Kalun muncul, keluarga mempelai segera menyambut kedatangan Kalun dengan ramah, mempersilahkan Kalun untuk duduk di tempat paling depan, Kalun berjalan sambil berbicara pada lelaki di sampingnya. Tanpa dia sadari Kalun meninggalkan Aluna yang masih berjalan lambat. Aluna tidak mampu mengimbangi langkah kaki Kalun yang terlalu panjang. Dia menghentikan langkahnya, mengamati punggung Kalun yang berjalan menjauh darinya.
Biar saja dia jadi Duda sehari, aku juga bisa. Jika kamu seperti ini. Maki Aluna dalam hati, dia lalu berjalan memutari gedung yang terlihat ramai tersebut, banyak hiasan bunga-bunga yang menarik perhatiannya. Dia memang menyukai bunga, tapi sayang di apartemen, dia tidak bisa menanam bunga kesukaanya, karena tidak ada lahan yang memungkinkannya untuk dia bercocok tanam. Dia terus membaui aroma bunga yang dia lewati. Hingga suara perut yang meminta untuk diisi menyudahi aktivitasnya saat ini, dia berjalan ke arah tempat makanan, mencari makanan untuk mengisi perutnya yang sejak tadi siang belum sempat terisi.
Aluna mengambil cake yang ada di sana, dia mengambil sepotong cake keju yang disajikan di atas meja tersebut, lalu memasukkan ke dalam mulutnya, mengunyah perlahan, sambil merasai cake yang sangat nikmat menurutnya.
Aluna ingin menyemburkan kue yang
ada di dalam mulutnya ketika melihat lelaki yang berjalan mendekat ke arahnya. Aluna terbatuk, dia tersedak cake yang ada di mulutnya. Lelaki itu membantu memberikan segelas air yang bewarna merah pada Aluna. Membantu Aluna menepuk punggungnya yang terekspos sempurna. Aluna tidak mampu menghindar dari tangan lelaki yang saat ini sudah berada di belakangnya.
__ADS_1
“Kamu di sini?” tanya Aluna keheranan ketika keadaanya sudah lebih baik.
> >>>