
Aluna menyapa rekannya ketika tiba di ruangan devisinya, berbagai macam tatapan ia dapatkan, mereka menganggap perusahaan sangat menyayangi Aluna. Terhitung sudah berapa kali Aluna absen tapi tetap saja masih dipertahankan.
Renata yang sudah menyalakan layar lcd di depannya. Kini histeris, beralih memeluk Aluna yang berdiri di sampingnya. Doni sudah mewanti-wantinya supaya tidak menyinggung perihal kehamilan Aluna.
“Rindu tahu nggak Lun, sepi ruangan ini tanpa kamu!” ucapnya sambil memeluk tubuh Aluna, “Kamu sudah sembuh, kan? Aku akan membantumu mengingat semuanya,” lanjutnya yang sudah melepas pelukan eratnya.
Aluna hanya tersenyum menanggapi ucapan Renata. Dia juga merindukan Renata, sudah lama mereka tidak bertemu dan bertukar cerita. Dan ini pertemuan pertama kalinya setelah terakhir pertemuannya di rumah sakit. Renata menceritakan bagaimana dia bisa bekerja bersamanya ketika berada di rumah sakit.
“Ren, apa benar aku mencintai suamiku?” tanya Aluna setelah mendudukan bokongnya di kursi kerjanya. Renata menoleh, dan mengerutkan dahinya ke arah Aluna, bibirnya terangkat ke atas mengingat pengakuan Aluna yang malu-malu saat mengatakan jika dia mencintai suaminya.
“Bukan cinta lagi, tapi kamu sudah menjadi budak cintanya!” terang Renata sambil terkekeh.
“Mana mungkin?”
“Terserah deh yah, coba benturkan kepalamu dulu ke tembok! Siapa tahu kembali pulih ingatanmu!” timpal Renata yang dibumbui candaan. Membuat Aluna melemparinya dengan snack yang tadi dia bawa dari rumah. Sedangkan Renata menerimanya dengan senang hati sambil mengucapkan 'Alhamdulillah'.
Aluna segera memulai pekerjaannya, dia meminta waktu satu hari pada David untuk mempelajari ulang apa yang dia kerjakan selama ini, karena ada bagian yang tidak dia ingat sama sekali selama beberapa bulan.
Tidak lama kemudian, David berjalan menghampiri Aluna. Memberitahukan jika Doni menunjuknya sebagai calon sekertaris pribadi CEO.
“Kok Pak David nggak mencalonkan lainnya sih? Aku kan suka absen!” kata Aluna setelah David menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Kalaupun bisa aku pasti menunjuk lainnya, tapi Pak Doni memilihnya kamu! Sana temui Pak Doni, dia memintamu untuk datang ke ruangannya! Sekarang juga!” ucap David sambil meminta Aluna untuk berdiri, dan dia beralih duduk di kursi yang tadi Aluna tempati.
Aluna menurut dengan ucapan David, dia segera berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas untuk bertemu dengan Doni.
Saat tiba di lantai 15 Aluna disambut oleh Siska dengan ramah, dia pun membalas senyuman itu, dengan tak kalah ramahnya. Dia berjalan menghampiri ruangan Doni yang berada tidak jauh dari ruangan Kalun.
Doni yang tadinya fokus ke file yang ada di mejanya, kini segera menyambut istri bosnya itu dengan ramah. Wajah Aluna tampak beda hari ini, tidak seperti dulu saat pertama kali dia melihatnya, lebih terawat, dan pasti dia terlihat lebih cantik di mata Doni.
“Kenapa Nona datang ke sini? Harusnya Nona langsung datang ke ruangan Bapak!” ucap Doni setelah Aluna duduk tanpa ia persilahkan.
“Tadi Pak David memintaku untuk menemui Pak Doni,” jawab singkat Aluna sambil menatap lekat ke arah Doni, “Pak Doni, bisakah kamu membantuku?” lanjutnya sambil menarik lengan Doni yang ada di atas meja. Aluna menyadari tubuh Doni yang menegang karena sentuhannya. Tapi dia benar-benar membutuhkan bantuan lelaki itu.
“A-pa Nona punya masalah? Ka-katakan pada saya! Saya akan sebisa mungkin membantu Nona?” tanya Doni dengan nada gugup saat mendengar permohonan Aluna. Dia menatap tangan Aluna yang berada di lengannya. Sedikit takut, dia takut jika bosnya akan melihatnya dari layar cctv yang ada di ruangannya.
__ADS_1
“Aku tidak mau menjadi sekertaris bosmu!” ucap Aluna sambil melepaskan tangan Doni.
Doni membuang nafas lega, setelah tangan Aluna terlepas. Dia juga bersyukur ternyata istri bosnya ini tidak memiliki masalah yang serius.
“Apa alasan Anda, Nona? Apa Anda lebih menginginkan jika Pak Kaun didampingi wanita lain?” tanya Doni.
“Ya, silahkan saja! Kalau dia mencintaiku nggak mungkin juga melirik wanita lain!” kata Aluna dengan percaya diri yang tinggi.
Doni mengangguk sambil tersenyum smirk ke arah Aluna dia segera beralih mengangkat interkom yang berdering.
“Baik Pak!” jawabnya setelah mendengar perintah dari Kalun.
“Maaf Non, bukannya saya mengusir Anda, tapi Pak Kaun meminta Anda untuk datang ke ruangannya!” ucap Doni pada Aluna, setelah dia menutup panggilan interkomnya. Aluna terlihat membuang nafas kasarnya, dan beranjak dari tempat duduk yang ada di depan Doni. Dia berjalan pelan, sambil menundukkan kepalanya, memikirkan alasan yang tepat kenapa dia menolak tawaran Kalun.
Aluna mengetok pintu pelan saat berada di depan ruangan Kalun, lalu segera mendorong pintunya, setelah mendengar sahutan dari pemilik ruangan. Pandangan matanya tertuju pada Kalun yang duduk sambil menatap serius dokumen yang ada di tangannya. Suaminya terlihat tampan dengan kemeja abu-abu gelap yang menempel pas di tubuhnya, nampak serasi dengan dasi berwarna hitam pekat yang terpasang rapi melingkar di leher. Sejenak dia mengagumi kesempurnaan suaminya itu, bisakah dia ikhlas jika ada wanita lain di sampingnya? Hingga panggilan Kalun menyadarkan dirinya dari lamunan itu.
“Maaf Pak!” ucapnya lalu berjalan mendekat ke arah meja Kalun.
“Pindahkan mejamu di sana!” perintah Kalun sambil menunjuk ruang kosong di sudut ruangannya. Mata Aluna mengikuti arah mata Kalun yang menunjuk tempat yang terlihat kosong, ruangannya memang terlalu besar untuk diisi meja Kalun saja, dan sofa hitam itu juga tidak terlalu besar. Sedangkan di sudut ruang sebelahnya hanya diisi berbagai macam buku yang tersusun rapi, sepasang meja kursi, tidak ada istimewanya ruangan ini. Hiasan dinding pun hanya ada beberapa lukisan dengan gambar gedung tinggi yang menjulang.
“Apa maksudmu?” tanya Kalun dengan sedikit meninggikan suaranya, dia melihat wajah Aluna yang tidak berani membalas tatapannya.
“Aku hanya mau kamu berada dijangkauanku, hanya itu. Kamu tidak perlu berkompeten dalam hal yang biasa dikuasai sekertaris.” Kalun menjelaskan dengan sedikit emosi, dia masih cemburu dengan Aluna yang tadi pagi satu mobil dengan lelaki lain.
“Tapi Pak!”
“Sayang.” Kalun sudah melembutkan suaranya, membuat Aluna mendongak menatap mata sayu Kalun yang terpancar permohonan padanya.
“Apa kamu benar memiliki kekasih lagi? Apa selama ini aku tidak cukup memberimu cinta yang berlimpah! Kenapa kamu membiarkan dirimu diantar lelaki lain!”
Ya Allah jadi ini alasannya, dia melihatku dengan Ferdi. Batin Aluna yang kini mengerti, kenapa Kalun bersihkeras memindahkan posisinya.
“Setidaknya dengan kamu berada di dekatku, kita bisa pulang dan berangkat kerja bersama. Tanpa memikirkan alasan lagi! Berhentilah berpikir karena pilihanku hanya ada dua, di rumah atau satu ruangan denganku!”
“Kal!”
__ADS_1
“Hei, jangan marah! Sejujurnya aku lebih suka kamu di rumah, menungguku pulang kerja, menyiapkan malam kita, dan ....” Kalun menghentikan ucapannya, saat melihat bulir bening membasahi pipi Aluna. Dia kebingungan, harus bagaimana supaya air mata Aluna berhenti.
“Setiap orang punya keinginan Kal, dan salah satu keinginanku adalah bekerja di sini. Aku sangat bahagia ketika lamaranku dulu diterima, aku bersyukur karena kerja kerasku terbayarkan. Tapi apa kamu tega menghentikannya? Aku janji. Aku akan berhenti ketika kita punya anak nanti. Tapi bisakah kamu mengizinkan aku bekerja sesuai keahlianku? Aku tidak mau di posisi sekertaris Kal!” jelas Aluna dengan air mata yang masih menetes, tapi hatinya sedikit bahagia melihat Kalun yang kebingungan.
“Kamu jijik denganku? Apa karena aku pernah tidur dengan Kayra, hingga kamu tidak mau berdekatan denganku? Iya!”
“Bukan! Sudah aku bilang aku tidak berkompeten dalam urusan sekertaris!” Bantah Aluna yang merasa bersalah.
“Dan aku tidak menuntut itu! Aku hanya ingin kamu berada di hadapanku dimanapun aku pergi, aku tidak bisa melihat kamu dengan laki-laki lain! Aku CEM-BU-RU Luna!” jelas Kalun yang diakhiri penekanan suaranya.
“Kamu cemburu dengan Ferdi? Lelaki yang mengantarkan aku tadi pagi? Aku hanya terpaksa karena ada hal penting yang akan dia bicarakan padaku soal kematian kakaknya!” terang Aluna dengan kesal.
“Kakaknya?” tanya Kalun yang tidak mengerti dengan ucapan Aluna.
“Iya, kakaknya. Calon suamiku yang sudah meninggal. Aku bertemu dia tadi di makam, dan dia menawariku tumpangan,” jelas Aluna, sambil menatap Kalun yang berjalan mendekatinya. Wajah Kalun berubah menjadi rumit, dia sulit mengartikannya. Ada kilasan cemburu bercampur emosi yang ingin dia luapkan, dia bisa melihat itu dengan jelas. Hingga dia bisa yakin jika suaminya ini mencintainya.
“Kamu menemui mantan calon suamimu tapi tidak meminta izin padaku?”
Apa-apaan ini? Kenapa dia seperti ini! Ada ya manusia hidup cemburu dengan orang mati! Batin Aluna saat melihat Kalun duduk berjongkok dihadapannya.
“Kamu memang tidak pernah mengingat betapa besar cintaku ini! Tapi tolong hargai aku, jaga perasaanku Lun!” lanjutnya sambil beranjak dari posisi jongkoknya. Aluna memikirkan ucapan Kalun, dia sudah tidak bisa berpikiran dengan jernih lagi, dia tidak ingin mengambil keputusan yang nantinya akan merugikannya, dia akan menunggu sampai dirinya benar-benar tenang.
“Sepertinya kita kelewat batas! Tidak seharusnya membicarakan masalah pribadi saat berada di kantor! Maaf aku harus pergi!” kata Aluna sambil menggeser kursinya kebelakang.
Kalun hanya menatap punggung Aluna yang meninggalkan ruangannya. Wanita itu sama kerasnya dengannya. Mungkin tidak akan bisa mempertahankan rumah tangganya jika tidak ada yang mau mengalah.
Kalun lalu meraih ponselnya. Meminta Doni untuk menyiapkan mobil untuknya. Dia tidak bisa bekerja pagi ini. Karena pikirannya sudah hancur karena penolakkan dari Aluna.
“Cari opsi lainnya, yang sexy dan cantik!” Kalun segera mematikan panggilannya dengan Doni.
“Lihat saja! Aku juga bisa membuatmu cemburu!” gumamnya sambil tersenyum menang.
Dia lalu mengambil jas kerjanya yang tadi dia letakkan di balik kursi. Menenangkan diri sejenak, demi mendapatkan angin segar, untuk bisa menyelesaikan dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerjanya adalah solusi terbaiknya saat ini.
👣
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan vote ya👌🙏