Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Layang Cerai


__ADS_3

Solo


Setiap malam, setiap menit-menit yang Aluna lewati. Dia terus menunggu kabar dari suaminya. Dia sudah sering menghubungi Kalun melalui panggilan telepon. Tapi berulang kali juga dia harus menelan rasa kecewa karena ponsel kalun tidak bisa dihubungi. Dia sudah sering membujuk papanya untuk mengizinkannya kembali ke Jakarta, tapi yang ada papanya itu melarangnya. Melarangnya untuk bepergian jauh. Semua itu ia lakukan demi menjaga calon cucunya yang sudah sejak lama ia nanti-nantikan.


Budi sangat bahagia ketika Aluna memberitahu padanya jika dia tengah hamil. Dan Budi mulai bersikap protektif padanya sejak saat itu. Dia hanya mengizinkan Aluna pulang jika ada orang Jakarta yang datang untuk menjemputnya.


Sudah hampir tiga bulan Aluna tinggal di rumah papanya. Aluna terus kepikiran dengan suaminya yang tidak pernah memberikan kabar padanya. Sudah sering dia menatap nomor mertuanya, tapi ketika hendak menelepon, dia selalu ragu, bingung akan membicarakannya dari mana.


Kegiatannya masih sama, tiap hari dia berkumpul dengan wanita hamil yang tidak lain adalah sahabatnya Lita. Dia kini menyanyi di café milik Lita. Pekerjaan yang menurutnya tidak terlalu berat meski terkadang dia turut membantu menyajikan makanan pada pelanggan, dia merasa beruntung, setidaknya ia masih punya uang untuk mengecek kandungannya ke dokter spesialis, rekannya itu hanya menggajinya 1,5 juta perbulan, sangat jauh di bawah UMR karena jam kerjanya pun tidak seperti karyawan lainnya, Lita sangat menspesialkan Aluna. Terkadang membuat beberapa karyawan lainnya merasa iri dengan Aluna.


Setiap malam hari Aluna selalu pulang pukul 7 malam. Budi yang akan menjemputnya ke café milik Lita setiap dia pulang. Seperti malam ini, Aluna langsung menaiki mobil kijang tua milih papanya. Dan setiap malam dia selalu bisa bermanja dengan papanya meminta ini itu dan beralasan jika itu atas keinginan calon cucunya. Begitupun malam ini. Aluna meminta papanya untuk mengantarnya ke toko buah, sudah lebih dari sepuluh toko buah tapi tidak ada yang menjual buah yang diinginkan Aluna.


“Pulang saja ya, nanti Papa carikan di rumahnya Mbah Marto siapa tahu masih ada pohon duwet di sana,” jelas Budi, seketika wajah Aluna langsung memucat, karena keinginnanya tidak bisa ia dapatkan.


“Ya sudah, pulang sajalah Pa, Luna juga capek sekali hari ini.” Aluna berjalan menuju mobil Budi menhetujui papanya yang mengajaknya pulang. Saat di perjalanan pulang ia menahan rasa kantuknya sambil menatap ke arah jalan saat melewati sepanjang Jl. Slamet Riyadi.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di area komplek perumahanya. Aluna terlihat bahagia saat melihat mobil mewah berhenti di depan rumahnya.


“Sepertinya akan ada yang pergi meninggalkan Papa nih,” ledek budi ketika melihat wajah Aluna yang terlihat bersemangat untuk turun dari mobil.


Dia lalu menoleh ke arah Budi, “Apa Papa ikut saja denganku?” goda Aluna, terdengar suara tawa kecilnya.


“Siapa yang akan meneruskan mengukir batik di rumah,” ucap Budi lalu membuka pintu untuk keluar dari mobil.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan memasuki rumah, terlihat di sana seorang lelaki mengenakan pakaiannya dengan rapi, ia menatap ke arah Aluna dari atas hingga bawah, memastikan jika Aluna dalam kondisi sehat dan baik-baik saja.


Aluna mencari-cari keberadaan lelaki yang dia rindukan, mencoba mengedarkan matanya, mencari Kalun ke arah dalam rumah, siapa tahu suaminya tengah berada di dalam kamar mandi, membuang hajatnya. Tapi selang 10 menit dia duduk dan berdiam diri di depan Doni, lelaki itu tidak kunjung keluar dari persembunyiannya, dia semakin kuat meremas, pinggiran sofa yang ia duduki.


“Pak Kalun tidak ikut datang Nona Luna, dia tengah sibuk mengurus bisnisnya yang akan membuka cabang baru di Surabaya,” terang Doni saat melihat kegelisahan Aluna.


Aluna hampir menjatuhkan air matanya jika dia tidak segera mengedipkan bulu matanya beberapa kali. “Ow. Iya nggak papa, aku pikir Pak Doni datang dengannya,” kata Aluna mencoba menguatkan hatinya yang terasa sesak.


Terlihat papa dan mamanya menguping di ruang televisi, mereka juga penasaran dengan apa maksud kedatangan Doni ke Solo,dan kenapa pula menantunya tidak ikut serta.


“Pak Doni apa ada yang penting? Kenapa Pak Doni tiba-tiba di sini?” tanya Aluna sambil menarik bantal sofa untuk dipeluk.


“Ada hal penting yang harus saya sampaikan pada Nona Luna,” kata Doni sambil menatap wajah Aluna.


Doni mempersiapkan keberaniannya, antisipasi juga jika wanita di depannya ini akan tiba-tiba melemparinya dengan guci besar yang berdiri tegar di samping Aluna.


“Non, saya di sini atas perintah Pak Kalun, beliau menitipkan surat ini pada saya,” jelas Doni sambil menyodorkan amplop coklat di depan Aluna.


“Apa ini Pak?” tanya Aluna yang belum berniat menyentuh amplop di depannya.


“Silahkan Anda buka sendiri, dan di dalam ada surat dari Pak Kalun untuk Anda.”


Aluna lalu meraih amplop coklat di depannya, dia perlahan memutar tali amplop coklat itu hingga terlihat kertas putih, bertuliskan Departemen Pengadilan Agama Kota Surakarta tertera di sana, dia ingat surat satu-satunya yang dulu sudah ia tanda tangani, akhirnya dia menemukannya juga. Tangan Aluna menarik selembar surat putih tersebut, bukan hanya tandatangannya yang tercetak jelas di sana, tapi kini sudah ada tanda tangan Kalun di samping tanda tangannya, kalun sudah menyetujui jika perpisahan akan menjadi jalan keluar untuk keduanya. Tanpa Aluna sadari, air matanya sudah terjatuh, menetes di bantal yang ada di pahanya. Tapi secepat kilat dia menghapusnya, berusaha supaya Doni tidak melihatnya menangis, tapi percuma saja karena Doni dari tadi sudah memperhatikan wajahnya yang tampak sedih.

__ADS_1


Aluna kesusahan menelan salivanya, dia meminum air yang entah milik siapa yang ada di depan kursinya.


Untuk bisa kembali berbicara dengan Doni.


“Aku akan mengurusnya, dan aku akan mengirimkan berkasnya jika nanti sudah keluar akta perceraiannya,” kata Aluna singkat lalu kembali memasukkan kertas putih itu ke dalam amplop.


“Jika Pak Doni tidak ada kepentingan lagi silakan pulang, ini sudah malam tidak baik di sini bertamu terlalu malam,” usir Aluna yang ingin melanjutkan tangisnya di dalam kamar.


“Tapi Non, soal harta gono-gini, Pak ….”


“Aku nggak perlu pembagian harta, aku sudah mengambil harta yang paling berharga darinya, katakan aku akan baik-baik saja tanpa harta darinya,” potong Aluna lalu berdiri dari duduknya, dan meminta Doni untuk keluar dari rumah kedua orang tuanya.


Setelah kepergian Doni, Aluna berlari menuju kamar, ia mengunci rapat-rapat pintu kamar, supaya ayahnya tidak melihat jika dia tengah menangisi kalun. Aluna membuka lagi amplop itu, manatap nama terang Kalun yang tertulis jelas di sana. Tangannya kembali meraih kertas putih kecil yang ada di dalam amplop tersebut, tulisan tangan yang nampak indah, tapi tidak untuk isinya, itu adalah salam perpisahan dari suaminya, Kalun memutuskannya dengan cara yang indah, tanpa perasaan, tanpa perkataan langsung, hanya selembar kertas kecil yang dituliskan untuknya.


Maafkan aku. Mari kita berpisah saja! Karena ini adalah jalan yang terbaik untuk kita.


Dia yang harusnya memutuskan semuanya, tapi kenapa justru Kalun yang mengambil keputusan untuk mengakhiri atau melanjutkan hubungannya. Suaminya bahkan belum tahu jika dia tengah hamil anaknya, kabar bahagia yang tidak sempat ia sampaikan, yang dia nantikan untuk memberitahunya dengan kejutan yang sangat indah, tapi dia gagal, suaminya dengan kejam memutuskannya lebih dulu.


Aluna semakin menangis di kasurnya, dia tidak mendengar suara ketukan pintu kamar yang sejak tadi diketuk Budi, menanyakan apa yang terjadi dengannya. Aluna belum mau berbagi masalah dengan papanya, masalah yang dia anggap sudah selesai tapi ternyata tidak. Masalahnya semakin buruk dan dia hanya bisa menerimanya saat ini, jika Kalun sudah menceraikannya.


💞


Jangan lupa like dan vote🙏

__ADS_1


__ADS_2