
Malam semakin larut, sudah satu jam Kalun melajukan mobilnya tanpa arah. Dia bingung akan membawa Aluna ke mana, karena sejujurnya dia tidak punya tempat tujuan.
Kalun melirik ke arah Aluna yang berada di sampingnya. Sesekali dia tersenyum manis, saat matanya bertemu dengan mata Aluna. Senyuman Aluna menyejukkan hatinya yang kesal tadi, ketika tadi dia bertamu Kayra.
“Tidurlah kalau mengantuk! Nanti aku bangunkan,” perintah Kalun, saat melihat Aluna yang terus menguap dan menyandarkan kepalanya di kursi.
“Nanti saja, aku ingin menemanimu mengobrol.” Aluna mengusap pinggangnya yang terasa panas.
“Kenapa, Capek?” Kalun sedikit menurunkan kecepatannya, ketika melihat ulah Aluna.
“Iya, pinggangku terasa panas A’,” jawab Aluna yang tidak ingin menatap ke arah Kalun.
Kalun menghentikan mobilnya. Saat mendengar ucapan Aluna, dia lalu membantu Aluna untuk mengusap pinggang Aluna dengan lembut.
“Kita cari penginapan ya?” tawar Kalun yang sudah menghentikan tangannya untuk mengusap pinggang Aluna.
Kalun yang khawatir kembali melajukan mobilnya pelan. Mencari penginapan yang sesuai dengan isi dalam kantongnya.
“A’ kita menginap di sana saja, sepertinya mewah pasti bagus pelayanannya,” tunjuk Aluna ketika mobilnya melewati hotel bintang lima.
Kalun menggigit bibir bawahnya sambil memikirkan lagi biaya yang akan ditanggungnya nanti. Mencari alasan yang tepat untuk tidak menginap di sana.
“Sudah lewat Sayang, kita cari yang di depan saja!” tolaknya sambil fokus menatap ke arah jalan. Tidak mempedulikan tatapan Aluna yang menatapnya berkaca-kaca.
Kalun terus menjalankan mobilnya. Dia mencari penginapan yang tidak terlalu mewah.
“Di situ A’! Ya please! Sepertinya anak kita menginginkan kita menginap di sana.” Aluna sudah mengeluarkan suara rengekannya, merayu Kalun supaya membawany ke hotel tersebut.
Kalun menginjak rem dalam, membuat mobil itu berhenti secara tiba-tiba. Beruntungnya di belakangnya, hanya ada satu mobil yang berjarak 50 meter dari mobilnya.
“Anak kita!” tanya Kalun yang penasaran dengan ucapan Aluna. Dia menatap heran ke arah Aluna yang menatap belakang, ke arah gedung hotel yang tadi di inginkannya. Dia cemberut. Karena merasa Kalun tidak menyukai jika dirinya tengah hamil.
“Aa’ nggak suka jika punya anak dariku? Memang hanya Kayra yang pantas melahirkan anakmu! Aku memang tidak pantas! Maafkan aku ini di luar ken-”
Aluna tidak dapat menyelesaikan ucapannya, karena kini mulutnya sudah tertutupi tangan Kalun.
__ADS_1
“Aku tidak menanyakan itu padamu!” Kalun berkata dengan nada tinggi. Sambil menghadapkan wajah Aluna ke arahnya.
Aluna tiba-tiba mengeluarkan air matanya dengan deras, emosinya tidak stabil. Membuat Kalun kelabakan, menenangkan Aluna.
“Sudah, jangan menangis. Aku hanya bertanya. Apa benar kamu hamil anakku?” ulangnya lagi sambil membawa Aluna mendekat ke dekapannya.
“Iya, A’ anak kita masih kecil, di dalam sini. Jadi jangan bentak-bentak aku takutnya dia ikut kaget,” jawab Aluna sambil mengusap air mata ya masih terus menetes.
Kalun mengembalikan Aluna keposisi duduknya seperti semula. Tangan kasarnya kini terarah ke perut Aluna. Dia mengusap perut Aluna lembut yang masih tertutupi jaket. Merasa tidak puas dengan jawaban Aluna dia mencoba mendekatkan telinganya ke arah perut Aluna. Sejenak Kalun menutup mata, mendengarkan dengan hatinya, jika kini di dalam perut Aluna tengah tumbuh calon anaknya. Bibirnya terangkat ke atas. Dia lalu mengusap perut Aluna lagi dengan lembut.
“Si utun hadir di waktu yang tepat, semoga bisa menjadi motivasiku untuk mempertahankanmu,” ucapnya yang sudah kembali duduk. Tapi tangan kananya masih sibuk mengusap perut Aluna.
“Kamu bahagia?”
“Jelas bahagia, kamu hamil anakku. Lelaki paling tampan sejagad raya.”
“Narsis! jika Aa’ suka! Sekarang turuti aku! Ini si utun yang minta. Dia minta menginap di sana!” Minta Aluna yang kembali menunjuk ke arah hotel berbintang. Kalun kini tersenyum lebar, dia akan berusaha menuruti keinginan si utun. Kalun kembali melajukan mobilnya pelan, mendekat ke arah hotel berbintang tersebut.
Kalun menghentikan mobilnya, tepat di depan pintu masuk hotel. Dia lalu mengenakan topi, sebelum dia turun dari mobilnya, supaya tidak ada yang mengenalinya saat ini.
Kalun berjalan mendatangi meja resepsionist, matanya terus mengedarkan desain hotel yang terlihat besih dan mewah. Sudah biasa dia mendapat perlakuan istimewa saat menginap di hotel. Tapi kali ini, dia merasa kurang percaya diri ketika memasukinya mengingat dia hanya mengantongi uang 30 juta saja.
“Selamat malam, Bapak ada yang bisa saya bantu?” sapa petugas wanita yang berada di depannya. Kalun menatap sejenak wanita di depannya. Tatapannya dingin, dia berbicara tanpa menatap ke arahnya.
“Berapa biayanya untuk menginap satu malam, dengan fasilitas paling mewah?” Petugas wanita itu terkekeh saat mendengar pertanyaan Kalun. Dia memindai penampilan Kalun dari bawah hingga topinya.
“Delapan juta dua ratus ribu rupiah, Pak,” jawabnya yang sedikit tersenyum manis ke arah Kalun.
Kalun terbengong, memikirkan lagi biaya penginapan yang terlalu tinggi untuknya itu. Dia menggaruk kepalanya, saat menghitung lagi budget yang akan dikeluarkan.
“Nggak ada yang 300 ribu ya?” tanyanya memastikan.
“Hahaha, Bapak pikir ini Motel krusek! Kalau nggak punya uang mending jangan masuk!”
Kalun memejamkan matanya, jika di depannya ini laki-laki pasti dia sudah menghabisinya. Tapi dia wanita. Dia tidak akan tega untuk bertindak kasar padanya.
__ADS_1
Kalun lalu membuang kasar nafasnya, dia berusaha keras menahan emosinya, jika bukan karena si utun meminta menginap dia tidak akan berdiri di sini.
“Lain kali, bersikaplah yang sopan!” peringat Kalun sebelum meninggalkan meja resepsionis. Dia kembali berjalan ke arah mobil untuk menghampiri Aluna.
“Nggak jadi A’? Kok masuk lagi?” tanya Aluna saat Kalun sudah berada di balik kemudi.
“Kita cari tempat lain saja, sudah penuh kamarnya,” jawab Kalun yang tidak ingin mengatakan jujur pada Aluna.
Sedangkan Aluna mencoba untuk ikhlas karena keinginanya tidak bisa dipenuhi suaminya. Kalun kembali melajukan mobilnya. Mencari penginapan yang harganya lebih rendah dari yang tadi dia tanyakan.
Mata Kalun terus menoleh kanan kiri, hingga akhirnya menemukan hotel yang terlihat sederhana namun asri.
“Kamu tunggu di sini!”
Aluna mengangguk menyetujui permintaan Kalun. Dia terus menatap langkah Kalun yang berjalan menghampiri meja resepsionis. Dia melihat Kalun yang tengah mengobrol ramah pada karyawan wanita di depannya. Dia merasa cemburu, saat melihat Kalun tengah tertawa senang. Entahlah sepertinya suaminya itu menjadi lebih ramah setelah mengenalnya, perasaan dulu wajahnya dingin. Sekarang dia bisa terus menampilkan senyum ramahnya ke semua orang.
Sesaat kemudian Kalun kembali menghampiri Aluna, setelah mendapatkan kunci kamar. Dia membawa Aluna masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Kalun terus menghitung uangnya dengan teliti. Karena takut akan kehabisan. Kini uang tigapuluh juta itu sebagian kecil sudah dia pakai untuk membayar biaya hotel satu juta rupiah.
“Ayo masuk!” perintah Kalun sambil membukakan pintu untuk Aluna.
Aluna terdiam sejenak saat melihat isi dalam ruangan. Memang terlihat sederhana tapi dia menyukainya karena tempatnya yang bersih.
Kalun menjatuhkan tubuhnya di ranjang, menyusul Aluna yang lebih dulu darinya.
“Tidurlah, kasih si utun nanti kalau kamu ajak begadang terus!” perintahnya sambil mendekap tubuh Aluna. Kalun mengeratkan lagi pelukannya supaya memberikan rasa nyaman pada Aluna.
Aluna yang merasa tidak nyaman pada perutnya, segera melepaskan pelukan Kalun. Dia merasa mual ketika mencium aroma Kalun saat ini.
“Aa’ mandi dulu sana!”
👣
Tinggalkan jejak ya!
__ADS_1
Follow juga Ig saya rehuella1😊