
Aluna buru-buru turun dari ranjang setelah melihat jam yang sudah hampir pukul 7 pagi. Dia kesal dengan suaminya itu, karena tidak henti-hentinya membuatnya lelah. Bilangnya hanya sebentar, tapi yang ada Kalun terus melakukannya hingga dia tertidur, tanpa tahu suaminya itu melakukannya sampai jam berapa.
Selesai mandi Aluna menatap ke arah kasurnya yang terlihat tidak rapi, Kalun masih tidur dengan pulas di bawah selimut tebal, dadanya sedikit terbuka. Tapi Aluna enggan menurunkan penglihatannya, yang pasti akan membuatnya bergedik geli.
“Jangan melihatku seperti itu!” peringat Kalun yang sebenarnya sudah mulai membuka matanya, ketika Aluna melepas pelukkannya.
“Ish ... siapa juga A’! Aku buru-buru takut terlambat, aku siapkan roti sama kopi saja ya! Aku takut Pak David akan memecatku!” tawar Aluna sambil mengancingkan blazer yang sudah menempel di tubuhnya.
“Berangkat sama aku!” sahut Kalun sambil berdiri. Membuat Aluna segera keluar dari kamar, karena tidak ingin melihat milik suaminya yang belum tertutupi kain.
Aluna menunggu suaminya di depan ruang televisi, matanya masih berat untuk dibuka. Tapi dia harus bekerja, dia harus bertanggungjawab dengan apa yang sudah menjadi tanggungjawabnya.
Kalun yang sudah siap mendekat ke arah Aluna yang tengah menunggunya di depan televisi.
“Mau aku gendong? Sepertinya kamu kelelahan!” goda Kalun sambil berjongkok di depan Aluna. Membuat Aluna terkejut karena kedatangan Kalun yang tanpa suara.
“Nggak perlu! Ini gara-gara kamu yang membuatku begadang semalaman!” maki Aluna sambil beranjak dari duduknya. Dia terus mengoceh ketika keluar dari apartemen hingga tiba di lobby, sedangkan Kalun hanya mengikutinya dari belakang sambil menahan senyumnya.
Pagi ini untuk pertama kalinya mereka berangkat ke kantor bersama. Aluna berpesan pada Kalun, supaya menurunkannya di perempatan dekat kantornya. Dia takut jika statusnya sebagai istri Kalun akan terungkap sekarang. Dia belum siap menerima cibiran dari rekan kerjanya.
“Aku turun disitu ya!” perintah Aluna sambil menunjuk halte bus yang tidak jauh dari kantor. Tapi yang ada, Kalun tidak menghentikan mobilnya di sana, dia terus melajukan mobilnya, hingga tiba di gedung kantor miliknya.
“A’!” Panggil Aluna.
“Menurutlah Sayang!” sahut Kalun yang membelokkan mobilnya ke arah gedung kantor.
Orang yang biasa membukakan pintu Kalun terkejut, ketika mobil pimpinannya tidak berhenti. Mobil itu justru melaju ke arah lobby. Mereka bersiap untuk mengejar dan membukakan pintu mobil Kalun, tapi Doni yang melihat itu, berusaha menghentikan langkah penjaga yang hendak menyusul Kalun. Mereka menurut dengan perintah Doni, dan kembali pada pekerjaanya masing-masing.
“Aku gimana keluarnya A’?” tanya Aluna ketika mobil Kalun sudah berhenti sempurna. Dia terus menengok ke arah kanan dan kiri, memastikan jika di luar sana dalam kondisi aman.
“Tinggal keluar saja, kok bingung!” kata Kalun sambil melepas seatbelt yang mengikat tubuhnya.
“Buka pintunya!” perintah Aluna karena Kalun tidak segera membuka kunci pintu mobil.
“Kiss dulu!” perintah Kalun dengan jari telunjuk yang sudah menunjuk bibirnya.
“Ini tinggal lima menit lagi sudah masuk jam kerja A', jangan terlalu membuang waktuku dong.”
__ADS_1
“Cepatlah jika tidak ingin terlambat!” kata Kalun sambil mendekatkan wajahnya ke samping Aluna.
“Dasar ya! Jangan menahanku lagi setelah ini!” peringat Aluna sambil mengecup sebentar bibir merah suaminya.
“Apa aku perlu mengajarimu lagi caranya berciuman, sampai hari ini sepertinya kamu belum bisa membedakannya, dan itu tadi kecupan Sayang. Aku inginnya kamu menciumku!” kata Kalun setelah Aluna mendaratkan kecupannya.
Aluna merebahkan tubuhnya di sandaran mobil. Membuang nafas lelahnya.
“Aku pasrah! Terserah kamu mau melakukan apa! Cepat lakukan, jangan membuatku menunda-nunda lagi untuk keluar dari mobil ini! Karena waktuku tidak banyak!” kata Aluna. Kalun tersenyum menang, seperti senyum penjahat yang berhasil mendapatkan mangsanya. Kalun mendekati bibir Aluna. Mencium kasar bibir tipis wanita di depannya, hingga suara kecapan itu bisa terdengar dari sudut mobil yang paling sempit. Aluna segera mendorong tubuh Kalun ketika melihat seseorang mendekat ke arah mobil suaminya.
“Ada orang A’!” kata Aluna lirih sambil menghapus bibirnya yang terasa basah.
“Mereka tidak akan melihat kita Sayang, 10 detik lagi oke!” ucap Kalun yang kembali mendaratkan ciumannya di bibir Aluna, tangannya sudah bergerilya ke mana-mana, meski Aluna terus berusaha menahannya tapi tangan Kalun rupanya lebih bertenaga darinya, keduanya melepaskan ciuman panas itu ketika merasa kesulitan bernafas. Mereka saling menatap dalam, dengan tangan kanan Kalun yang masih berada di punggung leher Aluna. Kalun yang tadinya hanya ingin berciuman, gairahnya tiba-tiba kembali membara.
“Tanggung jawab dong!” kata Kalun tanpa dosa.
“Ora sudi!”
(Tidak Mau)
“Kamu ngomong apa? Jangan bicara dengan bahasa asing!”
“Ya sudah, kita pulang sekarang. Atau mau ke hotel dulu di depan, bagaimana?” nego Kalun tanpa mengubris permintaan Aluna.
Aluna hanya menggelengkan kepala, tidak mengerti juga apa yang ada di pikiran Kalun saat ini.
“Buka atau puasa satu hari!”
“Nggak papa, kalau cuma satu hari aku masih bisa tahan! Heh.”
“Dua hari!”
“Masih bisa aku! Asal kamu tahu kemarin hampir 1 bulan aku puasa!”
“Ya sudah, buka atau puasa satu bulan!”
“Kaya ramandhan saja 1 bulan, please ke depan dulu ya!”
__ADS_1
“Plus aku bungkam 1 bulan ini kalau benar pintu ini nggak dibuka sekarang!” kekeh Aluna yang tidak ingin termakan ucapan Kalun.
“Sayang! Tega kamu ya, sudah membuat aku on Fire sekarang kamu tidak mau bertanggung jawab!”
Aluna menutup telinganya. Dia tidak ingin mendengar alasan yang Kalun ucapkan.
“Please buka Kal! Aku nggak mau berangkat sama kamu lagi kalau seperti ini!” ancam Aluna dengan penuh emosi. Dia tidak ingin menghadap ke arah Kalun, memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
“Dosa tahu nggak nolak nafkah dari suami!”
Aluna masih diam tidak menyahut. Dia justru menekuk tangannya di depan dada. Dia benar-benar kesal dengan Kalun yang tidak mau mengerti keadaannya.
Dan setelah beberapa menit hening, akhirnya Kalun mengalah, dia membuka kunci pintu mobilnya, dan Aluna segera keluar dari mobil sport milik Kalun, menutup pintunya dengan kasar. Namun, baru 5 langkah dia kembali masuk lagi ke arah mobil. Karena dia melihat Si ratu gosip berjalan mendekat ke arahnya.
Kalun terkekeh saat melihat tingkah Aluna yang terlihat panik. Dia mengamati wajah Aluna yang memerah karena ketakutan.
“Apa yang kamu takutkan?”
“Mereka! Lidah mereka suka tajam jika mengomentari kehidupan orang lain!” jawab Aluna sambil mengawasi rekannya dari jendela mobil.
“Aku justru ingin mengumumkan jika kamu adalah istri sahku,” kata Kalun sambil menggenggam tangan Aluna.
“Jangan dulu!” bantah Aluna.
“Sampai kapan?”
Aluna menatap ke arah wajah Kalun, tersirat jelas jika Kalun kecewa dengan ucapannya.
“Sampai proyek Emero Group selesai!”
“Baiklah, di acara peresmian itu, aku akan mengumumkan siapa sebenarnya istriku!”
“Yah, begitu lebih baik! Aku duluan sepertinya dia sudah pergi!” kata Aluna sambil membuka pelan pintu mobil. Dia berjalan cepat menjauh dari mobil Kalun. Dan Kalun hanya mengamati dari spion depan mobilnya. Dia segera keluar dari mobil mengikuti langkah kaki Aluna dari jarak kejauhan, menatap wanita yang saat ini dicintainya.
Sampai di ruang kerjanya, Kalun mulai memeriksa pekerjaanya hari ini. Banyak hal yang harus dia selesaikan, setelah pemberhentian sementara kemarin. Diam-diam dia terus mengawasi Aluna dari pantauan layar cctv ruangannya. Memastikan jika istrinya itu dalam kondisi baik-baik saja.
👣
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya👍😍