
Kalun duduk bersimpuh di karpet depan kursi sofa yang Aluna duduki, kedua tangannya menganggam tangan kanan Aluna, seperti orang yang melakukan sungkem pada orang tuanya, dia mulai menceritakan malam kejadian ketika dia membuat Fandi meninggal, dia begitu lancar menceritakannya, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang sulit untuk membuka mulut. Sedangkan Aluna hanya mampu menangis di depannya, dengan air mata yang terus menetes mengenai punggung tangan Kalun.
“Jadi karena kamu merasa bersalah, kamu menikahiku?” Aluna menjeda ucapannya karena nafasnya yang terasa pendek, “Apa yang aku pikirkan selama ini ternyata salah besar, aku berpikir kamu malaikat penolong yang membawaku keluar dari masalah, tapi ternyata kamu yang menciptakan semua kerumitan ini,” lanjutnya meringkas cerita Kalun.
Kalun semakin erat mengenggam tangan Aluna, tidak membiarkannya terlepas saat Aluna mencoba untuk menariknya.
“Itu dulu Sayang, dulu perasaan itu menghantuiku, tapi percayalah, sekarang aku mencintaimu,” kata Kalun sambil memeluk kaki Aluna yang duduk di depannya, meletakkan kepalanya di paha Aluna.
“Sekarang aku sedikit bersyukur dengan aku lupa ingatan, aku tidak bisa mengingat tentang awal pernikahan kita, setidaknya aku juga tidak mengingat betapa buruknya pelakuanmu dulu padaku.”
Kalun menggelengkan kepalanya, menolak pernyataan Aluna jika dia telah bersikap buruk padanya. Kalun sudah tidak mampu membela dirinya sendiri, citra buruknya sudah hancur di depan Aluna, karena Aluna tidak pernah mengingat bagaimana perlakuan baiknya dulu pada istrinya.
“Apa yang kamu inginkan setelah ini?” tanya Kalun setelah beberapa menit tidak terdengar suara Aluna. Dia mendongakkan wajahnya menatap mata Aluna.
Aluna membalas tatapan mata Kalun, mencoba melepaskan tangan Kalun yang memeluk kakinya. Air matanya kembali menetes ketika menatap mata suaminya.
“Aku ingin pulang,” lirih Aluna.
“Kita sudah pulang Sayang, kita sudah di rumah, atau kamu mau rumah yang dulu itu? Baiklah aku yang akan mengalah kita akan pindah ke sana, tapi ku mohon jangan tinggalkan aku, Maafkan aku!” sahut Kalun yang sudah ikut mengeluarkan air matanya, dia menggelengkan kepalanya di ujung kalimatnya.
“Aku ingin pulang ke rumah papaku, aku ingin memikirkan bagaimana hubungan kita selanjutnya. Aku ingin menenangkan diri untuk menerima semua ini,” kata Aluna sambil menatap ke lain arah. Dia tidak bisa melihat Kalun menangis di depannya saat ini, dia pasti akan merasa luluh ketika melihat suaminya menangis tanpa suara di depannya.
__ADS_1
“Jangan lakukan itu, bukannya kita akan pergi ke dokter setelah ini? Kita akan mulai hidup kita yang baru. Bukankah kita berjanji akan melewatinya bersama?” Kalun memohon di depan Aluna, dia tidak ingin Aluna pergi meninggalkannya.
“Aku sudah memutuskannya, dan aku tidak meminta pendapatmu, aku akan pergi malam ini juga,” jelas Aluna yang bersikeras ingin pergi meninggalkan Kalun untuk menenangkan dirinya.
“Aku ikut, aku akan tinggal di sana bersamamu, kita akan terus bersama,” rengek Kalun yang kembali menahan kaki Aluna.
Aluna mengusap air matanya, dia tersenyum kecut ke arah Kalun, lalu memejamkan matanya ketika melihat mata Kalun yang kembali mengeluarkan air matanya.
“Apa kamu lebih mencintainya dari pada aku? kenapa begitu sulit kamu memaafkan diriku?” tanya Kalun yang membenturkan dahinya di kaki Aluna.
“Aku memang mencintainya. Coba kamu tidak menabraknya mungkin aku dan dia bisa hidup tenang! Tapi semua berubah, semua berubah Kal! Kamu ingatkan bagaimana kamu datang padaku, dengan cara apa kamu memintaku untuk menerimamu, itu yang aku sesalkan, hubungan kita di awali dari kesalahan, dan kebohongan, aku ragu jika aku benar-benar mencintaimu, sekarang aku minta, izinkan aku pergi!” lirih Aluna sambil sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir, dadanya semakin sesak saat mengatakan hal itu pada Kalun.
“Kamu benar, aku berbohong padamu saat itu, tapi tidak dengan perasaanku,” kata Kalun sambil melepaskan pelukannya. Dia lalu menjauhkan tubuhnya dari Aluna. Dia merasa usahanya sia-sia untuk membujuk Aluna saat ini. Kalun beranjak dari duduknya hendak meninggalkan tempat duduk Aluna.
“Pergilah! Aku tidak akan mencegahmu untuk pergi! Aku yang salah di sini, aku memang pantas mendapatkan semuanya!” kata Kalun dengan suara lembut tidak ada penegasan di sana, setelah itu dia berjalan ke arah lantai atas menuju kamar utamanya. Dia mengalah dan menerima jika Aluna akan pergi meninggalkannya malam ini. Dia tidak bisa mencegah Aluna untuk pergi darinya, karena semua kesalahan yang sudah ia lakukan.
Begitu juga Aluna, dia beranjak menuju kamarnya, untuk mengganti baju dan menggambil kopernya, lalu berjalan ke kamar Kalun untuk mengambil semua pakaiannya.
Aluna menyusun pakaiannya yang perlu dia bawa. Bayangan kebersamaan dengan Kalun yang terasa singkat melintas begitu saja, dia menyusun pakaiannya dengan air mata yang masih terus mengalir.
Kalun yang baru menyelesaikan mandinya, langsung menelungkupkan tubuhnya di ranjang. Kepalanya terasa pusing, dia tidak bisa menahan lagi rasa sakit akibat memikirkan masalahnya saat ini. Dia terlelap di sana, membawa perasaan risaunya ke alam mimpi.
__ADS_1
Aluna menatap ke arah Kalun yang terlelap di ranjang. Dia hanya menatapnya tidak ingin mendekati Kalun saat ini. Dia lalu turun ke bawah, mengambil buku note kecil yang selalu dia letakkan di samping tv. Dia menuliskan semua keperluan Kalun selama dia akan pergi. Menulis takaran kopi dan creamer yang biasa dia berikan untuk Kalun, menulis jenis perpaduan warna dasi dan kemeja yang patut untuk Kalun kenakan. Semua kebutuhan Kalun semua Aluna tulis di sana. Terakhir Aluna menuliskan kata ‘Jaga dirimu baik-baik’ di ujung kertas note tersebut lalu meletakkannya di depan meja televisi. Berharap Kalun membaca note tersebut setelah dia bangun nanti.
Aluna mengedarkan pandangannya sekali lagi ke arah sudut apartemen sebelum meninggalkan apartemen, mencoba keras untuk melupakan kenangan indah dengan Kalun. Dia lalu berjalan pergi meninggalkan apartemen, masih ada penerbangan terakhir nanti pukul 10 malam, dia masih punya waktu 1 jam untuk menuju bandara.
Aluna terus menatap ke arah jalan, tidak mempedulikan deringan ponselnya yang terus terdengar. Hingga taksi itu tiba di bandara, dia meyakinkan lagi dirinya jika dia akan benar-benar meninggalkan kota ini untuk sementara waktu. Aluna akan menenangkan dirinya lebih dulu, untuk memutuskan hubungan dengan Kalun selanjutnya, sekaligus melepaskan kerinduannya pada papanya. Aluna melangkahkan kakinya ke masuk ke bandara yang masih terlihat ramai.
Aluna mulai menaiki kabin pesawat, setelah mendengar panggilan pesawat yang akan di tumpanginya. Aluna mengedarkan pandangannya ke arah kursi penumpang, hanya beberapa kursi saja yang terisi di sana, mengingat ini adalah jam malam, sangat jarang orang menaiki pesawat malam, jika tidak dalam kondisi darurat.
Aluna sengaja belum memberitahu papanya saat ini, dia masih menyimpan masalahnya rapat-rapat, dia hanya ingin menenangkan dirinya di Solo, entah sampai kapan dia juga tidak tahu.
Tepat pukul setengah dua belas malam, pesawat yang Aluna tumpangi mendarat di bandara Adi Soemarmo. Hujan malam langsung menyambutnya malam itu, membuatnya mengurungkan diri untuk tidak segera pulang, dia menunggu hujan sedikit reda dulu, setelahnya dia akan mencari taksi untuk mengantarnya pulang ke rumah papanya. Sekalian menunggu pagi. Dia juga khawatir papanya akan memikirkan kondisinya yang datang tengah malam. Aluna menatap cincin yang ada di jarinya. Dia jadi teringat ucapan tukang ojek yang tadi mengantarkannya ke makam Fandi. Dia hanya tersenyum sambil menciumi cincin yang terpasang di jarinya.
Aluna tertidur di bandara malam ini. Keesokan harinya dia dibangunkan oleh suara keramaian para penumpang yang baru saja tiba, dia lalu segera memesan taksi untuk mengantarnya pulang ke rumah.
Saat tiba di komplek perumahan, langkahnya masih ragu ketika taksi itu berhenti di depan perumahan milik papanya. Tapi teriakkan dari papanya yang memanggil namanya, membuatnya semangat untuk memeluk lelaki yang sudah tidak lagi muda tersebut. Dia di sambut ramah oleh papanya yang tengah memberi makan burung peliharaanya. Saat dia dibawa masuk papanya ke dalam rumah, dia berpapasan dengan kakak tirinya yang hendak keluar rumah untuk bekerja, tatapannya menjurus tajam ke arah Aluna saat mengetahui tangan kiri Aluna yang membawa koper.
💞
Jangan lupa like dan vote ya😜
💋
__ADS_1