
Sudah satu minggu Aluna dirawat di rumah sakit. Malam ini, dia sudah diperbolehkan untuk pulang, tubuhnya sudah kembali pulih. Namun, ingatannya masih belum bisa kembali seperti semula.
Selama satu minggu, Kalun dengan setia menemani dan merawat Aluna, dia benar-benar menepati janjinya, untuk menjadi suami yang baik. Meski setiap hari harus menemui pertengakaran-pertengakaran kecil yang mereka ributkan, tapi itu tidak masalah untuknya sekarang.
Pulang, ke rumah Mama dulu!
Pesan Ella di telepon sore tadi, kembali tergiang di telinga Kalun. Dia terus menatap Aluna ketika berjalan keluar dari rumah sakit. Dia belum berani mengatakan jika malam ini, mereka akan menginap di rumah kedua orang tuanya.
Ketika berada di dalam mobil, Aluna hanya menatap jalanan di depannya yang terlihat padat. Dia merasa bosan, sudah 40 menit mereka melakukan perjalanan, tapi mobil sport Kalun tak kunjung sampai tujuan.
“Kita pulang ke rumah mama dulu ya, mama khawatir dengan kondisimu,” kata Kalun yang fokus di balik kemudi. Aluna hanya mengangguk pelan menyetujui ajakan Kalun, yang ada di otaknya, malam ini dia akan tidur seranjang dengan lelaki di sampingnya ini.
Kalun menghela nafas lega saat mobilnya berhenti di rumah orang tuanya. Dia sedikit terkejut saat melihat mobil asing yang berada di depan rumahnya.
Apa Kayra datang ke rumah? Tanya Kalun dalam hati, sambil melangkahkanbkakinya dengan ragu.
Kalun mengetuk pintu pelan, sambil mengucapkan salam. Karena dia khawatir jika dugaannya benar adanya. Dia mengulas senyumnya saat melihat siapa yang tengah duduk di ruang tamu, ia tersenyum ramah ke arah Haikal yang tengah duduk di seberang papanya. Di sampingnya, dia mengenali lelaki ini, lelaki yang hampir sepantaran dengannya, dan kemampuan bisnisnya tidak boleh diragukan lagi. Kalun mendekat ke arahnya sambil merengkuh tubuh lelaki yang sama kekarnya. Wajahnya hampir sama dengan papanya, yang kini duduk di sampingnya.
“Apa kabar?” ucapnya sambil menepuk punggung Kenzo yang sudah dilepas.
“Alhamdulillah, siapa ini? Nggak berniat mengenalkannya padaku?” godanya saat melihat Aluna yang berdiri di belakang Kalun.
“Istri dong!” jawab Kalun sambil merangkul pundak Aluna yang lebih pendek darinya.
Aluna tersenyum ramah ke arah Kenzo, dan mengulurkan tangannya menyambut tangan Kenzo yang sudah lebih dulu berada di depannya.
“Lepaskan dan masuk ke dalam kamar, segera beristirahatlah, nanti aku akan menyusulmu!” bisik Kalun saat Kenzo tidak kunjung melepaskan tangannya.
Aluna menurut, dia pergi ke kamarnya setelah berpamitan dengan mertua dan rekannya. Meninggalkan obrolan lelaki yang pasti tidak jauh dari kehidupan yang setiap hari digelutinya.
Panggilan Ella menghentikan langkah kaki Aluna, ketika dia hendak melangkahkan kakinya ke arah kamar suaminya.
“Mendekatlah Lun!” perintah Ella sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Ini menantumu?” tanya wanita yang tidak kalah cantik dengan Ella, saat melihat Aluna berjalan mendekat ke arah ruang keluarga, “Pintar juga Kalun milih istri ya, jadi si Kayra itu gimana? Batal kawin, atau ....”
“Sudah, jangan dilanjutkan! Aku kecewa dengannya!” ucap Ella menghentikan ucapan Nindi yang akan membahas soal Kayra.
Aluna hanya menyimak obrolan mertuanya, sesekali ikut menyahut jika mereka menanyakan sesuatu padanya.
Kedatangan keluarga Haikal, memang sudah disepakati keduanya, pertemuan dua keluarga itu punya maksud terselubung yang sudah mereka atur bersama.
“Kapan pernikahannya dilaksanakan? Si Kenzo sudah sangat bahagia ketika dia tahu siapa yang akan menjadi calon istrinya.”
“Kita tunggu Riella tenang dulu, aku tidak bisa menjawabnya, aku tahu rasanya dikhianati itu seperti apa! Dan pasti itu sangat sulit juga baginya.” Ella menjawab panjang lebar pertanyaan yang Nindi lontarkan padanya.
Beberapa hari yang lalu, sesuatu terjadi pada Riella. Pulang dengan keadaan kacau, dengan bau alkohol menyeruak dari pakaian yang dia kenakan. Saat Erik menanyakan ada apa dengannya. Dia hanya menjawab jika dia tidak ingin lagi mengenal Emil, lelaki yang selalu dicintainya, dari waktu dia sekolah dasar.
Erik langsung datang kekediaman Emil, menanyakan apa yang dia lakukan pada anaknya. Dan jawabannya sungguh menyakiti hati seorang ayah.
“Aku membatalkan pernikahan Om, karena aku tidak mencintai Riella, dia yang terus menahanku supaya aku terus berada di sisinya!”
Erik hanya diam sejenak, sesaat kemudian dia menyadari jika diapartemen, Emil tidak sendiri, dia tinggal dengan wanita yang bukan istrinya. Wajahnya memang tidak asing menurutnya. Tapi dia tidak mempedulikan itu, yang dia pedulikan adalah putrinya, putri pertama yang selalu dimanjakannya. Pukulan bertubi-tubi dilayangkan oleh Erik di wajah Emil. Hingga dia merasa sangat lelah, dia baru menghentikan tindakan itu. Dia keluar tanpa sepatah katapun. Hatinya merasa tergores kembali, mengingat Emil yang menyakiti putrinya, putri yang selalu dia lindungi, putri yang ia tidak pernah tahu apa yang dia lakukan, karena yang dia tahu Kalun sudah menjaganya.
Kalun mendekat ke arah istrinya yang masih menyimak pembicaraan para mama-mama tua di depannya.
“Kenapa masih di sini? Istirahat sana! Kamu belum sembuh total? Apa perlu aku gendong?” pertanyaan Kalun lontarkan saat duduk di samping Aluna. Aluna menggeleng meminta Kalun untuk diam karena dia tengah menyimak kedua orang di depannya.
“Ratu gosip semuanya!” cibirnya yang membuyarkan obrolan Ella dan Nindi.
“Heh. Tante nggak tahu loh kamu di sini!” timpal Nindi sambil terkekeh sambil menatap Kalun.
“Gimana kabarmu? Nikah nggak kabar-kabar! Lupa kalau punya tante yang cantik ini?”
Kalum hanya menjawab dengan ulasan senyum tipis dari bibirnya, sambil melirik ke arah Aluna.
“Kita belum merayakan di sini Tante, nanti Kalun suruh tante datang kalau Kalun merayakan pesta pernikahan,” jelas Kalun sambil mengenggam jemari Aluna.
__ADS_1
“Yah, ya. Biar semua orang tau. Jika lelaki yang mirip dengan papanya ini sudah melepaskan masa lajangnya! Harusnya kamu mengenalkannya saat pernikahan Kenzo dan Riella nanti Kal, biar seru!”
Kalun hanya diam tidak menjawab candaan dari tantenya. Dia baru menyadari satu hal, jika adiknya tengah memutuskan hubungannya dengan Emil, dia sedikit lega akan hal itu, tapi dia berpikir ulang mengingat perbuatan adiknya yang sempat ia pergoki dengan Emil. Adiknya sudah tidak suci lagi! Apakah Kenzo mengetahuinya? Bagaimana jika nanti adiknya akan disakiti lagi!
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala Kalun. Dia lalu segera beranjak dari duduknya, membawa Aluna masuk ke dalam kamarnya. Karena ini sudah larut malam, tidak baik untuk kondisi tubuhnya yang dalam masa pemulihan.
“Tidurlah aku akan menemanimu di sini!” perintahnya sambil bersandar di kepala ranjang king size tersebut.
Aluna yang sudah mengganti pakaiannya, segera merebahkan tubuhnya di samping Kalun. Tidak ada kontak fisik di sana yang saling bersentuhan. Aluna justru memberi pembatas, supaya mereka tidak terlalu dekat.
“Kamu tahu, dulu ada saudara sepupuku yang sepantaran denganku. Dia laki-laki. Setiap aku dekati dan aku pegang tangannya, dia selalu membalasnya dengan kasar. Dan lebih konyol lagi, saat aku tanya ke dia kenapa sikapnya begitu, kamu tahu jawabannya apa?”
Kalun yang mendengarkan sejak dari tadi merespon dengan gelengan kepala.
“Kenapa memangnya! Biar aku yang membalaskannya nanti!”
“Dia takut aku hamil!”
Kalun terkekeh, saat mendengar jawaban dan ekpresi Aluna, mata Aluna yang membulat, seiring mulut yang menyuarakan dengan intonasi jelas di kata 'Hamil'. Menggemaskan menurutnya!
“Ya nggak segitunya juga kali Yang, kalian kan tidak pernah mempertemukannya!”
“Maksudmu?”
“Ya, maksudku, ya apa yah? Sudahlah, kita bahas besok, kita tidur saja!” ucap Kalun sambil menekan remot lampu agar lampu utama berhenti menyala, karena dia tidak ingin membahas hal dewasa kali ini.
“Nggantung tau nggak!” teriak Aluna sambil menarik selimutnya menutupi tubuhnya, dia tidur membelakangi tubuh Kalun yang tengah menatap punggungnya dengan sedikit senyuman. Tidak lama kemudian, hembusan nafas teratur terdengar dari mulut Aluna.
Saat seperti itulah Kalun baru berani memeluk Aluna. Dia menunggu Aluna tertidur, dan menciumi aroma tubuh Aluna yang dia rindukan, bukan hanya sekali dua kali dia harus menahan hasratnya, saat melihat tubuh Aluna yang bergerak karena tidak nyaman dengan pelukannya yang terlalu erat. Dia terus menciumi Aluna ketika istrinya itu terlelap, dia memuaskan keinginannya ketika Aluna tertidur. Mencium lembut, hingga kadang dia dengan usilnya merem*s hal yang paling dia rindukan, dia tersenyum menang ketika desahan kecil itu keluar dari bibir Aluna, tapi untuk menit berikutnya dia selalu menyesalinya, karena dia harus mati-matian meredakan sesuatu yang menghimpit celananya.
“Aku mencintaimu.” Begitu kata terakhir Kalun ketika dia berhasil meredakan hasratnya. Ciuman ia daratkan di kening istrinya, lalu dia bisa tidur nyenyak di samping Aluna. Seperti itulah yang dia lakukan selama berada di rumah sakit. Dan ini untuk pertama kalinya dia terlelap di rumah orang tuanya.
👣
__ADS_1
Jangan lupa like ya.👌👍